Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kita sebagai Nahkoda


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teka menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."


"Siapa yang berani menyerang kita dari belakang, aku bahkan sudah menghabisi Adam dan orang tua Meisita. Siapa lagi yang harus ku singkirkan," ucap Abbas.


Meisita yang mendengar semua itu, merasa sangat terkejut. Ia meremas tangannya sendiri, tersirat kebencian yang di penuhi amarah saat mengetahui dalang dari semuanya adalah suaminya sendiri.


“Beraninya dia melakukan semua ini, lelaki yang jahat dan tidak berhati perut," gumam Meisita.


“Saya akan tunjukkan, siapa sebenarnya Encik Akmal," kata Allena.


"Siapakah itu?" tanya Meisita.


“Awak pernah jumpa ibu bapa sebenar Akmal?" tanya Allena.


Meisita mengigat-ngingat orang tua Akmal tetapi Ia lupa dan menggelengkan kepalanya. Allena mengajak Meisita masuk ke dalam kamar yang cukup luas itu, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyuapi suaminya.


"Bu Nurhaliza ..." lirih Meisita.


Nurhaliza menoleh ketika pintu kamar nya terbuka, Ia melihat seorang wanita mudah menatapnya dengan sendu.


"Siapa awak?" tanya Nurhaliza.


Meisita berjalan mendekati Nurhaliza, dan langsung memeluk dengan erat.


"Adakah Makcik ingat saya?" ucap Meisita.


Nurhaliza menggelengkan kepalanya, Ia melepaskan pelukan itu dan menatap Meisita dengan tatapan yang bingung.


“Saya Meisita puan, saya menantu puan," ucap Meisita meneteskan air mata.


Nurhaliza masih terdiam mengingat siapa wanita yang menangis di depannya, Ia terus mengingat sampai akhirnya Ia membayangkan saat tangan lembut Meisita memegang tangan Nurhaliza dan mengatakan jika dirinya adalah kekasih Akmal.


“Awak Meisita, kekasih Akmal?" tanya Nurhaliza.


Meisita menganggukan kepalanya, membuat Nurhaliza memeluknya dengan erat.


"Apa khabar anak, lama tidak berjumpa," kata Nurhaliza.


“Saya kurang sihat puan, ternyata Akmal berbohong. Dia memberitahu saya yang ibu dan ayah saya mengalami nahas kapal terbang sehingga mayat mereka tidak ditemui," jelas Meisita.


Nurhaliza merasa sangat terkejut dengan penuturan yang keluar dari mulut Meisita, Ia tidak menyangka jika anaknya sendiri telah menganggap orang tuanya meninggal dunia.


"Saya rasa Akmal telah berbohong dengan anda semua, kini Tuhan telah menyatukan anda dan menunjukkan kepada saya kebenaran," ucap Allena.


"Allah sentiasa berpihak kepada orang yang baik," kata Meisita.


“Puan, adakah puan ingin berjumpa dengan Akmal selepas mengetahui puan disangka mati dalam nahas kapal terbang?" tanya Allena.

__ADS_1


Nurhaliza terdiam, seketika wajahnya berubah menjadi sendu. Ia menatap wajah Allena dan Meisita seolah bingung harus memutuskan sesuatu yang sangat berat.


Nurhaliza berusaha untuk mengatur napasnya dengan baik untuk mengurangi sesak di dadanya, sambil tersenyum Ia menatap mereka.


“Ibu tetap mahu berjumpa dengan Akmal, walaupun dia sudah menganggap Ibu sudah meninggal dunia, kasih sayang ibu bapanya tidak akan pernah terputus," jelas Nurhaliza.


Dengan penuh haru, Meisita memeluk Nurhaliza yang matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.


"Sekiranya Cik Meisita berehat, keadaan awak tidak baik," ucap Farhan.


“Betul kata Farhan, awak patut berehat. Tengok muka awak, pucat sangat dan penuh dengan luka, awak ada masalah ke?" ucap Nurhaliza.


Meisita tersenyum menatap Ibu mertuanya, "baiklah, saya akan berehat,' ucapnya berlalu meninggalkan Nurhaliza.


Allena pun ikut keluar kamar dan meninggalkan Nurhaliza, Ia berjalan keluar dan menunjukan Meisita kamar untuk beristirahat.


"Kamu cedera, berehatlah. Makan ubat kamu dengan kerap agar cepat sembuh," ucap Allena.


Allena yang akan pergi meninggalkan, menghentikan langkahnya saat tangannya di pegang olehnya, Allena menoleh ke arah Meisita.


"Apa itu?" tanya Allena.


“Terima kasih, awak banyak membantu saya. Boleh saya peluk awak?" ucap Meisita.


Allena pun merasa bingung dengan sikap Meisita, tetapi Ia menuruti kemauannya dan melegangkan tangannya. Meisita memeluknya dengan erat. Tiba-tiba tangisnya pecah begitu saja.


"Menangislah, lepaskan semua yang membuat mu terluka," ucap Allena.


Meisita masih terus menangis sampai suaranya terdengar serak, membuatnya tak mampu mengungkapkan semuanya dengan ucapan. Terlalu menyakitkan sampai membuatnya terasa sesak.


Allena terus menenangkan Meisita agar tidak terhanyut dalam kesedihan.


"Awak mungkin sedih, tapi... jangan terus menangis, awak tidak keseorangan. Saya di sini, saya di sisi awak, kita bangkit bersama. Saya akan tolong awak ambil semua hak milik awak, lap air mata itu," ucap Allena.


Meisita mengusap air mata itu. "Cik, terima kasih. Saya sangat bertuah dapat mengenali awak, saya minta maaf saya pernah berprasangka buruk tentang awak, saya minta maaf," penuturan Meisita membuat Allena tersenyum.


Allena terus mengusap bahu Meisita sampai dirinya terlihat membaik.


"Bergembiralah, jangan tunjukkan jika kamu rapuh, jadilah wanita yang kuat. Pernahkah kamu mendengar kapal tanpa nakhoda? Adakah ia akan berlayar dengan baik? Tentu tidak, maka siapa yang mesti menjadi nakhoda supaya kapal itu belajar dari terpaan angin? Jawabannya adalah kita. Kita sebagai nahkodanya, tanpa kesedaran diri kita tidak akan pernah bangkit dari kesusahan. Mari bangkit bersama, seperti nahkoda yang mampu menerjang terpaan angin yang begitu dahsyat," ucap Allena.


Meisita menganggukan kepalanya dan tersenyum menatap Allena.


"Pergi tidur, awak perlu berehat," ucap Allena berlalu pergi meninggalkan Meisita.


Meisita menatap kepergian Allena, merasa sangat letih Ia memutuskan untuk membersihkan diri.


"Apa Meisita sudah istirahat?" tanya Farhan.

__ADS_1


"Iya, dia terlihat membaik," jawab Allena.


"Kau juga terlihat sangat lelah, lihatlah wajah mu sangat lesu," ucap Farhan.


"Mungkin aku butuh di periksa oleh dokter tampan," kata Allena.


Farhan menatap Allena dengan senyuman, melihat keceriaan di wajah Allena membuatnya sangat bahagia.


"Baiklah, kini saatnya aku meriksa wanita cantik yang katanya kelelahan," sahut Farhan.


"Sepertinya badan ku panas, dan perut ku kosong. Apa mungkin aku butuh makanan?" ucap Allena.


Farhan menatap senyum Allena dan memegang tangannya, tatapan itu membuat Allena menatap Farhan dengan bingung.


"Ada apa?" tanya Allena.


"Will you merry me," ucap Farhan.


Allena langsung menjauh dari hadapan Farhan, Ia langsung teringat masa lalu ketika Akmal mengatakan hal yang sama, membuatnya langsung mundur perlahan. Farhan sangat bingung dengan perubahan Allena.


"Ada apa? Apa kau menolak ku?" tanya Farhan.


"Aku tidak mau mendengar kata-kata itu, plis ... jangan katakan itu," ucap Allena.


Farhan berkecil hati melihat Allena yang tiba-tiba melarangnya mengatakan hal itu, Ia tidak berani mengatakan alasannya, karena melihat Allena yang langsung down membuatnya mengurungkan niat nya untuk bertanya.


Farhan melihat Allena berlari menuju taman, membuatnya langsung menyusulnya.


"Maafkan aku, jika perkataan tadi menyakiti hati mu," ucap Farhan.


Allena yang sedang menenangkan pikirannya, menatap hamparan rumput yang sedang bergoyang tertiup angin malam, membuatnya langsung memejamkan mata merasakan sejuknya terpaan angin.


"Ini sangat indah," kata Allena.


"Maafkan aku," ucap Farhan.


Allena membuka matanya, melihat Farhan dengan penuh penyesalan berdiri di sampingnya.


"Tidak perlu meminta maaf, kau tidak bersalah. Mungkin aku yang teralalu sensitif dengan kata pernikahan, jadi bersabarlah jika kau ingin aku menjadi milik mu," jelas Allena.


"Aku akan terus menunggu mu," ucap Farhan.


Farhan memeluk Allena, sambil menikmati suasana malam di taman yang begitu sejuk untuk dirasakan.


"Sial!"


"Dasar, kau tidak berguna!"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2