
"Untuk Saya, Saya ingin nyari uang di luar negri mas, katanya gajinya lumayan besar," ucap Allena.
"Boleh Mbak, tapu nunggu Mba Allena sembuh dulu ya. Mbak saya mohon pamit ya, mau kekantor soalnya banyak pekerjaan. Mbak Allena gak papa kan saya tinggal sendiri?" tanya Anggara.
"Duh jadi ngerepotin Mas Anggara, justru Saya yang harus nya bilang terimakasih ke Mas karena udah nolongin Saya," sahut Allena.
Anggara pun pamit untuk segera pergi, dan meninggalkan kartu nama kepada Allena untuk sewaktu menghubunginya jika butuh bantuan. Allena melihat ketulusan Anngara yang sudah menolongnya tanpa imbalan apapun.
Dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Allena.
"Selamat pagi Nyonya Allena, apa tidur anda nyenyak?" sapa Dokter.
"Pagi Dok, Saya tidur dengan Nyenyak," jawab Allena.
"Nyonya, sekarang kita USG sekali lagi ya. Untuk memastikan apakah masih ada sisa gumpalan darah di dalam rahim atau tidak," kata Dokter.
"USG? Memangnya saya kenapa Dok? Apa kehamilan saya bermasalah?" tanya Allena.
"Nanti akan Saya jelaskan di dalam ruangan Saya," kata Dokter.
Di dalam ruangan USG, dokter memeriksa rahim Allena, terlihat keadaan rahimnya mulai membaik dan sudah bersih dari gumpalan darah.
"Jadi kemaren Nyonya Allena mengalami keguguran, karena benturan yang sangat hebat membuat janin yang ada di dalam rahim Nyonya Allena meluruh kebawah, kehamilan trimester pertama memang rentan keguguran. Maka dari itu kami langsung melakukan tindakan Curetase untuk mengeluarkan sisa-sisa gumpalan darah yang ada di dalam rahin Nyonya Allena," jelas Dokter.
Seketika Alleba langsung mengusap perutnya yang kini sudah tidak ada janin nya lagi, air matanya menetes membasahi pipinya. Dokter yang melihat kondisi Allena yang sangat terpukul, berusaha untuk menghibur nya.
Allena berjalan menuju taman yang ada di rumah sakit, Ia memandangi dedaunan yang tersusun rapih memanjakan mata yang penuh dengan luka.
"Jangan bersedih Nyonya," ucap Dokter tiba-tiba memberikan susu kotak rasa Almon.
Allena menerima susu itu dan tersenyum, "bagaimana aku tidak bersedih, jika separuh hati dan nyawa ku telah hilang. Hati ku sangat hancur saat semuanya hal yang menyakiti ku datang di waktu yang sama, Aku seperti tak sanggup untuk menutup luka yang terbuka sangat lebat," air mata Allena terus menetes membuat Dokter yang menemaninya duduk di samping Allena.
"Di mana suami mu, apa pria yang datang bersama mu itu dia suami mu?" tanya Dokter.
__ADS_1
"Apa Aku perlu menjawab Dok?" jawab Allena.
"Tentu, kondisi ibu yang mengalami keguguran itu sangat sensitif. Jadi, butuh motivasi dari suami atau orang terkasih untuk selalu berada di sisinya," sahut Dokter.
"Bagai mana aku mendapatkan semua itu? Sedang kan saat ini aku hanya sendirian! Bahkan aku tidak memiliki orang terkasih di dalam hidup ku, aku seperti serpihan kayu yang akan hilang ketika tertiup angin," jelas Allena.
"Maafkan aku, jika ucapan ku menyakiti mu Nyonya," ucap Dokter.
"Tidak perlu meminta maaf, Dokter sangat baik mau menemai ku disini," sahut Allena.
"Kau adalah Pasien ku, Aku tidak mau melihat Pasien ku merasa sedih," kata Dokter.
"Terima kasih Dok, kau sangat baik," sahut Allena.
♡♡♡
Waktunya Allena pulang, selama di rumah sakit Allena selalu di temani oleh Dokter Farhan yang selama ini merawatnya di rumah sakit, Allena dan Farhan terlihat sangat akrab. Melihat mereka berdua seperti ada ketertarikan di sorot mata Farhat, tetapi itu hanya dugaan yang sewaktu bisa menjadi kebetulan.
"Hari ini kau sudah di boleh kan pulang," kata Dokter Farhan.
"Apa kau tidak betah berada di rumah sakit?" tanya Dokter Farhan.
"Aku menyukai pelayanan di rumah sakit ini, tapi aku merindukan rumah ku," jawab Allena.
"Baiklah, ini obat mu sudah ku tebus. Kau harus meminumnya tepat waktu, mengerti!" seru Dokter.
"Kenapa kau tiba-tiba galak pada ku? Apa aku melakukan kesalahan dengan mu Dok?" tanya Allena.
Allena merasa bingung dengan sikap dingin Dokter Farhan yang secara tiba-tiba, membuat Allena menatap mata Farhan. Tetapi Farhan menepis tatapan itu.
"Ada apa?" tanya Farhan.
"Dokter tidak mau aku pergi?" tanya Allena.
__ADS_1
"Sana pergi sekarang, kau ini menyusahkan saja," kata Farhan, terlihat tingkahnya seperti anak kecil.
"Masukan nomor ponsel mu, nanti akan aku hubungi jika aku sudah sampai di rumah," bisik Allena membuat Farhan salah tingkah.
Mereka berdua akhirnya bertukar nomor ponsel, karena waktu sudah siang. Allena akhirnya meninggalkan rumah sakit itu, dan meninggalkan Dokter Farhan yang sudah menemani dan merawat selama di rumah sakit.
Di dalam perjalanan, keadaan Allena mulai membaik. Terlihat senyum di wajahnya membuatnya seperti keluar dari terpurukan. Tetapi itu hanya sementara, saat dirinya masuk ke dalam apartemen itu lagi, Allena mengingat kenangan bersama Akmal.
Kesedihan itu pun kembali datang, membuatnya terduduk diam.
"Aku tidak akan berlarut dalam kesedihan yang hanya akan membuatku semakin hancur, aku harus bangkit dan melupakan semua yang ada di dalam hati ku. Sudah ku putuskan detik ini juga, aku tidak akan pernah mengingat nama mu di dalam hati ku. Terlalu menyakitkan semua perlakuan mu terhadap ku. Untuk apa kau menciptakan cinta yang seolah aku menjadi wanita yang sangat beruntung telah di cintai oleh mu, tapi nyatanya kau menghancurkan dalam waktu sekejap," gumam di dalam hati Allena.
"Aku harus menemui Anggara besok," ucap Allena.
Allena bangkit dari tempat duduknya, mengikat rambutnya yang terurai, membersihkan seisi apartement yang mulai berdebu karena sudah lama Ia tinggalkan.
Penuh semangat baru, Allena mulai kembali seperti dulu meski pun tidak sebahagia dulu. Tetapi Allena berusaha untuk bangkit lagi, Ia menyalakan musikbyang cukup keras sambil bernyayi di dalam apartemen itu membuatnya jauh lebih baik. Selesai bersih-bersih Allena memasak di dapur. Melihat masih ada daging beku, membuatnya langsung membuat sup hangat.
Malam tiba, di mana Allena menikmati malamnya dengan secangkir sup hangat dan minuman jahe yang mampu menghangatkan tubuhnya, Allena menatap ponselnya. Terlulis nama Dokter Farhan membuatnya langsung menelpon.
Ponsel itu berdering membuat Farhan langsung mengangkatnya.
Farhan: "Hallo, ini siapa?"
Allena: "Allena, apa kau sibuk?"
Farhan: "Tidak, aku sedang bersantai. Kau sedang apa?"
Allena: "Dok, terima kasih telah membantu ku bangkit dari keterpurukan ini, aku hampir ingin mengakhiri hidup ku, tapi berkat kau. Aku merasa lebih baik, aku janji jika nanti aku punya banyak uang, aku akan meneraktir mu."
Farhan: "Aku akan menunghu kau meneraktir ku, jika kau lupa, kau akan tahu akibatnya."
Celoteha Farhan membuat Allena tersenyum, Allena belom menceritakan niatkan yang akan bekerja di Malaysia.
__ADS_1
BERSAMBUNG.