
"Mana sih taksinya," ucap Silly tidak sabaran sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.
Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di sampingnya seolah parkir di cafe tersebut.
"Sil, mau ke mana? Ayo aku antar!"
Terdengar suara laki-laki dari dalam mobil tersebut yang memanggil Silly.
Silly menoleh ke arah mobil tersebut dan dia tersenyum melihat orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Laki-laki itu pun tersenyum manis pada Silly. Kemudian dia berkata,
"Mau pulang ya? Ayo aku antarkan kamu pulang."
"Emmm… sebenarnya aku masih menunggu taksi yang aku pesan," jawab Silly dengan tersenyum sungkan.
"Mana? Kok gak ada?" tanya laki-laki tersebut sambil melongokkan kepalanya keluar dari jendela mobilnya.
"Belum datang," jawab Silly sambil tersenyum lebar.
"Mending aku antar aja deh. Itu makanan bukan?" tanya laki-laki itu kembali pada Silly sambil menunjuk kantong plastik yang berisi beberapa box makanan.
Silly menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh laki-laki tersebut padanya. Kemudian dia berkata,
"Iya, tapi aku bukannya mau pulang. Aku mau ke kantor mengantar makanan."
"Gapapa, ayo aku antar. Tenang aja, aku gak minta bayaran kok. Daripada makanannya udah keburu dingin, kan gak enak," ucap laki-laki tersebut sambil terkekeh.
Silly pun terkekeh. Kemudian dia melihat ke arah kanan dan kiri jalanan untuk melihat taksi yang dipesannya.
"Nanti taksinya gimana?" tanya Silly dengan cemasnya sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Batalin aja. Kalau gak bisa dibatalin, bayar aja. Biar aku yang ganti ongkosnya," ucap laki-laki tersebut berusaha untuk meyakinkan Silly agar mau ikut bersamanya.
Silly kembali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, kemudian dia kembali melihat ke arah jalanan yang belum terlihat adanya tanda-tanda taksi pesanannya datang.
"Ya udah deh Kak, tolong antarkan Silly ya," ucap Silly sambil berjalan ke arah pintu mobil yang akan dinaikinya.
"Oke cantik. Mau diantar ke mana nih?" tanya laki-laki tersebut sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ke alamat ini ya kak. Kira-kira Kak Aldo tau gak kak kantor ini?" tanya Silly pada Aldo yang akan melajukan mobilnya.
Aldo melihat alamat yang diberikan oleh Silly dan dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Silly bahwa dia mengetahuinya.
"Yes, Kak Aldo emang baik deh," ucap Silly dengan senyum bahagianya.
Di sepanjang jalan mereka tidak berbicara. Ingin sekali sebenarnya Aldo bertanya beberapa hal pada Silly. Hanya saja dibatalkannya karena dia tidak ingin dinilai banyak ingin tahu oleh Silly.
Mereka ditemani oleh lagu yang berasal dari radio di mobil tersebut. Dengan keterdiaman mereka berdua, ternyata mereka sama-sama menikmati musik yang mereka dengarkan.
__ADS_1
Pikiran Silly melayang jauh membayangkan jika sebentar lagi Kenan terkejut akan kedatangannya dan memberikan pelukan serta ciuman padanya.
Dalam bayangannya itu, Kenan menyambutnya dengan hangat dan mereka saling menyuapi makanan yang dibawanya.
Silly hanyut dalam pikirannya. Dan dia tersenyum lebar membayangkan semua itu seperti benar-benar terjadi saat ini.
Hingga tak terasa mobil yang ditumpanginya sudah berhenti. Tapi Silly masih saja dengan lamunannya. Dia tetap tersenyum sambil memejamkan matanya membayangkan sesuai keinginannya.
"Sil, sudah sampai," ucap Aldo sambil menoleh ke arah Silly setelah mematikan mesinnya.
Terlihat Silly yang sedang memejamkan matanya sambil tersenyum. Aldo pun ikut tersenyum melihat tingkah lucu Silly itu.
"Sil, sudah sampai. Sil… Silly, Sil…," ucap Aldo sambil menggerak-gerakkan lengan Silly.
Seketika mata Silly terbuka. Dan dia melihat ke arah Aldo.
"Kita sudah sampai di alamat yang kamu tunjukkan tadi," ucap Aldo yang seolah mengetahui apa yang ditanyakan oleh mata Silly yang sedang menatapnya.
Silly mengedarkan pandangannya pada pemandangan yang ada di luar kaca mobilnya.
Tampak jelas di hadapannya kini adalah suatu bangunan yang menjulang tinggi dan berdiri dengan megahnya.
"Kak, apa benar itu kantornya?" tanya Silly pada Aldo yang masih berada di sebelahnya.
"Iya benar. Kamu belum pernah kemari?" tanya Aldo dengan mengerutkan dahinya.
"Belum. Hehehe…," Silly tersenyum lebar menampakkan deretan giginya pada Aldo.
"Ehmmm… Silly disuruh Papa ke sini Kak, mengantar makanan. Papa ada di dalam sekarang, sedang bertemu seseorang," jawab Silly mencoba menjawab rasa penasaran Aldo.
"Oh gitu. Papa kamu sedang bertemu dengan klien bisnisnya ya?" tanya Aldo kembali bermaksud berbasa-basi.
Silly tersenyum menanggapi perkataan Aldo. Dalam hatinya dia berkata,
Calon menantunya Kak.
Kemudian dia membuka pintu mobilnya dan berkata,
"Terima kasih ya Kak atas tumpangannya. Silly mau ke dalam dulu ya Kak."
"Eh Sil, perlu Kakak tunggu gak?" tanya Aldo pada Silly yang sudah berada di luar mobil dan akan menutup pintu mobilnya.
"Gak usah Kak. Silly lama soalnya. Terima kasih ya Kak," jawab Silly kemudian dia menutup pintu mobil tersebut sesudah mendapatkan anggukan kepala dari Aldo.
Setelah itu Silly masuk ke dalam gedung perkantoran tersebut dengan riangnya. Bahkan kakinya terasa tingan melangkah masuk ke dalam kantor tersebut.
"Selamat siang Dek, bisa kami bantu?" sapa resepsionis yang ada di dalam kantor tersebut
"Saya mau bertemu dengan Pak Kenan. Bisa tunjukkan di mana ruangannya?" jawab Silly sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, apa Adek sudah mempunyai janji?" tanya resepsionis tersebut agak ragu karena melihat Silly yang masih memakai seragam sekolah SMA dengan berbalut jaket di luarnya.
"Belum Kak. Cuma saya disuruh Papa untuk memberikan ini pada Pak Kenan," jawab Silly sambil memperlihatkan kantong plastik yang dia bawa.
"Wah, tetap saja Dek harus mempunyai janji terlebih dahulu jika akan bertemu dengan Pak Kenan," ucap resepsionis tersebut yang sepertinya melarang Silly bertemu dengan Kenan karena meremehkannya menggunakan seragam SMA.
"Aduh Kak, tolong kasih tau aja deh di mana ruangannya. Biar saya ke sana sendiri. Lagian saya anak dari pemilik Perdana Jaya Grup Kak. Kalau Kakak gak percaya bisa Kakak cek sekarang juga. Buruan Kak, ini makanannya keburu dingin," ucap Silly dengan tidak sabaran.
"Bagaimana cara mengeceknya Dek?" tanya resepsionis itu bingung.
"Tau deh. Bukannya Kakak sudah biasa mengecek tamu ya?" tanya Silly yang berusaha membuat malu resepsionis tersebut agar bisa dengan cepat ditunjukkan ruangan Kenan padanya.
Resepsionis tersebut tampak bingung dan berbisik-bisik dengan rekannya.
"Silly. Kenapa kamu ada di sini?"
Tiba-tiba terdengar suara pria dewasa dari belakang Silly.
Silly pun menoleh dan dia tersenyum senang melihat Pak Anto, sugar daddy dari Aurel ada di sana.
Silly menghampiri Pak Anto dan dia berkata dengan sangat antusias padanya,
"Kebetulan Pak, tolong tunjukkan ruangan Abang ya. Silly mau membuat kejutan untuknya."
Sontak saja Pak Anto membelalakkan matanya mendengar permintaan Silly.
"Tapi Sil, mendingan kamu pulang saja ya. Pak Kenan sedang banyak pekerjaan," ucap Pak Anto berusaha membuat Silly mengerti.
"Tapi Pak, ini Silly disuruh Papa loh. Bang Kenan kan calon suami Silly. Papa sudah menjodohkan Bang Kenan dengan Silly," sahut Silly sambil memperlihatkan bungkusannya.
Dahi Pak Anto mengernyit, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Silly padanya.
"Papa? Dijodohkan? Dengan Pak Kenan?" tanya Pak Anto bertubi-tubi.
Silly pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari semua pertanyaan yang diajukan Pak Anto padanya.
"Beneran? Siapa Papa kamu Sil?" tanya kembali Pak Anto ingint tahu.
"Papa adalah pemilik dari Perdana Jaya Grup. Bapak kenal?" ucap Silly kemudian.
Sontak saja Pak Anto membelalakkan matanya mendengar semua kebetulan yang ada. Dia tidak mengira jika putri pemilik Perdana Jaya Grup yang akan dijodohkan dengan Kenan adalah sugar baby Kenan sendiri.
"Ayo Pak. Buruan tunjukin ruangan Bang Kenan. Ini makanannya keburu dingin," ucap Silly dengan tidak sabaran.
Dengan segera Pak Anto mengantarkan Silly menuju lantai tempat kantor Kenan berada.
"Itu ruangannya. Apa ada yang perlu saya bantu lagi?" tanya Pak Anto sambil menujukkan ruangan Kenan.
"Tidak usah Pak. Terima kasih sudah mengantar. Saya langsung masuk aja ya Pak," ucap Silly sebelum berjalan masuk ruangan Kenan.
__ADS_1
Bruk!
"Abang!"