
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Pintu kamar hotel itu terbuka, terlihat dari ujung jendela seorang pria tinggi berbadan kekar sedang menikmati pemandanga indah dari jendela.
Allena seperti mengenal pria yang ada di hadapannya itu, Ia melangkah masuk ke dalam.
"Siapa kamu?" tanya Allena.
"Kau tidak mengenal ku," jawab Akmal.
"Tidak," ucap singkat Allena.
"Terkadang kita harus menjadi angin untuk dikejar dalam gegerahan, tapi jangan pernah menjadi angin yang datang tanpa di minta," ucap Akmal.
"Apa maksud mu?" tanya Allena.
Akmal menoleh ke arah Allena, melihat pria yang ada di depannya adalah Akmal, membuatnya terkejut dan mundur perlahan.
"Mau apa kamu?" tanya Allena.
"Aku hanya ingin berbicara 4 mata dengan mu," jawab Akmal.
Allena berusaha untuk keluar dari dalam hotel tetapi pintu itu terkunci, berulang kali Allena membukanya tetap tidak bisa. Kepanikam mulai datang menghampiri Allena tetapi Ia mencoba untuk tenang.
"Katakan pada ku, apa mau mu?" ucap Allena.
"Kau ini sangat agresif sekali," kata Akmal.
Akmal mulai mendekati Allena yang ada di dekat pintu, "kau semakin cantik, lama tidak bertemu dengan mu. Apa kau tidak merindukan ku?" ucap Akmal membuat Allena hanya terdiam.
"Keluarkan aku sekarang juga, ada urusan apa kau membawa ku kemari?" tanya Allena.
Akmal tiba-tiba mendapat telpon jika desainer Saras telah membatalkan kontrak kerja yang sedang berlangsung, membuat Akmal yang menerima berita itu langsung menatap tajam Allena.
"Kau!"
Tunjuk Akmal dengan penuh amarah.
"Apa alasan mu membatalkan kontrak itu! Hah! Kau coba-coba untuk ikut campur urusan dengan Meisita? Dasar perempuan tidak tahu diri," amarah Akmal membuatnya melemparkan tamparan keras di pipi mulus Allena.
__ADS_1
Allena terhempas ke atas ranjang, membuat Akmal kembali menarik Allena dan akan menamparnya lagi.
"Teruskan! Kau yang lelaki kurang ajar! Kau meninggalkan ku begitu saja, kau menghancurkanku, menghancurkan mentalku, menghancurkan kepercayaanku, sekarang kau mengatakan aku wanita kurang ajar. Dasar pria tidak punya hati, aku bisa saja menjebloskan mu ke penjara, tetapi aku sudah ikhlas jika kau bersama wanita lain. Nyatanya kau melakukan hal sama dengan Meisita, kau lelaki biadab!" jelas Allena membuat Akmal mulai mencekiknya.
"Kau harus mati ditanganku," ucap Akmal.
Cekikan itu mencekram leher Allena sehingga ia kesulitan untuk bernapas, ia meronta-ronta kesakitan. Dan akhirnya cekikan itu terlepas dan Akmal terhempas menjauh dari Allena.
"Kurang ajar!" seru Akmal kembali bangkit dan akan mencekik Allena tetapi ditepis olehnya.
"Kau pikir bisa membunuhku begitu saja? Dasar pria iblis!" seru Allena mrnghindari dari serangan Akmal.
Berbagai cara Allena melawan Akmal, dan melihat kunci pintu ada di saku sebelah kanan, ia berusaha untuk mengambil kunci.
Perasaan Farhan tidak enak, ia merasa gelisah tiba-tiba teringat Allena. Membuatnya langsung menghubungi Allena. Suara ponsel terus berbunyi tetapi tidak ada jawaban darinya.
Farhan mencoba untuk menghubunginya kembali tetapo tetap tidak ada jawaban dari Allena, akhirnya ia langsung menghubungi Meisita untuk menanyakan keberadaan Allena.
Tetap saja tidak mendapat jawaban dari Meisita, membuat Farhan langsung membersihkan tangannya dan menyerahkan semuanya kepada Jamal. Ia kembali ke mansion untuk memastika mereka aman.
Mobil melaju dengan cepat, melintas melewati padatnya kendaraan. Dengan cepat ia sampai ke dalam mansion, tanpa mengetuk pintu Farhan tidak melihat siapapun di dalam rumahnya.
Farhan memanggil Saras dan semua yang ada di dalam rumah itu, tetapi tidak mendapat jawaban satu pun. Ia semakin panik, Meisita bersama Nurhaliza yang sedang berada di taman membuatnya tidak mendengar suara apapun.
"Puan, adakah anda melihat Saras?" tanya Farhan.
“Saras? Bukankah dia keluar dari rumah tadi, saya dengar dia pergi ke pejabat untuk berjumpa pelanggannya," jawab Meisita.
'Tapi kenapa dia tidak mengangkat telpon ku? Apa dia sedang rapat?' batin Farhan.
Dengan tergesa-gesa Farhan pergi meninggalkan Meisita yang terlihat bingung.
Farhan mencari di dalam kantor Allena, tetapi tidak menemukannya, melihat asisten Ozi keluar dari ruang rapat membuatnya menghampiri Ozi.
"Adakah awak tahu di mana Cik Saras berada?" tanya Farhan.
Ozi menoleh ke sumber suara, melihat Farhan ternyata yang bertanya kepadanya membuatnya tersenyum.
"Ya, ada apa tuan? Cik Saras sedang berjumpa pelanggannya di restoran, tetapi pada jam ini, dia belum pulang ke pejabat, atau mungkin dia segera pulang ke rumah," jawab asisten Ozi.
__ADS_1
Farhan langsung menuju restauan yang di kunjungi Allena bersama kliennya, kepanikannya membuatnya lupa jika seharusnya ia mencari melalui Maps.
Sampai di restauran itu, ia pun tidak menemui Allena, Farhan pun merasa lelah bercampur bingung. Akhirnya ia terlintas di benaknya untuk mencarinya dengan melacak nomor ponselnya.
Dengan cepat Farhan menemukan keberadaan Allena, ia memperhatikan lokasi tempat Allena berada. Tanpa pikir panjang, Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sial! Berenti kau!" teriak Akmal yang merasa kesakitan.
Allena dengan cepat membuka pintu kamar hotel itu dengan wajah yang penuh memar, pintu terbuka ia berlari ke luar untuk meminta tolong. Tetapi tidak ada satu orang pun yang ada di situ, terlihat sangat sepi.
Allena sangat kebingungan harus berlari ke arah mana, melihat Akmal yang mulai mengejarnya. Jantung Allena berdetak cepat, rasa takut dan khawatir membuatnya tidak ingat jika tasnya tertinggal di dalam kamar.
Pintu lift terbuka, Allena langsung berlari keluar dari hotel itu, ia terus berlari sampai akhirnya tertabrak mobil yang melintas di depannya.
"BRUK!"
Mobil itu langsung ngerem mendadak dan sangat terkejut karena ia menabrak seseorang. Dengan cepat Farhan langsung turun dari mobil dan melihat wanita yang dia tabrak.
Berata terkejutnya ia melihat Allena yang babak belur telah pingsan tergeletak tak berdaya, Farhan dengan cepat membawa Allena masuk ke dalam mobinya dan melaju mobil menuju rumah sakit.
Suara alat menghitung nadi berbunyi, membuat suara itu sangat khas ketika kita sedang berada di rumah sakit, Allena akhirnya sadar. Ia membuka matanya berlahan melihat di sekitarnya sangat berbeda.
"Dimana aku?" tanya Allena.
"Jangan bergerak! Kau pingsan, maaf aku tam sengaja menabrak mu," jawan Farhan.
Allena menoleh ke arah Farhan.
"Farhan!" panggil Allena
"Sejak kapan kamu di sini? Dan aku kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Allena.
"Kau keluar dari hotel dan berlari sehingga aku menabrak mu, kau kenapa? Siapa yang membuat mu seperti ini?" ucap Farhan.
"Aku berlari?" ucap Allena berusaha mengingay semua yang terjadi.
Allena pun langsung teringat semua yang terjadi kepadanya, bagai mana Akmal berusaha untuk membunuhnya tetapi tidak berhasil, membuat Allena akhirnya bisa melarikan diri.
"Akmal...."
__ADS_1
"Apa kata mu! Akmal!"
BERSAMBUNG....