
"Silli-nder…!"
Suara teriakan dari seorang laki-laki membuat langkah kaki Silly terhenti.
Silly menoleh mencari orang yang memanggilnya. Dan matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sangat dirindukannya. Laki-laki itu sedang berdiri dan merentangkan kedua tangannya untuk bersiap melakukan pelukan.
"Bin-nder…!"
Silly pun berteriak sambil berlari kecil menuju laki-laki tersebut.
Bintang, adik laki-laki dari Silly. Dia memang lebih muda dari Silly, tapi tubuhnya lebih tinggi daripada Silly. Sehingga tidak ada yang tahu jika Bintang adalah adik dari Silly.
Bintang tinggal bersama kakek dan neneknya karena mereka meminta agar Bintang menemani mereka di sana. Tepatnya di kota sebelah, tidak jauh dari rumah mereka sendiri.
"Bin-nder… Aku kangen banget sama kamu," ucap Silly sambil memeluk Bintang, adik laki-lakinya.
"Sama. Aku juga kangen banget sama kamu Silli-nder…," sahut Bintang sambil memeluk tubuh Silly dan tangan satunya mengacak-acak rambut Silly.
"Udah… udah… kalian itu kalau ketemu selalu bikin ribut," ucap seorang wanita dari dalam rumah.
Silly dan Bintang menoleh, kemudian mereka dengan lantangnya menyebut nama orang tersebut.
"Bun-nder…!"
"Eh, enak aja panggil Mamanya Bun-nder. Memangnya Mama bunder apa? Langsing begini dipanggil Bun-nder," sahut Laura, mama dari Silly dan Bintang.
Terdengar suara tawa dari Silly dan Bintang. Kemudian Silly berkata,
"Biar seru Ma. Silly aja dipanggil Silli-nder, Bintang jadi Bin-nder, kalau Mama… Ma-nder kan gak ada. Mending Bun-nder aja Ma. Hehehe…."
"Untung aja Papa kalian gak diikut-ikutin. Coba saja kalian buat panggilan begitu untuk Papa kalian. Berani gak?" tanya Mama Laura yang seolah menantang kedua anaknya.
"Oh… tentu tidak… Bisa-bisa uang jajan kita dipotong," jawab Silly sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Bintang dan memeluknya.
"Demi kesejahteraan dompet kita Ma, kita lebih baik memanggil Papa dengan sebutan Papa yang terhormat," ucap Bintang sambil merangkul pundak Silly.
Mama Laura menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari kedua anaknya yang sering bertingkah konyol ketika sedang bertemu.
"Jadi, beraninya cuma sama Mama aja nih? Gak takut kalau uang jajannya disunat? Kan Mama admin nya," ucap Mama Laura sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sontak saja Silly dan Bintang melepaskan rangkulan mereka. Kini mereka berjalan menghampiri Mama Laura untuk merayunya.
__ADS_1
"Ma, kita gak ngatain Mama kok. Kita sayang banget sama Mama, maka dari itu kita memberi sebutan buat Mama. Biar beda. Hehehe…," ucap Silly sambil tersenyum lebar dan memeluk tubuh Mamanya dari arah kanan.
"Iya Ma benar. Kami itu sangat sayang sama Mama. Gak mungkin kami ngatain Mama," sahut Bintang sambil memeluk tubuh mamanya dari arah kiri.
"Halah… pasti karena uang jajannya takut dipotong nih," ucap Mama Laura sambil terkekeh.
"Ih… Mama pinter deh. Mamanya siapa sih?" tukas Silly menanggapi perkataan mamanya.
"Istrinya Papa dong."
Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki yang sangat Silly rindukan.
"Papa…!"
Silly berteriak dan berlari kecil ke arah papanya. Dia berhambur memeluk papanya.
"Papa sama Mama jahat banget sih. Pulang gak ngabari Silly," ucap Silly sambil merajuk pada papanya.
"Kita kan mau bikin kejutan buat kamu," ucap Alan, papa dari Silly.
Papa Alan membawa Silly duduk di sofa ruang tamu. Mama Laura dan Bintang pun juga ikut duduk bersama mereka.
"Kamu sering menginap di rumah teman-teman kamu?" tanya Papa Alan sambil menatap mata Silly.
"Iya, maksud Papa mereka. Apa kamu sering menginap di luar?" tanya papa Alan kembali.
"Baru kemarin Pa. Biasanya mereka kok yang menginap di sini," jawab Silly dengan menahan rasa bersalahnya pada papanya karena berbohong tentang kemarin.
"Kenapa?" tanya papa Alan menyelidik.
"Silly kesepian Pa. Kenapa Papa sama Mama gak balik tinggal di rumah ini aja sih? Kenapa juga Binbin harus tinggal di rumah Nenek sama Kakek? Silly kesepian di rumah ini sendiri. Kenapa kalian gak mau tau tentang perasaan Silly? Kalian egois."
Silly meninggalkan mereka dengan berlari kecil menuju kamarnya. Dia sudah tidak bisa menahan lagi semua apa yang ingin dia katakan selama ini.
"Maaf Pa, maaf Ma… Silly gak bermaksud berbicara seperti itu pada kalian. Silly hanya… Silly…," ucap Silly disela isakan tangisnya.
Dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Hatinya sungguh sedih mengatakan hal yang tidak sopan pada kedua orang tuanya. Hanya saja dia ingin menyuarakan isi hatinya selama ini.
Tidak terasa matanya terpejam. Tanpa sadar dia tertidur tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.
Di ruang tamu, Alan dan Laura membicarakan tentang Silly. Sedangkan Bintang diperintahkan mereka untuk segera beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
Bintang mencoba untuk melihat keadaan Silly. Dia sangat khawatir akan keadaan kakaknya itu.
Dia sadar jika memang Silly sangat kesepian di rumah sebesar itu sehingga mereka tidak marah pada Silly yang mengatakan tentang apa yang dia rasakan selama ini.
Ceklek!
Pintu kamar Silly terbuka. Bintang melihat kakaknya yang sedang tidur tengkurap tanpa mengganti bajunya.
Ditutupinya tubuh kakaknya itu menggunakan selimut tebal dan diusapnya rambut kakaknya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang sambil berkata,
"Kasihan kamu Kak, kamu harus sendirian selama ini. Apa aku harus tinggal di sini? Tapi bagaimana dengan Kakek dan Nenek? Apa Kakak aja yang ikut aku ke sana?"
Setelah itu Bintang meninggalkan kamar kakaknya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Keesokan harinya, mereka menunggu Silly untuk sarapan bersama.
Bintang memang masih bersekolah, dia mengambil ijin untuk bisa mengunjungi Silly. Untung saja kepala sekolah Bintang adalah teman baik Alan, sehingga kepala sekolah tersebut bisa memahami keadaan Bintang.
"Morning Silli-nder…," sapa Bintang ketika Silly menuruni tangga dari lantai atas di mana kamarnya berada.
"Morning Bin-nder…," jawab Silly menanggapi sapaan adiknya.
Alan dan Laura tersenyum mendengar sapaan mereka. Kini mereka berdua lega karena percakapan mereka semalam tidak mempengaruhi sikap Silly pagi ini.
"Sil, ini makanan kesukaan kamu. Makan yang banyak ya, Mama sendiri loh yang memasaknya," ucap Mama Laura sambil menunjuk lauk kesukaan Silly.
"Wah… ini memang kesukaan Silly Ma. Ternyata Mama masih ingat ya," ucap Silly dengan mata yang berbinar mengambil lauk tersebut ke dalam piringnya.
Papa Alan, mama Laura dan Bintang tersenyum melihat Silly yang tampak sangat bahagia saat ini.
Sarapan Silly kali ini berbeda dengan hari biasanya. Kini dia merasakan benar-benar mempunyai keluarga utuh, hingga dia melupakan Kenan yang mempunyai janji dengannya untuk saling mengabari.
"Sil, apa kamu mau ikut bersama Mama dan Papa?" tanya mama Laura ketika mereka sudah selesai makan.
Sontak saja Silly membelalakkan matanya, dia kaget mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mamanya.
Tring!
Suara notifikasi dari ponsel Silly membuat perhatian mereka semua teralihkan.
Silly membuka kunci ponselnya dan matanya berbinar melihat nama Kenan tertera pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Sil! Silly… Bagaimana? Apa kamu mau pindah sekolah bersama dengan Mama dan Papa?" tanya Papa Alan pada Silly.
Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? tanya Silly dalam hatinya.