
Pagi menyapa mereka yang masih lelap dalam tidurnya. Sepertinya tidur mereka sangat nyenyak karena saling berpelukan. Bahkan wajah mereka berdua tersenyum dalam tidurnya.
Pas sekali pagi ini Mama dan Papa Silly baru pulang. Dan mereka segera menuju kamar Silly untuk memberikan kejutan padanya.
Ceklek!
Pintu kamar Silly dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati oleh Mamanya. Mereka berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar oleh Silly.
Mata Laura dan Alan membola, mulut mereka berdua menganga melihat apa yang ada di hadapannya.
Silly, anak gadis mereka tidur berpelukan erat dengan Kenan yang baru berstatus calon suami Silly.
Orang tua mana yang begitu saja bisa dengan tenang melihat situasi seperti itu. Begitu pula dengan Alan dan Laura, mereka sangat emosi melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa yang kalian lakukan?!" seru Alan dengan kilatan emosi di matanya.
Sontak saja mata Silly dan Kenan terbuka, mereka berdua kaget mendengar suara Alan yang menusuk hingga ke dalam indera pendengaran mereka.
"Apa yang sudah kalian perbuat?!" seru Alan kembali karena belum melihat kedua manusia di hadapannya itu bangun dari tidur mereka.
Sontak saja mereka berdua terbangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang dengan mata yang masih mengerjap-ngerjap.
"Kenan, kenapa kamu bisa tidur di kamar Silly?" tanya Alan dengn tegas.
"Emmm itu… saya…-"
"Kemarin Abang pingsan kehujanan di luar. Kalau Papa dan Mama gak percaya, tanya aja sama semuanya. Pasti mereka mengatakan hal yang sama seperti yang Silly katakan," tutur Silly menyela ucapan Kenan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.
Alan menoleh ke arah Laura. Istrinya itu menggerakkan kedua bahunya ke atas sebagai tanda bahwa dirinya tidak tahu apa yang terjadi.
Kemudian Alan kembali melihat ke arah Kenan dan Silly secara bergantian. Kemudian dia bertanya pada mereka berdua,
"Lalu, kenapa Kenan tidur di kamar ini? Kan masih ada banyak kamar tamu di rumah ini."
"Saya-"
"Silly yang nyuruh Bang Kenan tidur di kamar Silly," sahut Silly dengan cepat untuk menyela ucapan Kenan.
"Silly! Kamu itu perempuan! Kenapa kamu jadi seperti perempuan gampangan seperti itu?" seru Alan dengan emosinya.
__ADS_1
Seketika Laura memegang tangan Alan agar tidak marah dan tidak lagi mengatai putrinya sendiri.
"Pa! Silly putri kita. Jangan sampai keluar kata-kata buruk untuknya," seru Laura memperingatkan suaminya.
"Maaf. Saya minta maaf. Tolong Mama dan Papa jangan sampai bertengkar. Saya yang salah," sahut Kenan dengan tegas sambil memandang Alan dan Laura secara bergantian.
"Baiklah. Lebih baik kalian menikah saja," ucap Alan sambil menatap tegas ke arah Kenan.
Setelah itu dia berjalan keluar meninggalkan kamar Silly dengan emosi yang belum reda.
Mama Silly memandang Silly dan Kenan dengan tatapan kecewa.
Sedangkan Kenan, dia dengan segera beranjak turun dari ranjangnya dan berlari keluar mengejar Alan.
"Abang, ke mana?" tanya Silly sambil beranjak dari ranjang ingin mengikuti Kenan.
"Silly! Duduk!" seru Laura sambil menghalangi jalan Silly agar tidak mengikuti Kenan.
Tidak ada pilihan lagi untuk Silly. Dia duduk di ranjangnya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Mamanya.
"Sil, apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Kenapa kamu bisa melakukan ini semua? Apa saja yang terjadi di antara kalian? Ayo katakan! Apa saja yang telah kalian lakukan?!"
Silly menghela nafasnya sambil memandang Mamanya yang seperti orang kesetanan bertanya padanya.
"Memangnya apa yang Silly lakukan Ma? Silly hanya tidur bersama Bang Kenan aja kok. Memangnya kenapa sih Ma?" tanya Silly dengan entengnya seperti tanpa beban.
"Silly! Kamu sadar tidak, kalian itu sudah dewasa. Kalian dilarang tidur bersama sebelum menikah," jawab Laura dengan nada tinggi.
"Ya udah, kalau gitu nikahkan aja kita berdua. Lagian kita juga cuma tidur aja gak ngapa-ngapain kok," sahut Silly tanpa berpikir panjang.
Seketika mata Laura terbelalak mendengar ucapan putrinya yang sedang diomelinya saat ini.
"Kamu tau gak kewajiban apa saja yang akan kamu lakukan jika kamu sudah menikah? Kamu masih sekolah Sil, masih SMA," ucap Laura dengan suara yang semakin lama semakin melemah.
"Kalau udah nikah itu enak kan Ma. Kayak Mama sama Papa yang selalu saling menemani. Kalau Silly udah nikah sama Bang Kenan, Silly pasti gak akan kesepian lagi. Silly udah ada teman di rumah, bahkan punya teman tidur. Jadi Silly gak akan kesepian dan ketakutan lagi," ucap Silly sambil tersenyum pada mamanya.
Seketika badan Laura lemas. Dia terduduk di ranjang, bersebelahan dengan Silly. Dia menatap putrinya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Sungguh Laura tidak menyangka jika dampak yang dirasakan oleh Silly sangat besar. Kesendiriannya selama ini tanpa kedua orang tuanya yang menemani membuatnya kesepian sehingga mempunyai pikiran untuk cepat menikah agar tidak kesepian lagi.
__ADS_1
Dalam hatinya dia sangat bersalah. Meskipun setiap bulan dia pulang selama beberapa kali, tapi itu tidak cukup bagi Silly. Putri remajanya itu nyatanya kesepian meskipun tidak pernah mengatakan padanya.
Diraihnya tubuh putrinya itu dan dibawanya ke dalam pelukannya. Air matanya luruh ketika memeluk putrinya itu. Dia merasa sudah lama tidak memeluknya semenjak mereka tidak tinggal bersama lagi.
"Mama, Mama kenapa nangis? Apa ucapan Silly menyakiti hati Mama?" tanya Silly yang masih ada di dalam pelukan mamanya.
Laura menggelengkan kepalanya dengan posisi masih memeluk putrinya. Kemudian dia mengurai pelukannya dan menatap wajah putri kesayangannya itu sambil berkata,
"Tidak, kamu tidak salah. Mama dan Papa yang salah."
Silly mengusap air mata mamanya. Dan dia menatap dalam mata mamanya. Kemudian dia berkata,
"Lalu, Silly dan Bang Kenan kapan nikahnya Ma?"
Seketika Laura terkekeh. Tangisannya berhenti setelah mendengar pertanyaan dari putri kesayangannya itu.
Silly… Silly… bisa-bisanya kamu menanyakan hal itu ketika suasana sedang haru seperti ini, Laura berkata dalam hatinya sambil terkekeh memandang Silly yang sedang menatapnya dengan wajah polosnya.
"Apa begitu cintanya kamu pada Kenan hingga ingin segera menikah dengannya?" tanya Laura sambil menggelengkan kepalanya karena heran pada Silly.
"Hehehe… iya Ma. Jarang banget kan ada laki-laki seperti Bang Kenan yang perfect gitu. Pasti deh banyak yang naksir sama dia. Silly gak mau kalau Bang Kenan dimiliki perempuan lain. Silly gak ridho, gak rela pokoknya," ucap Silly meyakinkan mamanya.
Laura kembali terkekeh mendengar ucapan putrinya itu. Dia tidak menyangka jika putri kesayangannya itu sudah besar dan sudah mengenal laki-laki. Padahal selama ini yang Silly tahu hanya pelajaran saja.
Kini dia tahu jika dia telah melewatkan banyak waktu untuk bersama putrinya. Pagi ini merupakan teguran keras baginya dan suaminya karena meninggalkan putrinya tanpa pengawasan ketat dari mereka.
Kepercayaan mereka pada anak-anaknya ternyata tidak cukup untuk membuat mereka tidak menyimpang dari ajaran yang telah mereka ajarkan selama ini.
Padahal setiap hari dia dan suaminya selalu berpesan pada Silly agar tidak berpacaran terlebih dahulu sebelum lulus SMA.
Nyatanya kini mereka dikejutkan oleh penuturan Silly yang mengatakan bahwa dia sudah memiliki pacar pada saat Laura mengancamnya akan menjodohkannya.
Itupun sebenarnya Laura hanya omong kosong belaka. Dia dan suaminya tidak memiliki kandidat siapapun untuk dijodohkan pada Silly.
Mereka hanya menggertak agar Silly mau tinggal bersama mereka di kota yang mereka tempati saat ini hingga mereka kembali ke kota ini.
Namun, mereka kembali dikejutkan oleh fakta bahwa Kenan yang menjalin kerjasama bisnis dengan Alan adalah pacar Silly.
"Ma, kapan nikahnya?" tanya Silly seolah tidak sabaran.
__ADS_1