My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 52 Tentang Kenan


__ADS_3

"Trauma?" celetuk Silly sambil memutar badannya kembali melihat Kenan yang berada di belakangnya.


Kenan memandang Silly sambil menganggukkan kepalanya.


Silly dapat melihat kesedihan dari mata Kenan. Dia pun berjalan mendekat dan memeluk tubuh Kenan untuk menenangkannya.


Diusapnya punggung Kenan dengan lembut sambil berkata,


"Tenang Bang, ada Silly di sini. Apa Abang mau bercerita pada Silly?"


Kenan tetap diam selama beberapa saat. Silly bersabar menunggunya karena dia tahu jika Kenan pasti membutuhkan waktu untuk bisa bercerita dengannya.


Diurainya pelukan Silly dan dia menarik tubuh Silly agar duduk di sampingnya.


"Saat itu Abang masih kecil. Abang ingat pada saat kejadian itu Papa menjemputku dari sekolah TK. Waktu itu hujan sangat lebat hingga sangat sulit sekali untuk melihat keadaan jalan," ucap Kenan sambil menundukkan kepalanya dan menjeda ceritanya untuk mengambil nafas.


Terlihat jelas kesedihan yang teramat dalam dari wajah Kenan. Dan dia terlihat tertekan ketika menceritakannya.


"Petir dan kilat saat itu saling bersahut-sahutan, angin yang bertiup sangat kencang membuat air hujan yang turun sangat deras itu sangat mengerikan. Waktu itu aku disuruh Papa duduk di kursi belakang kemudi dan diharuskan memakai sabuk pengaman. Karena keadaan cuaca saat itu sangat mengerikan, Papa memutuskan untuk menepi dan menunggu keadaan lebih aman. Sayangnya…."


Tiba-tiba suara Kenan bergetar dan air matanya menetes. Dia menghela nafas berat merasa tidak bisa melanjutkan ceritanya. 


Namun, dia tahu jika Silly pasti akan kembali marah padanya jika dia tidak menceritakannya. Setelah itu dia melanjutkan kembali ceritanya.


Silly memegang kedua tangan Kenan untuk menenangkannya. Dia tahu jika itu sangat berat bagi Kenan. Hanya saja dia tidak bisa membiarkan saja Kenan tersiksa dalam traumanya.


Silly ingin membebaskan Kenan dari traumanya. Sehingga dia harus tega melihat Kenan sedih ketika menceritakan kisahnya.


"Huffft…," Kenan mengambil nafas dan menghelanya agar bisa lebih tenang.


"Sayangnya, ada mobil yang lebih besar dari mobil kami menabrak mobil kami dari depan," ucap Kenan dengan suara yang tercekat.


Air mata Kenan kembali menetes dan Silly segera menghapus air mata tersebut dengan lembut.


Kenan memejamkan matanya mengingat kejadian yang baru saja diceritakannya. Dia masih sangat kecil saat itu. Dan terasa sangat mengerikan mengalami hal itu di usianya yang masih sangat kecil hingga membuat dirinya menjadi trauma.

__ADS_1


Silly segera memeluk kembali tubuh Kenan dan menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya.


Sengaja Silly tidak berbicara apa-apa karena dia tidak ingin menghambat cerita Kenan. Dia hanya menenangkan Kenan dengan perlakuannya.


"Papa… Papa meninggal pada saat itu juga. Dan aku hanya luka-luka ringan saja. Sejak saat itu, aku tidak bisa mengendarai mobil dalam keadaan hujan. Setiap aku mengendarai mobil di saat hujan, pasti aku akan teringat hal itu dan aku tidak bisa bernafas saat itu juga," ucap Kenan dengan suara yang bergetar menahan tangis kesedihannya di dalam pelukan Silly.


"Mama sangat terpukul pada saat itu hingga Mama sering sakit-sakitan. Sejak itu aku ingin cepat menjadi dewasa dan aku berjanji pada diriku akan tetap melindungi Mama untuk menggantikan Papa. Aku merasa ini semua salahku," ucap Kenan sambil meneteskan air matanya.


"Tidak. Ini semua bukan salah Abang. Ini semua sudah takdir. Kita tidak bisa menyalahkan takdir. Jadi Abang gak boleh ngomong seperti itu. Silly mau bantu Abang agar terlepas dari trauma itu, tapi Abang harus janji menceritakan semua tentang kehidupan Abang pada Silly," ucap Silly sambil mengusap punggung Kenan yang masih dalam pelukannya.


Kenan diam, sepertinya dia memikirkan sesuatu. Tapi dia terlihat enggan mengatakannya.


Melihat Kenan yang sudah tidak melanjutkan ceritanya, Silly segera bertanya padanya.


"Abang, apa jika Abang hanya menjadi penumpang ketika hujan juga mengalami hal yang sama?" tanya Silly ingin tahu.


Kenan mengurai pelukannya dan dia menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Silly.


"Ok, lebih baik kita di dalam ruangan saja jika hujan turun. Tenang aja Bang, Silly tidak akan membiarkan Abang merasakan trauma itu lagi," ucap Silly dengan penuh percaya diri.


Mama pasti senang jika dia tau akan mendapatkan menantu seperti kamu Sil. Dan aku yakin, Mama pasti tidak akan seperti ini sekarang jika sedari dulu kita sudah bertemu, Kenan berkata dalam hatinya sambil menatap dalam mata Silly yang tersenyum manis padanya.


Senyuman itu, senyuman manis Silly itu yang membuat Kenan selalu rindu padanya. Dan riang serta cerianya itu mampu membuat Kenan semakin tidak bisa jauh darinya.


"Oh iya Bang. Mama Abang di mana sekarang? Apa Mama Abang tinggal di rumahnya sendiri atau di kota lain?" tanya Silly dengan sangat penasaran.


Kenan tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari Silly. Kemudian dia berkata,


"Mama sudah meninggal setahun yang lalu karena serangan jantung."


Sontak saja mata Silly terbelalak mendengar jawaban dari Kenan. Dia tidak bisa membayangkan betapa hancur dan sedihnya hati Kenan yang sudah tidak lagi mempunyai orang tua.


"Maaf. Maafkan Silly sudah menanyakan hal ini," ucap Silly sambil memegang kedua tangan Kenan.


Kenan tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau Silly merasa bersalah karena ceritanya.

__ADS_1


"Apa karena itu Abang mencari sugar baby? Agar Abang tidak kesepian?" tanya Silly kembali.


"Masalah itu kita bicarakan lain kali saja," sahut Kenan dengan tegas dan melihat ke lain arah agar Silly tidak lagi bertanya padanya.


Silly merasa ada cerita lain dalam hidup Kenan. Dan dia tidak bisa mengetahuinya sekarang karena Kenan menolak untuk bercerita padanya.


"Silly harap Abang gak menutup-nutupi apapun dari Silly. Dan Abang harus ingat, Silly itu calon istrinya Abang, jadi Silly berhak mengetahui semua tentang Abang," tutur Silly dengan tegas seolah tidak bisa terbantahkan.


Kenan menoleh ke arah Silly. Dia menatap intens manik mata gadis yang mengaku sebagai calon istrinya itu. Dalam hati dia berkata,


Apa benar kita bisa menjadi suami istri? Sedangkan aku sendiri tidak tau apa itu cinta. Yang aku tau cinta dalam hatiku sudah mati ketika dia meninggalkanku dan membuat Mama meninggalkanku untuk selamanya.


"Abang, Abang bisa janji kan?" tanya Silly dengan menatap manik mata Kenan dengan sangat intens.


"Apa?" tanya Kenan sambil menatap intens mata gadis yang juga sedang menatapnya.


"Ceritakan semuanya pada Silly," ucap Silly dengan wajah mengiba pada Kenan.


Seolah terhipnotis oleh mata Silly, Kenan menganggukkan kepalanya. 


"Berjanjilah tidak akan berdekatan dengan wanita lain," ucap Silly kembali sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajah Kenan.


Seolah terhipnotis kembali, lagi-lagi Kenan menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Silly.


"Dan berjanjilah Abang tidak akan pernah berselingkuh. Jika Abang berselingkuh, Silly tidak akan pernah mau bertemu dengan Abang lagi," ucap Silly sambil lebih mendekatkan lagi wajahnya pada wajah Kenan, hingga hidung mancung mereka saling beradu.


Lagi-lagi Kenan menganggukkan kepalanya. Tapi tatapan matanya kini beralih pada bibir pink alami milik sugar baby yang sudah menjadi calon istrinya itu.


Seketika Silly tersenyum dan dengan cepatnya Silly menempelkan bibirnya pada bibir Kenan. 


Mata Kenan terbelalak mendapatkan serangan dari Silly. Dia bersiap untuk membalas ciuman Silly yang hanya menempelkan bibirnya saja pada bibir Kenan.


Namun, ketika Kenan akan membuka bibirnya, Silly sudah melepaskan bibirnya dari bibir Kenan.


Silly tersenyum melihat Kenan tanpa diketahuinya bahwa Kenan tersiksa karena ciuman mereka yang tidak sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2