
Saat Allena berjalan menuju lorong yang mengarah ke mes, tanpa di sadari kaki nya menyandung sesuatu yang entah itu apa, membuatnya terjatuh, lututnya membentur lantar sehingga membuatnya meringis kesakitan.
"Sepertinya sangat sakit ya?" suara itu terdengar dari kejauhan membuat Allena menoleh ke arah sumber suara.
Allena melihat dari ke jauhan 3 wanita berjalan menghampiri dirinya, dengan samar-samar Allena memperhatian wanita itu.
"Kak Indri, Kak Sela dan Kak pure. Ada apa kalian ke sini?" tanya Allena.
"Dia terlihat sangat polos, wajar jika atas kita menyukainya," sahut Pure.
Sela berjalan mendekati Allena, memperhatikan setiap sisi tubuh Allena dari rambut hingga ujung kaki, "rambut mu sangat indah," suara itu terdengar lirih namun tanganya menarik rambut Allena sehingga Ia meringis kesakitan.
Kedua temannya tertawa melihat Allena merintih kesakitan, semakin Ia menangis semakin kuat pula jambakan itu.
"Apa mau kalian?" tanya Allena.
"Mau kami, kau bertanya apa mau kami? Ilmu apa yang sudah kau amalkan sehingga kau bisa mendapatkan posisi design," sahut Indri.
"Aku tidak menggunakan ilmu apapun, aku berani bersumpah," kata Allena.
Pure mendekati Allena dan menampar dengan sangat keras sehingga membuat Allena terhempas ke lantai, Allena mencoba menahan sakit yanh di rasakan dan bangkit untuk bangun.
"Apa kau menjual diri mu dengan Pak Doni sehingga dengan mudah kau mendapatkan posisi itu?" tanya Sela.
"Aku tidak sekeji itu, kalian salah faham. Aku tidak seprti itu," jawab Allena.
"Perempuan murahan," ucap Pure.
Mereka bertiga pergi meninggalkan Allena yang sedang duduk ditempat itu dengan memar di kaki dan tanda merah di bagian pipinya, rambutnya yang cukup berantakan karena di jambak oleh Sela.
Menahan tangis Allena berjalan memasuki mes nya, melihat temannya yang sudah beristirahat, Allena pun langsung membersihkan tubuhnya. Melihat tanda merah di pipinya membuat Allena Langsung memberikan salep agar tidak terjadi infeksi.
Teman satu kamarnya, yang sejak awal mereka tinggal di situ sudah memperhatikan Allena seperti ingin menegur tetapi niatnya belom sepenuhnya kumpul.
__ADS_1
Allena tertidur dengan berlinang air mata, rasa lelah itu telah di bawa oleh mimpi yang saat itu menghampiri tidurnya, mengarungi malam yang panjang. Allena dengan sejuta kesedihannya hanya mampu mengusap air matanya tanpa mampu mengobati luka yang sudah membeku di dalam hati nya.
Pagi hari di mana hari ini adalah hari libur mereka karena pabrik tutup setiap wekend datang, mereka yang menjadi karyawan memanfaatkan hari liburnya dengan sebaik mungkin. Berbeda dengan Allena yang masih terbaring di tempat tidur karena Ia merasa tidak enak badan.
"Apa kau sakit?" tanya Ani yang selalu memperhatikan Allena sejak Ia baru datang ke Malaysia.
Tidak ada jawaban dari Allena membuat Ani membangunkannya sekali lagi, "mbak, apa kamu sakit?" suara itu membuat Allena membuka matanya.
"Aku hanya sedikit demam," jawab Allena.
"Aku antar berobat ya Mbak? Wajah mu sangat pucat," Ani menawarkan dirinya untuk membantu Allena.
Allena tersenyum, "tidak usah repot-repot, ini hari minggu. Manfaatkan lah hari libur mu, aku hanya ingin beristirahat saja," ucap Allena menarik selimutnya kembali.
Ani yang melihat Allena mau berbicara dengannya hanya menganggukan kepalanya dan pergi dari hadapan Allena.
Ponsel Allena berdering membuat nya harus membuka selinut yang sudah menutupi dirinya. Melihat atasannya Pak Doni menelpon nya, Allena langsung terduduk seketika.
Pak Doni : "Pukul 3 sore temui aku di cafe Salome,"
Panggilan itu langsung terputus, membuat Allena tidak sempat menjawab apapun. Allena melihat jam sudah menunjukan pukul 1:30. Dengan lemas Allena bangun dari tempat tidurnya langsung masuk ke kamar mandi.
Allena menggunakan pakaian yang casual, terlihat sangat modis, mereka yang tidak mengetahui jika Allena adalah seorang perancang busana di kampungnya, melihat pakaian Allena langsung mencibirnya.
"Hanya karyawan pabrik saja, pakaiannya seperti seorang desainer," celotehan itu terdengar nyaring di telinga Allena, tetapi Allena tidak memperdulikan mereka.
Allena fokus dengan dirinya yang sudah rapih dan wangi, Ia pun pergi meninggalkan mesnya. Berjalan di tengah-tengah kota Malaysia membuatnya sedikit bingung. Allena menaiki taksi menuju cafe Salome.
Perjalanan yang cukup macet membuatnya hampir terlambat, memasuk cafe itu Allena melihat Pak Doni sudah menunggunya.
"Saya minta maaf tuan, telah membuat anda menunggu," ucap Allena menundukan kepalanya.
"Mari duduk," kata Doni.
__ADS_1
Mereka sedang membahas pekerjaan yang design baru yang akan di luncurkan, selama pertemuan itu, Doni terus memperhatikan Allena yang terlihat sangat anggun dan beribawa ketika berada di luar pabrik.
“Saya dengar awak baru lepasan sekolah menengah?" tanya Doni.
“Betul tuan, disebabkan kos, saya tidak dapat melanjutkan pelajaran ke peringkat tinggi," jawab Allena.
Doni terlihat memiliki sifat licik terhadap Allena, wajahnya yang penuh nafsu saat melihat wajah Allena yang sangat cantik membuatnya mengajak Allena ke sebuah hotel berbintang.
"Hari sudah lewat, kita perlu keluar dari sini," ajak Doni.
“Maaf tuan, kita nak pergi mana?" tanya Allena.
“Awak kena temankan saya jumpa pelanggan di hotel lima bintang dekat sini," sahut Doni.
“Baiklah tuan," kata Allena.
Allena yang tidak mengetahui niat jahat Doni, mengikuti kemana Doni menyuruhnya. Sampai lah mereka di hotel berbintang, lepas magriban. Acara itu di mulai dan Doni tiba-tiba memegang tangan Allenan membuat Allena terkejut dan langsung melepaskan genggaman itu.
“Maaf tuan, saya tidak sanggup melakukannya," ucap Allena.
Merasa sedikit kesal, Doni pun berpura-pura tidak sengaja memegang tangan Allena dan meminta maaf. Mereka pun berbincang dengan klien yang lainnya, ada beberapa dari mereka yang begitu mengagumi design milik Allena. Tiga perusahaan dari berbagai bidang mengajak Allena bekerja sama, namun Allena masih terikat kontrak dengan perusahaannya. Membuat Allena harus menolak dengan cara yang baik.
Doni yang melihat Allena berbincang dengan salah satu klien wanita yang datang di acara itu, membuat Doni melancarkan aksinya. Doni memberikan minuman yang sudah di campur dengan pil perangsan, dirinya ingin membuat Allena menjadi miliknya dan menikmati tubuhnya yanh sangat indah.
Allena yang tak menyadari niat buruk atasannya, menerima minuman itu, merasa haus. Allena meminum sedikit jus yang di berikan Doni kepadanya.
Beberapa saat kemudian, setelah meminum jus yang di berikan Doni, Allena merasa pusing dan tidak fokus untuk berjalan. Melihat Allena mulai sempoyongan, Doni langsung membawanya ke salah satu kamar hotel yang memang sudah di pesan oleh nya.
Berjalan di sepanjang koridor dan menaiki lift, Allena semakin tidak bisa fokus melihat sesuatu yang ada di depannya, berulang kali Ia memejamkan matanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baiknya. Tetapi semua itu sia-sia, sampai di kamar hotel.
Doni membuka pintu kamar itu dan menghempaskan Allena di atas ranjang yang berukuran kingsize,
BERSAMBUNG..
__ADS_1