Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kecelakaan maut


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."


Setelah Meisita mendengar dengar semua penjelasan Allena/ Saras, dia sangat terkejut dan ada beberapa kata yang membuatnya penasaran, yaitu tentang orang tua Akmal. Dia merasa Allena mengetahui sesuatu yang tidak di ketahui olehnya.


Dengan cepat Abbas keluar dari mobil itu, melangkahkan kakinya menuju rumah yang sangat menimalis itu, langkahnya terhenti saat pemilik rumah membukakan pintunya.


Dengan paksa Abbas masuk ke dalam, membuat pak Adam kaget dengan seorang pria berbaju hitam, topi hitam, jaket hitam dan sepatu boot.


"Siapa awak?" tanya Adam.


"Saya adalah malaikat maut kamu," jawab Abbas.


“Kenapa awak nak bunuh saya, siapa suruh awak pergi jumpa orang yang salah," bela Adam.


Abbas tertawa, membuat Adam semakin ketakutan, Abbas mendekatkan diri nya ke tubuh Adam, tanpa di sadarai pisau tajam telah menujuk perutnya berulang kali, membuat darah menetep ke lantai.


Adam melihat perutnya yang sudah bersimba darah membuatnya syok dan mundur secara perlahan, Ia pun terjatuh karena mengeluarkan begitu banyak darah. Tanpa berdosa Abbas segera memperhatian setiap ruangan yang di penuhi CCTV, membuatnya dengan cepat menghilangkan semua jejak tentanh dirinya.


Abbas mencari sebuah ruangan yang di ketahui menyimpan semua barang bukti yang akan menjatuhkan Akmal, Ia memeriksa satu persatu ruangan itu dan menemukan satu ruangan yang berisikan semua bukti Akmal.


Abbas membereskan semua tugasnya, dan kembali masuk ke dalam mobil dengen santai, supir mobil itu langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


Tidak ada yang mengetahui rumah itu, saat mobil itu menjauh dari rumah Adam. Abbas memeriksa waktu yang sedang mengitung mundur, saat angganya berubah menjadi nol. Seketika rumah itu meledak dengan kerasnya menghancurkan semuanya.


Tersenyum sinis Akmal menerima telfon dari Abbas yang telah selesai menjalankan misinya.


'Siapa yanh berani menghalangi ku, aku akan menghancurkan nya. Target kedua adalah orang tua Meisita,' batin Akmal.


Akmal berjalan menuju mansion, Meisita tidak mengetahui rencana busuknya. Begitu jahat dan keji prilaku Akmal, karena ingin merebut kekuasaan dan kekayaan, Ia rela membunuh dan menghilangkan barang bukti.


Abbas menepikan mobil itu di salah satu hotel berbintang yang memang sangat terkenal di Malaysia, Ia masuk dengan gaya yang misterius.


Membuatnya langsung masuk ke dalam kamar yang memang sudah di pesan.

__ADS_1


Ketika dirinya masuk ke dalam kamar, Ia menatap wajahnya ke cermin dan membersihkan tangannya dengan air mengalir.


Malam ini, Abbas ada pertemuan dengan orang tua Meisita. Di restoran yang baru saja membuka cabangnya di dekat menara kembar, dengan penuh persiapan Abbas tersenyum ketika sedang mengancingkan jasnya.


Abbas berjalan keluar dari hotel, dan menaiki mobilnya seorang diri.


Pertemuan itu ternyata di hadiri banyak bangsawan, termasuk Saras, dan beberapa desainer terkenal lainnya. Meisita pun bersiap-siap untuk menghadiri grand opening.


Abbas yang lebih dahulu mengetahui semua riwayat penyakit yang di derita kedua orang tua Meisita, segera melakukan sesuatu.


Acara pun telah di mulai, kerumunan ornag telah memenui restauran itu, Saras yang datang seorang diri membuat Abbas langsung mendekatinya.


"Sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Abbas.


Saras menatap ke arah sumber suara, Ia memperhatikan pria yang ada di sampingnya.


"Sepertinya kau berasal dari Indonesia? Apa kau Abbas?" ucap Saras.


Saras hanya terdiam tidak membalas sapaan itu, Ia asik menikmati minuman yang sangat memanjakan lidahnya.


Dari kejauhan Meisita dan Akmal pun datang bersamaan, Saras yang melihat hal itu. Memutuskan untuk menikmati dissert yang ada di ujung.


Sarss berbincang dengan salah satu desainer membuat Abbas terus memandangi Saras dengan tatapan yang meremehkan.


Acara pun telah selesai, semua orang memutuskan untuk meniggalkan restauran itu, termasuk Allena/Saras yang melajukan mobilnya sendiri.


Orang tua Meisita pun sudah memasuki mobilnya, mereka saling menyapa perpisahan karena akan pulang ke rumah masing-masing.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, ayah Meisita yang mengetahui kebusukan Akmal menyimpan rahasia ini karena Ia tahu, jika anaknya sangat mencintai Akmal.


Mobil itu semakin cepat membuat orang tua Meisita yang memperhatikan jalan begitu cepat, semakin bingung. Berkali-kali ayah Meisita memanggil pak supir, tetapi tidak mendapatkam jawabannya, dan dengan cepat kilat mobil itu menabrak sebuah toko kosong hingga serpihan kaca menuju tubuh kedua orang tua Meisita.


Mereka yang ada di dalam mobil itu tewas seketika, Abbas yang sudah ada di lokasi merasa senang dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


Sebelum polisi datang Ia memerika mereka semua yang ada di dalam mobil, mereka semua meninggal dunia.


Setelah satu jam kecelekaan, barulah berita beredar di mana-mana membuat Meisita yang sudah berada di rumah merasa terkejut saat mendengar berita kecelakaan maut.


Meisita tanpa memberi tahu Akmal yang masih di dalam kamar mandi, di tinggalkan begitu saja. Dengan terburu-buru Meisita melajukan mobilnya menuju lokasi kecelakaan. Perasaan tak karuan, Ia berusaha memastikan jika itu bukan orang tuanya.


Sampai lah Meisita di lokasi kejadian, saat Ia akan memeriksa korban kecelakaan itu. Tetapi polisi menghalanginya, karena mengaku sebagai keluarga korban. Akhirnya Ia masuk ke dalam.


Meisita memastikan pria paruh baya yang akan di bawa ambulan, terlihat bersimba darah dan ada tusukan kaca yang menembus lehernya. Seketika Meisita berteriak dan memanggil nama ayahnya.


Seketika hati nya hancur berkeping-keping melihat di dapan matanya, orang yang belom lama berjumpanya sekarang sudah menjadi jenazah.


Tangisnya pecah di lokasi, membuat salah satu polisi wanita membantunya untuk berdiri dan menenangkannya. Meisita mengikuti ambulan yang membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit, untuk di lakukan pemeriksaan forensik.


Sepanjang perjalanan Meisita menangis, matanya terlihat sangat sembab. Ponselnya terus berbunyi, tetapi Ia tidak memperdulikan nya.


Sampai di rumah sakit, jenazah akan di masukan di dalam ruangan seperti ruangan operasi untuk di lakukan pemeriksaan. Tetapi Meisita menolak pemeriksaan itu, Ia tidak mau menyakiti orang tuanya. Ia mencoba untuk lebih bijak dalam memutuskan sesuatu.


Hampir bedebat denga dokter, akhirnya pemeriksaan itu tidak dilakukan. Dan jezanah langsung di mandikan di rumah sakit.


Akmal tidak kunjung datang untuk menemani Meisita, Ia mengurus semua persiapan pemakaman dan lain-lain seornag diri.


Keesokan harinya, banyak dari mereka turut berbela sungkawa atas meninggal dunia pimpinan Selom Group.


Acara pemakaman pun berjalan dengan lancar, tangisnya tak berhenti dari semalam. Wajahnya yang pucat membuat Meisita mengepal tangannya sendiri seolah mengerti jika kematian orang tuanya bukan murni karena kecelakaan, tetapi karena ada seseorang yang sengaja ingin membunuhnya.


'Ini tidak mungkin! Saya akan mengetahui siapa yang melakukannya,' batin Meisita.


Proses pemakaman pun selesai, Meisita memutuskan untuk pulang kerumah bersama asisten rumah tangganya.


Di dalam mansion Meisita sudah tidak menangis lagi, Ia langsung menghubungi pihak CCTV yang terpasang di lokais kejadian. Tindakannya tanpa di ketahui oleh Akmal.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2