Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Satu Mobil


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teks menungguanakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."


Acara demi acara sudah terlewati, saat ini Allena sedang mengobrol dengan berberapa pemilik brand yang ingin bekerja sama dengannya.


Terdengar langkah kaki seorang pria melangkah masuk ke dalam gedung itu, Ia menatap senyum Allena yang begitu manis. Telihat tangannya membawa buket bunga mawar berwarna merah.


Farhan yang memperhatikan pria berbadan kekar dengan balutan jas, dan kacamata hitam membuat Farhan langsung mendekati Allena seolah tidak ingin Allena melihat pria itu.


Langkahnya pun terhenti tepat dihadapan Farhan, "Senang bertemu dengan mu tuan Farhan," sapa Akmal membut Allena langsung menoleh ke arah suara yang tidak asing baginya.


Matanya menatap pria yang ada di hadapan Farhan, seketika tangan Allena di genggam erat oleh Farhan.


"Hai...Cik Saras tahniah atas peragaan fesyen yang diadakan," sapa Akmal memberikan buket bunga kepada Allena.


Tangan itu masih terulur di hadapan Allena, membuat Allena begitu berat untuk menerima buket itu. Allena menatap Farhan seolah ingin menolak pemberian mantan suaminya.


"Terima kasih atas bunganya," jawab Farhan menerima bunga itu.


Dengan senyum kecut Akmal masih menatap tajam Allena. "apa hubungan awak dengan dia," bisik Akmal kepada Farhan.


“Dia bakal isteri saya, boleh tak," sahut Farhan.


Akmal terdiam menatap Allena dan Ia berusaha untuk tidak marah, tangannya yang sudah mengepal ingin menghajar Farhan. Tetapi emosi itu tertahan karena banyak sekali koleganya yang hadir di dalam acara ini.


"Sayang, awak menghadiri majlis Cik Sara juga," celetuk Meisita menggandeng tangan Akmal.


Akmal melirik wanita yang berani memegang tangannya, Terlihat Meisita yang sedang menyapa Allena.


“Tahniah Cik Saras, maaf saya datang lambat," sapa Meisita.


“Saya sangka tadi suami awak yang mewakili, rupa-rupanya awak juga yang datang, Saya sangat gembira. Terima kasih kerana datang," ucap Allena.

__ADS_1


Meisita melirik sang suami, kecurigaannya semakin kuat, Ia mengira Saras memiliki hubungan khusus dengan suaminya. Tetapi masih menjadi misteri antara wanita yang ada di foto bersama Akmal dengan Saras sangat mirip.


Suasana menjadi sangat canggung, akhirnya Saras mengajak Mereka duduk di ruangan khusus dan menjamu mereka.


"anda telah datang ke sini, ia satu penghormatan untuk saya. Menikmati juadah di bangunan ini, saya dengar makanan barat memang sedap," ajak Saras.


Saat Meisita ingin melangkah mengikuti Saras, langkahnya tertahan karena Akmal tak bergerak sama sekali, membuat Meisita menatapnya.


"Awak sakit sayang, muka awak nampak pucat sangat?" tanya Meisita.


"Cik Sarah ..." panggil Meisita.


Saras pun menoleh ke arah Meisita, "kenapa puan?"


"Maaf kita tak boleh teruskan makan, sebab saya baru teringat kalau ada urusan mendesak. Esok saya ambil masa untuk kita makan okay?" jelas Meisita.


Akmal hanya terdiam tidak berbicara apapun, Saras pun mengerti dan memahami keputusan Meisita.


Meisita dan Akmal pun pergi menjauh dari gedung itu, mereka terlihat sangat romantis saay di tempat umum. Di dalam hati Meisita menjerit ingin sekali dia membunuh pria yang berani menghianati cintanya.


“Kenapa awak tak beritahu saya sayang?" tanya Akmal.


"Saya nak bagi awak kejutan," jawab Meisita.


“Bagaimana dengan projek kamu di Indonesia, sudah selesai?" tanya Meisita.


Akmal menoleh ke arah Meisita, tak pernah seorang meisita menanyakan apapun mengenai bisnis suaminya, Ia tanpa pikir panjang terus mentransfer dana untuk pembangunan proyek itu.


Ini pertama kalinya Meisita menanyakan secara detail perkembangan proyek yang di bangun Akmal.


“Kenapa diam? Ada masalah ke?" tanya Meisita.

__ADS_1


Akmal menggelengkan kepalanya, "apa yang awak tanya tentang projek itu?" Akmal berusaha menepis rasa curiganya.


"Sayang, saya perlu tahu kerana itu milik saya juga, atau saya tidak dibenarkan tahu? Adakah itu yang awak mahukan?" tanya Meisita.


Akmal sepertu kebingungan harus menjawab apa, Ia berubu cara menyusun cara untuk memanipulasi Meisita dan menyelamatkan dirinya.


"Keadaan projek berjalan dengan baik, adakah awak ingin melawat ke sana?" ucap Akamal.


“Mungkin nanti, bila saya ada masa lapang," jawab Meisita.


Mobil itu melaju kekantor Selom Group, di mana Meisita pun ikut ke kantor dan memang sengaja ingin memeriksa keuangan dan semua yang berkaitan dengan prusahaan. Ia ingat pesan pak Adam agar selalu terlihat dalam urusan kantor.


“Saya dengar awak buat rancangan reka bentuk produk menggunakan khidmat pereka Saras? Betul ke?" tanya Meisita.


“Ya, kerana reka bentuknya sangat cantik. Pasukan kami tergoda untuk menggunakan perkhidmatannya," jawab Akmal.


Meisita memperhatikan setiap gerak-geriknya Akmal yang menjawab semua pertanyaan Meisita dengan rasa tegang dan cangggung.


"Sayang, kenapa awak nampak kaku sangat. Saya isteri awak bukan bos awak, jadi berehatlah," ucap Meisita.


“Mungkin itu hanya perasaan sayang," jawab Akmal.


Meisita memerika data keuangan yang sebelum nya sudah di kelolah oleh Akmal, sehingga membuat Akmal tidak akan pernah tertangkap basah. Meisita menganggukan kepalanya mrlihat data itu terinci secara jelas.


"Semua laporan adalah kemas dan jelas, awak bekerja keras. Terima kasih kerana membina Selom Group dengan baik," ucap Meisita.


Akmal pun tersenyum manis menatap wajah sang istri, Meisita memeriksa semua data dan dirinya tidak menemukan adanya kecurigaan kepada Akmal yang Ia dengar dari berita yang beredar.


“Semua kerja berjalan dengan baik, awak uruskan dengan baik. Kemudian saya perlu pulang," ucap Meisita.


Meisita pun meninggal kan kantornya, Akmal yang melihat Meisita mulai menjauh dari hadapannya, langsung tersenyum sini. Ia membayangkan saat Meisita ikut dengamnya di dalam mobil.

__ADS_1


Semua orang yang bekerja dengan Akmal langsung mendapat printah untuk menyusun semua pengeluaran dan pemasukan datan informasi.


BERSAMBUNG....


__ADS_2