Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Wanita Penghibur


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."


Saras merasa curiga ketika melihat Akmal yang sangat berbeda seperti biasanya, dan terlihat pakaiannya terdapat bercak darah segar membuat Allena/Saras langsung mengarah ke Meisita, Ia berfikir jika terjadi sesuatu denganny.


Karena seharian Meisita tidak menghubungi kembali Saras, hal ini memambuat Saras semakin curiga.


Saras menelpon Farhan untuk menceritakan kecurigaannya kepada Akmal, dengan cepat Farhan yang baru saja pulang langsung menemui Allena.


"Apa yang terjadi?" tanya Farhan.


"Perasaan ku tidak enak, aku rasa terjadi sesuatu dengan Meisita. Seharian ini dia tidak menghubungi ku, nomornya pun tidak aktif?" sahut Allena terlihat panik.


"Kau tenang, mungkin Meisita sedang ada urusan yang mendesak," ucap Farhan.


"Apa dia sedang berduka, jadi dia tidak mau di ganggu siapapun?" ucap Allena/Saras.


"Bisa jadi," jawab Farhan.


Allena pun mencoba untuk berfikir positif, kegundahannya membuatnya kesulitan untuk tidur, membuat Farhan terus menemaninya di sepanjang malam.


Sayup-sayup mata ini terbuka dengan pelat, terasa kepala yang sangat sakit membuatnya berusaha menggerakan tangannya, tetapi seperti ada yang mengikat tubuhnya. Meisita melihat tangan dan kakinya di ikat dengan sebuag tali. Membuatnya mencoba untuk membuka tali itu, tetapi badannya yang lemah tak mampu membukanya.


"Lepaskan saya! Awak sangat jahat!" teriak Meisita.


Meisita terus berteriak tetapi tidak ada yang berani membuka pintu kamarnya, berulang kali Ia mencoba untuk membuka ikatan itu tetapi tetap tidak bisa membuatnya merasa sangat kesal, Ia teringat akan ponselnya yang ada di dalam tas.


"Siapa boleh tolong saya, tolong selamatkan saya. Saya perlu menyiasat anak ****** itu, selamatkan saya," gumam Meisita.


Akmal yang baru saja pulang dari kantor, langsung menuju hotel tempat Abbas tinggal. Saat Ia masuk ke dalam Ia melemparkan kunci apartemen ke hadapan Abbas.


"Segera kau pindah dari sini," ucap Akmal.


Abbas yang menerima kunci itu, tertawa bahagia.


"Apa misi kita selanjutnya?" tanya Abbas.


"Yang harus kita singkirkan adalah Allena dan Farhan, atau salah satu dari mereka. Kehadiran mereka mempu menghalangi rencana kita," ucap Akmal.


"Seprtinya perempuan itu punya seribu cara untuk hidup, aku harus mencari titik kelemahannya," sahut Abbas.

__ADS_1


Hampir satu minggu, setiap Allena menghubungi Meisita melalui telpon seluler selalu tidak bisa, membuatnya tidak bisa berfikir positif. Allena berencana untuk mengunjungi rumah nya, tetapi Ia mencari kesempatan Akmal saat tidak ada di rumahnya.


Allena langsung melajukan mobilnya, saat sampai di depan mansion, ada petugas yang berjaga, Allena berusaha untuk masuk ke dalam tetapi gerbangnya tidak di buka oleh petugas yang berjaga.


Allena akhirnya turun dari mobil, dan mendekati petugaa yang berjaga.


"Maafkan saya, adakah Puan Meisita ada di dalam rumah?saya nak jumpa dia," ucap Allena/Saras.


Petugas itu, memperhatikan penampilan Allena yang terlihat sangat rapih, membuat Allena yang di perhatikan seperti itu merasa kurang nyaman.


"Puan Meisita mesti tidak ditemui oleh sesiapa pun," tegas pak satpam.


“Siapa yang tidak membenarkannya?" tanya Allena.


"Encik kami," jawab pak satpam.


Allena langsung mengira jika itu adalah rencana busuknya Akmal, dengan rasa kesal Ia langsung masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


"Sial, memang benar-benar dia sangat kejam. Ini sudah tidak bisa di biarkan, tindakan Akmal sangat lah keterlaluan," gumam Allena.


Allena langsung menuju kantor polisi untuk konsultasi atas kejahatan yang sudah di lakukan oleh Akmal. Setelah sampai di kantor polisi, Allena dengan mantap hati berjalan masuk ke dalam dan menemui polisi yang sedang berjaga.


Allena berjalan dan masuk ke dalam mobil, wajahnya yang pucat membuatnya berusaha mengatur napas dengan baik.


"Kantor itu seperti sudah di bawa kendali seseorang," gumam Allena/Saras.


Allena langsung memutar mobilnya dan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, Ia kembali ke kantornya. Melihat di parkiran ada mobil Farhan, membuat Allena langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Farhan," panggil Allena.


Farhan pun menoleh kearah sumber suara, dengan tatapan yang serius membuat Allena langsung mendekatinya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Allena.


"Meisita dalam bahaya, aku mengecek ponselnya terdapat tanda merah yang mendandakan dia dalam bahaya," jawab Farhan.


"Aku baru saja mengunjunginya, tetapi satpam itu tidak memperbolehkan aku masuk, itu membuat ku merasa ada yang tidak beres," sahut Allena.


Farhan dan Allena saling menatap satu sama lain, sekilas pemikirannya tertuju kepada orang tua Akmal yang saat ini sedang ada di rumah Lady.

__ADS_1


"Bu Nurhaliza."


Ucapnya sangat kompak, membuat Farhan langsung memeriksa ponselnya. Menanyakan kepada orang suruhannya, untuk mengawasi gerak-gerik Nurhaliza dan suaminya.


"Aku rasa ada alasan khusus Akmal mengirim orang tuanya ke Delhi," ucap Allena.


"Sekarang kita harus cari tahu, kondisi Meisita," kata Farhan.


Allena menganggukan kapalanya, Ia pun pergi untuk makan siang dengan Farhan di salah satu cafe yang cukup terkenal. Ia masuk ke dalam tak sengaja Allena duduk di dekat seorang perempuan cantik seperti model yang sedang tertawa lepas karena mendapat baju yang sangat mahal.


Allena mendengar jika perempuan itu mendapat tamu dari Indonesia yang sangat perkasa, gagah dan tampan.


"Pelanggan saya dipanggil Abbas, dia berasal dari Indonesia. Adakah awak tahu? dia mempunyai banyak wang, malam ini saya akan menemaninya," ucap Vina.


Vina seorang penghibur yang khusus melayani pria kaya yang sangat haus akan kenikmatan dunia.


Allena terus memperhatikan perempuan itu, sampai Farhan pun di abaikan. Melihat Vina berjalan ke kamar mandi, dengan cepat Allena mengikuti nya ke kamar mandi.


Mereka pun bersebelahan, Allena mencuci tangannya, melirik Vina yang sedang merapihkan lipstiknya.


Terlihat kamar mandi mulai sepi, Allena pun mulai membuka suara kepadanya.


"Kau mengenal Abbas," ucap Allena.


Vina yang mendengarnya, langsung memghentikan aktivitasnya.


"Yang memiliki nama itu sangat banyak, jadi anda tidak boleh mencurigai seseorang hanya karena memiliki nama yang sama," sahut Vina.


Allena menoleh ke arah perempuan itu, dan menunjukan ponselnya, ada foto Abbas yang sedang berdiri.


"Apa kau ke kasihnya?" tanya Vina.


Allena tersenyum, "adakah anda benar-benar akan bertemu dengannya?" wajah Allena terlihat sangat serius menatap perempuan itu.


"Ya Cik, ada apa?" tanya Vina.


"Saya dengar awak dapat baju mahal dari lelaki tu, saya boleh bagi awak lebih dari itu. Saya seorang pereka terkenal, saya boleh bagi awak custom design untuk awak, boleh tolong saya?" tawa Allena menatap lekat Vina.


Vina yang sempat bingung, dalam hati sangat di sayangkan jika harus menolak tawaran yang tidak akan datang untuk ke dua kalinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2