
Kenan menahan amarahnya melihat gadis yang berstatus sugar baby dan calon istrinya itu sedang digoda oleh laki-laki lain.
Kedua tangan Kenan mengepal erat, rahang Kenan mengeras serta terlihat jelas kilatan amarah dari matanya.
Dengan langkah lebarnya Kenan menghampiri Silly yang sedang berbicara dengan laki-laki tersebut.
"Sayang, apa kita pulang sekarang?"
Sontak saja Silly, Aurel, Vania dan laki-laki yang bertuliskan Rian pada seragamnya menoleh ke arah Kenan.
Mata Silly membelalak ketika melihat Kenan berada di depannya. Tapi saat itu juga bibir Silly melengkung ke atas, dia tersenyum senang dan berhambur memeluk Kenan.
"Abang jahat! Dari tadi Silly telepon Abang tapi gak diangkat," ucap Silly sambil memeluk Kenan dengan erat.
Rian melongo melihat Silly, gadis tersulit untuk didekati oleh semua laki-laki yang ada di sekolah, kini sedang memeluk seorang pria yang berbeda umur darinya.
Sedangkan Vania terkagum oleh sosok Kenan yang kini sedang ada di hadapannya.
Tak berbeda jauh dengan Vania, Aurel juga merasa kagum pada sosok Kenan yang sangat bersinar di hadapannya meskipun dia sudah pernah bertemu dengan Kenan.
Kenan mengurai pelukan Silly, kemudian dia menatap Rian sambil tersenyum dingin dan berkata,
"Dia siapa?"
Silly menoleh ke arah Kenan memandang dan dia baru sadar jika masih ada Rian di sana yang sedang menatap heran padanya.
"Dia teman sekelasku Bang," jawab Silly sambil menggandeng tangan Kenan.
Kenan tidak menyahuti jawaban dari Silly. Dia tetap menatap Rian dengan tatapan tidak suka.
Silly merasakan hawa yang aneh dari tatapan Kenan dan Aldo yang saling menatap. Dengan segera dia menarik tangan Kenan sambil berkata,
"Ayo Bang kita pulang sekarang."
Tatapan Kenan dan Rian yang beradu itu seolah tidak terputus oleh suara rengekan Silly.
"Abang… ayo kita pulang sekarang," Silly merengek kembali pada Kenan sambil berjalan dan tangannya menarik tangan Kenan.
__ADS_1
Tarikan tangan Silly berhasil membuat Kenan bergerak meninggalkan Rian, tapi sayangnya tatapan mata mereka masih saling beradu seolah ingin menyatakan peperangan.
Aurel dan Vania hanya dibuat melongo melihat tingkah Silly ketika bertemu dengan Kenan.
"Laki-laki itu siapanya Silly?" tanya Aldo pada Aurel dan Vania ketika Mobil Kenan sudah pergi meninggalkan tempat itu.
"Dia calon suaminya Silly," ucap Aurel sambil tersenyum manis pada Rian.
Sontak saja Rian membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Aurel padanya.
"Ca-calon suami?" tanya Rian yang masih terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Iya. Dia calon suami Silly. Ganteng kan? Keren lagi. Mangkanya Rian gak usah berharap lagi sama Silly. Mendingan Rian sama salah satu dari kita aja. Kan kita jomblo," ujar Vania sambil memberikan senyum manisnya pada Rian.
Rian tidak mempedulikan ucapan Vania. Dia lebih memilih untuk menuntaskan keingintahuannya tentang Silly pada kedua sahabatnya, Aurel dan Vania.
"Tapi Silly kan masih sekolah. Kenapa dia harus mempunyai calon suami?" tanya Rian dengan heran .
"Itu masalah mereka. Kita tidak berhak mencampurinya. Dan yang lebih penting, mereka saling mencintai. Jadi kenapa harus heran?" jawab Aurel sambil merangkul pundak Vania.
"Benar. Kita juga gak bakalan nolak kalau seandainya kita dijodohkan dengan laki-laki seperti dia. Iya gak Rel?" ucap Vania sambil meminta dukungan dari Aurel.
"Rian, anterin pulang dong… Daripada kamu gak boncengin siapa-siapa."
Sayangnya, Aurel dan Vania tidak menarik perhatian Rian. Tanpa permisi, Rian meninggalkan Aurel dan Vania di tempat tersebut.
Di dalam mobil Kenan, Silly masih merasakan hawa mencekam dari Kenan. Sedangkan Kenan sedari tadi hanya diam dengan mengemudikan mobilnya.
Tidak ingin diabaikan dan tidak ingin didiamkan oleh Kenan, Silly mulai mengeluarkan jurus andalannya. Dia merengek pada Kenan sambil berkata,
"Abang… kenapa Abang diam aja? Tadi Abang ke mana sih kok telepon Silly gak ada yang Abang angkat sedari pagi tadi?"
Kenan tidak menyahut. Dia masih saja diam sambil mengemudikan mobilnya.
Bukannya Silly bertambah kesal karena diabaikan oleh Kenan. Dia bertambah takut karena didiamkan oleh Kenan.
Dalam mobil tersebut terasa mencekam bagi Silly. Dia tidak berani bertanya lagi. Dia mencari cara untuk bisa membuat Kenan tidak mendiamkannya lagi.
__ADS_1
"Abang… Silly menginap di rumah Abang aja. Mama sama Papa sudah berangkat tadi pagi, Silly gak ada temannya," ucap Silly lirih dengan suara sedih seolah mengiba pada Kenan.
Sontak saja Kenan tersenyum dalam hatinya. Dan tanpa menjawab permintaan dari Silly, Kenan mengarahkan mobilnya ke arah rumahnya.
Silly pun tidak dapat menahan kebahagiaannya. Dia tersenyum melihat jalan yang diambil oleh Kenan adalah jalan menuju rumahnya.
Kenan yang sedikit melirik bisa melihat senyuman bahagia dari Silly. Tanpa sadar bibir Kenan pun tersenyum tipis.
Niat Kenan untuk membawa Silly makan bersamanya dibatalkannya. Karena kini Kenan sudah mengganti rencananya.
Dia mengajak Silly ke rumahnya dan makan bersamanya di rumah. Tentunya dengan makanan yang dimasak oleh Bik Darmi.
Sesudah memarkirkan mobilnya, dengan segera Kenan masuk ke dalam rumahnya tanpa membukakan pintu mobil Silly seperti biasanya.
Silly benar-benar merasa kehilangan sosok Kenan yang sangat penyayang baginya. Dia menatap nanar punggung Kenan yang berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Dengan langkah gontainya Silly berjalan memasuki rumah Kenan. Hingga dia berpapasan dengan Bik Darmi dan menyapanya.
"Non Silly datang juga ternyata."
Silly menoleh ke arah Bik Darmi dan menghela nafasnya. Tanpa menjawab sapaan Bik Darmi, dia kembali berjalan menuju kamar Kenan.
"Tumben Tuan datang jam segini? Eh ternyata Non Silly masih sekolah. Kok bisa Tuan Kenan suka sama dia ya? Eh sudahlah, aku siapkan makanan dulu, daripada Tuan nanti marah-marah," Bik Darmi bermonolog sambil menatap punggung Silly yang berjalan menjauhinya.
Silly mencoba membuka pintu kamar Kenan dan ternyata pintu kamar itu terbuka. Segera Silly masuk ke dalam kamar tersebut dengan harapan akan disergap kembali oleh Kenan seperti waktu itu.
Namun, harapannya kandas. Setelah dia memasuki kamar Kenan, tidak ada Kenan di sana. Hingga dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Otak cerdik Silly berpikir untuk mendapatkan perhatian Kenan. Dengan segala cara dia membuat beberapa cara di otaknya agar Kenan kembali memperhatikannya seperti biasanya.
Ketika dia mendengar suara air yang terhenti dari dalam kamar mandi, segera dia mengambil ancang-ancang untuk melaksanakan ide yang sudah dirancangnya.
Ceklek!
Grep!
Kenan yang baru saja melangkah keluar dari dalam kamar mandi tiba-tiba saja membelalakkan matanya ketika merasakan tangan mungil yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Seperti biasanya, Kenan hanya berbalut handuk sebatas pinggangnya saja dengan bagian atas tubuhnya yang tidak memakai apapun sehingga menampakkan bagian dada berotot dengan abs yang menggoda mata setiap wanita.
"Abang… Silly mau…," ucap Silly dengan nada menggoda.