
"Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."
"Baik puan, kami memerlukan pereka grafik untuk salah satu produk kami. Kami melihat pereka anda sangat cantik dan sesuai dengan apa yang saya mahukan, Oleh itu saya memohon kerjasama dengan puan," jelas CEO Pt. X.
"Saya menolak kerjasama ni," kata Allena/Saras.
Semua orang yang ada di dalam rapat ini, terkejut mendengar menolakan secara langsung oleh Saras.
"Betul ke saya dengar? Apakah alasan anda enggan bekerjasama dengan kami?" tanya CEO.
"Saya tidak boleh bekerjasama dengan tuan, atas banyak sebab. Ialah kakitangan anda telah melakukan penderaan seksual dan penderaan pekerja kilang, banyak keganasan telah dilakukan di kilang ini. Saya tidak mahu nama saya jatuh kerana bekerja dengan syarikat tuan," jelas Allene/Saras.
Allene berlalu pergi meniggalkan mereka semua yang masih terkejut dengan penuturan dari Allena.
"Apa yang dia cakap, siapa orang yang ada hati nak buat semua tu," suara itu terdengar menggema di dalam ruangan membuat Doni merasa terpojoknya.
Doni langsung mengira perempuan yang barusan ada di dalam rapat adalah Allena, tetapi rasanya tidak mungkin jika itu adalah Allena seorang karyawan rendahan yang sekarang menjadi seorang desainer terkenal di Malaysia.
Allena yang terus berjalan melihat mes yang pernah Ia tempati bersama teman-temannya, ada yang rindu dan kecewa dengan perlakuan mereka yang menyiksa Allena. Terdiam di depan pintu mes itu, tiba-tiba terdengar suara yang lelaki yang tidak asing bagi Allena.
"Adakah awak Allena, pekerja rendahan yang cuba menggoda pengurus awak?" tanya Doni
Allena yang mendengar tidak menoleh sedikit pun, "berpegang demi meningkatkan populariti masih menjadi trend dunia, saya rasa hanya orang yang berbohong kepada orang ramai," suara itu membuat Doni semakin kesal.
"Apa yang awak cakap ni!" seru Doni.
Allena tersenyum, lalu menatap wajah Doni yang terlihat sangat kesal dengan Allena.
"Kenapa awak nampak emosi, apa saya salah cakap?" tanya Allena.
"Perempuan sial! Beraninya awak!" Doni terlihat sangat murka dengan Allena.
__ADS_1
Allena dengan anggun berjalan mendekati Doni, "apa yang perlu saya campur tangan, supaya semuanya selesai," bisik Allena membuat Doni mengepalkan tangannya, "tahan kemarahan awak, sebab awak akan menyesal."
"Kau kurang ajar!" tekan Doni berlalu pergi dari hadapan Allena.
Allena yang melihat kepergian Doni membuatnya tersenyum sini, tak lama. Alena pun pergi meninggalakan mes itu, dan langsung memasuki mobilnya.
Dari lantai 6, Doni memantau kepergian Allena yang menggunakan mobil mewah dan di kawal oleh 2 orang bodyguard. Membuatnya sangat penasaran siapa sebenernya Allena.
"Siapa dia sebenarnya, saya rasa dia bukan sesiapa. Bagaimana dia boleh menjadi pereka terkenal seperti sekarang dalam masa terdekat, ini adalah mustahil!" gumam Doni.
Doni langsung mencari tahu identitas Allena, tetapi tidak semudah yang di bayangkan. Data mengenai Allena sangat sulit untuk di akses, membuatnya semakin kesal, Ia membanting semua benda yang ada di dalam ruangan.
Allena bertemu dengan istri seorang pejabat negara yang bernama Nyonya Evi. Pertemuan itu di hotel berbintang, di mana hotel itu akan di gunakan Akmal untuk pernikahan adiknya. Allena yang belum mengetahui semua itu, berjalan memasuki hotel berbintang yang terlihat sangat indah.
Allena berjalan dengan begitu anggun, menggunakan barang-barang mahal membuat nya telihat menjadi wanita yang berkelas. Senyum di bibirnya membuat semua orang yang memandangnya ikut tersenyum.
"Maaf kerana menunggu lama puan," kata Allena/Saras.
"Terima kasih atas pujian Puan," kata Allena.
Mereka pun berbincang, mengenai pakaian yang akan di gunakan oleh Evi. Allena memberi beberapa tawaran mengenai model yang pantas untuk di kenakan oleh Evi yang memiliki badan cup berisi tetapi tetap terlihat langsing.
Pemilihan model yang cocok pun sudab deal di lakukan, dan Evi pun merasa sangat puas dengan pelayanan yang di berikan Allena/Saras.
“Puan, di mana majlis itu akan diadakan?" tanya Saras.
"Di dalam dewan hotel ini, di tingkat bawah," jawab Evi.
Allena/Saras turun ke lantai bawah untuk melihat lokasi yang akan di adakan oleh Akmal, dari kejauhan pria tampan berbadan kekar berjalan mendekati Allena/Saras. Tiba-tiba jantung Allena berdetak tak menentu, Akmal yang sedang berbincang dengan salah satu resepsionis hotel ini, tidak menyadari jika Allena berada tepat di sampingnya.
"Kenapa jantung ku berdetak tak menentu, apa karena aku terlalu keras bekerja sehingga aku kurang istirahat," gumam Allena/Saras membalikan tubuhnya menuju pintu keluar hotel itu.
__ADS_1
Akmal pun demikian, perasaanya seperti tidak bisa fokus dengan rancangan yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari, tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Di dalam hati nya terus mrngingat nama Allena, dari senyumnya, canda nya tawanya, membuat jantung Akmal berdetak tak menentu. Akmal pun merasa kesakitan dan hampir terjatuh.
Saat Akmal terjatuh ke lantai, Allena sudah berada di dekat pintu keluar hotel itu. Dadanya pun terasa sesak, dan Allena langsung berjalan menuju mobilnya, berusaha mengatur napas dengan baik.
"Adakah Cik baik-baik saja? awak nampak pucat sangat?" tanya Oji asisten Allena.
“Entahlah, tiba-tiba jantung berdegup tidak menentu dan sukar bernafas," jawab Allena/Saras.
"Kita perlu berjumpa doktor Cik," sahut asisten Oji.
“Mungkin saya cuma perlukan rehat, Bawa saya ke rumah Puan Lady," kata Allena/Saras.
Mobil itu melaju dengan cepat, berbeda dengan Akmal yang masih di dalam aula hotel itu, terus memegangi dadanya yang masih terasa sakit.
"Tuan, adakah anda sihat?" tanya Resepsionis.
"Entahlah, tiba-tiba hati saya sakit. Dan saya teringat seseorang dalam fikiran saya? Apakah petanda itu," jawab Akmal.
“Maaf encik, setahu saya. Jika kami mengalami perkara seperti itu, orang yang anda fikirkan sekarang ada di sekeliling encik," jelas Resepsionis.
“Betul ke? Mungkin saya cuma perlukan rehat?" kata Akmal.
Akmal duduk di sofa yang dekat dengan aula itu, Ia terus memikiran kenapa saat jantungnya berdetak tak menentu, di situlah nama Allena langsung menguasai pikirannya, membuat Allena tidak bisa berfikir yang lain selain memikirkan Allena.
"Aku kehilangan kontaknya, sangat sulit untuk menghubunginya. Aku harus mencari tahu sendiri di mana Allena saat ini," gumam Akmal.
Akmal terus memegang dadanya, begitu juga dengan Allena yang berulang kali mrngatur napasnya dan memegang dadanya yang masih terasa sakit, di pikirannya teringat nama Akmal, Allena berusaha menepis semua yang ada di pikirannya itu.
Mereka sedang di landa kegundahan hati yang tak pernah mengerti arti kerinduan yang sangat dalam sehingga mampu menembus relungan hati. Ke egoisan lah yang membuat mereka terus menyibukan diri, sehingga tidak pernah menyadari bahwa rindu yang lama di pendam bisa menjadi labuhan kapal tanpa nahkoda.
BERSAMBUNG..
__ADS_1