
Silly berlari tanpa tahu ke mana dia akan pergi. Rumah Kenan yang tergolong besar dan mewah itu membuatnya ingat akan rumahnya sendiri. Rumah yang dihuninya tanpa anggota keluarga lain yang selalu menemaninya.
Silly berhenti di tengah-tengah ruangan yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang makan. Matanya menatap sekeliling ruangan tersebut.
Sepi dan kosong membuat dirinya kembali teringat akan rumahnya dan kehidupannya setelah pulang sekolah.
Ternyata Bang Kenan juga sama sepertiku. Dia pasti juga kesepian di dalam rumah yang sebesar ini. Apa dia mencari sugar baby karena mempunyai alasan yang sama sepertiku? Silly berkata dalam hatinya sambil menelisik setiap ruangan yang ada di sekitarnya.
Kemudian matanya tertuju pada meja makan yang di atasnya terdapat tudung saji besar.
Silly mendekat pada meja makan tersebut dan dia berniat untuk membuka tudung saji yang dia yakini di dalam tudung saji tersebut terdapat makanan untuk Kenan.
"Wow…!" Silly berseru setelah membuka tudung saji tersebut.
Terlihat di atas meja makan tersebut beberapa macam makanan yang telah disediakan oleh Bik Darmi untuk Kenan.
Mirip seperti dirinya. Bik Ida selalu menyiapkan banyak makanan untuknya meskipun tahu jika dirinya hanya makan sendirian saja.
"Ini siapa yang menyiapkan makanan sebanyak ini? Bukankah dia tidak memiliki pembantu? Apa dia tadi sudah menyuruh orang untuk menyiapkannya?" Silly bertanya-tanya dengan raut wajah herannya.
"Apa aku tanya aja ya ke Bang Kenan?" tanya Silly kembali pada dirinya sendiri.
"Emmm… ya udah deh aku tanya aja daripada penasaran," ucap Silly sambil menutup kembali semua makanan tersebut menggunakan tudung saji kembali.
Silly berjalan menuju kamar Kenan. Sepertinya dia lupa jika tadi dirinya baru saja melepaskan diri dari Kenan.
Ceklek!
Pintu kamar Kenan bisa dengan mudah dibuka oleh Silly. Rupanya Kenan tidak mengunci pintu kamarnya.
Silly berdiri di depan pintu. Dia melongokkan kepalanya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kok sepi sih, gak ada orang. Bang Kenan ke mana ya?" tanya Silly dengan suara lirih.
"Apa aku masuk aja ya? Kan aku harus nanya ngerjain apa dulu. Eh tapi serius nih aku jadi pembantu? Iiih… kenapa aku jadi pembantu sih? Udah terlanjur. Untuk hari ini aja it's okay. Besok aku gak bakalan datang ke sini," ucap Silly lirih sambil terkekeh.
__ADS_1
Kemudian Silly melangkahkan kakinya masuk secara pelan dan dengan hati-hati.
"Mana sih orangnya? Di sini gak ada," ucap Silly lirih sambil menyibak selimut yang ada di ranjang milik Kenan.
Kemudian dia berjongkok dan melongok ke bawah ranjang, mencoba melihat di bawah ranjang sambil berbicara,
"Di sini juga gak ada. Di mana dia? Lagian kamu ini ada-ada aja Sil, masa' iya orang segede itu kamu cari di kolong?" ucap Silly sambil terkekeh.
Setelah itu dia kembali berdiri dan membalikkan badannya.
Buugh!
"Awwww…," Silly merintih kesakitan dengan memegang dahinya yang menabrak sesuatu.
Mata Silly yang terpejam karena reflek menahan sakit ketika menabrak sesuatu tadi, kini terbuka dan dia kaget mendapati sesuatu di depannya.
"Apa ini? Kenapa keras begini, tapi kencang dan wow… seperti pahatan. Mirip sekali dengan patung. Benar-benar pahatan patung yang sempurna," ucap Silly dengan mata yang berbinar memancarkan kekagumannya sambil memegang serta menekan-nekan dan mengusap benda yang ada di hadapannya itu.
"Ini apa ya? Kok ada dua sih?" tanya Silly sambil memegang sesuatu yang mirip sekali dengan tombol kecil yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba terdengar suara deheman yang seolah sangat dekat dengannya. Sontak saja dia mendongak ke atas dan matanya membelalak sempurna melihat wajah yang tidak asing dengannya.
Silly hanya mengerjap-ngerjapkan matanya sehingga bulu matanya bergerak naik turun. Dia tidak bisa berkata-kata layaknya seorang pencuri yang sedang kepergok mencuri sesuatu.
Ternyata yang ada di hadapannya adalah Kenan. Dan Silly telah memegang, menekan-nekan dan mengusap dada bidang Kenan yang keras, berotot dan berbentuk seperti pahatan patung yang sempurna. Bahkan dia berani menyentuh dua titik sensitif yang ada pada dada Kenan.
Hal itu membuat Kenan menahan segala rasa yang ada akibat sentuhan-sentuhan tangan Silly. Gelenyar aneh itu dirasakan Kenan begitu kuat hanya dengan menerima sentuhan ringan dari tangan Silly.
Bahkan milik Kenan yang tak ubahnya seperti belalai gajah yang sedang merunduk itu, kini menjadi tegang.
Kenan heran dengan apa yang dirasakannya. Hanya dengan sentuhan ringan dari tangan gadis SMA yang sangat konyol itu bisa membangkitkan milik Kenan. Bahkan Vera yang notabene nya seorang pemuas pria tingkat profesional yang bertarif tinggi pun tidak bisa membangkitkan miliknya.
Sekuat tenaga Kenan menahan tawa dan rasa ingin melakukan kegiatan yang bisa memuaskan haasratnya itu.
"Kenapa? Apa seindah itu dadaku?" tanya Kenan pada Silly yang masih saja mematung melihat wajah Kenan.
__ADS_1
Sontak saja Silly tersenyum lebar untuk menutupi kegugupan dan salah tingkahnya.
Kemudian matanya reflek melihat kembali dada Kenan yang sejak tadi membuatnya terpukau.
Ctaaak!
Dahi Silly disentil oleh jari tangan Kenan. Reflek bibir Silly mengerucut dan matanya memicing mendongak ke atas melihat wajah Kenan yang terlihat sangat bahagia dengan tawanya yang lepas.
"Isssh… sakit tau," ucap Silly dengan nada merajuk.
"Nakal, pegang-pegang dada orang. Mana ini dua-duanya dimainin lagi," tukas Kenan sambil menutup kedua titik yang berbentuk seperti tombol kecil pada dadanya.
Silly tersenyum lebar untuk menutupi rasa malu dan rasa bersalahnya.
Kenan berjalan mundur dengan pelan sambil tersenyum melihat kekonyolan Silly. Saat dirinya akan membalikkan badannya untuk berjalan mengambil pakaiannya di lemari, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Stop! Jangan bergerak!" seru Silly sambil menggerakkan tangannya ke depan layaknya menghentikan kendaraan.
Kenan yang belum sempat membalikkan badannya, kini dia reflek menghentikan langkahnya karena seruan Silly yang menghentikannya.
Dahi Kenan mengernyit dan menampakkan wajah bingungnya karena melihat perubahan ekspresi wajah Silly.
Silly yang tadinya berwajah serius ketika menghentikan Kenan, kini dia tersenyum lebar sambil berjalan ke arah Kenan.
"Bang, Abang cuma pakai handuk aja ya? Boleh lihat gak Bang di dalamnya bagaimana?" tanya Silly dengan mata yang berbinar sambil menunjuk handuk yang dipakai Kenan sebatas pinggangnya.
Sontak saja mata Kenan terbelalak. Dia tidak mengira jika gadis di hadapannya ini benar-benar konyol dan seperti menantang jiwa kelelakiannya.
Kenan mencoba menggoda Silly dengan berpura-pura membukanya. Kedua tangan Kenan memegang ujung lipatan handuknya seolah akan membukanya.
Dengan wajah polosnya Silly memperhatikan setiap gerakan Kenan. Matanya terkunci pada handuk Kenan. Sepertinya dia benar-benar bersiap untuk melihat benda keramat yang sangat ingin diketahuinya. Benda keramat itu milik Kenan yang kini sudah menjadi sugar daddy nya.
Kenan tersenyum geli melihat ekpresi wajah gadis SMA yang kini sudah menjadi sugar baby nya itu. Dan kini dia mulai ingin kembali menggoda Silly.
"Kamu mau?" tanya Kenan dengan nada menggoda.
__ADS_1