
Kenan melihat Silly yang sedang Berhias di depan cermin. Dalam hatinya dia berkata,
Cantik. Sangat cantik malah. Tanpa polesan makeup pun dia sudah sangat cantik. Pantas saja Rian selalu ingin mendekatinya. Mungkin saja banyak Rian-Rian yang lain di luaran sana yang mengincar dirinya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena dia milikku dan tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya.
"Abang, Silly udah siap. Ayo kita berangkat," ucap Silly dengan bersemangat.
Kenan beranjak dari duduknya dan lengannya digandeng dengan manja oleh Silly.
"Semangat sekali," ucap Kenan sambil tersenyum memandang Silly yang menggandengnya dengan manja.
Seketika Silly mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sugar daddy nya itu. Kemudian dia tersenyum lebar sambil berkata,
"Oiya dong. Harus semangat. Kan habis ini mau nikah sama Abang."
Sontak saja Kenan kembali tegang. Dia lupa jika tadi dirinya telah mengatakan hal konyol yang membuat Silly menjadi sangat berharap padanya.
Di meja makan telah tersedia makanan untuk sarapan mereka. Bik Darmi telah menyiapkannya untuk mereka berdua lengkap dengan susu UHT hangat rasa vanila dan juga kopi untuk Kenan.
Seperti biasa mereka makan sepiring berdua. Tentu saja Kenan tidak bisa melarangnya karena itu sudah menjadi kebiasaan mereka berdua jika makan di rumah Kenan.
Setelah mereka selesai makan, Kenan mengantar Silly berangkat ke sekolah.
"Abang, tolong lepasin dong sabuk pengamannya. Sepertinya macet nih," rengek Silly dengan menampakkan puppy eyes nya.
Dahi Kenan mengernyit mendengar permintaan Silly. Karena tempat duduk itu tidak pernah ditempati oleh orang lain. Hanya Silly lah yang menempati tempat duduk itu.
"Kok bisa macet? Padahal kan jarang digunakan. Apa karena jarang dipakai itu ya?" ucap Kenan sambil mendekatkan dirinya pada Silly untuk membantu melepaskan sabuk pengamannya.
Cup!
Silly mencium sekilas bibir Kenan.
Mata Kenan terbelalak mendapatkan ciuman singkat dari Silly.
Klik!
Sabuk pengaman yang dipakai Silly telah terbuka dengan mudahnya oleh tangan Kenan tanpa melihat ke arah tombol sabuk pengaman tersebut karena Kenan sedang memandang Silly yang telah dengan cepatnya mencuri ciuman dari Kenan.
Silly tersenyum lebar menampakkan deretan giginya berharap agar Kenan tidak marah padanya.
__ADS_1
Tentu saja Kenan tidak marah padanya. Dia malah menatap bibir pink alami milik Silly yang sudah menjadi candu baginya.
Dan kini bibir pink alami itu sangat menggodanya, seolah-olah memanggilnya untuk segera bisa dicicipinya.
Teeet… Teeet… Teeet…
Bel masuk berbunyi, membuat Kenan dan Silly tersadar jika mereka membuang waktu dengan pikirannya sendiri.
Segera Kenan menyingkir dari hadapan Silly. Dan dengan cepatnya Silly keluar dari mobil Kenan tanpa sempat berpamitan pada Kenan. Dia berlari masuk ke dalam sekolahnya sebelum gerbang sekolah ditutup.
Kenan terkekeh melihat tingkah sugar baby nya itu. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju kantornya.
Ternyata sesampainya di dalam ruangan kantornya, Kenan sudah disambut dengan banyaknya tumpukan map yang harus segera dikerjakannya.
Dia menghela nafasnya melihat tumpukan map tersebut. Kemudian dia berkata,
"Apa aku terlalu santai akhir-akhir ini hingga pekerjaanku menumpuk seperti ini?"
Memang benar perkataan Kenan. Dia terlalu santai saat ini. Bahkan Kenan yang dulu sebelum kenal dengan Silly adalah orang yang bekerja keras dan tidak pernah mengeluh ataupun menunda pekerjaannya.
Kini Kenan berubah. Dia sering menunda pekerjaannya hanya untuk bisa bertemu dengan sugar baby nya itu.
"Ah… apa aku sudah gila? Kenapa aku selalu terbayang wajahnya? Apa aku harus menikahinya agar tidak lagi terbayang wajahnya?" ucap Kenan lirih sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.
Buyar sudah konsentrasi Kenan ketika terbayang wajah Silly di hadapannya. Dia melihat ke arah tumpukan map dan melihat jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Sepertinya tidak akan bisa menjemputnya," ucap Kenan sembari mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya.
Kenan mengambil foto tumpukan beberapa map yang lumayan banyak itu dan mengirimkannya pada Silly. Kemudian dia mengirimkan pesan bahwa dirinya sedang banyak kerjaan di kantor sehingga tidak bisa menjemputnya.
Wajah Silly mendadak sedih ketika membaca pesan yang telah dikirimkan oleh Kenan padanya.
"Kenapa sil?" tanya Aurel dan Vania yang sudah bersiap dengan tas mereka ketika bel pulang berbunyi beberapa saat yang lalu.
"Abang gak bisa jemput," jawab Silly dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Kenapa?" tanya Vania yang merasa ingin tahu.
"Banyak kerjaan di kantor," jawab Silly singkat dengan suara yang lemah.
__ADS_1
"Emmm bagaimana jika kamu bawa makan siang saja Sil ke sana?" sahut Aurel berniat memberikan saran pada Silly yang tidak bersemangat seperti orang patah hati.
Seketika mata Silly berbinar. Dia sangat senang mendengar ide dari Aurel.
"Ide yang bagus. Aku akan ke sana dengan membawa makanan untuk kita makan siang bersama di sana," ucap Silly dengan sangat antusias.
"Mau beli makanan di mana?" tanya Vania pada Silly.
"Di cafe biasanya aja. Sekalian aja aku traktir kalian makan di sana. Gimana?" ucap Silly sambil memandang kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"Mau…," seru Aurel dan Vania bersamaan.
Mereka bertiga menuju ke cafe tempat mereka biasanya berkumpul bersama setiap pulang sekolah.
"Kalian makan berdua aja ya. Aku makan bersama Bang Kenan di kantornya," ucap Silly sambil membaca buku menu ketika sudah duduk di tempat yang biasanya mereka duduki.
"Ya… gak seru dong Sil," ucap Aurel sambil cemberut.
"Iya Sil, makan bersama kita dulu ya sebelum kamu berangkat ke kantornya si Abang," sahut Vania dengan tatapan memohon pada Silly.
"Yang ini, ini dan ini ya Mbak. Tolong di bungkus," ucap Silly sambil menunjuk menu yang dipesan pada waitress di sebelahnya.
"Saya yang ini sama ini ya Mbak," ucap Aurel sambil menunjuk menu yang dipesannya pada waitress tersebut.
"Kalau saya yang ini dan minumnya yang ini ya Mbak," ucap Vania sambil menunjuk menu yang dipesannya pada waitress tersebut.
"Pokoknya kalian harus doakan agar Bang Kenan benar-benar terkejut dengan kedatanganku," ucap Silly sambil menatap serius pada Aurel dan Vania seolah meminta dukungan mereka.
"Iya, pasti Sil. Kita berdua pasti doakan kamu. Iya gak Van?" tutur Aurel sambil meminta dukungan dari Vania.
"Pasti dong. Kita kan sahabat," sahut Vania sambil meletakkan tangan kanannya di tengah-tengah meja untuk melakukan tos ala mereka.
Aurel dan silly pun meletakkan tangan mereka di atas punggung tangan Vania dam mereka melakukan selebrasi ala mereka bertiga.
Setelah beberapa menit berlalu, makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Guys, aku duluan ya. Makanannya biar aku yang bayar. Bye…," ucap Silly sambil beranjak dari duduknya dan tangannya membawa bungkusan yang berisi beberapa box makanan.
Silly segera keluar dari cafe tersebut setelah membayar semua makanan mereka bertiga di kasir.
__ADS_1
"Sil, mau ke mana? Ayo aku antar!"