
Tok… tok… tok…
Suara kaca jendela mobil diketuk dari luar dan menghentikan ciuman mereka.
"Ken… Kenan… Ken…," ucap seseorang dari luar mobil sambil mengetuk kaca jendela mobil Kenan.
Sontak saja Kenan segera menoleh ke arah jendela kaca yang diketuk oleh seseorang dari luar.
Kenan memejamkan matanya melihat sosok orang yang mengetuk kaca jendela mobilnya. Dalam hatinya dia mengutuk orang tersebut karena telah mengganggu aktivitas ciumannya bersama dengan Silly.
Sedangkan Silly, dia mematung dengan kedua tangannya yang menutupi bibirnya.
Aku dicium Bang Kenan lagi. Rasanya… rasanya… nagih, Silly berkata dalam hatinya dengan mata yang berbinar.
Kenan membuka kaca jendelanya dan tersenyum sinis melihat orang yang berada di luar mobilnya adalah Dinda, teman Kenan, si pemilik butik yang baru saja mereka datangi.
"Ngapain?" tanya Kenan dengan sewotnya.
"Ck, kamu itu gak tau tempat. Di dalam mobil masih aja sempat nyosor. Bawa sono ke hotel biar gak ada yang lihat kalian sosor-sosoran atau lagi gituan," ucap Dinda dengan kesal.
"Ngapain di hotel, dia aja nginep di rumah," sahut Kenan sambil terkekeh.
Seketika Dinda kaget mendengar ucapan Kenan. Tapi detik kemudian dia tersenyum sinis pada Kenan.
"Dasar cowok, kalau ada yang baru yang lama ditinggalin," ucap Dinda dengan sinis.
Kenan menatap Dinda dengan tatapan tajam, dia tidak suka jika Silly mengetahui tentang wanita-wanita yang hadir dalam hidupnya sebelum memutuskan Silly sebagai sugar baby nya.
Bukan karena takut jika Silly cemburu, hanya saja dia paling tidak suka ditanya-tanya tentang masalah wanita yang bisa membuat ketentramannya terusik.
Itulah salah satu alasan kenapa Kenan selama ini tidak memiliki pacar. Baginya pacar hanya bisa menyita waktunya saja.
Dinda bergidik ngeri dilihat seperti itu oleh Kenan. Dengan segera dia memberikan paper bag yang dia bawa pada Kenan.
"Apa ini?" tanya Kenan dengan wajah heran menerima paper bag yang diletakkan Dinda di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Lihat aja sendiri. Aku ke sini hanya ingin memberikan itu saja padamu. Udah ya, bye!" ucap Dinda dengan memperlihatkan telapak tangannya di hadapan Kenan sebagai salam perpisahan.
"Ck, dasar markonah, sensinya benar-benar seperti perempuan," ucap Kenan sambil terkekeh.
Kemudian dia melihat isi dalam paper bag tersebut dan dia kembali terkekeh setelah melihat isi dalam paper bag itu.
Silly yang sedari tadi memperhatikan percakapan antara Kenan dan Dinda merasa heran ketika melihat Kenan terkekeh setelah mengetahui isi dari paper bag yang diberikan Dinda pada Kenan.
"Kenapa Bang? Apa isinya?" tanya Silly penasaran sambil melongokkan kepalanya ingin melihat isi dalam paper bag tersebut.
Kenan melihat wajah Silly yang semakin dekat padanya, kemudian dia tersenyum dan memberikan paper bag tersebut pada Silly.
Mata Silly terkunci pada senyuman Kenan. Bibir Kenan mampu membuat Silly melupakan segalanya. Hanya dengan melihat bibir Kenan saja Silly menjadi bengong seolah tidak melihat yang lainnya dan tidak mendengar apapun.
"Sil… Silly… Ini, lihat saja sendiri isinya," ucap Kenan sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di hadapan Silly.
"Ehmmm… eh i-iya. Apa ini?" tanya Silly sambil membuka paper bag tersebut.
"Oh iya kelupaan. Abang sih ngajak keluar dari butik buru-buru. Jadi lupa kan pakaian Abang yang aku pakai tadi sampai tertinggal di butik," ucap Silly mencoba membela dirinya sendiri dengan menyalahkan Kenan.
"Kok Abang sih yang disalahin?" tanya Kenan sambil terkekeh dengan tangannya mencubit gemas hidung Silly dan memainkannya ke kanan dan ke kiri.
"Ya kan memang gitu kenyataannya. Aku gak bohong kan?" ucap Silly sambil memajukan bibir bawahnya.
"Ya udahlah, biar adil, kita berdua yang salah. Sekarang kita berangkat ya biar bisa cepat sampai di sana," tutur Kenan sambil menyalakan mesin mobilnya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang hingga sampailah mereka di tempat yang telah menjadi tempat tujuan Kenan untuk pertama kalinya mengajak Silly menghabiskan waktu di luar rumah bersamanya.
"Kok kita ke sini Bang? Kan udah aku bilang jika-"
"Kita mau nonton di sini Sil," Kenan menyela perkataan Silly yang sedang memprotesnya.
"Nonton? Kan enakan di rumah Bang bisa sambil…," Silly mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu gak ingin nonton di bioskop seperti yang lainnya?" tanya Kenan yang berusaha menyahuti perkataan Silly.
__ADS_1
Sorry Sil, Abang tau apa yang kamu inginkan. Hanya saja untuk saat ini Abang gak bisa memberikannya. Karena banyak hal yang menjadi pertimbangan Abang untuk saat ini. Abang harap kamu mengerti.
Ingin sekali Kenan mengatakan hal ini dengan tegas pada Silly. Hanya saja Kenan tidak tega membuat Silly bersedih. Dia tidak tega jika melihat raut wajah kesedihan dari wajah cantik sugar baby miliknya itu.
"Iya sih. Dari dulu Silly pengen banget nonton bioskop sama pacar Silly. Sayangnya sampai saat ini Silly gak punya pacar. Dan sepertinya lebih asik menonton di rumah tadi bareng sama Abang," jawab Silly jujur dengan menampakkan wajah polosnya.
Tuh kan benar, Silly memang lebih mengharapkan untuk bisa menuntaskan rasa penasarannya. Untung aja aku segera membawanya ke sini. Kalau di rumah terus seperti tadi, bisa-bisa aku hilang kendali. Gawat…, Kenan kembali berkata dalam hatinya sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Ayo Sil, lepas sabuk pengamanmu sekarang. Sepertinya filmnya akan segera dimulai," tutur Kenan sambil melihat ke arah Silly yang sedang diam saja dan duduk anteng melihat Kenan.
"Lepasin…," ucap Silly dengan manjanya.
Kenan tersenyum mendengar permintaan dari gadis yang berstatuskan sugar baby nya di hadapannya.
"Nanti Abang kamu serang lagi," ucap Kenan sambil terkekeh.
"Bukannya Abang juga seneng ya? Buktinya Abang selalu mau melakukannya," sahut Silly yang merasa jika bukan hanya dirinya saja yang senang akan ciuman mereka berdua.
"Ehemmm… udah yuk kita turun," ucap Kenan sambil membuka pintu mobilnya.
Silly memasang wajah cemberut ketika melihat Kenan benar-benar keluar dari mobilnya tanpa membantu membukakan sabuk pengaman miliknya.
Klik!
Pintu mobil Silly terbuka. Silly melihat ke arah pintu yang terbuka dan mendapati Kenan sudah berada di sana.
Kenan menundukkan sedikit tubuhnya dan memasang senyuman manisnya untuk Silly yang sedari tadi memandangnya.
Klik!
Sabuk pengaman Silly dilepas oleh Kenan tanpa sepengetahuan Silly karena dia sibuk memandangi Kenan yang memberikan senyuman manisnya pada Silly.
"Sayang, yuk turun," ucap Kenan yang berniat untuk meredakan kekesalan Silly dengan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Semburat merah muda kini menghiasi pipi Silly. Dia merasa malu dan senang mendapat panggilan sayang dari Kenan.
__ADS_1
"Abang… panggil Silly dengan panggilan sayang ya Bang. Silly suka," ucap Silly dengan malu-malu dan matanya berbinar menampakkan kebahagiaannya saat ini.
"Hmmm… gimana ya?" ucap Kenan sambil berpikir.