
Teriakan Silly mampu memecahkan konsentrasi yang telah dibangun Kenan untuk menuntaskan hasraatnya. Kini dia harus lebih berusaha lagi untuk bisa berkonsentrasi kembali.
"Bang… Abang… Bang Kenan ngapain di dalam? Abang gak pingsan di dalam kan? Cepetan keluar Bang, aku mau pipis," seru Silly sambil menahan miliknya yang berkedut dan seperti ingin pipis.
Sontak saja Kenan terpikir agar Silly yang melakukannya untuknya. Sayangnya dia tidak tega melakukannya.
Boleh aja sih dia yang melakukannya. Tapi jika dia meminta memegangnya terus-terusan bagaimana? Kenan berdebat dalam hatinya.
"Bang… Abang… Aku masuk nih kalau Abang gak keluar-keluar," seru Silly kembali sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut.
Dengan terpaksa Kenan mengurungkan keinginannya untuk meneruskan kegiatannya, meskipun miliknya masih menegang dan mengeras.
Kenan membuka pintu kamar mandi tersebut dan melihat Silly yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tersenyum lebar melihatnya.
"Abang baik-baik aja kan? Minggir Bang aku mau pipis," ucap Silly sambil menyelonong masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Kenan terhenyak melihat Silly yang dengan mudahnya masuk ke dalam kamar mandi tersebut tanpa menunggu jawaban dari Kenan.
Dan kini dia seolah tidak mengetahui keberadaan Kenan yang masih berada di dalam kamar mandi tersebut.
Dengan tanpa beban Silly mengangkat sedikit bathrobe nya dan duduk di kloset untuk menuntaskan hajatnya.
Mulut Kenan menganga melihat apa yang dilakukan oleh Silly. Dia tidak menyangka jika Silly akan secuek itu dengan kehadirannya di dalam kamar mandi yang dipakainya.
Sontak saja senjata milik Kenan kembali mengeras dan menegang hanya dengan melihat paha Silly yang bathrobe nya tersibak sedikit.
"Sil, buruan," ucap Kenan yang sedang berusaha sekuat tenaga menahan inginnya.
Silly menoleh ke arah Kenan dan matanya tertuju pada bagian tubuh Kenan yang sedang menonjol.
"Bang, itunya kenapa?" tanya Silly sambil menunjuk ke arah senjata milik Kenan.
Sontak saja mata Kenan tertuju pada bagian bawah tubuhnya, lebih tepatnya pada senjata miliknya yang memang benar-benar sudah menonjol di dalam handuk yang dia kenakan saat ini.
"Udah, sekarang kamu cepat keluar biar Abang bisa cepat menyelesaikannya," ucap Kenan yang berusaha mengusir Silly dari dalam kamar mandi tersebut.
Silly pun segera melakukan kegiatan akhirnya dengan menyiram miliknya dan menyiram kloset tersebut.
Kenan hanya meneguk ludahnya melihat Silly yang tidak merasa sungkan dan canggung di hadapannya.
Kemudian Silly mendekat ke arah Kenan yang entah mengapa tubuhnya kini menegang ketika Silly berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Dengan cepatnya tangan Silly memegang senjata milik Kenan yang berlapis handuk. Mata Silly terbelalak karena merasakan milik Kenan yang benar-benar tegang dan keras ketika dipegangnya.
Sedangkan Kenan, matanya membelalak sempurna ketika Silly benar-benar memegang miliknya, bahkan sedikit meremasnya.
Kenan merasa sangat tertantang meskipun Silly memegangnya tidak secara langsung, tangan Silly berlapiskan handuk yang melindungi senjata milik Kenan.
"Sil!" seru Kenan dengan menahan sekuat tenaga gejolak yang ada dalam dirinya.
Melihat perubahan wajah Kenan, dengan cepatnya Silly melepaskan milik Kenan dan berlari keluar kamar mandi tersebut.
"Hufffttt… kacau… kapan aku bisa keluar kamar mandi jika dia selalu menggodaku seperti itu? Bisa-bisa aku masuk angin jika terus-terusan berada di sini," gerutu Kenan sambil membuka handuknya.
Kenan kembali melakukan aktivitasnya untuk menuntaskan hasraatnya yang belum selesai sedari tadi.
Selang beberapa saat, Kenan keluar dari dalam kamar mandi dan segera menuju lemari untuk mengambil kaos dan celananya.
Terlihat Silly yang sedang berada di balkon dengan menggunakan kaos serta celana joger milik Kenan.
"Lihat apa?" tanya Kenan sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Silly.
Ketika Silly akan menengok ke belakang, Kenan sudah merangkulnya dari belakang dan mencium pipi kanan Silly.
Kenan tersenyum merasakan tubuh Silly menegang. Untuk dirinya sendiri, dia sudah bisa mengatasinya karena ini ulahnya, beda jika dia diserang secara mendadak oleh Silly atau tidak sengaja terpancing oleh tubuh Silly.
"Kok diam aja, kamu sedang lihat apa?" tanya Kenan lirih di sebelah telinga Silly.
Silly merasakan hembusan nafas Kenan yang mengenai kulitnya. Dia merasakan kulitnya meremang terkena hembusan nafas Kenan.
"Emmm… cuma cari udara segar aja," ucap Silly yang merasakan perasaan dalam hatinya bercampur-campur.
Kenan kini lebih erat memeluk Silly dari belakang. Kedua tangan Silly pun memegang erat tangan Kenan yang melingkar di pinggangnya.
Silly tidak mengetahui apa yang dirasakannya. Hanya saja dia tahu jika dia sangat bahagia saat ini. Rasa kesepian dan diabaikan kini terasa hilang sudah dengan perlakuan manis dari Kenan.
Lama-kelamaan mereka kini sudah terbiasa. Kenan terbiasa dengan kehadiran Silly yang kapan saja bisa membangkitkan jiwa kelaki-lakiannya. Sedangkan Silly kini sudah terbiasa dengan kehadiran Kenan di dekatnya.
"Jadi jalan-jalan gak?" tanya Kenan yang masih betah memeluk erat Silly dari belakang.
Bahkan tubuh mereka menempel dengan sangat erat dan tidak berjarak sedikitpun.
"Mauuuu…," seru Silly layaknya bocah yang senang karena dibelikan mainan.
__ADS_1
Namun, beberapa detik kemudian wajah bahagia Silly berubah menjadi sedih.
"Tapi, baju aku Bang? Aku kan kemarin pakai seragam," ucap Silly dengan menampakkan wajah kecewanya.
Kenan melihat wajah Silly dari samping. Kemudian dia mengusap-usap hidungnya yang mancung pada pipi Silly.
"Kita kan bisa mampir butik dulu buat beli baju," ucap Kenan sambil tersenyum.
"Boleh ya Bang?" tanya Silly dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja boleh. Buat kamu apa yang gak bakalan Abang kasih," jawab Kenan sambil lebih mempererat pelukannya.
Silly memutar tubuhnya menghadap Kenan. Kemudian dia membalas pelukan Kenan dengan sangat erat.
"Aku senang sekali menjadi sugar baby nya Abang. Baru kali ini aku gak merasa kesepian dan diabaikan," ucap Silly sambil mendongakkan wajahnya ke atas untuk melihat wajah Kenan.
Kenan tersenyum dan reflek mencium sekilas bibir lembut nan menawan milik Silly. Hanya sekilas dan hanya menempel saja selama beberapa detik.
Namun, Silly tampak kecewa. Dia terlihat sangat menginginkan hal yang lebih dari ciuman tersebut.
"Bang, lagi dong…," ucap Silly dengan suara mendayu-dayu.
"Hmmm… apa?" tanya Kenan sambil melihat wajah Silly yang tampak kecewa.
"Cium…," jawab Silly sambil merengek.
Kenan membelalakkan matanya dan terkekeh mendengar keinginan dari Silly. Ternyata sugar baby miliknya itu sudah ketagihan dengan ciumannya. Dan itu membuat Kenan yakin jika Silly memang belum pernah mendapatkan sentuhan dari lelaki manapun.
Dia cewek yang langka dan aku harus menjaganya dari semua laki-laki yang mendekatinya. Karena dia hanya milikku. Dan harus ku miliki hingga sudah waktunya nanti. Karena hanya kamu wanita yang bisa membuat milikku bereaksi, Kenan berkata dalam hatinya.
"Nanti aja ya, Abang gak mau lagi-lagi berlama-lama di kamar mandi," jawab Kenan sambil terkekeh.
"Hah?! Apa hubungannya?" tanya Silly dengan menampakkan wajah bingungnya.
Kenan kembali terkekeh melihat Silly yang sesuai dugaannya. Gadis yang masih polos tidak mengetahui apa-apa tentang hal seperti itu.
"Nanti, lama-lama kamu pasti tau," jawab Kenan.
Kemudian Kenan menarik tangan Silly untuk berjalan mengikutinya keluar dari kamarnya.
__ADS_1