My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 27 Salah paham


__ADS_3

"Pak, mereka pulang sekolah jam berapa?" tanya Kenan pada Anton, manager bagian administrasi ketika meminta tanda tangan pada Kenan di ruangannya.


Anton melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Kurang lebih satu jam lagi Pak."


Kenan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali bertanya,


"Kamu tidak jemput dia?"


"Nanti sore saja Pak. Hari ini kerjaan saya banyak," jawab Anton sambil terkekeh.


Kenan membaca berkas yang diberikan Anton padanya dengan seksama. Kemudian dia menandatangani berkas tersebut dan memberikannya pada Anton.


"Ini berkasnya sudah saya tandatangani. Jangan bilang milikmu jika aku akan menjemput Silly. Aku ingin membuat kejutan untuknya," tutur Kenan sambil menyerahkan map berisi berkas yang sudah ditandatangani oleh Kenan tadi.


"Siap Bos," ucap Anton dengan tegas.


"Namanya Aurel Pak," ucap Anton sambil tersenyum lebar.


Kenan mengernyitkan dahinya melihat Anton seolah mengatakan bahwa dia tidak mengerti apa yang dibicarakannya.


"Itu Pak, milik saya namanya Aurel," ucap Anton memperjelas ucapan sebelumnya.


Kenan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata,


"Ooooh…."


"Pak, apa boleh saya tanya?" Anton memberanikan dirinya bertanya pada Kenan.


Kenan menatap Anton dengan tatapan penuh tanda tanya. Kemudian dia berkata,


"Tentang apa?" 


"Bapak dengan Silly," jawab Anton ragu dan menampakkan ketakutan.


Kenan diam beberapa detik. Kemudian dia berkata,


"Lebih baik pertanyaan yang lainnya saja."


Aura dingin kembali merebak dalam ruangan tersebut. Kini Anton merasa jika Kenan kembali menjadi orang yang dingin dan cuek karena pertanyaannya.


"Ba-baik Pak. Maaf jika pertanyaan saya membuat Bapak tidak enak hati. Saya permisi dulu Pak," ucap Anton sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada Kenan.


Kenan hendak menghubungi Silly yang dari semalam tidak menghubunginya. Bahkan tadi pagi pun pesannya hanya dibaca saja oleh Silly tanpa membalasnya.


Kini Kenan yang merasa bingung jika tidak bersama dengan Silly ataupun tidak mendapatkan kabar dari Silly.


Namun, keinginan Kenan untuk menghubungi Silly dibatalkannya. Dia ingin memberikan kejutan pada Silly dengan datang ke sekolahannya untuk menjemputnya.


Kenan yang tidak pernah keluar tanpa Andy, sekretarisnya di waktu makan siang, kini mendadak pergi sendiri keluar kantor untuk menjemput sugar baby nya di sekolahannya.


Kenan menunggu Silly di dalam mobil. Dia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang sekolahan itu.

__ADS_1


Bibir Kenan melengkung ke atas ketika melihat Silly berjalan bergandengan tangan bersama kedua sahabatnya. Mereka bercanda dan tertawa sambil berjalan keluar dari gerbang sekolah.


Kenan hendak keluar dari mobilnya, tapi kini senyumnya itu memudar tatkala melihat Silly berpelukan dengan laki-laki lain.


Sontak saja mata Kenan terbelalak sembari berucap,


"My Silly?!" 


"Siapa laki-laki itu?" tanya Kenan dengan raut wajah marahnya, matanya memicing tajam dan tangannya mengepal menahan amarahnya.


Silly, sugar baby nya yang bisa membangkitkan senjata miliknya kini berpelukan dengan laki-laki lain. Bahkan Silly dan laki-laki itu tertawa senang dan bercanda hingga tangan laki-laki tersebut di mengacak-acak rambut Silly.


Kemarahan Kenan semakin memuncak. Dia sudah tidak bisa lagi mengontrol amarahnya.


Segera dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Silly.


Dari dalam mobilnya Kenan melihat Silly mengambil ponselnya dari saku seragamnya. 


Silly terlihat tersenyum senang mendapatkan pesan dari Kenan. Bibirnya melengkung ke atas, bahkan dia tersenyum lebar ketika membaca pesan dari Kenan.


Tanpa sadar, Kenan pun tersenyum melihat senyuman dari Silly. Tadinya dia berwajah marah, kini perlahan wajah marah itu berhiaskan senyuman.


Sayangnya hal itu tidak disadari oleh Kenan. Dalam hatinya dia masih tidak terima jika Silly, sugar baby kesayangannya berpelukan dengan laki-laki lain.


Tring!


Notifikasi pesan dari ponsel Kenan mengalihkan perhatian Kenan yang sedang melihat Silly.


Setelah itu dia mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolahan Silly.


"Sil, kita gak dikenalin nih?" tanya Aurel yang kini mendekat ke arah Silly dan Bintang.


"Rel, apa itu Abangnya Silly? Tapi kok kayak masih remaja sih? Katanya bos daddy nya kamu," bisik Vania pada telinga Aurel.


"Bukan. Kalau Abangnya Silly aku udah tau. Kalau ini aku gak pernah tau," Aurel berbalas bisik di telinga Vania.


"Bin, kenalin. Mereka berdua itu sahabatnya Kakak. Yang ini Aurel dan itu Vania," ucap Silly sambil menunjuk Aurel dan Vania secara bergantian.


Bintang tersenyum pada mereka berdua. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan bersama dengan Aurel dan Vania.


Dengan senyuman genitnya Aurel dan Vania bergantian menjabat tangan Bintang sambil menyebutkan nama mereka.


"Aurel."


"Vania."


"Bintang, adik dari Kak Silly."


"Kita pulang duluan ya guys. Sorry aku harus cepat-cepat pulang sekarang," ucap Silly sambil menarik tangan Bintang untuk cepat masuk ke dalam mobilnya.


Badan Bintang terseret oleh tarikan tangan Silly. Mereka segera masuk ke dalam mobilnya.


"Kita mau ke mana sih Kak? Buru-buru amat," tanya Bintang sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Pulang dulu ke rumah, setelah itu Kakak mau pergi mengerjakan tugas bersama teman-teman Kakak," jawab Silly sambil mengutak-atik ponselnya.


Datanglah ke rumah Abang sekarang juga. Abang tunggu. Tidak ada penolakan.


Pesan dari Kenan itu dibaca lagi oleh Silly. Dia sangat senang mendapatkan pesan dari Kenan hingga tanpa sadar senyumannya itu terlihat oleh Bintang ketika dia menoleh sekilas ke arah Silly.


"Dari siapa Kak? Kayaknya seneng banget bacanya," tanya Bintang sambil mengemudikan mobilnya.


"Bukan dari siapa-siapa. Ini cuma lagi lihat berita idol K-Pop aja," jawab Silly sambil memasukkan kembali ponselnya dalam sakunya.


Sesampainya di rumah, Silly bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan berlari kecil. Hingga mamanya seolah tidak terlihat olehnya.


"Sil, kenapa lari-lari?" tanya Mama Laura ketika berpapasan dengan Silly.


"Lagi buru-buru Ma," jawab Silly sambil berlari menaiki tangga untuk ke lantai atas di mana kamarnya berada.


Bintang masuk ke dalam rumah dan meraih tangan mamanya untuk mencium punggung tangannya.


"Kenapa dia?" tanya Mama Laura sambil menggerakkan dagunya ke arah Silly.


"Mau ngerjain tugas bareng temannya katanya Ma," jawab Bintang sambil melihat ke arah Silly yang sedang berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya.


"Anak itu, katanya kesepian, tapi kalau ada kita di rumah dia malah pergi," ucap Mama Laura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ma, bisa Bintang bicara sebentar?" tanya Bintang ragu-ragu.


Mama Laura mengernyitkan dahinya melihat Bintang yang sepertinya sedang serius. Tidak biasanya putranya itu ingin bicara serius padanya.


"Boleh saja. Ayo kita duduk di sana," jawab Mama Laura sambil menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ada apa?" tanya Mama Laura ketika sudah duduk di sofa.


"Binbin… mana kunci mobil Kakak?"


Tiba-tiba terdengar suara Silly yang memanggil Bintang sambil berlari kecil ke arah mereka.


Bintang melempar kunci mobil Silly dan Silly pun berhasil menangkapnya.


"Perfect!" ucap Silly ketika berhasil menangkap kunci tersebut.


"Ma, Silly berangkat dulu," ucap Sillu sambil mencium punggung tangan mamanya.


"Eh ini kenapa tidak diantar Bintang saja?"


Pertanyaan Mama Laura tidak dijawab oleh Silly. Bahkan dia sudah berada di luar pintu pada saat itu.


Bintang sengaja tidak mengantar kakaknya karena dia ingin berbicara serius pada mamanya. Bukannya dia tidak khawatir pada Silly, hanya saja Silly sudah terbiasa sendiri, sehingga Bintang yakin Silly bisa menjaga dirinya sendiri.


Sesampainya di rumah Kenan, Silly memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Kenan. Setelah itu dia berlari masuk mencari keberadaan Kenan.


Grep!


"Layani aku sekarang!" suara berat laki-laki yang terlihat menginginkan sesuatu itu kini berhasil mengunci tubuh Silly.

__ADS_1


__ADS_2