Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kecewa


__ADS_3

Allena berjalan menuju kios nya, dari kejauhan Allena melihat kiosnya di tempati seseorang dan di gunakan untuk berjualan busana muslim. Allena menghampiri kios itu untuj memastikan siapa yang berani berjualan tanpa meminta izin darinya.


"Maaf permisi," sapa Allena.


Pemilik baru itu pun menggira ada yang akan membeli dagangannya.


"Boleh Mbak, masuk aja. Di pilih-pilih, banyak barang baru," ucap Pemilik baru kios.


"Maaf sebelumnya Mbak, saya ke sini cuman mau bertanya, apakah Mbak pemilik baru kios in?" tanya Allena.


"Benar mbak, memangnya ada apa ya?" jawab Pemilik baru kios.


"Saya asli pemilik kios ini, kenapa Mbak bisa berjualan di kios saya?" tanya Allena.


"Bu Dewi yang menjual kios ini, itu istrinya Pak Katmojo," jawab Pemilik kios baru.


Allena melebarkan matanya, mendengar nama pakde dan bude nya di sebut, mereka menjual tanpa sepengetahuan Allena. Dengan rasa sopan Allena pun langsung berpamit kepada pemilik baru kiosnya,Ia berjalan sampai di depan rumah Katmojo.


"Assalamualaikum," sapa Allena.


Dewi berjalan melihat ada seorang wanita yang berdiri di depan rumahnya, membuat Dewi langsung datang mendekati wanita itu.


"Walaikumsalam, eh kamu," jawab Dewi.


"Bude, apa benar bude menjual kios milik ku?" tanya Allena.


"Lah Bude pikir kamu sudah tidak butuh kios itu, kan kamu sudah menikah dengan orang kayak. Sudah lah jangan di bahas, Bude lagi banyak urusan," jawab Dewi.


"Bukan masalah saya sudah menikah atau belom, itu kios sama membeli atas jeri payah saya Bude, dan sekarang Bude seenaknya menjualnya tanpa pengetahuan saya," ucap Allena.


"Terus kamu mau nuntur Bude?" tanya Dewi.


"Udah lah Allena, kamu gak akan bisa. Kios itu sudah atas nama Ella jadi ngapain Bude bilang sama kamu dulu kalo mau Bude jual," sahut Dewi.

__ADS_1


Kekecewaan menyelimuti hati Allena, begitu kejam prilaku Keluarga Katmojo kepadanya, mental nya sudah di hajar habis-habisan oleh hinaan, siksaan yang di lakukan mereka kepada Allena.


"Kalian benar-benar jahat," suara lirih itu membuat Allena mengepalkan tangan dan merapatkan giginya.


Tersirat dendam di dalam hati Allena, Ia segera menyeka air mata itu dan pergi meninggalkan rumah Katmojo dengan penuh sejuta luka.


Air matanya tak kunjung berhenti menetes, menatap perjalan kembali ke apartemen, Allena pun dengan berat hati melangkah kan kaki nya masuk ke dalam, melihat sofa, dapur dan pintu kamar nya. Membuatnya semakin menangis karena merindukan Akmal yang sampai saat ini tak memberikan kabar.


Allena terus mengirim pesan tetapi tak pernah mendapat balasan, saat Ia menelpon, nomornya selalu di luar jangkauan. Membuatnya sangat frustasi, begitu berat semua pilu merasuki tubuhnya yang sedang di terpa rindu dan kekecewaan.


♡♡♡


Hari demi hari berlalu begitu cepat, melihat kondisi Allena yang semakin memburuk. Terlihat dari raut wajahnya yang sangat lesu, kusam dan seperti tak terurus, dia berdiam diri di dalam apartemen itu berusaha menikmati hidupnya, tetapi tidak dengan pikirannya yang masih kalut di kuasai oleh hembusan rindu menanti kabar dari Akmal yang tak kunjung datang.


Allena yang sedang duduk di sofa, mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, Ia ingin berendam untuk menenagkan pikirannya, saat kakinya masuk ke dalam kamar mandi tak di sengaja Allena terpelesek, pertunya terbentur kloset duduk dan kepalanya membentur tembok.


Seketika Allena pingsan dan mulai sadarkan diri saat ruangan itu terlihat gelap, melihat kondisinya yang di geletak di dalam kamar, Allena berusaha untuk bangun, tetapi dirinya menyeringai kesakitan di bagian bawah perutnya.


Darah itu terus keluar dari daerah sensitif miliknya, kepanikan Allena seketika membuatnya menjerit meminta tolong. Tidak ada yang tau jika dia membutuhkan pertolongan, dengan sekuat tenaganya Allena menyerat tubuhnya yang sudaj tak sanggup lagi berdiri, terlihat goresan dari di lantai mrngikuti arah dia berjalan.


Allena mampu membuka pintu apartemen itu, dan berusaha meminta tolong tetapi di apartemen itu tidak ada satu pun yang menolongnya, apartemen itu terlihat sangat sunyi semua pintu tertutup terlihat seolah tidak ada orang.


Semakim darah itu keluar, membuat Allena semakin lemas dan kembali pingsam di depan apartemennya, tak di sengaja. Seorang pria berjalan menuju apartemen yang dekat dengan apartemen milik Allena. Pria itu terkejut melihat semorang wanita tergeletak di depan apartemen bersimba darah, pria itu berlari menghampirinya.


Wajah Allena yang terlihat pucat membuat pria itu langsung memeriksa denyut nadinya, dan membawa Allena ke rumah sakit terdekat. Allena segera di tangani dokter, saat berada di pendaftaran. Pria itu kebingungan dan menyebut dirinya adalah wali dari Allena.


Pria itu menunggu Allena yang sudah memasuki ruang operasi sampai keluar dari ruang operasi. Ia sudah di pindahkan keruang perawatan, pria itu terus memandangi Allena, lamunannya terbuyar oleh suara ponsel yang berbunyi membuatnya harus mengangangkat telpon.


Allena pun mulai sadar diri, melihat ruangan yang sangat asing buatnya, membuatnya kebingungan, " aku di mana?" suara itu terdengar lirih membuat pria yang berada di sampingnya langsung menoleh.


"Anda sudah sadarkan diri Nona," jawab pria itu.


"Kamu siapa, dan aku di mana?" tanya Allena.

__ADS_1


"Anda pingsan nona di depan apartement saat saya lewat, saya langsung membawa anda ke rumah sakit. Perkenalkan saya Anggara, saya tinggal di apartemen No.105," jawab Anggara.


"Terima kasih sudah menolong ku, berarti kita bersebelahan ya tempat tinggalnya. Aku Allena salam kenal," sahut Allena.


"Apa yang terjadi dengan ku? Kenapa dengan diriku? Apa bayi ku selamat?" tanya Allena.


Anggara yang mengatahui semuanya hanya bisa diam, " nanti dokter yang akan menjelaskan semuanya," jawaban Anggaran membuatnya langsung terdiam.


Allena memejamkan matanya lagi, karena merasa sangat mengantuk, tetapi dia tak kunjung tertidur hanya memejamkan matanya saja tetapi telinganya masih mendengar. Allena mendengar percapakan antara Anggara dengan seseorang di dalam telpon.


"Baiklah, nanti penjadwalan TKW ke Malaysia akan di berangkatkan lusa," ucap Anggara.


Allena yang mendegar, langsung embuka matanya, terlihat Anggara baru saja mematikan telponnya.


"Maaf Mas anggara, aku dengar barusan anda menyalurkan TKW ke Malaysia, apa itu benar?" tanya Allena.


"Iya Mbak, memangnya ada apa?"" jawab Anggara.


"Kalau boleh tau, bekerja sebagai apa ya? Dan apa saja persyaratannya?" tanya Allena.


"Saya penyalur tenaga ke berbagai Negara Mbak, termasuk Malaysia. Saya menyalurkan ke Pt. Eletronik Mbak, untuk persyaratan nanti saya kasih brosurnya. Emangnya untuk siapa Mbak, nnti saya bantu," jawab Anggara.


"Untuk Saya, saya ingin mencari uang ke Malaysia," sahut Allena.


"Baik Mbak, nanti saya bantu. Tapi nunggu Mbak Allena pulih dulu ya," ucap Anggara.


"Kalo begitu, saya pamit ya Mbak, gakpapa kan saya tinggal sendirian? Soalnya lagi banyak kerjaan, mohon maaf sebelumnya," kata Anggara.


"Gakpapa Mas, justru saya yang minta maaf. Udah ngerepotin Mas Anggara," ucap Allena.


Melihat kebaikan Anggara yang terlihat sangat tulus membuat Allena merasa sangat berterima kasih karena telah menolong dirinya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2