My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 55 Senjata makan tuan


__ADS_3

"Pa, maafkan Kenan. Kami sungguh tidak berbuat macam-macam. Kami hanya berpelukan saja sewaktu tidur. Saya mohon Pa, percayalah pada saya," ucap Kenan yang berjalan mengikuti di belakang Alan.


Seketika Alan menghentikan langkahnya dan menghadap ke belakang. Dia menatap kecewa pada Kenan. 


Harapannya selama ini padanya adalah untuk menjaga Silly dan pagi ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Kenan berpelukan dengan Silly sambil tertidur dengan nyenyaknya.


"Kami tau Kenan, kamu telah mengecewakan saya. Tujuan saya menjodohkan kamu dengan putri saya adalah untuk menjaganya, bukan untuk merusaknya," ucap Alan dengan emosi.


"Tapi Pa, kami tidak melakukan apapun. Kami hanya tidur -"


"Tidak usah banyak alasan. Segera kalian akan saya nikahkan. Untuk resepsinya menunggu Silly lulus sekolah," sahut Alan menyela ucapan Kenan.


"Tapi Pa-"


"Hanya kurang beberapa bulan saja. Tidak usah keberatan seperti itu," sahut Alan kembali dengan nada sinis.


Kenan menghela nafasnya sambil berkata dalam hatinya,


Bukan keberatan menunggu lulusnya Silly. Aku malah keberatan untuk menikah.


"Jadi, kapan orang tua kamu datang melamar Silly?" tanya Alan seolah tidak sabar menanti.


Kenan terhenyak dari lamunannya. Dengan tatapan sedih dan suara lirih dia berkata,


"Kedua orang tua saya sudah meninggal Pa."


Alan terkejut mendengar perkataan Kenan. Dia tidak menyangka jika seorang Kenan yang merupakan pengusaha muda terkenal sudah tidak memiliki orang tua lagi. Selama ini dia mengira jika Kenan bisa berhasil karena dukungan dan arahan dari orang tuanya.


Kedua kaki Alan menuntunnya untuk mendekati Kenan. Dengan segera dia memeluk Kenan untuk menguatkannya.


"Maaf ya, Papa sungguh tidak tau soal itu," ucap Alan sambil memeluk Kenan.


Kemudian dia melepaskan pelukannya dan berkata,


"Kalau begitu kita bisa adakan acara lamarannya kapan saja. Nanti malam pun bisa, asal kamu sudah menyiapkan cincinnya."


Seketika Kenan membelalakkan matanya. Dia bingung dengan keadaan dan situasinya saat ini. 

__ADS_1


Kenapa jadi seperti ini? Apa ini memang takdirku? Atau mungkin ini senjata makan tuan karena ulahku sendiri yang minta dijodohkan dengan putrinya waktu itu? Kalau benar begitu, apa ini menjadi boomerang bagiku sekarang? Kenan berkata dalam hatinya.


"Bagaimana, kapan kamu melamar Silly? Kalau menurut Papa sih mendingan nanti malam saja, karena mumpung Mama dan Papa ada di sini," ucap Alan sambil merangkul pundak Kenan.


Sontak saja Kenan kembali terkejut. Dia tidak menyangka jika sekarang ini dia seperti sedang ada dalam jebakan yang mengharuskannya untuk menyetujui permintaan dari keluarga Silly.


Dia tidak bisa mengelak atau mundur lagi. Jika dia mundur atau menolak, bukan hanya namanya saja yang tercoreng, bahkan nama perusahaannya pun ikut tercoreng. Bagaimana tidak, karena Alan menjalin kerjasama dengannya saat ini.


"Bagaimana? Akan Papa beritahukan pada Mama sekarang jika kamu setuju," ucap Alan dengan wajah sangat bahagia.


Melihat wajah Alan yang sangat bahagia itu, Kenan tidak tega untuk menolaknya. Apalagi dia sudah memanggilnya dengan sebutan Papa. Dia merasa jika kini dia mempunyai Papa lagi.


Dengan senyum tipisnya Kenan menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Alan padanya. 


Seketika tawa kebahagiaan keluar dari mulut Alan. Kemudian dia berkata sambil menepuk lirih pundak Kenan.


"Baiklah, Papa beritahukan pada Mama dulu ya. Pasti Mama akan senang."


Kemudian Alan berjalan ke arah kamar Silly dan berseru memanggil istrinya dengan nada bahagia.


Bagaimana bisa aku menghancurkan kebahagiaan mereka? Tapi bagaimana denganku? Apa aku juga akan bahagia dengan pernikahan ini? 


Dengan wajah frustasi, Kenan memesan cincin pada toko perhiasan milik relasi bisnisnya. Dia hanya mengatakan untuk melamar seorang perempuan. Dan dia menyuruhnya untuk mengirimkan ke suatu alamat. Yaitu ke rumah Silly.


Tentu saja pemilik toko tersebut sangat antusias. Dia memilihkan dari koleksi cincin pasangan yang terbaik dan limited edition. 


Kenan memang sengaja tidak datang bersama dengan Silly ke toko perhiasan tersebut karena dia berharap jika ukuran cincin tersebut tidak pas dengan mereka sehingga acara lamaran pun ditunda.


Kenan pun menyuruh Dinda untuk mengirimkan setelan jas dari butiknya ke rumah Silly. 


Dia hanya duduk manis menunggu di rumah Silly untuk kedatangan cincin dan pakaiannya.


"Sssttt… Ken, kamu beneran akan nikah?" tanya Dinda pada Kenan yang baru datang ke rumah Silly mengantarkan setelan jas untuk Kenan.


Kenan tersenyum mendengar pertanyaan Dinda yang ditujukan untuknya. Dia tidak menjawabnya karena dia sendiri tidak tahu apa jawabannya.


"Kok diem sih? Mau nikah aja sombong, apalagi kalau udah nikah? Pasti tambah sombongnya berkali-kali lipat," ucap Dinda dengan sewotnya.

__ADS_1


Seketika tangan Kenan menoyor kepala Dinda hingga dia mengadu kesakitan. 


"Ck, cuma digituin aja udah letoy. Cowok apaan kamu!" ucap Kenan mengolok Dinda.


"Sembarangan. Siapa yang cowok? Masa' penampilan udah cantik gini dibilang cowok?" tanya Dinda dengan sewotnya pada Kenan.


"Sorry Bro, kadang suka lupa kalau kamu sudah jadi kemayu," ucap Kenan sambil terkekeh.


"Ngomong sama kamu lama-lama bisa makan hati tau gak?" sahut Dinda dengan nada kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Enggak. Gak tau aku kalau aku ngeselin. Malah kata Silly aku ngangenin," jawab Kenan sambil terkekeh.


"Sinting! Udah siwer matanya tuh cewek. Udah ah, Dinda yang cantik ini mau cabut dulu. Kalau di sini terus bisa-bisa aku struk mendadak," ucap Dinda sambil berdiri dari duduknya.


Kenan terkekeh mengiringi kepergian Dinda dari hadapannya tanpa mengantarkannya hingga ke mobilnya.


Setelah itu Kenan masuk ke kamar tamu untuk bersiap-siap dengan memakai pakaian yang diantarkan oleh Dinda tadi.


Setelah berada di dalam kamar tamu, Kenan memandang cincin pasangan tadi sambil berkata dalam hati,


Semoga cincin ini tidak muat pada jari Silly, agar acara ini batal.


Sedangkan di dalam kamar Silly, Laura sedang sibuk mendandani Silly yang tidak mau sama sekali menggunakan makeup.


"Buat apa sih Ma, Silly gak mau. Pasti nanti hasilnya kayak badut deh. Udah, Silly gini aja. Bang Kenan juga udah tau wajah Silly tanpa makeup. Silly juga yakin kalau Bang Kenan lebih suka Silly tanpa memakai pewarna-pewarna model beginian," ucap Silly sambil menunjuk peralatan makeup milik Laura.


"Silly, kamu itu perempuan. Jadi sudah sewajarnya jika kamu menggunakan makeup seperti semua ini. Dan semua ini bukan pewarna, ini semua makeup," tutur Laura sambil berkacak pinggang di depan Laura.


Sontak saja Silly tersenyum lebar melihat mamanya yang sepertinya sedang kesal padanya. Kemudian dengan segera dia memakai bedak sendiri dan meminta mamanya agar menolongnya untuk berhias.


Acara tunangan pun dimulai. Kenan melamar Silly dengan memintanya untuk menjadi istrinya. Kemudian dia menyematkan cincin yang telah disiapkannya tadi dengan harapan cincin itu tidak pas dengan jari Silly.


Aku mohon, jangan masuk. Tidak muat. Jangan… jangan… jangan…, batin Kenan sambil menyematkan cincin di jari Silly.


Wajah Silly sangat senang ketika cincin itu berhasil masuk pada jarinya. Dan ternyata cincin tersebut sangat pas sekali di jari Silly.


Berbeda dengan wajah Kenan yang sangat kecewa dan dia tersenyum kaku dengan mengutuk dalam hatinya si pemilik toko perhiasan yang memberikan cincin tersebut.

__ADS_1


"Jadi, kapan kamu bersiap untuk menikahi Silly?" tanya Alan pada Kenan hingga membuatnya sedikit memucat.


__ADS_2