My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 30 Sebuah pilihan


__ADS_3

"Ini tagihannya Pak," ucap kasir bengkel yang menangani mobil Kenan.


Kenan mengambil bill tagihan perbaikan kerusakan mobilnya dan memberikannya pada Silly.


"Ini tagihannya," ucap Kenan sambil memberikan bill tagihan tersebut pada Silly.


"Silly gak usah liat Bang. Ini cek nya. Abang aja yang bayar," tukas Silly sambil mengulurkan cek tersebut di hadapan Kenan.


Kenan tersenyum dingin menerima cek tersebut. Kemudian dia berkata,


"Beneran kamu gak nyesel?" tanya Kenan sambil memperlihatkan cek yang sudah berada di tangannya.


"Sepertinya cek itu memang bukan rejekinya Silly deh Bang," jawab Silly sambil tersenyum lebar.


Kenan mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan Silly padanya. Lalu dia berkata,


"Maksudnya?"


"Buktinya cek yang diberikan Bang Kenan pada Silly sekarang balik lagi ke tangan Bang Kenan," jawab Silly sambil tersenyum lebar dengan menunjuk cek yang dibawa Kenan.


Kenan terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Silly. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, 


"Benar juga sih."


Kenan meninggalkan Silly untuk kembali ke kasir membayarkan tagihannya. Baru dua langkah dia berjalan, dia kembali membalikkan badannya menghadap ke arah Silly dan berkata,


"Kamu mau ikut ke kasir?" 


"Gak usah deh Bang. Silly nunggu di sini aja ya," jawab Silly sambil tersenyum lebar.


Kenan pun meninggalkan Silly berdiri di samping mobilnya. Setelah selesai Kenan membayar di kasir, dia kembali menemui Silly.


"Sekarang kita mau ke mana Bang?" tanya Silly sambil membuka pintu mobilnya.


Kenan yang juga akan membuka pintu mobilnya segera menghentikan pergerakannya ketika Silly bertanya padanya.


Dia berpikir sejenak, kemudian dia berjalan mendekati Silly dan ketika dia sudah berada di dekat Silly dia berkata lirih di sebelah telinga Silly,


"Apa kamu mau menginap di rumah Abang?" 


Seketika mata Silly berbinar, sayangnya bayangan mama, papa dan Bintang yang tersenyum padanya membuatnya ingat jika keluarganya menunggu dirinya di rumah untuk berkumpul bersama menikmati waktu yang ada sebelum mereka kembali dengan urusan mereka masing-masing.

__ADS_1


Senyuman yang menandakan kesenangan dari Silly seketika lenyap setelah mengingat keluarganya.


"Sepertinya untuk hari ini Silly gak bisa deh Bang. Lain kali aja ya Bang," ucap Silly sambil tersenyum kecut.


Senyum Kenan berangsur memudar. Kini wajahnya kembali dingin. Tanpa mengatakan apapun, dia kembali ke mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya. Setelah itu dia melajukan mobil sportnya itu dengan kecepatan tinggi.


Jantung Silly berdetak cepat melihat kecepatan mobil Kenan yang tidak seperti biasanya. Bahkan ketika berpapasan dengannya, Kenan tidak membuka kacanya untuk berpamitan padanya.


"Kenapa Bang Kenan seperti itu? Apa aku ada salah sama dia? Salah apa lagi sih aku?" Silly bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil melihat mobil Kenan yang sudah tidak terlihat lagi.


Namun, lamunannya itu terganggu oleh dering telepon yang berasal dari ponselnya.


Segera diambilnya ponsel itu dari sling bag nya dan diangkatnya telepon tersebut.


"Halo," sapa Silly pada orang yang ada di seberang sana.


Silli-nder… cepat pulang, Mama sama Papa ingin bicara, terdengar suara Bintang di seberang sana berbicara dengan Silly melalui telepon.


"Iiisssh… Bin-nder… gak usah teriak-teriak gitu, aku gak budek! Aku sekarang udah dalam perjalanan pulang. Tunggu saja akan aku balas kau Bin-nder…," seru Silly dengan nada kesal dan mengancam adiknya.


Terdengar suara kekehan di seberang sana, membuat Silly bertambah kesal. Baru saja dia dibuat kesal dengan tingkah Kenan dan sekarang dia dibuat kesal oleh adiknya.


Dengan kesalnya Silly masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya menuju arah rumahnya.


"Kasihan Nenek sama Kakek kamu Bin. Mereka dari dulu menginginkanmu untuk menemani mereka di sana," tutur Alan, papa dari Silly dan Bintang.


"Tapi bagaimana dengan Kak Silly Pa? Kasih dia sendirian di rumah sebesar ini. Lagian Mama dan Papa kapan baliknya ke rumah ini sih? Apa gak bisa kita hidup bersama layaknya keluarga yang lain?" tanya Bintang untuk mengutarakan kekesalannya.


"Bintang, jaga ucapanmu!" seru Laura, mama dari Silly dan Bintang.


Terlihat jelas kekesalan dari mata Bintang. Hanya saja dia tidak berani untuk mengeluarkan amarahnya dan membantah kedua orang tuanya.


"Maafkan kami, secepatnya Papa dan Mama akan mengurus semuanya dan kembali lagi ke rumah ini. Mungkin saja pada saat itu Nenek dan Kakek juga mau melepaskanmu," ucap Alan dengan penuh penyesalan.


"Kapan itu Pa? Dan untuk Kak Silly bagaimana? Apa dia akan bisa bertahan dengan kesepiannya?" 


Pertanyaan dari Bintang itu membuat Alan dan Laura terhenyak. Mereka sama sekali belum memikirkan ke arah sana. Menurutnya selama ini Silly baik-baik saja karena tidak pernah mengeluh pada mereka.


"Kita ajak saja dia bersama kita Ma. Paksa saja jika dia tidak mau. Jujur saja, ada banyak ketakutan melepaskan anak gadis sendirian tanpa pengawasan dari orang tuanya," tutur Alan pada Laura yang sedang memikirkan cara lain untuk Silly.


"Pah, Mama ada ide yang bagus mungkin saja Papa mau mempertimbangkannya?" ucap Laura dengan sangat antusias.

__ADS_1


Alan mengernyitkan dahinya, dia tidak menyangka jika istrinya yang hobi memasak itu bisa meluangkan waktunya untuk memikirkan ide yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.


"Apa?" tanya Alan pada Laura dengan sangat penasaran.


"Bagaimana jika Laura diberikan dua pilihan. Ikut dengan kita atau menuruti kemauan kita," jawab Laura dengan semangatnya.


"Apa kamu yakin?" tanya Alan pada istrinya.


"Yakin banget. Pasti deh Silly akan memilih ikut dengan kita," jawab Laura sambil tersenyum lebar menyatakan kemenangannya yang belum pasti terjadi.


"Ide apa itu Ma?" tanya Bintang yang menyimak percakapan mereka berdua sedari tadi.


"Ada deh… nanti Mama akan sampaikan ketika Silly sudah datang," jawab Laura sambil tersenyum senang.


Terlihat raut wajah kecewa dari Bintang. Sedangkan Alan, hanya terkekeh mendengar penuturan dari istrinya, karena sifat istrinya itu menurut pada Silly, putri sulung mereka.


"Tapi Ma, Pa, Bintang ingin sekali tinggal di sini bersama dengan Kak Silly. Bintang ingin menebus saat-saat kami ketika tidak bersama, sebelum kami menikah dan tidak bisa lagi bersama," tutur Bintang pada kedua orang tuanya


"Yuhuuuu…. Alohaaaa… Princess Silly sudah datang," seru Silly dari arah pintu masuk rumah mereka.


"Sily, duduklah di sini. Mama sama Papa ada permintaan untukmu," ucap Alan ketika memanggil Silly untuk segera duduk di kursi yang ada di hadapan mama dan papanya.


Silly pun menurut, dia segera duduk di hadapan mama dan papanya untuk mendengarkan apa yang mereka katakan padanya.


"Ada apa Ma, Pa?" tanya Silly sambil melihat mama dan papa ya secara bergantian.


"Sil, kami memintamu untuk ikut bersama kami. Dan kami harap tidak ada penolakan dari kamu," ucap Papa dengan suara dan tatapan matanya yang tegas pada Silly.


"Tapi Pa, Silly gak mau. Teman-teman Silly semua ada di sini. Dan Silly paling gak suka jika tiba-tiba saja Silly jadi anak baru di sekolah. Gak mau… pokoknya Silly gak mau," sahut Silly dengan tegas dan tangannya mencengkeram kuat tali tasnya seolah dia berpegangan kuat pada tali tas tersebut.


"Sil, pikirkan. Hanya sebentar saja. Setelah itu kita kembali lagi berkumpul di rumah ini bersama Bintang tentunya," tutur Alan dengan tatapan memohon pada Silly.


"Tapi Pa, Silly gak mau. Jika memang hanya sebentar, biarkan saja Silly di rumah ini sendiri seperti biasanya," tukas Silly yang tidak berniat untuk membantah keinginan kedua orang tuanya, dia hanya ingin mengatakan kemauannya saja.


"Tapi kamu akan kesepian. Bukankah kamu selama ini tersiksa dengan rasa kesepian itu?" tanya Alan yang berusaha meyakinkan Silly.


"Silly sudah terbiasa Pa. Tidak masalah," jawab Silly dengan cepat.


"Baiklah. Kamu tinggal sendiri di sini, tapi… kamu harus mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan Mama dan Papa agar kamu tidak kesepian sendirian di rumah ini dan tentunya ada laki-laki yang menjaga kamu," tutur Laura sambil tersenyum penuh kemenangan.


"A-apa?" ucap Silly dengan mata yang membelalak sempurna.

__ADS_1


 


__ADS_2