
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Terpancing emosi, Aizul tanpa sengaja menatap keras Farhan sehingga membuatnya langsung terdiam sejenal dan menatap tajam Aizul. Hal itu membuatnya merasa ketakutan.
Aizul langsung memegang tangan Farhan untuk menamparnya kembali, karena Ia dangat khilaf.
"Maaf kan saya tuan, saya tidak sengaja," ucap Aizul.
Farhan tersenyum, "kau menamparku, mungkin ini bukti yang kuat untuk ku laporkan ke pihak yang berwajib," sahut Farhan.
"Tuan, saya minta maaf, jangan libatkan polis. Ia akan menjadi masalah besar jika polis dapat tahu," kacap Aizul.
"Bukan urusan saya," kata Farhan.
“Kalau begitu apa yang awak nak dari saya?" tanya Aizul.
“Berapa banyak awak telah disogok oleh Akmal?" ucap Farhan.
"Apa maksud awak," ucap Aizul.
"Kalau awak tak nak jawab maknanya awak sedia untuk saya laporkan kepada polis. Okay, seorang ketua wakil syarikat yang berprestij telah diletakkan dalam kawalan kerana rasuah daripada anak guamnya," jelas Farhan.
Aizul yang ketakutan akhirnya mengaku jika dirinya telah menerima suap sebesar 2M, oleh Akmal untuk mengganti nama pemilik perusahaan Selom Group menjadi namanya secara ilegal.
Pengakuan Aizul diam-diam di rekam oleh Farhan dan di tonton oleh Meisita dan Allena yang sedang berada di mansion. Begitu terkejutnya Meisita melihat Aizul menerima suap dari suaminya sendiri.
Meisita menatap Allena dengan sendu, Ia tak mampu berfikir lebih jernih karena hatinya telah terluka, yang saat ini Ia rasakan adalah kekecewaan.
Allena mencoba menenangkan Meisita.
"Lebih baik tahu sekarang daripada lewat, ia akan lebih menyakitkan," ucap Allena.
"Betul kata awak, sekarang saya cuba untuk boleh terima semuanya. Saya takkan berdiam diri, Akmal sangat melampaui batasnya," sahut Meisita.
"Dia tidak akan berubah sampai bila-bila, saya harap awak tidak tergoda dengan pujukannya," ucap Allena.
Meisita pun menganggukan kepalanya.
Farhan membuat persetujuan dengan Aizul untuk tidak curang dalam bisnis dengan ancaman yang sengaja di buat Farhan membuatnya terpaksa mengikuti kemauan Farhan.
"Sudah pasti dia adalah Saraswati," ucap Abbas.
"Jika sampai dia dalang dari semua ini, akan aku habisi juga hari ini juda dia," tekan Akmal.
__ADS_1
Akmal sangat kesal dengan hilangnya Meisita. Ia berusaha menyusun rencana untuk bisa menemui Saras/Allena yang sekarang sangat sulit untuk di temui.
Allena teringat jika dia ada janji bertemu dengan klien nya, dan langsung pergi tanpa memberi tahu Meisita yang berada di kamarnya.
Mobil pun melaju dengan cepat, keluar dari mansion. Melewati jalanan yang ramai kendaraan yang melintas membuatnya fokus.
Sampailah di kantor, Allena masuk ke dalam. Melihat Ozi sedang sibuk mengajari karyawan baru, membuatnya tidak menyadari jika Allena datang.
"Awak sangat serius dalam kerja awak, teruskan," ucap Allena.
Ozi yang mendengar suara yang menurutnya tidak asing, membuat nya langsung menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya Ia melihat Allena datang ke kantor tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
"Cik Saras!" panggil Ozi.
"Awak merindukan Cik Saras, apa khabar Cik," tanya Ozi.
“Saya khabar baik, adakah dia pekerja baru yang akan membantu awak?" ucap Allena.
"Saya hampir terlupa, Oiya Seli. Memperkenalkan dia ialah Cik Saras yang memiliki pejabat ini," ucap Ozi.
Seli pun menyapa Allena dengan sopan mrmbuat Allena tersenyum manis, Seli yang menatap wajah canti Allena, merasa sangat kagum.
'Dia sangat cantik dan menawan,' batin Seli.
"Membatalkan kerjasama dengan syarikat Selom Group," ucap Allena.
"Tidak salahkah Cik memutuskan kerjasama ini? Apa sebab Cik, pada masa ini syarikat Selom semakin meningkat kerana rekaan yang Cik buat, menjadikan produknya laris dipasaran."
Jelas Ozi sambil menunjukan kurva peninggkatan jumlah penghasilan yang di peroleh oleh perusahaan Selom.
“Saya tidak mahu bekerjasama dengannya, beritahu pihak produksi supaya berhenti menghantar pereka ke Selom Group," cegah Allena yang secara tiba-tiba membuat Ozi terpaksa mengikuti kemuan bosnya.
"Oiya saya harus menemuji Puan Jesika, dia sangat berpengaruh dalam dunia bisni," ucap Allena.
"Baiklah Cik," kata Ozi.
Allena pergi meninggalkan ruanganya untuk menemui klien yang sudah membuat janji untuk bertemu dengannya di salah satu resto, sambil menunggu, Allena memeriksa ponselnya. Memiliki pendengaran yang sangat tajam, Allena suara heels yang mendekatinya.
Seketika Allena meletakan ponselnya dan menatap suara heels itu, dengan senyum manis Allena langsung menyapa Jesika.
"Hai puan apa khabar," sapa Allena.
"Apa awak sakit?" tanya Jesika.
__ADS_1
"Tidak puan, saya hanya uruskan hal peribadi, jadi kita hanya boleh berjumpa," jawab Allena.
Jesika meminta Allena untuk membuatkam gaun yang sangat indah untuk acara Anniversary day.
Allena mencatat semua ciri-ciri yang di inginkan oleh Jesika sambil mengobrol santai. Pertemuan itu di akhiri oleh Jesika yang memang harus segera meninggalkan Allena.
Allena seorang diri sedang menatap bukunya, dengan keisengannya, Allena mencoba mendesain gaun yang di ingkan kliennya.
Akmal yang memang terus memantau Allena, tengah mengikuti kemana perginya Allena.
Akmal menitipkan selembar kertas kepada salah satu pelayan untuk memberikan kepada Allena, dengan cepat selembar kertas kecil itu sampai di tangannya, Ia menyuruh pelayan itu meletakan kertas itu karena Ia sangat sibuk dengan pensil dan kertanya.
Ada rasa penasaran di dalam hati Allena, Ia pun melirik kertas itu yang bertuliskan. "Temui aku di nomor kamar hotel 308."
Allena menghentikan aktivitasnya sejenak, Ia berfikir tulisan yang tidak asing baginya.
"Siapa yang menulis dengan kertas ini?" gumam Allena, saat ingin bertanya dengan salah pelayan yang sempat memberikan kertas ini. Tapi Ia tidak memperhatikan wajah pelayan itu, sehingga sulit untuk menemuinya.
Allena semakin penasaran dengan tulisan itu.
"Kamar hotel 308, apa dia mengenal ku? Lalu hotel mana yang harus ku datangi?" gumam Allena.
Allena menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak menemukan siapapun karena resto itu terlihat sepi oleh mengunjung. Tanpa berfikir panjang, Ia pun meninggalkan resto.
Allena tidak memberi tahu siapapun termasuk Farhan, Allena langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari resto.
Di SPBU, Allena mengisi bahan bakar mobilnya, di sana pun Ia mendapat selembar kertas dengan tulisan yang berbeda.
Allena pun menerima kertas itu dari salah satu penjaga yang menjaga SPBU itu.
Allena membaca, tulisan itu seperti teka-teki baginya. Rasa penasarannya pun semakin tinggi, membuatnya menyimpan kertas itu di dalam dasbor mobil.
'Siapa yang menulis seperti itu? Sepertinya dia mengenal ku, aku harus segera menemuinya,' batin Allena.
Dengan rasa penasaran, Allena akhirnya menuju hotel itu.
Sampai lah di depan, Ia melihat hotel yang cukup sepi dengan bangunan yang unik membuat hotel itu menjadu khas. Allena bertanya kepada resepsionis untuk menanyakan kamar 308.
Allena di antar oleh salah satu resepsionis itu menuju kamar 308.
Pintu terbuka, Ia melihat seorang pria tinggi berbadan kekar dan menggunakan jas berwarna hitam, sedang menatap jendela membelakangi Allena.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
BERSAMBUNG.