
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membacanya."
"Sepertinya ada yang meletakan alat ini untuk menyadap di seluruh data kita tuan," ucap Zidan.
Akmal langsung melirik ke arah salah satu karyawati yang terpasang alat penyadap itu, perlahan Akmal mendekatinya dengan tatapan tajam.
"Siapa yang memasak alat ini ke komputermu?" tanya Akmal dengan penuh tekanan.
Karyawati itu merasa ketakukan karena ia pun tidak mengetahui nya sama sekali.
"Maafkan saya tuan, saya tidak mengetahuinya. Saya berani bersumpah," ucap Karyawati itu sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa kau menundukan kepalamu! Katakan sekarang juga! Apa kau pelakunya!" teriak Akmal mrmbuat Karyawati itu menatapanya dengan rasa takut.
Tamparan keras mendarat di pipi karyawati itu, membuat Abbas langsung mendekati Akmal dan memegang pundaknya.
"Berhati-hati, kau bisa masuk penjara karena penganiayaan terhadap karyawan," bisik Abbas.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Akmal akhirnya menyuruh pengawainya untuk pergi dari tempat itu.
Dengan badan yang gemetar, Karyawati itu keluar dengan cepat, meninggalkan mereka semua yang sedang berdiri dimejanya.
"Kau harus menahan untuk tidak memukul seseorang, apalagi di tempat kerja. Ini sangat berbahaya jika orang luar sampai tahu," ucap Abbas.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Semuanya hancur begitu saja, data yang memang akan aku berikan untuk acara besok, kenapa bisa hilang secepat itu," ucap Akmal.
"Kita perlu memeriksa CCTV," kata Abbas.
Abbas langsung berjalan menuju ruangan yang khusus memeriksa CCTV setiap tempat. Dengan begitu fokus, Abbas memperhatikan aktifitas setiap karyawan yang bekerja di kantor, sampai akhirnya ia melihat satu seorang pria menggunakan pakaian tukang sevis sedang memperbaiki komputer karyawati yang tadi sempat di tampar oleh Akmal.
Abbas memfokuskan tangkapan rekaman CCTV, yang cukup mencurigakan.
"Apa kalian sempat memanggil pegawai servis untuk memperbaiki komputer karyawati tadi?" tanya Abbas.
"Memangnya ada apa?" tanya Akmal.
Abbas menunjukan rekaman CCTV, yang menunjukan seorang pria yang sedang memperbaiki komputer kantor ini.
Akmal menatap Zidan seolah menyakan kepadanya dengan bahasa isyarat.
"2 hari yang lalu, kami sengaja menghubungi perkhidmatan komputer untuk membaiki beberapa komputer yang rosak," jelas Zidan.
“Segera hubungi anggota perkhidmatan untuk meminta seorang lelaki bernama Budi yang mengaku sebagai pegawainya," perintah Akmal.
Zidan langsung menghubungi perusahaan yang menyediakan jasa servis komputer.
Mereka saling mengobrol satu sama lain, dan betapa terkejutnya Zidan ketika direktur perusahaan itu mengatakan jika tidak ada pegawainya yang berna Budi.
Zidan menatap Akmal yang saat itu sedang menunggu jawaban dari Zidan.
Telpon terputus, Zidan menatap Akmal.
"Ada apa?" tanya Akmal.
"Direktur perusahaan itu tidak mempunyai pegawai yang bernama Budi, itu artinya kita sedang ditipu," ucap Zidan.
"Sial! Kenapa kalian bisa seceroboh ini! Dasar bodoh!" teriak Akmal.
Emosi nya sangat membara, sampai akhirnya semua barang yang ada di sekitar Akmal hancur berantakan.
Farhan yang melihat kemarahan Akmal hanya tersenyum simpul.
"Kenapa dengan mu?" tanya Allena.
"Aku sedang menyaksikan seseorang yang sedang bingung dengan dirinya sendiri," jawab Farhan.
__ADS_1
"Apa maksudn awak?" tanya Meisita.
"Sesuai janji saya, saya akan tolong awak ambil semua yang Akmal ambil, saya akan pulangkan kepada awak," jawab Farhan.
"Okay terima kasih," ucap Meisita.
Farhan mengajak Meisita ke dalam ruangannya, melihat semua data perusahaannya, sudah di ambil alih oleh Farhan.
Sisten management yang dulu sudah di susun rapih oleh Meisita, kini berubah total membuatnya sangat bingung. Semua aset perusahaan itu telah di pindahkan ke perusahaan kecil di Indonesia.
"Dia memindahkan semua hasil daripada syarikat saya kepada anak syarikat? kami tidak mempunyai cawangan di Indonesia? Untuk apa?" tanya Meisita.
"Dia akan mengembangkan perniagaannya dan membina syarikat sendiri dan kemudian meninggalkan Selom Group dengan alasan bangkrut," jelas Farhan.
"Lalu apa yang perlu saya lakukan?" tanya Meisita.
"Saya akan menyekat semua akses kepada syarikat anda, dan memindahkannya ke syarikat saya. Kerana peningkatan jualan produk lama masih meningkat, ini sangat berbahaya, jika tidak saya mengakses semua pendapatan anda, anda akan mengalami kebangkrutan dalam waktu cepat," jelas Farhan.
"Apa sebenarnya motif Akmal melakukan semua ini?" tanya Allena.
"Dia menikahi Meisita karena harta kekayaan yang di miliki keluarga besarnya sangat lah menggiurkan, makanya dia memilih untuk menikahinya. Walaupun dia tidak mencintai Meisita dengan tulus," ujar Farhan.
"Lalu bagai mana dengan ku yang dulu pernah bersamanya, apa itu nya sebagai pelampiasan nafsunya saja?" tanya Allena.
Farhan pun menatap Allena, membuatnya hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Farhan memeluknya, karena ia melihat bulir air mata yang akan menetes jatuh ke bawah.
"Aku tidak bermaksud membahas semua ini, aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Jangan berfikir buruk tentang semua yang terjadi, aku akan tetap bersamamu," jelas Farhan.
"Ehem."
Suara deheman Meisita membuat Farhan melepaskan pelukannya.
"Maaf mengganggu, Puan Nurhaliza memanggil kalian," ucap Meisita.
"Ada apa Puan Nurhaliza memanggil kita?" tanyab Allena.
"Aku tidak tahu," jawab Meisita.
Mereka semua menemui Nurhaliza yang sedang duduk di ruang santai. Nurhaliza tersenyum menatap kedatangan mereka.
"Puan ada apa?" tanya Allena.
"Saya ingin berjumpa dengan anda semua, maaf terlebih dahulu jika anak saya tidak berbuat baik kepada anda. Namun hati seorang ibu tidak sanggup melihat anaknya menderita, saya mohon keampunan Akmal. Dia sebenarnya budak yang baik, mungkin dia mendapat hasutan seseorang untuk membuatnya begini, maafkan anakku," ucap Nurhaliza.
Mereka saling menatap satu sama lain, membuat Meisita akhirnya menjelaskan niatnya yang sebenarnya.
"Sebelum ini, maafkan kami puan, kerana tidak menceritakan secara terperinci semua yang kami alami, dan kekejaman yang Akmal lakukan, ini di luar batasan. Kami melakukan semua ini hanya untuk memberinya kesan pencegahan, dan saya sendiri akan mengambil hak saya yang telah diambil oleh Akmal," jelas Meisita.
"Kami tidak akan menyakiti Akmal seperti dia menyakiti saya pada masa lalu," ucap Allena.
Seketika Nurhaliza langsung bersujud di hadapan mereka, membuat Allena dan Meisita sangat terkejut. Mereka langsung mundur saat Nurhaliza sujud di hadapannya.
"Puan, jangan lakukan itu," ucap Meisita.
"Saya sangat malu dengan perangai anak saya, saya minta maaf. Dia sebenarnya anak yang baik, " rengeh Nurhaliza.
Farhan hanya terdiam menatap wajah Nurhaliza yang tidak seperti biasanya, ia terus memperhatikan gerak-geriknya.
'Sepertinya ada yang aneh dengan Bu Nur,' batin Farhan.
....
"Sepertinya Allena tinggal bersama lelaki yang berprofesi sebagai seorang dokter. Dan kemungkinan besar Meisita pun berada di sana, ini baru dugaan ku, tapi aku yakin mereka sedang merencanakan semuanya dengan rapih."
__ADS_1
"Beraninya mereka bersekongkol melakukan semua ini kepadaku, liat saja akan aku habisi mereka semua."
Cepat lambat, semua kebusukan Akmal diketahui oleh pihak polisi, dan akhirnya mereka tertangkap saat sedang merencanakan pembunuhan kepada Allena.
"Jangan bergerak! Anda harus ikut kami ke kantor polisi," kata Polisi.
"Apa maksud kalian, aku tidak bersalah! Dimana surat perintah untuk menangkapku?" tanya Akmal.
Seorang detektif telah memberikan selembar kertas yang menyatakan penangkapan kepada Akmal Khabir.
"Tidak mungkin!" seru Akmal.
"Anda tidak bisa kabur Tuan, apartemen anda sudah dikepung oleh polisi," ucap Polisi.
Akmal melihat jendela apartemennya, banyak sekali mobil polisi yang sudah mengepung apartemen miliknya.
Akhirnya Akmal dibawa oleh pihak polisi, tangannya langsung diborgol.
Di sisi lain, orang tua Akmal merasa tidak terima dengan penangkapan anaknya, tetapi melihat ketulusan Allena yang tak sedikitpun membencinya, membuat Nurhalizah merasa bersalah.
"Maafkan saya, semua salah saya," ucap Nurhalizah dengan penuh penyesalan.
Mereka berdamai, Allena pun sudah melupakan semuanya, rasa sakit yang pernah dilakukan oleh Akmal sang mantan suami.
Satu minggu kemudian ....
Di dalam ruangan persidangan.
Semua orang berkumpul, menyaksikan sidang Akmal yang akan dijatuhi hukuman setelah menjalani masa percobaan.
Allena duduk di sampaing Farhan, mereka melihat Akmal datang di kawal oleh penjaga lapas.
"Sidang kita mulai, saudari Akmal telah melakukan banyak pelanggaran yaitu, pemalsuan identitas, pembunuhan berencana, kekerasan dalam rumah tangga, dengan banyak bukti yang sangat kuat, saudari Akmal Khabir ditetapkan sebagai tersangka dan di jatuhi hukuman 40tahun penjara dan denda sebanyak 5 miliar," ucap pengadilan dengan mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Semua orang telah meningglkan ruang persidangan, begitu juga dengan Akmal Khabir yang dijemput kembali oleh petugas lapas.
Allena hanya bisa memandanginya, dan mereka segera meninggalkan ruang persidangan itu.
Di tepi pantai ...
Mobil Farhan menepi untuk menghirup udara pantai.
"Kenapa berhenti?" tanya Allena.
"Ayok ikut," ajak Farhan.
Allena yang merasa bingung, akhirnya keluar dari mobil, ia berjalan mengikuti langkah kaki Farhan. Sampai akhirnya mereka berdua sampai.
"Ada apa ini, kenapa banyak sekali ornag Indonesia di sini?" tanya Allena.
"Bukankah mereka keluargamu? Aku sengaja membawa mereka kemari untuk menjadi saksi jika aku ingin melamarmu untuk kesekian kalinya," ucap Farhan.
Farhan menekuk kakinya, ia menatap Allena.
"Allena! Untuk kesekian kalinya, mau kah kau menjadi istriku?" tanya Farhan.
Dengan malu-malu Allena berkata. "Ya aku mau," jawabnya.
Semua orang bertepuk tangan.
Acara pernikahan Allena dan Farhan telah digelar dengan sangat megah. Semua orang telah hadir, termasuk Meisita.
Mereka semua menyaksikan upacara pernikahan yang sangat sakral.
Saatnya acara lempae bunga.
__ADS_1
Allena yang sudah bersiap untuk melempar bunga, saat itu juga semua kehidupannya berubah menjadi kebahagiaan.
Tamat ...