My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 37 Kebohongan


__ADS_3

Bukannya menjawab pertanyaan yang mamanya tanyakan, Silly malah bertanya pada Kenan tentang perbuatan Kenan yang telah membuat Silly menjadi cemas dan panik selama beberapa hari ini.


"Abang, jelaskan kenapa beberapa hari ini Abang bisa hilang seolah ditelan bumi!" ucap Silly dengan menatap tajam pada Kenan.


Kenan mendekati wajah Silly dan berbisik padanya,


"Bukankah Abang yang harusnya marah padamu tentang kebohonganmu?" 


Sontak saja wajah Silly berubah menjadi tegang setelah mendengar bisikan dari Kenan.


Kenan tersenyum manis pada Silly dan dia mencium tangan Silly yang sedang menggenggam tangannya.


Sontak saja hati Silly meleleh. Rona merah tersirat di wajahnya. Wajah tegang Silly pun sirna. Kini dia tersenyum malu-malu mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Kenan.


Sedangkan Laura dan Alan, mereka saling menatap dan tersenyum melihat putri mereka diperlakukan dengan sangat manis oleh laki-laki yang menjadi calon suaminya.


"Ayo kita makan dulu saja, nanti kita lanjutkan pembicaraannya," ujar papa Alan sambil beranjak dari duduknya.


Mereka semua beranjak mengikuti Alan menuju meja makan. Di sana sudah tersedia berbagai menu makanan yang telah dihidangkan.


"Ayo Pak silahkan dicicipi masakan istri saya," ucap Alan sambil tersenyum pada Kenan.


"Panggil Kenan saja Pak jika tidak dalam situasi bekerja," ucap Kenan menanggapi panggilan Alan padanya.


"Baiklah, asal kamu juga jangan panggil saya Bapak, panggil saja Papa sama seperti Silly memanggil saya," tutur Alan sambil terkekeh.


"Baik Pa," ucap Kenan sambil tersenyum manis pada Alan.


Di saat Alan dan Kenan sedang mengobrol, justru Silly sibuk mengambilkan Kenan makanan. 


Dia mengambilkan nasi dan lauk pauk pada piring Kenan. Setelah itu dia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.


Laura sedari tadi hanya diam ketika suaminya dan Kenan berbicara. Dia sibuk memperhatikan tingkah putrinya yang sedang melayani makan calon suaminya.


Calon suami? Benarkah Kenan akan menjadi calon suami Silly? Bukankah rencana Silly akan menolaknya? Dan bagaimana dengan Kenan? Bukankah ini hanya rencana Kenan untuk balas dendam pada Silly yang telah membohonginya?


Kenan tersenyum melihat Silly yang sedang melayaninya dengan mengambilkannya makanan. Dan Silly membalas senyumannya dengan sangat manis pada Kenan.


"Apa semua ini masakan Mama?" tanya Kenan setelah menelan makanannya.

__ADS_1


"Iya benar. Istri saya ini tidak akan mau dibantu oleh pembantu jika dia sedang memasak. Jadi semua masakan ini seratus persen masakannya," jawab papa Alan dengan bangganya sambil beralih memandang istrinya setelah berbicara pada Kenan.


Laura tersenyum, dia sudah tahu jika suaminya pasti akan membanggakannya seperti yang sudah-sudah. 


"Bagaimana rasanya? Apa cocok dengan seleramu Kenan?" tanya mama Laura sambil menatap Kenan untuk mencari tahu jawaban yang sangat penting baginya.


Bagi Laura, hobi memasaknya adalah yang utama setelah keluarganya. Dia lebih menyukai bertempur di dapur daripada harus menghabiskan waktu di meja kerja.


"Enak. Enak sekali malahan," jawab Kenan di sela kunyahan makannya.


Tiba-tiba Silly mendekat ke arah Kenan yang duduk di sebelahnya. Kemudian dia berbisik padanya,


"Seharusnya kita makan sepiring berdua dan suap-suapan seperti biasanya."


"Uhuk!"


Kenan tersedak setelah mendengar bisikan dari Silly. Sontak saja Kenan membelalakkan matanya melihat Silly yang memberikan gelas yang berisi air putih pada Kenan sambil tersenyum manis padanya.


"Kenapa Kenan, apa ada yang salah dengan makanannya?" tanya mama Laura pada Kenan dengan wajah cemasnya.


Anak mama yang salah, Kenan berkata dalam hatinya.


"Tidak ada Ma, hanya saja Silly tadi bilang, dia juga pintar memasak katanya," jawab Kenan sambil tersenyum kaku.


"Sembarangan. Enggak, gak ada aku bilang kayak gitu. Bang Kenan aja nih yang ngarang-ngarang," sahut Silly tidak terima.


"Silly, beneran kamu sudah bisa memasak? Apa karena sudah ingin menikah jadi kamu belajar memasak?" tanya mama Laura sambil menatap Silly dengan serius.


"Bukan itu Ma. Tadi Silly itu bilang kalau biasanya kita makan-"


Silly tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena saat ini tangan Kenan sudah berada pada bibir Silly. 


Kenan membekap mulut Silly dengan menggunakan tangannya dengan harapan agar Silly tidak mengatakan semuanya karena kepolosan dan kejujurannya.


Gawat, kalau sampai Silly mengatakan semuanya pada Mama dan Papanya bisa malu aku. Kita kan belum menikah, masa' iya udah main suap-suapan, pangku-pangkuan, cium-ciuman sampai mau gituan? Bisa dipenggal kepalaku sama Papanya. Aku harus memperingatkan Silly sebelum Mama dan Papanya mengetahui semuanya.


Kenan berkata dalam hatinya sambil tangannya membekap mulut Silly agar tidak keceplosan memberitahukan semua yang mereka lakukan pada kedua orang tuanya.


"Kenapa sih? Ada apa? Apa ada yang kalian sembunyikan dari kami?" tanya mama Laura sambil menatap heran pada Kenan dan Silly.

__ADS_1


"Tidak Ma, hanya saja Silly mau mengatakan hal yang memalukan ketika saya sedang makan bersama dengan dia," ucap Kenan yang tangannya masih membekap mulut Silly.


Kenan berusaha menutup-nutupi fakta yang ada dengan alasan yang dibuatnya agar Alan dan Laura sebagai papa dan mama dari Silly tidak mengetahuinya.


"Silly itu mirip dengan Papanya. Sukanya berkaitan dengan buku. Kalau Mama lebih suka di dapur. Nah sekarang Mama jadi ragu jika Silly bisa memasak," tutur mama Laura sambil terkekeh di akhir ucapannya.


Silly melepas paksa tangan Kenan yang menutup bibirnya. Setelah itu dia meraup banyak oksigen sebelum dia berbicara.


"Bang Kenan ih… Silly kan engap ditutupin gitu mulutnya," rengek Silly pada Kenan.


"Udah… udah… diterusin dulu makannya. Baru nanti kita ngobrol lagi," tutur papa Alan menengahi perdebatan mereka.


Dan mereka melanjutkan makannya dengan diam, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.


Namun, dalam beberapa saat kemudian suasana kembali berbeda. Silly membuat suasana makan mereka menjadi ceria.


Candaan dan tawa mereka memenuhi ruang makan hingga kegiatan makan malam mereka selesai.


"Pa, Ma bolehkah saya berbicara berdua bersama dengan Silly di tempat lain?" tanya Kenan ketika mereka selesai makan malam.


"Silahkan. Kalau Papa menyarankan kalian berbicara di taman saja, pemandangannya lebih bagus dan udaranya lebih segar," jawab papa Alan sambil terkekeh.


"Iya, sekalian tolong lihatin ya Sil, kali aja ada kumbang yang hinggap di bunga-bunganya Mama. Kamu usir aja mereka, ya…," tutur mama Laura sambil terkekeh.


"Ih Mama, memangnya Silly kurang kerjaan apa melototin bunganya Mama satu-satu? Gak mau ah," ucap Silly menanggapi perintah mamanya.


Silly memegang tangan Kenan kemudian dia menarik tangannya sambil berkata,


"Ayo Bang kita ke taman yang di belakang saja."


"Loh gak di depan aja Sil?" tanya mama Laura ketika Silly dan Kenan berjalan melewatinya.


"Enggak ah, nanti Mama sama Papa nguping," jawab Silly sambil berjalan menarik tangan Kenan.


Alan dan Laura tertawa mendengar jawaban dari putrinya. Rupanya Silly mengetahui jika mereka ingin menguping sedikit pembicaraan mereka.


Kini Silly dan Kenan duduk bersebelahan di bangku taman yang berada di belakang rumah Silly. Mereka duduk di antara taman bunga yang menghadap kolam renang.


"Sil, Abang mau bicara," ucap Kenan sambil menatap Silly dengan serius.

__ADS_1


Tiba-tiba jantung Silly berdetak cepat melihat tatapan mata Kenan yang serius padanya. 


Ada apa ini? Bang Kenan tidak pernah seserius ini. Apa Bang Kenan benar-benar akan meninggalkan Silly karena Silly berbohong padanya? Silly bertanya-tanya dalam hatinya.


__ADS_2