
"Perhatian! Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."
Sepanjang perjalan menuju mansion, Akmal terus memikirkan wanita yang menjadi desainer, Ia sangat lah mirip dengan Allena. Terlihat dari senyumamnya, bibirnya dan cara jalannya menunjukan bahwa Allena berada di hadapannya.
Dengan raut wajah yang sangat pucat dan badan yang sedikit gemetar, Akmal di bantu Meisita berjalan menuju kamarnya. Ia di baringkan di atas ranjang, melihat sang suami yang tidak baik-baik saja. Meisita pun langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya, untuk memeriksakan kondisi Akmal.
Dokter Reza panggilannya, berjalan masuk ke dalam kamar mereka berdua. Melihat Akmal yang terbaring lemah dengan wajah pucat membuat Reza langsung memeriksa kondisi Akmal.
Saat Reza memeriksa kondisi Akmal, terlihat tanda vital Akmal menurun drastis membuatnya terlihat sangat pucat.
"Encik Akmal, tekanan darah anda sangat rendah 90/60 mmhg, awak hanya perlu berehat di sini," jelas Dokter Reza.
"Adakah keadaan itu berbahaya?" tanya Meisita.
“Saya beri ubat dan kena makan selalu, kalau tak ada perubahan pada keadaan Encik Akmal mesti dimasukkan ke hospital," jelas Reza.
"Baiklah, terima kasih Dok," sahut Meisita.
Setelah selesai memeriksa Akmal dan memberi obat. Reza pun keluar di ikuti Meisita dari belakang.
"Jaga keadaan Encik Akmal, okey. Dia nampak banyak perkara yang difikirkan menyebabkan dia jatuh," ucap Reza.
“Baiklah, terima kasih," kata Meisita.
Akmal pun langsung minum obat dan beristirahat, Meisita yang melihat Akmal tertidur dengan pulas, berusaha memegang tangannya, Ia usap dengan lemput dan menciumnya.
"Sayang saya minta maaf, awak bekerja keras sehingga awak lupa tentang kesihatan awak," gumam Meisita.
Malam pun datang menyelimuti bumi dengan banyak taburan bintang di langit, tak terdengar suara bising di bumi seperti pada siang hari. Apa mungkin mereka sedang mengarungi mimpi yang sangat mengerikan sehingga tak mampu bersuara.
Seperti Allena/Saras yang bermimpi melihat Akmal bersama Meisita, terlihat canda tawanya yang begitu bahagia. Akmal tak melihat Allena yang sedang berdiri tepat di depannya dengan penuh luka dan darah yang mengalir ditubuhnya, rasa sakit itu semakin nyata ketika mendengar suara tawa Akmal.
Allena mencoba memegang tubuh Akmal tetapi tak bisa Ia raih, merasa panik dengan keadaan yang dia alami. Allena pun langsung merabah tangan nya sendiri dan mencoba memegang sesuatu yang di sekitarnya, tetap saja tidak bisa Ia pegang.
"Kenapa dengan tubuh ku, kenapa aku hanya menjadi bayangan yang hanya bisa melihat mereka bahagia! Kenapa!" teriak Allena.
__ADS_1
Teriakan itu mampu membuka matanya yang terpejam, keringat membasahi keningnya. Ia pun bangun dan langsung mengusap wajahnya, merasa dirinya sangat kacau. Allena pun berjalan ke dapur membuka lemari pendingin.
Meneguk air mineral, membuatnya merasa lebih baik. Ia mendapat pesan dari Farhan bahwa dirinya akan terbang ke Malaysia sore harinya.
Ke esokan harinya....
Merasa lebih baik, Allena memutuskan untuk joging agar bisa lebih fokus dalam berfikir. Dengan mengenakan celana training dan kaos, tak lupa mendengarkan musik, Ia berlari mengelilingi taman. Berlari kecil membutanya mengeluarkan banyak keringat, cukup lama Allena berolahraga. Akhirnya Ia pun memutuskan untuk kembali ke mansion dengan berjalan kaki.
Berjalan melewati trotoar jalan, Allena merasa di ikuti dengan seseorang. Tak menghirauan itu, Ia pun langsung mempercepat langkahnya, dan tiba-tiba seorang pria dengan mengenakan kaos dan celana panjang berlari di samping Allena.
Allena yang langsung menoleh ke arah pria itu, merasa sangat terkejut.
"Farhan!" seru Allena.
Farhan pun tak menghirauan itu dan terus berlari mengikuti langkah Allena. Dengan rasa penasaran, Ia memegang lengan Farhan untuk memastikan yang dia lihat Dokter Farhan yang selalu memberi nya support.
"Iya ini aku," sahut Farhan sambil tersenyum.
"Kau ini, mengagetkan ku saja. Kapan kau terbang Dok? Kau memberi tahu ku, sore hari baru akan terbang," tanya Allena/Saras.
"Ceritanya sangat panjang, hari ini aku sedang libur bekerja. Mau kah mau membawaku ke pantai?" tanya Allena/Saras.
"Tentu saja tuan putri, mari kita berlibur ke pantai. Aku sudah lama tidak bermain air," jawab Farhan.
Mereka pun akhirnya pergi ke pantai berdua, saat di dalam perjalanan. Terlihat Farhan sangat memahami wilayah ini, membuatnya merasa penasaran.
"Apa sebelumnya kau pernah tinggal di Malaysia?" tanya Allena/Saras.
"Aku di besarkan di sini, Ibu ku asli orang melayu. Jadi aku paham akan negara ini dan tempat wisatanya," jawab Farhan.
"Benarkah? Wah, kebetulan sekali ya. Lalu kenapa kau bekerja di rumah sakit yang ada di indonesia bukan di rumah sakit sini?" tanya Allena/Saras.
"Aku ingin mencari jati diri ku yang sebenarnya, aku mencoba merantau di indonesia dan aku nyan berada di sana. Sampai akhirnya aku bertemu dengan mu," jelas Farhan.
"Lalu, dimana orang tua mu? Pasti dia sangat beruntung memilik putra sebaik dirimu," ucap Allena/Saras.
__ADS_1
"Kau ini bisa saja, kita sebentar lagi akan sampai," kata Farhan.
Allena/Saras merasa sangat girang karena sudah lama dirinya tidak pernah pergi berlibur, hari-hari nya di sibukan dengan pekerjaan yang hampir membuatnya setres.
"Selamat datang pantai! Aku sangan merindukan mu!" teriakan Allena/Saras sambil berjalan mengelilingi bibir panti.
Farhan sangat senang melihat kebagaiaan di mata Allena/Saras. Ia pun mengikuti kemana Allena berjalan, sambil mengambil gambar Allena yang sedang bermain pasir.
Merasa lelah, mereka duduk di keday dekat pantai itu.
"Kau bahagia?" tanya Farhan.
"Aku sangat bahagia, terima kasih sudah membawa ku ke tempat ini," jawab Allena mencubit pipi Farhan.
Farhan pun terus memandangi Allena dengan senyuman yang begitu manis, terlihat ada ketertarikan Farhan kepadanya. Membuat Allena belom menyadari semua kebaikan yang di lakukan Farhan.
"Kau lapar? Mau steak? Atau seofood bakar?" tanya Farhan.
Mendengar kata steak, raut wajah Allena tiba-tiba berubah drastis yang tadinya bahagia, kali ini langsung terlihat sangat lesu.
"Ada apa dengan mu? Apa kau sakit?" tanya Farhan merasa bingung.
"Steak, mengingatkan ku kepada Akmal. Aku tidak mau makan itu," sahut Allena pergi meninggalkan keday itu, di ikuti Farhan dari belakang.
"Maafkan aku, aku tidak mengetahui nya," ucap Farhan.
Akhirnya mereka pun berjalan di sepanjang pantai itu, menikmati hembusan angin yang sangat sejuk.
"Apa kau mengalami masa sulit di sini? Saat kau pergi, ada seorang pemuda yang mencari identitas mu di rumah sakit tempat kau di rawat," kata Farhan.
"Seorang pemuda? Siapa namanya? Apa kau mengenalinya?" tanya Allena/Saras.
"Namanya adalah ...," sambungnya membuat Allena melebarkan matanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1