My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 26 Kebingungan Silly


__ADS_3

"Kak, apa keputusanmu?" tanya Bintang pada Silly sambil mengendarai mobilnya mengantarkan Silly pergi ke sekolah.


Sedari tadi Silly hanya diam saja sejak diajak oleh kedua orang tuanya untuk ikut tinggal bersama mereka, yang artinya dia akan pindah sekolah.


Dan yang paling membuat Silly bingung adalah Kenan. Dia tidak ingin berpisah dari Kenan dan juga Aurel serta vania.


"Kak! Silli-nder…!"


Bintang berseru agar Silly mau menjawab pertanyaannya.


Sontak saja Silly terhenyak dari lamunannya. Dia menoleh pada Bintang yang sedang mengemudi di sampingnya.


"Apa? Ada apa?" tanya Silly yang terlihat bingung.


"Ngelamun aja. Ngelamunin apa sih?" tanya Bintang sambil mengemudikan mobilnya.


"Aku bingung Bin," jawab Silly dengan suara lirih.


Bintang mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti apa maksud dari jawaban kakaknya itu.


"Yang lebih spesifik dong jawabannya," ucap Bintang dengan nada sedikit kesal pada kakaknya.


"Aku bingung. Memang aku sangat senang tinggal bersama dengan Mama dan Papa. Tapi aku gak mau meninggalkan teman-temanku," ucap Silly lemah.


Bintang diam, dia tidak tahu harus berkata apa. Karena jika dia berada pada posisi Silly, pasti dia pun akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Silly.


"Kak, apa aku aja yang pindah ke sini lagi?" tanya Bintang dengan tersenyum getir merasakan apa yang dirasakan oleh kakaknya.


Silly menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Karena selama ini adiknya itu lebih memilih untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya.


"Enggak lucu Bin. Mending kamu konsentrasi aja tuh sama jalanan. Jangan sampai nanti ada siput kamu tabrak," ucap Silly mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku beneran Kak. Aku gak bercanda. Aku ingin tinggal sama kamu," sahut Bintang dengan nada bijaknya.


Silly menatap heran pada Bintang. Adiknya itu memang lebih muda darinya, tapi untuk masalah sikap, Bintang lebih dewasa daripada Silly.


"Apa karena aku kesepian dan kamu kasihan padaku Bin?" tanya Silly dengan memandang Bintang tanpa berkedip.


Bintang tersenyum tipis, kemudian dia menjawab pertanyaan kakaknya,


"Aku ingin menebus waktu bersama kita sebelum kita beranjak dewasa dan memiliki pasangan sendiri-sendiri."


Silly tersenyum mendengar jawaban dari adiknya yang sudah bersikap dewasa melebihi dirinya.


"Apa Nenek dan Kakek mengijinkanmu untuk tinggal bersamaku?" tanya Silly yang merasa penasaran dengan jawaban dari adiknya.


"Itu bisa aku usahakan Kak. Kakak kan juga cucunya Kakek dan Nenek. Jika mereka tahu Kakak kesepian pasti mereka mengijinkan aku tinggal bersama Kakak," jawab Bintang sambil tersenyum menenangkan kakaknya.


Silly mengernyitkan dahinya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Silly seolah tidak percaya.


Bintang hanya tersenyum menanggapi pertanyaan kakaknya itu.


"Kakak gak percaya? Apa perlu kita buktikan?" tanya Bintang pada Silly seolah melawannya.


"Oh tentu tidak furgoso. Semuanya harus disertai bukti," jawab Silly dengan tegas.


"Ok, nanti aku akan hubungi Nenek dan Kakek. Sekarang masuklah ke sekolah, sebelum bel masuk berbunyi," ucap Bintang yang sudah menghentikan mobilnya di depan pagar sekolah Silly.


"Gawat, satpamnya udah jaga di depan gerbang. Aku duluan ya Bin. Bye…."


Setelah berpamitan pada Bintang, Silly berlari melewati kedua satpam yang sudah berjaga di depan gerbang.


"Pagi Pak…," sapa Silly pada kedua satpam tersebut sambil berlari melewati mereka.


"Pagi Mbak sil-"


"Hahaha… dia udah ngacir duluan," ucap satpam yang satunya menyela ucapan satpam tersebut.


Sesampainya di dalam kelas, Silly disambut oleh Aurel dan Vania. Mereka dengan hebohnya ingin mendengar cerita Silly ketika bersama dengan Kenan.


"Sil, cerita dong…," ucap Vania sambil menarik-narik tangan Silly.


"Gila… Si Abangnya Silly keren banget, ganteng, tajir lagi. Pengen banget deh punya yang kayak gitu," sahut Aurel dengan matanya yang berbinar.


"Beneran? Aku mau ketemu dong. Pengen kenalan. Boleh kan Sil?" tanya Vania sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya sambil menggerak-gerakkan kelopak matanya dan tersenyum manis pada Silly.


Silly kembali tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Kemudian dia menjawab,


"Boleh dong. Kapan-kapan kalau ketemu bakalan aku kenalin sama kalian."


"Kamu gak marah Sil kita ngomongin Abang kamu seperti ini?" tanya Aurel dengan wajah serius.


"Ya enggak lah. Memang kenyataannya Bang Kenan ganteng, keren, tajir lagi. Cewek mana yang gak naksir sama dia," jawab Silly dengan bangganya.


"Ah.. jadi tambah pengen ketemu nih aku sama si Abang. Btw, kamu udah ngapain aja Sil?" tanya Vania dengan rasa penasarannya.


"Gak usah ditanya yang begituan," sahut Aurel sambil mendekatkan wajahnya pada wajah kedua sahabatnya yang sedari tadi berbicara dengan suara pelan.


"Hah? Maksudnya?" tanya Vania dengan menampakkan wajah bingungnya.


Aurel mendekatkan bibirnya pada telinga Vania, kemudian dia berbisik,


"Dia masih virgin."


Sontak saja mata Vania terbelalak. Dia benar-benar kaget karena mendengar Silly masih belum diambil kesuciannya oleh sugar daddy nya.


"Beneran?" tanya Vania seolah tidak percaya.

__ADS_1


Aurel menganggukkan kepalanya, kemudian dia menoleh ke arah Silly dan berkata,


"Tanya sendiri tuh sama orangnya."


Seketika kepala Vania menoleh ke arah Silly dan dia menatap Silly dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apaan?" tanya Silly ketika melihat Vania menatapnya seolah bertanya melalui matanya.


Vania mendekatkan bibirnya pada telinga Silly dan berbisik,


"Kamu masih perawan?"


Tanpa beban Silly pun mengangguk sambil tersenyum lebar.


Brak!


Tangan Vania menggebrak meja yang ada di hadapannya sambil berkata,


"Beruntung sekali kamu Sil!"


"Ada apa Vania?"


Tiba-tiba terdengar suara tegas dan kencang dari seorang wanita yang menegur Vania dari arah pintu kelas mereka.


Sontak saja semua perhatian seisi kelas menuju pada arah sumber suara. Seolah melihat hantu, mereka semua berhambur menuju tempat duduk masing-masing.


"Kembali ke tempat duduk masing-masing!" 


Seketika kelas menjadi hening. Tidak ada suara yang keluar dari mereka semua. Hingga pelajaran mereka usai pun kelas masih dalam keadaan hening.


Jam pulang pun tiba. Silly bersama dengan Aurel dan Vania berjalan menuju gerbang sekolah.


"My Silly!" 


Terdengar seruan dari suara laki-laki yang tidak asing di indera pendengaran Silly.


Silly pun tersenyum lebar melihat sosok orang yang memanggilnya.


"Binbin!"  seru Silly sambil berlari kecil menuju Bintang yang berdiri tidak jauh dari tempat Silly berdiri.


Seperti biasa, mereka saling berpelukan dan tertawa senang seolah baru saja bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.


Aurel dan Vania terkejut melihat Silly berpelukan dengan laki-laki yang tidak pernah mereka temui.


Memang Aurel dan Vania tidak pernah berjumpa dengan Bintang. Mereka hanya pernah berjumpa dengan kedua orang tua Silly saja. Dan itu hanya satu kali mereka bertemu.


Dari dalam mobil mewah yang tidak jauh dari tempat Silly berada, ada sepasang mata yang melihat Silly berpelukan dengan seorang laki-laki.


"Siapa laki-laki itu?"

__ADS_1


__ADS_2