
Dengan badan yang langsung melas karena mendengar semua penjelasan dari Dokter, Akmal kembali ke ruangan tempat Meisita di rawat. Ia belom sadarkan diri membuat Akmal terus memandangi ruangan itu.
Tiba-tiba, ibu dari Akmal yang bernama khamaliya menghampiri dirinya.
"Baik awak balik dulu, basuh badan dan rehat," ucap Khamaliya.
"Hati saya tidak tenang, sebelum Meisita sedar. Saya akan tinggal di sini," sahut Akmal.
Sudah 2 hari Akmal di rumah sakit menunggu Meisita sadarkan diri, badannya terlihat sangat lesu, wajahnya kusam seperti tak terurus.
Dokter yang telah memindahkan Meisita ke ruang VIP, membuat Akmal langsung mengikutinya. Saat berada di dalam ruangan, Akmal langsung memegang tangan Meisita dengan lembut, berulang kali Ia mencium tangannya.
"Sayang, buka mata awak. Saya sudah pulang," ucap Akmal.
“Makan dulu nak, Ibu bawakan makanan kegemaran awak," kata Khamaliya.
Akmal hanya memandang makanan yang di bawa ibunya, niat tidak ingin memakan apapun karena melihat Meisita tak kunjung ada perubahan, membuat dirinya sangat sedih.
"Kalau tak nak makan, sakit nanti. Kesian Meisita kalau dia bangun tengok awak sakit, dia akan sedih," kata Khamaliya.
Akhinya Akmal pun mau memakan makanan yang di bawakan oleh Khamaliya, saat akan menyuap satu sendok. Tiba-tiba tangan Meisita bergerak, membuat alat medis yang terpasang di tangannya berbunyi. Akmal langsung menoleh melihat alat itu berbunyi, Ia langsung menekan tombol panggilan yang terhubung dengan ruangan perawat yang berjaga.
Perawat itu langsung masuk ke dalam ruangan Meisita dan memasang kembali alat yang lepas dari tangannya, melihat jari Meisita terus begerak. Perawat itu langsung memanggil dokter yang berjaga.
"Puan Meisita telah sedarkan diri, dan berada dalam keadaan yang lebih baik," ucap Dokter.
'Syukurlah Doc, terima kasih," sahut Khamaliya.
Perlahan-lahan mata Meisita terbuka, melihat Akmal berada di hadapannya membuat Meisita tersenyum.
__ADS_1
"Sejak bila awak pulang," ucap Allena.
Akmal tersenyum tanpa menjawab, tangannya membelai rambut Meisita yang cukup berantakan.
"Apa yang berlaku kepada saya, apa yang berlaku kepada perut saya?" tanya Meisita.
Akmal dan orang tuanya hanya bisa terdiam membuat Meisita merasa penasaran, merasa seperti ada yang di sembunyikan. Meisita pun terus menanyakan apa yang sedang terjadi, akhirnya Akmal dengan berat hati menceritakan semuanya.
"Sayang beritahu saya apa yang berlaku?" tanya Meisita.
“Kamu terjatuh di taman berhampiran rumah dan keguguran. Bayi kita tidak dapat di selamatkan," jawan Akmal menyembunyikan jika Meisita tidak bisa hamil lagi karena rahim nya sudah di angkat.
Merasa terkejut dengan apa yang sudah terjadi, Meisita pun menangis sejadi-jadinya. Merasa bersalah tidak bisa menjaga buah hatinya dengan baik, berulang kali Ia meminta maaf kepada Akmal.
"Jangan sedih, saya masih bersama awak," kata Akmal.
“Saya rasa saya gagal sebagai ibu, dan juga gagal untuk menjadi isteri yang solehah. Saya minta maaf," ucap Meisita.
Allena merasa sangat bosan berada di dalam apartement, sejak kepergian Akmal ke Malaysia. Allena tidak pernah keluar rumah sudah hampir satu minggu, berkali-kali Allena melihat ponsel nya tak kunjung mendapatkan pesan apapun dari Akmal, Ia berusaha mengirimi pesan setiap waktu tetapi tidak pernah di balas.
"Apa yang sedang terjadi? Apa bang Akmal tidak mau di ganggu?" tanya Allena.
Allena pun beranjak menatap cermin, terlihat badannya yang sangat kurus karena terus-terusan mual muntah membuatnya mendapat tubuhnya sendiri dengan tatapan sendu. Semua kesulitan yang di alami Allena selama awal kehamilan, Ia lalui sendiri tanpa ada peran suami di sampingnya.
"Kenapa kau pergi tanpa kabar seperti ini bang, secara tidak langsung kau sangat menyiksa ku. Aku sangat kesulitan menjalani hidup tanpa mu," gumam Allena.
Hari terus berlalu, tabungan Allena sudah menipis membuatnya harus kembali bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhanya dan bayinya. Allena mengingat jika dirinya masih memiliki kios, dengan penuh semangat Allena kembali ingin membuka kios itu dan menjadi seperti dulu lagi.
Di dalam perjalanan, Allen melihat sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau membuat dirinya langsung teringat masalalu nya bersama Akmal, tak terasa air mata itu menetes di pipi Allena.
__ADS_1
Allena berjalan menuju kios itu, betapa terkejutnya Ia saat melihat kios itu di tempati orang lain. Allena langsung masuk ke dalam kios itu dan bertanya kepada pemilik baru kios itu.
"Mohon maaf mbak, sedang apa ya mbak di kios saya?" tanya Allena.
"Kios mbak? Saya sudah membeli ini sebulan yang lalu, anda siapa ya?" jawab pemilik kios baru.
"Siapa yang menjual kios ini kepada mbak, boleh saya tahu?" tanya Allena dengan begitu sopan.
"Dia bernama Dewi, Istrinya pak Katmojo," jawab Pemilik kios baru.
Allena langsung lemas, badannya seperti tak bertenaga dan hampir tidak bisa menjaga keseimbangan, Allena sangat kecewa dengan keputusan Dewi yang berani menjual kios milik Allena. Kios itu murni di bangun oleh Allena dengan jeri payahnya sendiri, saat mendengar kios itu di jual, hatinya sangat hancur.
Allena langsung pamit kepada pemilik baru kios itu dan pergi mendatangi rumah pakdenya, dia terus berjalan sambil memegang perutnya. Sampai di depan rumah Katmojo, Allena menatap sendu rumah itu, teringat di benaknya. Betapa kejinya perlakuan mereka kepada dirinya membuat Ia terpaksa masuk ke dalam rumah itu lagi.
"Assalamualaikum," sapa Allena.
"Ada apa kamu datang kemari, bude pikir kamu udah lupa sama kami," sahut Dewi.
"Bude, maksud saya datang kemari untuk menanyakan kios saya. Kenapa bude berani menjual harta saya satu-satunya?" tanya Allena.
"Oh, itu kios bude pikir tidak di gunakan lagi. Karena sudah lama menganggur, jadi bude jual saja, memangnya kenapa? Kan hidup kamu sudah enak, yo mbok itu kios buat bude," sahut Dewi.
"Aku berusaha untuk tidak menjual nya bude, tapi kenapa bude gak bilang dulu sama aku. Aku pemilik sah kios itu," kata Allena.
"Kios itu sudah lama menjadi hak milik si Ella, jadi terserah saya mau menjualnya atau tidak. Kamu itu cuman anak pembawa sial, jadi untuk apa di sini. Sudah sana pergi jauh-jauh dari hidup kami," ucap Dewi.
Allena lagi-lagi di kejutkan oleh ucapan Dewi yang sangat berani membalik nama sertifikat kios itu menjadi atas nama Ella, anak semata wajangnya. Air mata Allena pun pecah membasahi pipinya, ada rasa dendam di dalam hati Allena saat melihat semua perlakuan keluarga Katmojo kepadanya. Dengan kasar Allena mengusap air mata itu.
"Sampai kapan pun,aku tidak akan memaafkan kalian!" pecik Allena, lalu pergi meninggalkan Dewi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.