
Setelah Kenan membisikkan sesuatu di telinga Silly, dia beranjak dari duduknya. Tapi, ketika hendak melangkahkan kakinya, Silly menghentikannya.
"Abang, apa Abang mencintaiku?" tanya Silly yang merasa seperti perasaannya sedang dipermainkan oleh Kenan.
Kenan diam ketika Silly menanyakan hal itu padanya. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum dan kembali berjalan menuju kolam renang.
Silly mengerucutkan bibirnya, dia kesal pada Kenan yang tidak menjawab pertanyaan yang dia tanyakan padanya.
Kemudian dia berjalan mendekati Kenan dan berhenti tepat di sebelah Kenan. Silly berjinjit untuk bisa berbisik di telinga Kenan.
"Percuma ngomong sama Abang, gak pernah serius."
Setelah itu dia berjalan meninggalkan Kenan masuk ke dalam rumahnya.
Kenan terkekeh dan dia mengikuti Silly masuk ke dalam rumah. Di sana kedua orang tua Silly telah menunggu mereka berdua untuk meneruskan pembicaraan mereka yang tertunda sejak tadi.
"Sil, mau ke mana?" tanya mama Laura ketika Silly hendak menaiki tangga.
"Mau ke kamar Ma, ngantuk," jawab Silly dengan sewotnya.
"Loh, masih ada Kenan di sini kok udah masuk ke kamar?" tanya papa Alan dengan heran.
Kenan tersenyum melihat perubahan sikap Silly yang kesal padanya. Kemudian dia berkata,
"Silly berniat untuk menolak calon suami yang orang tuanya pilihkan untuknya."
Sontak saja mata Silly terbelalak dan dengan cepatnya dia membalikkan badannya ke arah kedua orang tuanya dan Kenan yang sedang duduk bersebelahan.
"Bohong Ma. Silly gak nolak kok. Silly mau nikah sama Bang Kenan. Beneran. Sumpah deh. Sekarang aja Silly mau kok," ucap Silly tanpa jeda.
Seketika suara tawa menggelegar dalam ruang tamu tersebut. Alan dan Laura tertawa keras, sedangkan Kenan terkekeh mendengar ucapan Silly yang terdengar dengan jelas tidak ingin kehilangan dirinya.
Mengetahui jika dia menjadi bahan tertawaan semua orang, Silly berlari menuju Kenan dan memukuli lengan Kenan dengan pukulan kecil.
"Jahat… jahat… Bang Kenan jahat…," seru Silly sambil memukuli lengan Kenan bertubi-tubi.
Kenan berdiri dan berlari menghindar dari pukulan Silly hingga mereka berada di luar rumah.
"Stop! Silly sudah capek Bang. Berhenti aja ya?!" seru Silly sambil mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan.
Kenan menggelengkan kepalanya, dia heran dengan sikap gadisnya yang berubah-ubah tetapi sangat menggemaskan.
"Ya sudah, Abang pulang dulu ya," ucap Kenan sambil mendekati Silly dan memeluk tubuhnya.
Hanya sebentar pelukan itu terjadi. Kemudian Kenan berjalan masuk ke dalam ruang tamu untuk berpamitan pada kedua orang tua Silly.
"Bang, Abang besok jemput Silly pulang sekolah gak Bang?" tanya Silly dengan nada manja pada Kenan yang akan masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Untuk beberapa saat Kenan diam, dia berpikir setelah mendapatkan pertanyaan dari Silly.
Silly yang melihat Kenan diam saja menjadi ragu. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan kecemasannya.
Kemudian Kenan memandang Silly dan dia tersenyum melihat gadisnya itu sedang menggigit bibir bawahnya. Lalu dia berkata,
"Lihat besok aja ya. Takutnya kamu nanti ngambek jika Abang sudah janji dan gak bisa datang."
Silly pun kini mengerucutkan bibirnya. Dia kecewa atas jawaban dari Kenan. Tanpa mengatakan apapun, Silly membalikkan badannya dan berjalan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Grep!
Badan Silly terhenti dan dibalikkan oleh tangan kekar milik Kenan yang sedang tersenyum padanya.
Cup!
Tiba-tiba bibir Kenan menempel pada bibir Silly. Hanya menempel sekilas dan hanya beberapa detik saja. Kemudian Kenan menarik kembali bibirnya dan berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya.
Silly mematung karena kaget. Hanya bulu matanya saja yang bergerak-gerak naik turun seperti boneka hidup.
Brak!
Suara pintu mobil Kenan yang tertutup membuat Silly tersadar. Seketika tangannya memegang bibirnya dan melihat ke arah Kenan yang sudah menyalakan mesin mobilnya dan tersenyum padanya.
Tin!
Kenapa? Ada apa denganku? Kenapa aku kaget ketika dicium seperti itu oleh Bang Kenan? Padahal kita sudah melakukan ciuman yang lebih dari itu. Kenapa aku seperti mendapatkan ciuman pertamaku saja? Silly berkata dalam hatinya sambil tangan kanannya menutupi bibirnya.
Kemudian dia berlari masuk ke dalam rumah tanpa menyapa kedua orang tuanya menuju ke kamarnya.
Dalam kamarnya Silly tidak bisa tidur. Entah karena dia terlalu senang bisa mendapatkan calon suami seorang Kenan atau karena dia mendapatkan ciuman dari Kenan yang rasanya seperti siuman pertama. Hingga menjelang pagi, matanya baru bisa terpejam.
Keesokan paginya, Silly berjalan lemas turun ke lantai bawah dengan berpakaian rapi menggunakan seragam dan memakai tas ranselnya.
"Pagi Non. Kok gak semangat gitu Non?" tanya Bik Ida ketika meletakkan menu sarapan di meja makan.
"Ngantuk Bik," jawab Silly dengan lemas.
"Kamu kenapa Sil?" tanya mama Laura dengan wajah heran memandang putrinya tidak bersemangat.
"Semalam Silly gak bisa tidur Ma," jawab Silly dengan lemas.
"Kenapa? Bukannya senang kemarin malam ketemu pacarnya?" sahut papa Alan yang duduk di sebelah mama Laura.
Silly menatap papanya setelah mendengar pertanyaan dari papanya. Kemudian dia menghela nafasnya lirih dan berkata,
"Calon suami Pa, bukan pacar. Kita udah naik setingkat."
__ADS_1
Alan meletakkan cangkir kopinya dan memandang ke arah Silly yang ada di hadapannya sambil berkata,
"Bukannya kalian berdua belum ada kata sepakat untuk menolak atau menerima?"
Sontak saja Silly menjatuhkan roti yang ada di tangannya ke atas piring yang ada di hadapannya.
Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu? Mengesahkan hubungan kami di hadapan Mama dan Papa, Silly berkata dalam hatinya.
"Kenapa Papa tidak mengingatkan kami berdua kemarin?" ucap Silly sambil memandang papa Alan.
Kemudian dia beralih memandang mamanya sambil berkata,
"Mama juga. Kenapa kemarin Mama tidak mengingatkan kami atau bertanya pada kami tentang hubungan kami?"
Dengan cueknya mama Laura menjawab pertanyaan Silly dengan cepat, tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Kenapa jadi Mama yang disalahkan? Bukannya kamu yang menjalankan hubungannya?"
Sontak saja Alan tersedak kopinya dan dia terkekeh mendengar jawaban dari istrinya.
Berbeda dengan Silly yang merasa sedih. Dia merasa posisinya sebagai calon istri Kenan menjadi terancam karena belum diperjelas oleh mereka berdua di hadapan kedua orang tua Silly.
Dengan segera Silly mengambil ponselnya dari saku seragamnya dan mencari nomor ponsel Kenan.
Alan dan Laura saling memandang setelah melihat putri kesayangan mereka dengan wajah kesalnya berkali-kali melakukan panggilan telepon.
"Ke mana sih tuh orang? Masa' pagi-pagi gini udah sibuk?" omel Silly sambil menempelkan ponselnya di telinganya.
Setelah beberapa panggilan yang dilakukan oleh Silly dan hanya menjadi panggilan tak terjawab, dia menyudahi panggilan teleponnya karena merasa kesal pada Kenan.
"Silly berangkat dulu Ma, Pa," ucap Silly sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kok buru-buru? Itu rotinya kenapa gak dimakan?" tanya mama Laura sambil menunjuk roti yang ada di piring Silly.
"Silly buru-buru Ma," jawab Silly sambil membawa tasnya.
"Sil tunggu. Nanti Mama sama Papa akan ke luar kota dan kami akan kembali beberapa hari lagi," ucap papa Alan menghentikan gerakan Silly.
Silly memandang mama dan papanya secara bergantian. Kemudian dia mengangguk dan berkata dengan lesu,
"Silly berangkat sekarang,"
Dengan langkah gontainya Silly menuju mobilnya dan meminta untuk diantar oleh Pak Tukin.
"Tumben Non tidak membawa mobil sendiri?" tanya Pak Tukin sambil mengemudikan mobilnya.
Tidak ada jawaban dari Silly yang duduk di kursi belakang. Pak Tukin melihat kaca spion yang berada di tengah, kemudian dia berkata dalam hati,
__ADS_1
Kacang… kacang… kacang rebus, kacang goreng.