
"Perhatian! Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."
Mereka berdua berjalan di pinggir pantai, menikmati hembusan angin yang sangat sejuk. Terpaan sinar matahari membuat air laut semain membiru, terlihat indah di pandang namun tidak untuk di sentuh.
"Apa kau melewati masa sulit di tempat ini? Saat kepergian mu banyak sekali berita yang tidak benar menimpa mu, dan ada pria yang datang ke rumah sakit mencari rekam medis mu," kata Farhan.
"Kau bilang barusan, seorang pria? Siapa dia?" tanya Allena/Saras.
"Dia bernama Abbas, dia bilang mengenali mu. Aku hanya mengatakan kau di rawat itu saja, tidak semua boleh di katakan karena kami menjaga privasi pasien" ucap Farhan.
Allena melebarkan matanya saat mendengar nama Abbas mencari dirinya.
"Kapan dia menemui mu?" tanya Allena.
"sekitar bulan Juli, kurang lebih 6 bulan yang lalu. Apa kau mengenalinya?" ucap Farhan.
"Dia teman suami ku, aku kemarin bertemu dengan Akmal. Tapi ku rasa dia sudah bahagia bersama istrinya," kata Allena sambil menatap birunya laut.
"Apa! Bagai mana bisa kau bertemu dengan nya?" tanya Farhan.
"Istrinya ingin aku merancang busana untuknya, awalnya aku tidak mengetahui jika dia adalah istrinya Akmal. Tak lama Akmal masuk ke dalam ruangan ku, saat itu aku terkejut melihat pria yang selama ini ku cari tiba-tiba berada di depan ku. Dia terlihat sangat bahagia, mungkin sudah waktunya aku mengakhiri semua ini," jelas Allena menatap sendu Farhan.
Farhan pun melebarkan tangannya, menyambut Allena untuk Ia peluk, tanpa di beri aba-aba Allena pun memeluk Farhan dan terhanyut di dalam tangisannya.
"Jika memang ini keputusan yang tepat, maka lakukan lah. Lawan rasa yang membuat mu menjadi ragu, aku di sini ada untuk mu," ucap Farhan.
"Aku seperti tak mampu menatap matanya, jantung ku terus berdetak sangat cepat ketika melihat dia, aku harus bagai mana?" kata Allena.
"Apa kau begitu mencintai nya?" tanya Farhan.
"Entah lah, aku pun tak mengerti perasaan ku," jawab Allena.
"Berhenti lah memikirkan Akmal, cobalah buka hati mu untuk orang yang memang tulus mencintai mu, lepaskan dia yang begitu tega meninggalkan mu dan menyakiti mu. Jika memang dia mencintai mu, dia tak akan melakukan semua ini," ucap Farhan.
__ADS_1
"Akan aku coba," ucap Allena.
Mereka pun meninggalkan pantai itu, dan pergi ke pusat perbelanjaan. Dengan menggandeng tangan Allena, Farhan memberanikan diri untuk mengajak Allena masuk ke area timezone.
Farhan berusaha mengajak Allena mengikuti beberapa permainan yang ada di dalam, suara tawa Allena membuat Farhan ikut tertawa. Seharian mereka menghabiskan waktu bersama, mengelilingi pusat perbelanjaan itu, dari main ke timezone sampai foto booth.
"Aku lapar, aku ingin makan shushi," kata Allena.
"Sepertinya ada yang lupa dengan janjinya, ada yang pernah bilang kalo nanti dia sukses akan meneraktir ku," ucap Farhan.
Allena pun menoleh dengan senyuman, langsung menarik Farhan masuk ke dalam resto korea yang sangat terkenal.
"Aku tidak melupakan itu, ayo pesan lah makanan yang mau inginkan," ucap Allena.
Mereka pun memesan banyak makanan, bercerita sambil tertawa membuat Allena seolah melupakan semua yang membuat nya bersedih. Keadaan ini membuat nya mulai ada rasa kepada Farhan atau memang Allena hanya membutuhkan teman sebagai pendengar.
Setiap berada di dekat Farhan, Ia merasa sangat nyaman dan bahagia. Canda tawa tak pernah terlepas dari bibir imut Allena.
"Meski pun aku sangat bersedih, tapi kau mampu membuat ku melupakan semua sedih itu. Seakan kehadiran mu membuat ku ingin terus tersenyum, terima kasih kau sangat baik," jelas Allena tiba-tiba memegang tangan Farhan.
Farhan yang mendapat sentuhan dari Allena merasa tegang dan salah tingkah.
"Kenapa malah jantung ku yang berdetak sangat cepat, ayo Farhan tenangkan dirimu," gumam Farhan di dalam hati.
Allena pun melepaskan tangan Farhan, membuat Farhan bisa bernafas lega. Allena memberi tahu foto yang sempat mereka cetak langsung, dan Allena tertawa melihat gaya Farhan yang sangat menggemaskan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Farhan.
"Liat lah gaya mu saat berfoto, sangat menggemaskan. Kau lucu juga ya," ucap Allena.
Farhan langsung tersipu malu, pipinya memerah seperti buah tomat. Allena yang memperhatikan tingkah Farhan langsung menggodanya.
"Pipi mu kenapa? Apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Allena.
__ADS_1
"Mungkin karena tadi terkena panas di laut jadi memerah," jawab Farhat yang gugup.
"Ah yang benar, aku merasa janggal. hehe ...," ucap Allena.
Allena yang menghabiskan waktunya bersama Farhan, berbeda dengan Akmal yang saat ini sedang sakit, terbaring di atas ranjangnya. Ia membuka mata dari tidurnya yang cukup panjang karena efek obat.
"Awak dah bangun sayang, saya buat sup rusuk," kata Meisita.
"Pukul berapa ni, kepala saya sakit?" tanya Akmal.
"Sudah lewat, sayang, awak tidur sepanjang hari. Mungkin kesan ubat yang diberi oleh Doktor Reza, jadi awak boleh berehat," jawab Meisita.
"Tolong buka tingkap tu, saya nak hirup udara," ucap Akmal.
Meisita pun membuka jendela kamarnya, sambil menyuapin Akmal semangkuk sup.
"Macam mana keadaan awak sayang, doktor Reza kata awak akan dirawat jika awak makan ubat ini tiada perubahan," jelas Meisita.
"Saya sihat, jadi jangan risau," sahut Akmal.
"Kalau boleh saya tanya, adakah pereka fesyen bernama Saras itu pereka terkenal? Apa maksud awak," tanya Akmal.
“Dia anak didik Lady designer, kerjanya sangat bagus. Ramai pegawai menggunakan khidmatnya," jelas Meisita.
“Bukankah awak suka kerja itu, sebelum terlambat saya akan menggunakan pereka lain," kata Meisita.
“Teruskan, saya mahu awak kelihatan sangat cantik memakai pakaian rekaan beliau," sahut Akmal.
“Okay sayang, terima kasih. I love you," ucap Meisita merasa sangat bahagia.
"Aku hanya ingin memastikan jika memang dia adalah Allena, lalu siapa yang meninggal dunia yang mengatas namakan Allena Saraswati. Aku harus segera menyelidiki semua ini," gumam Akmal berpura-pura tersenyum di depan Meisita.
BERSAMBUNG.
__ADS_1