
Saat Allena turun dari lantai atas, menuju aula tempat Akmal akan mengadakan acara pernikahan adiknya. Allena memperhatikan setiap titik dari aula itu, terlihat langkah kaki seorang pemuda tampan berpakaian rapih dengan stelan jas berwarna abu-abu berjalan masuk ke dalam hotel.
Pria itu sedang berbicara dengan resepsionis hotel itu, jaraknya dengan Allena sangat lah dekat hanya di batasi dengan sejengkal lengannya. Allena tidak mengadari jika pria yang di belakangnya adalah Akmal Khabir, suaminya yang pergi tanpa kabar.
Hampir saja pundak mereka bersentuhan, tetapi Allena menoleh ke arah pintu ke luar hotel itu, karena merasa jantungnya terus berdetak dangat cepat membuatnya kesulitan untuk bernapas. Mereka pun bersimpangan secara tidak sengaja, Allena yang berjalan keluar aula itu dan Akmal yang berjalan mendekati aula bersama resepsionis.
Tepat saat persimpangan itu, tanpa sebab jantung Akmal pun berdetak sangat kencang, sehingaa dirinya pun kesulitan bernapas. Akmal pun terjatuh sambil memegang dadanya, resepsionis itu pun terlihat sangat panik melihat Akmal terjatuh ke lantai, tetapi masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Adakah anda sihat tuan?" tanya resepsionis.
"Jantung saya berdegup kencang, dan saya tidak boleh fokus pada semua ini. Saya tiba-tiba teringat seseorang? Apakah tanda ini?" sahut Akmal menatap respsionis.
“Setahu saya, ada orang dalam fikiran awak dekat awak, Maaf jika saya terkasar bahasa tuan ," kata resepsionis.
“Mungkin saya perlu berehat, kita tangguhkan pertemuan ini," jawab Akmal.
Akmal pun langsung duduk di sofa, untuk mengatur napasnya yang sempat sesak. Ia mengingat nama Allena yang tiba-tiba menguasai pikirannya, sampai dirinya tidak fokus untuk memikirkan yang lain.
Allena berjalan dengan cepat, hampir membuatnya terjatuh tetapi Ia mampu menyeimbangkan tubuhnya. Allena masuk ke dalam mobil, melihat asistennya yang benama Oji terlihat sangat khawatir.
"Cik, awak okay tak?" tanya Oji.
Allena bersuha mengatur napasnya berulang kali, belom sempat menjawab pertanyaan dari Oji, Allena menyuruh pak supir untuk segera pergi dari hotel ini.
"saya baik," jawab Allena.
"Tetapi awak kelihatan sangat pucat, kita perlu pergi ke hospital," kata Oji.
“Tak perlu, mungkin saya perlu berehat," sahut Allena.
"Jika anda memerlukan bantuan, sila hubungi saya dengan segera," kata Oji.
"Baiklah, jom kita pergi rumah Puan Lady. Saya nak berehat di sana," printah Allena.
Mobil pun melaju dengan cepat, menuju mansion milik Nyonya Lady. Mobil pun memasuki kawasan komplek, dan masuk ke dalam gerbang besar, yang memang sudah di ja oleh satpam.
Sampai di depan mansion Allena langsung keluar mobil dan masuk ke dalam rumah, tidak melihat Lady, Allena langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Sama dengan Akmal yang masih duduk di sofa yang ada di aula hotel.
Mereka sama-sama sedang memegang dadanya dan mencoba mengatur napasnya berulang kali.
__ADS_1
"Kenapa dengan diriku, apa karena aku bekerja keras sehingga melupakan kesehatan ku. Badan, maafkan aku tengah membuat mu kesakitan," gumam Allena.
berbeda dengan Akmal yang terus memikiran Allena.
"Apa benar yang di katakan resepsionis itu? Apa Allena ada di sekitar ku? Mana mungkin di ke Malaysia? Dia tidak mungkin datang kemari, aku harus segera menghubungi Abbas," gumam Akmal.
Mulai bangkit bangun, dan pergi meninggalkan aula hotel, asistennya yang sudah menunggu di luar sangat panik melihat Akmal dengan wajah pucatnya berjalan mendekati mobilnya.
"Kita balik pejabat, saya nak berehat di sana," ucap Akmal.
"Tapi encik ok tak?" tanya Asisten Zidan.
Akmal mengangukan kepalanya, mobil pun melaju ke kantor tempat Akmal bekerja, di sepanjang jalan. Saat Akmal berusaha memejamkan matanya, teringat di pikirannya, wajah cantik Allena yang sedang tersenyum menatap Akmal, dan saat mereka melakukan hubungan suami istri. Semua kenangan melekat di pikiran Akmal, seolah memutar ulang kejadian yang pernah Ia lalui bersama Allena.
Seketika Akmal langsung membuka matanya, dengan napas yang tak bertaturan di sertai keringat membasahi keningnya, Akmal terlihat sangat bingung.
Zidan terus memandangi Akmal yang semakin pucat. Merasa sangat khawatir dengan atasnyanya, Zidan pun kembali memberanikan dirinya untuk mengajak Akmal ke dokter.
"Tuan, awak kelihatan sangat pucat. Kami perlu berjumpa doktor untuk memeriksa keadaan awak," kata Zidan.
“Tak perlu, saya cuma perlu berehat," sahut Akmal.
Akmal langsung meraih ponselnya, saat merasa dirinya lebih baik. Suara dering telpon terdengar sangat keras, mengagetkan Abbas yang sedang mengencani seorang wanita.
"Ada apa dia menelpon ku?" tanya Abbas.
Merasa ada sesuatu yang penting, Abbas langsung menjauh dari wanitanya. Dan mengangkat telpon dari Akmal.
Abbas : "Ada apa bro?"
Akmal : "Apa Allena ada di Indonesia?"
Abbas : "Apa maksud mu? Memangnya kenapa dengan Allena?"
Semakin bingung Akmal di buatnya, begity juga Abbas yang sangat bingung dengan pertanyaan Akmal yang tiba-tiba menanyakan Allena.
Akmal : "Kapan terakhir kau menemui Allena,"
Abbas : "Saat kau akan berangkat ke Malaysia, memangnya ada apa? Apa wanita itu terus menguhungi mu?"
__ADS_1
Akmal mengusap wajahnya berulang kali, berusaha untuk meyakinkan dirinya. Jika perkataan resepsionis itu tidak benar.
Akmal : "Aku minta kau sekarang ke apartemen dan memeriksa keadaa Allena, ini sangat penting, cepat!"
Abbas : "Kau ini tidak melihat situasi, aki sedang berkancang dengan wanita ku. Mana mungkin aku meninggalkan nya."
Akmal dengan nada yang dangat marah membuat Abbs langsung pergi meninggalkan wanitanya di dalam hotel. Dengan cepat, Abbas langsung melaju ke apartement milik Akmal.
Sampai di apartemen milik Akmal, terlihat ruangan itu kosong tanpa penghuni. Semua barang yang ada di dalamnya, tengah di tutupi dengan kain, membuat Abbas kebingungan mencari Allena tidak ada di dalam apartemen.
Anggara yang melihat pintu apartemen milik Allena terbuka, membuat Anggara memeriksa siapa yang masuk ke dalam.
"Anda mencari seseorang tuan?" tanya Anggara.
Abbas yang merasa kaget langsung melemparkan ponselnya, menoleh ke arah sumber suara.
"Kau mengagetkan ku saja," gerutu Abbas.
"Apa anda pemilik baru apartemen ini?" tanya Anggra.
"Apa maksud mu? Ini apartement milik teman saya, memangnya ada apa?" sahut Abbas.
Anggara terdiam sejenak, membuat Abbas semakin penasaran dan menanyakan keberadaan Allena.
"Apa kau tau, perempuan yang tinggal di dalam apartemen ini?" tanya Abbas
"Dia Nona Allena, ada apa memangnya tuan," jawab Anggara.
"Kau mengenalnya ternyata, di mana dia sekarang?" tanya Abbas.
"Dia sekarang menjadi TKW di Malaysia, tetapi umurnya tidak panjang, dia meninggal dunia karena kelelahan dalam bekerja," jelas Anggara membuat Abbas langsung melebarkan matanya.
Abbas sangat terkejut mendengar ucapan Anggara yang mengatakan jika Allena telah meninggal dunia.
"Apa kau sedang bercanda? Kapan itu terjadi," suara itu terdengar lemas seketika.
"Meninggalnya Nona Allena sudah lama tuan, kurang lebihnya setahun lalu. Dan jasadnya sudah di ke bumikan," sahut Anggara.
BERSAMBUNG...
__ADS_1