My Presdir My Husband

My Presdir My Husband
Peristirahatan Terakhir


__ADS_3

hari minggu hari dimana semua orang berhenti sejenak dari aktivitas mereka, hari untuk memanjakan tubuh dan raga mereka karena selama enam hari mereka bekerja dan tentu saja tubuh dan otak mereka terkuras habis.


hari ini keisha dan freya sudah mengatur waktu untuk kepemakaman ayah dan ibu keisha, freya yang semalam berkunjung kerumah sahabatnya dan mendengar jika keisha akan kepemakaman pun bersedia menemaninya.


namun kendala tidak pernah diduga, ia tidak pernah mengatakan ia akan datang hari ini atau besok membuat freya harus meminta maaf pada sahabatnya kerena tidak bisa menemaninya untuk berkunjung ke tempat terakhir mendiang ayah dan ibu keisha


tak ingin sahabatnya merasa bersalah keisha pun mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan jika pergi sendiri toh juga disana ia akan bertemu dengan orang orang yang juga punya tujuan seperti dirinya.


keisha bersiap pergi ia memesan taxi yang akan mengantarnya ketempat tujuannya, tempat yang selalu ia tuju jika dirinya rindu ingin bertemu, tempat yang menjadi tempatnya mencurahkan isi hatinya.


perjalanannya kali ini harus ia tempuh sendiri karena sahabatnya yang tiba tiba harus menghadiri undangan keluarga, dirinya pun sempat diajak ibu Freya namun keisha menolak karena sudah terlanjur berjanji pada dirinya sendiri untuk menemui makam kedua orang tuanya.


tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ditempat yang dituju keisha sebab memang jarak antara rumah dan pemakaman mendiang ayah dan ibunya hanya ditumpuh kurang dari 45 menit.


keisha pun sampai ditempat tujuannya setelah dirinya memberi beberapa lembar uang untuk sopir taxi yang mengantarnya dirinya pun langsung menuju makam yang berada ditengah tengah kumpulan makam itu,


Andara Aditya Bratadikara tertulis nama itu dipusara yang kini keisha terduduk melipat tangan memanjatkan doa untuk ketenangan mendiang ayahnya disana, setelah selesai berdoa ia berbalik kesamping dimana pusara bertuliskan Edrea Divya Bratadikara berada ia mengusap tulisan itu dengan air mata yang ikut menetes melukiskan jika dirinya kembali merasakan kesedihan.


Tujuh tahun berlalu namun bagi keisha baru seperti kemarin, perih dihatinya kembali hadir kala mengingat kebersamaan bersama dua sosok yang kini telah pergi.


bayang bayang ketika sang ayah berjanji akan memberinya kejutan ketika dirinya sudah genap 25 tahun kembali melintas menambah kesedihan dihatinya


"eh non keisha datang lagi" ucap pak maman penjaga makam


keisha menghapus air matanya dan menengok kebelakang


"iya pak, sudah lama saya tidak kesini" jawab keisha


"oh iya, padahal kan baru tiga bulan non keisha tidak kesini" pak maman kembali berucap


"iya pak, setiap tiga bulan saya pasti kesini" ucap keisha sambil tersenyum


"baiklah jika begitu pak maman permisi dulu non masih harus membersihkan makam yang lain" pak maman berkata sambil mengambil sapu


"oh iya, Terimakasih pak maman" keisha berucap sambil mengambil buket bunga yang ia bawa dan menempatkannya diatas makan kedua orang tuanya.

__ADS_1


tak jauh dari keisha berdiri sosok dengan pakaian serba hitam sedang mengamati keisha tak lama suara dering handphonenya berbunyi


"hallo" ucap pria itu


"...."


"saya sedang mengawasi anak itu tuan"


"dia sedang berada di makam andara dan istrinya" ucap pria misterius itu menjelaskan keberadaan keisha


"...."


"baik tuan saya akan terus mengawasi anak itu"


setelah sosok yang menelponnya mematikan panggilannya pria misterius itu kembali menatap makam kedua orang tua keisha dan masih mendapati keisha ada disana.


dua jam berlalu keisha pun memutuskan untuk pulang mengingat langit yang sudah gelap oleh awan pekat dan guntur yang mulai terdengar


pria misterius itu juga sudah meninggalkan tempat makam sebelum keisha menyadari kehadirannya disana


sementara dikediaman artaguna Chalinda danastri baru saja akan pergi menemui sesorang, namun melihat anaknya baru turun dari lantai dua dirinya pun berniat mengajak putranya itu berbicara


ya chalinda baru saja tiba semalam di indonesia ia pulang dengan sendiri sementara suaminya masih berada di jerman.


" good morning, sudah bangun sayang?" sapa chalinda pada anak semata wayangnya itu


"iya mah, mama mau kemana" tanya daren melihat sang ibu yang sudah rapi


"mama mau berkunjung kerumah teman" jawab chalinda


"oh iya, jangan lama lama, cuaca akhir akhir ini sedang buruk" daren memperingati sang ibu


"iya, mama hanya sebentar" ucap chalinda berucap dan langsung menuju tempat parkir


" pak theo kita ke tempat pemakaman sekarang" ucap chalinda pada supir pribadinya

__ADS_1


"iya nyonya" ucap sang supir dan langsung membuka pintu mobil


"kita singgah dulu di toko bunga aku ingin membeli bunga kesukaan .sahabatku" ucap chalinda ketika mobil sudah mulai berjalan


"baik nyonya". jawab pak theo


satu jam kemudian chalinda sudah sampai ditempat tujuannya, setelah membeli buket bunga mawar berwarna putih dirinya langsung berjalan menyusuri setiap makam hingga dirinya sampai di makam seseorang yang begitu ia sayangi


" kamu tahu aku harus terbang ke Indonesia hanya untuk menemuimu" ucap chalinda ketika dirinya sudah dihadapan makam sahabatnya


"kamu begitu melukai hatiku, kamu membuatku tidak tenang hingga aku harus pulang dan mengabaikan pekerjaanku" kini suara chalinda mulai bergetar dengan mata yang sudah berkaca kaca


"kamu melupakan janjimu untuk mempertemukan putrimu denganku, kamu mengingkari ucapanmu yang katamu akan bertemu dimalam natal nanti, kamu begitu tega berpisah denganku tanpa mengucapkan kata kata perpisahan" ucap chalinda pada makam yang ada dihadapannya


"meski begitu aku masih begitu baik membawakan bunga kesukaanmu, maaf karena aku tak sering sering mengunjungimu itu karena aku begitu sibuk, tapi aku tak pernah melupakan mu" chalinda kembali berucap dengan nada yang lebih tenang


"tenanglah disana aku selalu mendoakanmu, maaf karena aku harus kembali ke jerman aku janji ketika pulang nanti aku akan mengunjungimu" chalinda meletakkan bunga yang ia beli dan detik selanjutnya ia meninggalkan makam sahabatnya dan sedikit berlari menuju mobilnya


hujan pun mulai turun membasahi bumi seakan tahu jika sedang ada yang merasakan kehilangan meski kepergian mereka sudah tujuh tahun lamanya


kini pak maman sudah membawa mobil meninggalkan area pemakaman.


"maaf nyonya apa kita akan pulang kerumah" tanya pak theo pada nyonyanya itu


"kita mampir sebentar di taman biasa" ucap chalinda


"baik nyonya" ucap pak theo


30 menit kemudian mereka sampai ditaman yang tak ada penghuninya mungkin karena hujan yang turun cukup deras hingga pengunjung taman mencari tempat berteduh


chalinda menatap bangku yang ada di tengah tengah taman itu dari mobil ia begitu ingin duduk disana namun karena hujan yang tak kunjung berhenti ia memutuskan melihat bangku itu dari jauh.


"aku begitu merindukanmu...." batin chalinda dengan air mana yang sudah menetes


ia tidak kuat menahan kesedihannya disana apalagi menatap bangku yang pernah menjadi saksi bisu kebersamaannya dengan sahabatnya

__ADS_1


"pak kita pulang" ucap chalinda yang diangguki kepala oleh pak


__ADS_2