My Silly Sugar Baby

My Silly Sugar Baby
Bab 51 Trauma


__ADS_3

"Lepasin! Lepasin Silly Bang! Lepas!" 


Silly meronta-ronta meminta agar dilepaskan oleh Kenan.


Dia baru teringat jika dia dalam mode marah dan kesal pada Kenan. Bahkan dia berniat untuk tidak mau lagi bertemu dengan Kenan.


"Abang bohong. Abang selingkuh. Aku gak suka dibohongi sama Abang," ucap Silly dengan terisak.


Dia tidak kuat lagi menahan tangisnya ketika teringat akan kejadian di kantor Kenan tadi. Dia tidak mampu membayangkan Kenan memangku wanita lain selain dirinya.


"Bukan, bukan seperti itu kejadiannya. Biar Abang jelaskan dulu. Kamu jangan marah dulu," ucap Kenan sambil mengeratkan pelukannya agar Silly tidak terlepas darinya.


"Abang jahat!" rengek Silly sambil memukul-mukul dada Kenan.


"Abang jelaskan dulu ya. Dengarkan aja dulu, jangan menyela," ucap Kenan sambil mempererat pelukannya.


"Siapa wanita itu?" tanya Silly di sela isakan tangisnya.


"Dia wanita yang gak penting dan gak usah dikenal. Dia itu biasanya Abang bayar untuk memuaskan klien Abang yang meminta pendamping wanita. Dan kebanyakan klien Abang yang meminta itu dari luar negeri. Dia tadi datang ke kantor untuk meminta bayarannya," tutur Kenan yang masih dengan posisi memeluk erat tubuh Silly.


"Kalau Abang gimana? Apa Abang juga pernah itu sama dia? Abang aja nyari sugar baby waktu itu. Jangan-jangan…," ucapan Silly tidak bisa dilanjutkan olehnya karena dia tidak mampu meneruskan perkataannya.


"Enggak. Abang gak napsu sama dia," ucap Kenan tegas seolah tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Silly tentang dirinya.


Silly mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Kenan. Dia ingin melihat wajah Kenan untuk mengetahui kebohongan atau kejujuran ketika dia menjawab pertanyaan darinya.


Namun, tetap saja usahanya tidak membuahkan hasil. Semakin Silly memberontak, semakin erat Kenan memeluknya.


"Kok Abang bisa tau kalau Abang gak napsu? Apa Abang pernah nyicipin?" tanya Silly di sela isakan tangisnya.


Kenan menelan ludahnya. Silly tidak bisa melihat wajah Kenan, tapi dia bisa melihat saat ini jakun Kenan naik turun menelan ludahnya.


"Kok, kok Abang gak jawab sih? Beneran ya yang Silly katakan?" tanya Silly yang tiba-tiba kembali mengeluarkan air matanya setelah tadi hanya isakan tangisnya saja yang tersisa.


"Enggak. Udah jangan nanya seperti itu lagi," ucap Kenan seolah tidak suka jika Silly menuduhnya.


"Terus ngapain Abang tadi mangku-mangku wanita itu?" tanya Silly dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Abang gak mangku dia. Tapi dia sendiri yang tiba-tiba duduk di pangkuan Abang," jawab Kenan dengan tegas agar Silly tidak lagi menuduhnya.


Silly masih saja memberontak ingin lepas dari pelukan Kenan. Dan itu membuat Kenan menjadi kesal.


"Abang bisa buktikan. Ada CCTV di ruangan Abang. Kamu bisa lihat rekaman CCTV nya kalau kamu gak percaya," tutur Kenan sambil menguatkan pelukannya agar tidak dengan mudahnya bisa dilepaskan oleh Silly.


Mendengar penuturan dari Kenan, Silly menghentikan gerakannya. Setelah itu dia berkata,


"Mana? Silly mau lihat."


"Ok. Tapi janji jangan marah," ucap Kenan meminta Silly untuk berjanji padanya.


Silly pun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Kenan. 


"Janji dulu," ucap Kenan yang menginginkan untuk mendengar suara Silly yang mengucapkan janji padanya.


"Iya, Silly janji," ucap Silly sambil menarik ingusnya yang seolah keluar sewaktu menangis tadi.


Kenan melepaskan pelukannya, kemudian dia mencoba mencari ponselnya. Dia kebingungan mencarinya hingga seperti orang yang kehilangan sesuatu yang berharga.


"Cari apa Bang?" tanya Silly sambil mengusap jejak air matanya menggunakan tisu yang diambilnya dari meja dekat ranjang.


"Itu," jawab Silly sambil menunjuk meja yang ada di sebelah ranjang.


Dengan segera Kenan mengambilnya. Dan mengutak-atik ponselnya itu dengan serius.


"Ada apaan sih Bang? Serius banget," ucap Silly sambil mengerucutkan bibirnya.


Tadi aja dipeluk-peluk sampai erat banget gak bisa lepas. Sekarang malah dicuekin, Silly berkata dalam hatinya.


"Katanya mau lihat rekaman CCTV ruangan kantornya Abang," jawab Kenan tanpa melihat ke arah Silly, pandangan matanya masih fokus pada layar ponselnya.


Seketika mata Silly berbinar. Dia ternyata terlalu mencurigai Kenan. Dengan segera dia mendekati Kenan sambil berkata,


"Mana Bang, mana? Silly mau lihat."


Kenan tersenyum melihat sikap sugar baby nya itu yang berubah-ubah. Bahkan apa yang dialami oleh Kenan bisa dilupakannya begitu saja karena kehadiran Silly, gadis yang entah mempunyai arti apa di hati Kenan.

__ADS_1


Mata Silly memandang layar ponsel Kenan tanpa berkedip. Dia takut melewatkan adegan yang mungkin tidak sama dengan apa yang dikatakan Kenan padanya.


Silly memandang Kenan dengan tatapan bersalah. Dia menuduh Kenan tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Gimana, kamu percaya kan sama Abang" tanya Kenan sambil tersenyum manis dan menatap mata Silly dengan intens.


Hati kecil Silly merasa bersalah, tapi dia tidak mau disalahkan karena apa yang dilihatnya mengatakan segalanya. Tanpa sadar dia berkata,


"Tetap aja Abang juga salah. Harusnya Abang segera singkirkan wanita itu dari pangkuan Abang. Nyatanya Abang malah diam saja. Mungkin saja Abang malah menikmatinya."


Kenan terhenyak. Dia tidak menyangka jika sugar baby nya yang konyol, polos dan lugu itu akan berpikiran seperti itu.


"Itu Abang tadi kaget, jadi gak sadar. Tapi ketika Abang sudah sadar dan akan menyingkirkannya, kamu datang dan melihatnya seolah Abang suka ketika dia ada di atas pangkuan Abang," tutur Kenan mencoba membela dirinya.


"Tapi harusnya Abang-"


"Sayang, bukannya kamu sudah janji gak bakalan marah setelah melihat rekaman CCTV itu?" tanya Kenan yang mencoba mengalihkan kemarahan Silly.


Silly terdiam. Dia hanya bisa menggerutu dalam hatinya karena janji yang sudah dikatakannya.


Silly melihat ke arah lain dan mencebikkan bibirnya agar Kenan tidak mengetahuinya jika dia sekarang ini sedang kesal.


Matanya tertuju pada mangkuk dan gelas bekas makan Kenan tadi. Seketika dia teringat jika Kenan baru saja sadar dari pingsannya.


"Abang, Abang tadi kenapa kok tiba-tiba jatuh pas main hujan-hujanan?" tanya Silly dengan perasaan ingin tahunya.


Seketika wajah Kenan kembali tegang. Senyumnya hilang seketika. Kini dia mengingat kembali peristiwa yang membuatnya jatuh pingsan.


Kenan hanya diam saja seolah dia tidak mau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Silly padanya.


"Katanya Abang calon suaminya Silly, harusnya Abang mau mengatakan pada Silly apa yang sebenarnya terjadi," ucap Silly sedikit memaksa Kenan agar mau bercerita padanya.


Namun, Kenan tetap saja diam seolah mulutnya terkunci rapat tidak bisa dibuka.


Melihat Kenan yang tetap diam tidak mau mengatakan apa yang terjadi padanya, Silly beranjak dari duduknya sambil berkata,


"Ya sudah kalau Abang tetap diam dan tidak mau mengatakannya pada Silly. Lebih baik sekarang Abang pulang saja. Silly ngantuk. Silly tidur dulu."

__ADS_1


Sontak saja Kenan tersadar dari lamunannya. Kemudian dia berkata,


"Abang trauma."


__ADS_2