
pagi selalu saja diawali dengan terbitnya sang mentari menbawa kesempatan dan secercah harapan baru bagi setiap penghuni bumi memberi semangat bagi mereka yang memiliki mimpi untuk diraih
pagi ini jika pada umumnya semua orang akan bangun dengan ceria namun tidak dengan chalinda ibu darren yang masih saja dibayangi oleh rasa penasarannya akan sebuah kepastian
dirinya ingin segera bertemu menantunya untuk memastikan kebenaran apakah benar jika keisha adalah orang yang selama ini dicarinya ataukah apa yang ia dengar dari pak theo adalah kesalapahaman semata
chalinda kini tengah berada di ruang makan dirinya menanti anak semata wayangnya yang kini sedang menuruni tangga dirinya akan memastikan bahwa hari ini atau besok menantunya sudah harus di rumah itu
"good morning mom" sapa daren lalu mencium pipi kiri dan kanan sang ibu
"kamu itu suami macam apa, bisa bisanya kamu setenang ini padahal istrimu di luar sana tidak tahu bagaimana kabarnya" chalinda berucap dengan suara sedikit tinggi dirinya tak mampu lagi menahan diri untuk tidak marah pada anaknya
"iya, nanti darren akan cari keisha sampai dapat" daren hanya menjawab perkataan ibunya dengan tenang
"dengar darren hari ini atau besok kalau sampai keisha tidak pulang ke rumah mom akan pastikan bahwa kamu tidak akan bisa menemui mommy lagi" ucap chalinda penuh dengan penekanan disetiap katanya menjadi pertanda bahwa dirinya sedang marah
daren yang mendengar itu pun tak lagi ada niat berangkat kerja dirinya akan segera menjemput keisha
darren tentu saja sudah mengetahui keberadaan istrinya itu bahkan tempat kerjanya pun sudah ia ketahui namun memikirkan ucapan salah satu bodyguardnya yang menyampaikan informasi kepadanya bahwa keisha telah memiliki anak dirinya menjadi ragu apakah keisha masih sendiri ataukah sudah memiliki suami baru
darren menutup mata menghembuskan napasnya asal mencoba menepis keraguan yang kini datang entah dari mana dirinya hanya tidak ingin ucapan wanita yang ia sayangi itu menjadi kenyataan sebab bagi darren tak mendengar suara dari sang mommy selama seminggu saja sudah membuat hatinya khawatir apalagi jika tak dapat menemuinya lagi
darren segera menghubungi sekretarisnya memintanya menggantikan dirinya pada rapat nanti karena dirinya akan segera berangkat untuk menjemput keisha di riau
darren pun segera pamit pada sang ibu meminta izin untuk menjemput istrinya meski darren tak yakin jika dirinya akan berhasil membawa keisha kembali setidaknya dirinya harus berusaha dulu
darren menelpon seseorang diseberang sana memintanya menemuinya dibandara untuk ikut dengan dirinya
.........
penerbangan dengan tujuan Surabaya Pekanbaru Riau ditempuh hanya dengan dua jam dan tiga puluh menit dan kini maskapai penerbangan dimana darren dan dua bodyguardnya berada baru saja mendarat dengan sempurna
ketiganya tak langsung bergegas menuju kediaman keisha mereka memilih beristirahat di salah satu hotel mewah disana darren berencana akan mengunjungi istrinya sore nanti
kini waktu berputar cepat seiring dengan mentari yang kini akan terbenam darren yang sudah siap pun berjalan menuju lift yang akan membawanya kelantai dasar di bawah dua bodyguardnya sudah menunggunya
tak ingin membuang waktu darren segera menaiki mobil yang akan mengantarnya ke rumah istrinya jujur saja saat ini darren tidak sedang baik baik saja dirinya sedikit gugup yang ia sengaja abaikan karena tak ingin di ketahui siapapun jantungnya berdegup kencang seakan baru saja berlari mengejar seseorang hal ini tentu saja karena dirinya baru pertama kali bertemu istrinya setelah kurang lebih tiga tahun tak saling menyapa
jantung darren kembali berdetak kencang ketika mobilnya baru saja berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis berwarna abu abu muda yang tampak tertutup
darren baru saja keluar dari mobil namun langkahnya terhenti ketika suara ponselnya berbunyi
"hallo?" ucap darren
__ADS_1
"....."
"apa? siapa pelakunya?" rahang darren mengeras membuat kedua bodyguardnya paham jika bossnya sedang marah
"bagaimana keadaan mommy?" tanya darren yang bertanya lagi
"jaga mommy dan lakukan pengejaran" ucap darren sebelum mematikan panggilannya
darren segera berjalan menuju pintu rumah di depannya, lalu mengetuknya tak sampai ketukkan ketika pintu terbuka
"sia...pa" tanya seseorang di balik pintu suaranya tentu saja masih dikenal darren suara yang akhir-akhir ini ia rindukan
keduanya terpaku bersamaan tepat setelah pintu terbuka lebar
keisha membeku di tempatnya tak percaya jika sosok yang berada di hadapannya saat ini adalah sosok yang berapa hari lalu ia rindukan
dengan pelan keisha berucap
"pak darren?" batin keisha setelah berhasil mengumpulkan nyawanya
darren tak menjawab dirinya terpaku dengan sosok yang kini sedikit kurusan namun masih tetap terlihat cantik
"siapa kei" suara bibi ariani berhasil memecah keheningan yang tercipta disana
bibi ariani tentu saja kenal dengan sosok itu pria yang sudah memberinya kebahagiaan karena Edward
"loh kenapa hanya diam disana, ayo masuk" ucap bibi ariani
darren berjalan melewati keisha lalu mencium tangan bibi ariani ia juga punya sopan santun pada orang tua apalagi itu seorang ibu
"biar ibu buatkan kopi dulu nak darren" ucap bibi ariani lalu berjalan ke arah dapur
jika ada yang bertanya keberadaan Edward anak kecil itu sudah tidur sejak sejam yang lalu
"ada apa" tanya keisha masih di tempatnya semula
"aku ingin menjemputmu" ucap darren dingin
"aku tidak mau" jawab keisha tak kalah jutek
"sayangnya aku tidak menerima penolakkan" darren berucap menjawab ucapan sang istri
"terserah pokoknya aku tidak akan mau ikut denganmu" kini keisha berjalan lalu mendudukan tubuhnya di sofa tepat di hadapan suaminya
__ADS_1
pikiran darren kini beralih pada keadaan sang ibu dirinya benar benar ingin segera membawa keisha sekarang juga dirinya begitu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita pertama yang ia kenal
"ini kopinya nak darren" bibi ariani meletakkan secangkir kopi di hadapan darren
"ibu saya ingin membawa keisha pulang" ucap daren to the point
ucapan darren tentu saja membuat bibi ariani terkejut ia merasa dirinya akan kehilangan penyemangatnya dan dirinya akan merasa kesepian lagi bibi ariani mengangguk namun matanya kini sudah berkaca kaca
keisha menatap darren dengan wajah tidak suka karena suaminya itu berucap tanpa berpikir ia secara tidak langsung telah membuat bibinya sedih
"aku sudah bilang tidak akan ikut" ucap keisha
"aku juga sudah bilang tidak akan menerima penolakkan" jawab darren
"keras kepala dasar tidak punya perasaan, setalah mengusirku begitu saja kini datang tanpa peduli perasaanku" batin keisha dirinya tak ingin berdebat
"ayo kemasi barang barangmu kita harus segera pergi" pintah darren tegas
"darren aku tidak akan mau ikut denganmu" ucap keisha dengan suara tingginya
"kita tidak punya banyak waktu kemasi sekarang atau jangan membawa sesuatu sekali pun" ucap darren dengan nada tinggi
bibi ariani yang berdiri di belakang keisha hanya mampu menahan air mata mendengar ucapan darren dirinya tak bisa berbuat banyak karena ia paham betul keisha masih berstatus sebagai istrinya
"ibu, ibu juga harus segera berkemas sekarang" pintah darren yang memang berencana akan membawa bibi ariani ikut dengan mereka
mendengar itu keisha dan bibi ariani saling menatap seolah saling memberi kode apakah mereka harus pergi bersama, bibi ariani tentu akan ikut dengan keisha dirinya akan merindukan edward jika tidak ikut
"kenapa masih diam saja cepatlah keisha luisa" bentak darren
belum sempat berdiri dari tempatnya suara tanggisan dari kamar keisha membuat bibi ariani segera menghampiri edward yang mungkin kaget mendengar suara ayahnya
"dengar keisha mommy sedang di rumah sakit dirinya ingin bertemu denganmu" ucap darren akhirnya
keisha yang mendengar mama mantunya masuk rumah sakit langsung berdiri dari tempatnya dan menuju ke kamarnya jika bukan karena keisha begitu sayang pada mama mantunya yang sudah di anggapnya ibunya sendiri dirinya tak akan mau pergi.
🙂
🙂
🙂
🙂
__ADS_1
...Tolong berikan author semangat dong.. reader 🙏🙏...