
Rindu adalah sesuatu yang sulit untuk di artikan, terkadang mereka harus membohongi dirinya sendiri hanya untuk menunjukan bahwa Ia rindu. Tak banyak dari mereka yang peka akan sentuhan rindu yang terus berbisik melewati hembusan angin yang mampu menyetuh kulit, tapi tak mampu menembus relungan hati.
Meisita masih tidak menyadari bahwa dua insan yang sedang di landa rindu yang begitu dalam sedang merasakan getaran hebat di dalam hati nya, hati dan pikiran itu terus beradu membuatnya tak mampu untuk mengatakan apapun.
Wajah itu terlihat sangat pucat seperti mayat yang tak di aliri darah, keringat pun mulai bercucuran membasahi kening. Jantung nya terus berdetak sangat cepat, sehinga mereka berdua kesulitan untuk bernapas. Mereka mencoba untuk mengatur napas ini tetapi hentakan rindu semakin kuat, sampai akhirnya Saras tak mampu melawan semua itu.
Oji pun masuk ke dalam ruangan Saras, melihat bosnya terlihat sangat pucat. Ia pun mulai panik.
"Cik Saras! Awak sakit ke?" tanya Oji.
Panggilan itu membuat Meisita yang sedang fokus memilih kain yang akan di kenakan di acara pesta itu, langsung menoleh menatap Saras.
"Cik, muka awak nampak pucat sangat? Adakah awak sakit?" tanya Meisita.
Saras berusalah untuk tenang, badannya seakan ambruk di tempat, tetapi Ia terus menahannya dan masih sempat tersenyum.
"Saya minta maaf puan, tiba-tiba tidak sihat. Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak profesional di tempat kerja," jelas Saras dengan suara yang mulai melemah.
“Tak apa Cik, esok kita sambung lagi, sekarang awak kena rehat," sahur Meisita terlihat khawatir kepada Saras.
Saras pun menganggukan kepalanya, Meisita pun meninggalkan ruangan Saras bersama Akmal. Mereka terus berjalan keluar dari gedung itu, saat Meisita memengang tangan Akmal, Ia merasa heran saat merasakan tangan itu sangat dingin.
"Tangan awak sejuk sangat, awak pun sakit?" tanya Meisita.
“Entahlah, saya rasa tak sihat, jom balik rumah okay. Saya nak berehat," jawab Akmal.
Meisita pun menuruti kemauan Akmal, dan mobil pun langsung melaju dengan kecepatan sedang menutu mansion nya. Kejadian ini tidak mengundang kecurigaan di dalam hati Meisita, Ia beranggapan semua ini hanya kebetulan yang memang sedang terjadi.
__ADS_1
Berbeda dengan Saras yang masih terpaku di dalam ruangan itu, dirinya seperti tertampar keras dengan keadaan yang baru saja terjadi.
Akmal yang dia kenal sebagai pria yang sangat baik dan penyayang. Nyatanya dia bisa bahagia dengan wanita lain, seolah tak pernah merindukan sosok Allena.
Oji yang melihat Saras masih terdiam di kursinya merasa khawatir, dan segera memberikan air hangat untuk Saras.
“Cik, saya bawakan air suam, minum untuk membuat awak berasa sihat," kata Oji.
“Oji, awak nampak lelaki tadi, yang bersama Puan Meisita?" tanya Saras.
“Saya nampak dia, dia ialah Encik Akmal, pewaris syarikat hartanah terbesar di bandar ini. Awak sangat bertuah Cik dapat reka pakaian untuk isterinya," jelas Oji.
"Apakah nama dia Akmal Khabir?" tanya Saras.
“Betul Cik, apa yang sedang berlaku? Di sana anda mengenalinya?" jawab Oji.
“Terima kasih atas maklumat, tinggalkan saya sorang-sorang dalam bilik ni. Saya nak berehat," sahut Saras.
"Akmal Khabir, benarkan itu kau? Kenapa hati ku sangat yakin. Jika pria yang ada di hadapan ku itu adalah kamu, pria yang selama ini aku cari tahu keberadaannya, sekarang kau hadir bersama wanita lain. Kau terlihat bahagia, sesakit ini kau menyakiti ku, tetapi kenapa aku tak mampu membenci mu?" gumam Saras.
Saras terlihat sangat frustasi, hatinya kembali hancur melihat semua yang terjadi.
"Apa aku harus ikhlaskan dia? Dia memang terlihat lebih bahagia bersama wanita itu. Dengan berat hati aku akan melepaskan nya. Aku berjanji akan menceraikannya usai aku melihatnya sekali lagi dan bertemu dengan nya, aku tak mau membodohi diri lagi dengan prilaku dan ucapannya, Tuhan. Kuatkan aku untuk menghadapi semua ini, semoga aku tidak salah melangkah," gumam Saras.
Saras pun langsung keluar dari ruangannya, berjalan terus sampai ke parkiran. Ia melajukan mobil itu dengan cepat, menuju mansion.
Melihat Lady sedang duduk di ruang santai, Saras dengan tatapan yang sendu memanggil nama Lady dengan suara yang gemetar.
__ADS_1
"Puan," panggil Saras dengan suara gemetar.
“Awak buat apa? Awak sakit? Muka awak pucat sangat?" tanya Lady langsung berdiri memandangi Saras.
Saras mendekati Lady, tak kuasa menahan rasa sakit ini. Tangisannya pun pecah membuat Lady semakin bingung, dan langsung memeluk Saras dengan begitu hangat, Ia mencoba menenangkan Saras.
"Tenangkan diri awak, beritahu saya apa yang berlaku?" tanya Lady.
“Hati saya sakit, Puan," jawab Saras yang masih terus menangis meluapkan semua emosi yang sempat Ia tahan selama di kantor.
Suara tangisan itu sangat menyedihkan membuat Lady pun ikut meneteskan air matanya, tetapi Ia mencoba untuk tidak terlihat sedih di depan Saras.
"Cakaplah, apa yang berlaku?" tanya Lady.
“Klien saya, dia isteri Puan Akmal. Sebak hati saya apabila melihat kemesraan mereka di hadapan saya, saya tidak dapat menahan sesak di dada saya ini," jelas Saras.
"Saya tahu perasaan awak, sekarang awak boleh lihat sendiri betapa gembiranya dia tanpa awak. Dan sudah tiba masanya untuk awak lupakan apa yang berlaku, jangan sakitkan hati awak. Awak berhak untuk bahagia dengan membuka lembaran baru dan mengenali orang baru," kata Lady.
"Saya akan cuba puan, tetapi saya tidak boleh menerima hakikat ini. Hati saya sangat sakit," ucap Saras masih dalam tangisannya.
Kesakitan yang di alami Saras sangat menyayat hati, liku kehidupan yang di laluinya tanpa Akmal sangat lah sulit, apalagi di saat Ia kehilangan seseorang yang hampir dia miliki tetapi Allah tidak mengizinkan itu terjadi. Hatinya hancur berkeping-keping, seperti jasadnya telah terkubur bersama trauma di dalam hatinya. Dan yang saat ini hidup hanyalah cangkang.
Hal ini sama yang di rasakan dengan Akmal, apakah ini cinta sejati atau karma yang sedang berlangsung, entah mana yang benar.
Akmal berusaha untuk tenang, tetapi hatinya sangat sakit dan jantungnya terus berdebar sangat kencang, semakin Saras menangis tersendu-sendu. Semakin detak jantung Akmal tak menentu.
"Siapa wanita itu, kenapa wajahnya sangat mirip dengan Allena? Tapi bukan kah Allena sudah meninggal dunia? Apa ini hanya kebetulan saja?" gumam Akmal di dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai lah di Mansion, Meisita membantu Akmal berbaring di ranjangnya. Melihat wajah Akmal yang masih sangat pucat, dan keringat dingin terus keluar membasahi keningnya. Membuat Meisita langsung menghubungi dokter pribadinya untuk datang memeriksa Akmal.
BERSAMBUNG.