
"Dijodohkan? Apa ini? Sekarang bukan jamannya perjodohan. Kenapa aku harus dijodohkan?" Silly bertanya-tanya di dalam kamarnya.
Dengan kesalnya dia masuk ke dalam kamarnya setelah Mama dan Papanya memutuskan agar Silly memilih di antara dua pilihan.
"Aku gak mau. Aku udah punya Bang Kenan. Aku gak mau dijodohkan dengan siapapun," rengek Silly sambil memukul-mukul ranjangnya.
"Ah aku harus memberitahukan hal ini pada Bang Kenan," ucap Silly sambil menekan tombol telepon pada nomor ponsel Kenan.
Sudah berkali-kali Silly menghubungi Kenan, tapi tetap saja Kenan tidak menerima teleponnya.
Hingga Silly kesal dan berteriak mengumpat Kenan.
"Bang-Ke….! Awas aja kalau nyuruh-nyuruh Silly, aku gak akan mau!"
"Eh, tapi aku kan butuh dia agar Mama sama Papa membiarkan aku tetap di sini," ucap Silly setelah dia ingat akan nasibnya sekarang ini.
"Aku harus bagaimana?" ucap Silly sambil menghela nafasnya.
Tak lama kemudian mata Silly terpejam. Sepertinya dia tidak sengaja tertidur ketika dia sedang berpikir.
Di rumah, Kenan sedang kesal hingga dia tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Baru kali ini dia merasa kesal dan kehilangan arah hanya karena seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah Silly, sugar baby kesayangannya.
"Sialan! Kenapa aku harus seperti ini hanya karena gadis itu?" seru Kenan yang sedang kesal pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia teringat pada ponsel Silly yang ada padanya. Dengan segera dia meninggalkan pekerjaannya untuk mengambil ponsel Silly yang dia simpan di kamarnya.
Dibukanya galeri foto pada ponsel Silly. Dan darahnya seolah naik ketika melihat foto Silly bersama dengan laki-laki yang dilihatnya berpelukan dengan Silly di depan gerbang sekolah tadi.
Foto mereka sangat dekat sekali. Bahkan pipi Silly dicium oleh laki-laki itu dan wajah Silly terlihat sangat bahagia dalam foto tersebut.
Seketika dia mengingat nama Bintang. Jari tangan Kenan bergerak lincah mencari nama kontak Bintang pada buku telepon yang ada pada ponsel tersebut.
__ADS_1
Seketika bibirnya melengkung ke atas ketika melihat nama Bintang tertera di sana.
Jarinya hendak menekan tombol telepon, sayangnya ponsel itu berbunyi. Dan nama yang tertera sebagai penelepon adalah Bintang.
Senyumnya seketika mengembang melihat nama Bintang yang sedang meneleponnya. Keinginannya untuk menelepon Bintang pun dengan mudah bisa terlaksana tanpa harus dia mencari alasan untuk meneleponnya.
Halo, Silli-nder… cepat turun, Mama dan Papa akan benar-benar menjodohkanmu jika kamu tidak turun makan malam sekarang, ucap Bintang yang ada di ruang makan rumah mereka.
Sontak saja Kenan membelalakkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Bintang melalui telepon.
Dijodohkan? Dengan siapa? Lalu, Bintang ini siapa? Kenapa dia bisa ada di rumah Silly? Dan dia sepertinya sudah dekat sekali dengan Mama dan Papanya Silly. Tidak bisa, Silly milikku, dia sugar baby ku, tidak ada yang boleh memilikinya, Kenan berkata dalam hatinya.
Halo, Halo… Silli-nder… adikmu ini sedang berbicara. Apa kau dengar itu? Aku akan benar-benar masuk ke dalam kamarmu jika kamu tidak mau turun sekarang juga, ucap Bintang dari seberang sana mengancam Silly.
Mata Kenan terbelalak ketika mendengar kata adik yang keluar dari mulut Bintang. Seketika bibir Kenan melengkung ke atas. Dia tersenyum mengetahui fakta hubungan Silly dan Bintang yang sebenarnya.
Tanpa basa-basi, Kenan mematikan telepon tersebut dan dia bergegas mencari tahu tentang keluarga Silly.
Dia memerintahkan pada orang kepercayaannya untuk mencari tahu semua tentang keluarga Silly dan orang yang akan dijodohkan dengan Silly.
"Binbin iiih… aku masih ngantuk. Udah, kamu makan sendiri sana, aku masih kenyang," rengek Silly sambil kembali memejamkan matanya.
"Kalau kamu gak mau turun, terpaksa Mama dan Papa akan menjodohkan mu sekarang juga," ucap Bintang yang bermaksud bercanda pada Silly.
Sontak saja Silly bangun dari tidurnya dan berdiri di sebelah ranjangnya dengan mata yang terbuka lebar.
"Bukannya kalau ketemu aku mereka akan menanyakan tentang hal itu? Kenapa sekarang malah jadi ancaman?" tanya Silly pada Bintang yang sedang berdiri di hadapannya.
Dengan gaya cueknya, Bintang berdiri di hadapan Silly dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Iiisssh… ngomong sama kamu gak enak, bukannya ngasih solusi malah ngetawain. Sebel deh," ucap Silly dengan sewotnya.
Bintang malah tertawa melihat kakaknya merajuk dan berakhir sebal padanya.
__ADS_1
"Udah deh Silli-nder… kita makan dulu sekarang. Marah-marah itu butuh tenaga, jadi kamu harus isi tenagamu dulu dengan makan makanan yang bergizi. Ok?!" tutur Bintang sambil merangkul pundak kakaknya untuk membawanya turun ke lantai bawah.
"Bin, kalau Mama sama Papa menanyakan pilihanku gimana? Apa yang harus ku pilih? Ikut bersama mereka atau mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan mereka?" tanya Silly pada Bintang sambil berjalan menuruni tangga.
"Kalau Kakak gak mau pindah, mending Kakak pilih aja dijodohkan, tapi tanya dulu siapa orangnya, biar Kakak tau yang dijodohkan dengan Kakak itu siapa," tutur Bintang pada kakaknya yang terlihat sekali dari wajahnya jika dia sedang bingung.
"Aku gak mau. Aku sudah punya pacar sendiri. Pasti orang yang akan dijodohkan denganku itu masih lebih keren pacarku," ucap Silly dengan bangganya.
Seketika Bintang menghentikan langkahnya dan melepaskan rangkulannya setelah mendengar perkataan Silly.
"Kakak punya pacar?" tanya Bintang dengan tatapan tidak percaya.
"Punya dong. Dia tuh ganteng, keren, tajir pula. Dia tuh idaman semua cewek," jawab Silly dengan bangganya.
Bintang memicingkan matanya melihat Silly seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Kakak gak bohong kan?" tanya Bintang dengan menatap mata Silly, mencari kejujuran dari mata tersebut.
"Sejak kapan Kakakmu ini bisa bohong," jawab Silly dengan menatap tajam mata adiknya.
"Benar juga sih, Kakak gak bisa bohong. Hmmm… kalau gitu, mendingan Kakak kenalkan saja pacar Kakak pada Mama dan Papa agar perjodohan itu dibatalkan," tutur Bintang sambil menepuk-nepuk ringan pundak Silly.
Seketika mata Silly berbinar. Sama sekali tidak terpikirkan hal itu olehnya. Dan kini dia bisa santai menghadapi kedua orang tuanya.
Silly dan Bintang berjalan menuju meja makan. Setelah itu mereka makan dengan tenang. Tidak ada obrolan sama sekali tentang dua pilihan yang diajukan oleh kedua orang tuanya pada Silly.
"Ma, Pa, Silly masuk ke kamar dulu ya. Ada banyak tugas yang belum Silly kerjakan," ucap Silly sambil beranjak dari kursinya setelah mereka semua sudah selesai makan malam.
"Silly tunggu. Bagaimana dengan tawaran Mama dan Papa? Apa kamu sudah menjatuhkan pilihanmu? Pilihan pertama atau kedua?" tanya Alan menghentikan langkah kaki Silly ketika hendak berjalan menuju kamarnya.
Silly menoleh ke belakang di mana kedua orang tuanya dan adiknya berada. Dia menghela nafasnya sebelum berbicara pada kedua orang tuanya untuk menentukan pilihannya.
"Pa, Ma, Silly gak mau ikut dengan Mama dan Papa. Silly maunya di sini aja. Jika Mama dan Papa ingin tinggal bersama dengan Silly, Mama dan Papa saja yang pindah kemari. Dan juga, Silly gak mau dijodohkan. Silly sudah punya pacar. Silly hanya mau menikah dengannya saja. Gak mau nikah sama orang lain. Titik."
__ADS_1