My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 9 Bekas?


__ADS_3

Kenan menurunkan Silly di dekat meja makan. Kemudian Kenan membuka tudung saji yang menutupi semua makanan itu.


"Kamu mau makan?" tanya Kenan yang sekarang sudah tidak bersikap galak lagi pada Silly.


Silly tersenyum mendengar pertanyaan Kenan yang seolah mengkhawatirkannya.


"Masih sedikit kenyang sih. Tapi kalau Abang mau makan, Silly temenin deh," jawab Silly sambil tersenyum manis pada Kenan.


Reflek Kenan pun membalas senyum yang diberikan oleh Silly. Gadis cantik dengan tinggi badan yang sesuai dan tentunya badannya sangat seksi layaknya tubuh wanita dewasa, membuat Silly menarik perhatian tiap pasang mata yang melihatnya. Sayangnya semua laki-laki tersebut harus menelan kekecewaan karena tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil mendapatkan hatinya.


"Sebentar lagi deh kalau gitu. Aku mau nonton pertandingan bola dulu," ucap Kenan sambil menutup kembali semua makanan itu menggunakan tudung saji.


Setelah itu Kenan duduk di sofa dan menyalakan televisi. Tangannya sibuk mencari chanel televisi yang sedang dia cari.


Silly duduk di dekat Kenan dan menghadap Kenan. Kemudian dia memperhatikan Kenan dan berkata,


"Bang, aku pinjam baju dan celananya dong. Aku mau mandi. Gerah nih."


Kenan menoleh dan melihat wajah Silly yang memang tampak lelah. Kemudian dia berkata,


"Ambil saja di lemari Abang. Tapi kamu mau diantar pulang jam berapa? Apa setelah kita makan malam saja?"


"Aku gak mau pulang. Aku menginap di sini saja. Di rumah aku sendirian, kesepian, sama seperti Abang. jadi, mendingan di sini aja aku bisa nemenin Abang dan Abang jadi ada temannya," jawab Silly sambil tersenyum lebar di akhir ucapannya.


"Kamu gak dimarahi sama orang tua kamu? Mereka gak tau kan kalau kamu jadi sugar baby? Eh bentar, aku baru ingat. Bukannya kamu anak orang kaya? Mobil kamu yang nabrak itu tergolong mobil mewah loh. Lalu, kenapa kamu jadi sugar baby?" Kenan memberondong Silly dengan banyak pertanyaan.


Sontak saja Silly teringat jika Kenan mengetahuinya memiliki mobil.


Wah celaka kalau dia tahu aku kaya. Bisa-bisa dia memberiku banyak pertanyaan. Lebih baik aku beralasan aja. Cari alasan yang tepat sekarang, Silly berkata dalam hatinya setelah mendengar pertanyaan dari Kenan.


"Oh itu. Sebenarnya itu mobil teman aku. Dan aku di sini tinggal di kos-kosan. Orang tuaku ada di desa semua. Aku menjadi sugar baby karena mencari uang untuk biaya perbaikan mobil milik temanku yang kemarin Bang," jawab Silly dengan wajah mengiba.


"Serius?" tanya Kenan yang mencoba mencari kebenaran dari wajah Silly.


Dengan cepatnya Silly menganggukkan kepalanya dan dia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dengan beranjak dari duduknya.


"Bang, aku mandi dulu ya. Boleh kan mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar Abang?" tanya Silly yang sudah dalam keadaan berdiri.


"Boleh. Bajunya ada di lemari Abang. Awas aja kalau lemarinya diberantakin," ucap Kenan tanpa melihat ke arah Silly.


"Siap komandan," jawab Silly tegas dengan meletakkan telapak tangannya pada pelipisnya, layaknya sedang hormat.

__ADS_1


Kenan seketika menoleh ketika mendengar suara tegas Silly dan dia terkekeh ketika melihat Silly sedang hormat padanya.


Selang beberapa menit, Silly kembali duduk di dekat Kenan. Seolah tidak bisa diganggu, Kenan masih saja menatap televisi yang sedang menyiarkan pertandingan sepak bola.


"Bang… Abang… makan yuk…," ucap Silly sambil menggoyang-goyangkan lengan Kenan.


"Kamu makan duluan aja ya. Abang nanti aja makannya, setelah pertandingan sepak bolanya selesai."


Tanpa menoleh ke arah Silly, Kenan berkata sambil memperhatikan pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung di televisi.


Seketika bibir Silly mengerucut. Dia tidak suka diacuhkan, apalagi niatnya menginap di rumah Kenan karena ingin ada teman untuk makan bersama dan tidak mau kesepian lagi. Ternyata kehadirannya dikalahkan oleh pertandingan sepak bola.


Mata Silly mengarah pada meja makan yang berukuran besar dan di atasnya sudah tersaji beberapa makanan.


Tiba-tiba dia mempunyai ide yang tidak mungkin ditolak oleh Kenan. Silly beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja makan tersebut.


Silly mengambil beberapa macam lauk dan nasi secukupnya. Setelah itu dia juga mengambil segelas air putih.


"Haaaak…," ucap Silly sambil mengarahkan sendok yang berisi makanan di depan mulut Kenan.


Kenan melihat ke arah sendok yang sudah berisi makanan tersebut, kemudian dia menoleh ke arah Silly yang dengan senyum manisnya seolah memaksa Kenan untuk memakan makanan tersebut.


Sedangkan Silly sibuk menyuapi Kenan dan menyuapi dirinya sendiri, hingga makanan yang ada di dalam piring itu habis tak tersisa.


"Mau tambah lagi Bang?" tanya Silly ketika sudah selesai mengunyah makanannya.


"Gak usah, udah kenyang. Nanti kalau lapar kita makan lagi," jawab Kenan yang masih fokus melihat pertandingan sepak bola di televisi.


Silly memberikan gelas yang berisi air putih itu tepat di bibir Kenan agar Kenan bisa dengan mudah meminumnya.


Kenan pun meminumnya tanpa melihat. Setelah itu dia melihat Silly meminum air putih itu dari gelas yang sama dengannya.


Dahi Kenan mengernyit dan dia memandang Silly dengan heran. Kemudian dia bertanya,


"Kamu minum air dari gelas bekas yang aku minum tadi?" 


"Iya. Kenapa memangnya Bang?" ucap Silly sesudah meneguk minumannya.


"Kamu gak jijik sama bekas aku?" tanya Kenan menyelidik.


"Abang penyakitan?" tanya Silly pada Kenan.

__ADS_1


Kenan menggelengkan kepalanya. Dia memandang Silly dengan penuh tanda tanya.


"Ya udah. Terus ngapain aku jijik sama bekasnya Abang. Bahkan tadi aja kita makan dari piring yang sama dan sendok yang sama," ucap Silly sambil terkekeh.


Sontak saja Kenan membelalakkan matanya. Dia tidak mengira jika Silly seorang gadis cantik yang penampilannya sangat modis dan barang-barangnya berkelas bisa melakukan hal semacam itu.


Bahkan Kenan tidak pernah menemui wanita yang seperti Silly. Dia memang sedari tadi tidak percaya dengan pengakuan Silly yang mengatakan dia bukan dari keluarga yang kaya. Tapi dia hanya mencoba percaya dan akan pelan-pelan mencari tahu yang sebenarnya.


Kenan paling tidak suka dibohongi. Dan dia paling benci dengan pembohong. Jika Silly memang seorang pembohong, tamatlah sudah riwayatnya. Sampai kapanpun dia tidak akan mendapatkan maaf dari Kenan meskipun dia telah memiliki hati Kenan sepenuhnya.


Kenan tersenyum dan mengusap rambut Silly. Entah kenapa dia bisa luluh dengan gadis seperti Silly yang jauh sekali dari sikap dewasa.


Silly yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenan merasa senang. Setelah Kenan kembali fokus pada pertandingan sepak bola di televisi, Silly mengembalikan piring dan gelas bekas di dapur. 


Tadinya piring dan gelas itu akan ditinggalkannya saja di dapur, tapi dia ingat jika tidak ada pembantu yang akan membereskannya sehingga Silly mencucinya dan menempatkannya ke tempatnya semula.


"Bang, itu makanannya gimana?" tanya Silly sambil menunjuk ke arah meja makan.


"Biarkan saja. Besok pasti dibersihkan Bik Darmi," jawab Kenan tanpa menoleh ke arah Silly.


"Bik Darmi? Siapa? Pembantu Abang?" tanya Silly dengan rasa ingin tahunya.


"Iya, Bik Darmi pembantu Abang yang datang pagi dan pulang sore hari," jawab Kenan yang masih fokus melihat pertandingan sepak bola di televisi.


Silly mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia mengerti penjelasan yang diberikan oleh Kenan.


Kemudian dia duduk kembali di dekat Kenan dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Kenan.


Tanpa sadar tangan Kenan mengusap rambut Silly meskipun matanya masih fokus melihat ke layar televisi.


Silly yang merasa senang dan nyaman mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenan, lambat laun matanya terpejam. 


Setelah pertandingan sepak bola selesai, Kenan menggendong Silly menaiki tangga menuju kamarnya.


Direbahkannya tubuh Silly di atas ranjangnya. Kenan pun melakukan hal yang sama. Dia merebahkan tubuhnya berdampingan dengan tubuh Silly.


Kenan menghadap ke arah Silly. Dia memperhatikan benar-benar wajah Silly yang sedang tertidur.


"Cantik juga dia," ucap Kenan lirih sambil tersenyum.


Cuup!

__ADS_1


__ADS_2