
"Perhatian! Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
♡♡♡♡♡
Allena terus menatap Farhan yang terlihat sangat berbeda dari yang pernah dia temui di rumah sakit saat dirinya menjadi pasien. Entah apa yang membuat Ia berubah, atau memang dirinya yang baru menyadarinya. Atau rasa ini yang mulai tumbuh membuat nya sangat peka dengan perubahan yang ada.
'Dia sangat berbeda dari yang ku kenal, apa hanya perasaan ku saja. Banyak sekali yang tidak aku ketahui tentanh dirinya, tetapi dia sangat mengetahui semuanya tentang ku? Sebegitu pedulinya dia dengan ku, maaf aku belom bisa mengerti arti semua ini. Jasa kalian terlalu banyak dengan ku, kalian orang yang baik," gumam Allena di dalam hati.
Lagu selamat ulang tahun pun di nyanyikan ramai orang, di sertai tepuk tangan dan musik yang mengiringi membuat acara malam ini sangat lah meriah, saat Lady meniup lilinnya tiba-tiba terdengar suara kembang api yang merekah begity indah di atas langit.
Pemandangan itu membuat Allena tersenyum takjub.Tanpa di sadari tangannya di genggam oleh Farhan, membuat Allena menatapnya dengan senyuman.
Sentuhan itu tak bisa di tolak oleh Allena yang mulai menerima Farhan di dalam hidupnya. Kebaikannya yang mampu membukakan hati yang sempat terkunci karena trauma yang sangat dalam, perlahan hadir nya mampu membersihkan keraguan dan ke kecewaan yang selalu menghantui Allena.
Acara pun selesai, mereka masih melanjutkan pestanya sampai pagi hari, tidak dengan Allena yang meminta Farhan untuk mengantarkannya pulang.
"Aku sangat ngantuk, antarkan aku pulang," ucap Allena/Saras.
"Baiklah, liat lah mata mu memerah. Kau pasti menahan dari tadi ya?" tanya Farhan.
Mendapat anggukan dari Allena/Saras, akhirnya mereka meninggalkan pesta itu.
"Apa kau akan kembali ke pesta itu?" tanya Allena.
"Tidak, aku ingin istirahat di rumah mama," jawab Farhan.
"Sampai di rumah Lady, Allena langsung masuk ke dalam kamar dan segera membersihkan tubuhnya yang sangat lengket dan letih.
Allena masih memikirkan kenapa kebetulan sekali wanita yang menolong nya adalah ibu dari Farhan. Seolah seperti mimpi baginya.
Selesai membersihkan diri, Allena pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat emput, tak menunggu waktu lama. Matanya langsung terpejam dengan cepat.
Lelahnya di bawa oleh mimpi keliling alam bawa sadarnya, terlihat begitu pulas tidur itu, membuatnya tak menyadari jika matahari sudah mendahuluinya untuk menyinari bumi.
Allena terbangun karena suara bising ponselnya yang terus bergetar. Tangannya merabah mencari keberadaa ponsel itu sampai akhirnya Ia ganggam, dengan mata yang sayup-sayup, Allena memperhatikan nama yang ada di ponselnya.
Saras: "Ya. Hello."
Meisita : "Adakah ini benar Cik Saras?"
__ADS_1
Saras : "Hem ... Betul, ini saya, siapa ini?"
Meisita : " Saya Meisita, awak masih ingat saya kan? Saya nak tanya baju yang saya nak pakai untuk majlis perkahwinan adik ipar saya, boleh kita proceed."
Saras : "Boleh puan, kita jumpa di Cafe Lates pada pukul 16:00."
Meisita : "Baiklah."
Saluran telpon pun terputus, dengan rasa malas allena melemparkan ponselnya ke ranjang, dan kembali merebahkan tubuhnya. Terlihat dari balik hordeng, cahaya dari sinar matahari sangat silau, membuatnya langsung memeriksa ponselnya kembali.
Beratapa terkejutnya Ia melihat jam menunjukan pukul 11.00.
"Astaga, aku kesiangan. Bagai mana ini?" gerutu Allena.
Dengan hati-hati, Allena keluar dari kamarnya. Melihat setiap ruangan hening, hanya ada asisten rumah tangga yang sedang memasak untuk makan siang. Allena pun keluar dan menghampiri asisten rumah tangga itu.
"Mana semua Bi?" tanya Allena/Saras.
"Puan Lady ada di dalam biliknya, dan Encik Farhan sedang bersenam di tingkat atas," jawab Bi Ija.
"Ada apa mencaru ku," celetuk Farhan membuat Allena sangat kaget sampai menjerit.
"Ada apa?" tanya Farhan.
"Liatlah pakaian mu, kau terlihat sangat seksi," ucap Allena.
"Apanya yang seksi, kau ini tidak pernah melihat pria berolaraga," sahut Farhan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Enak saja, aku pernah melihatnya di televisi. Itu sama saja," ucap Allena dengan gugup.
Bi Ija yang mendengar percakapan mereka hanya bisa tersenyum, membuat Allena semakin bingung dengan tingkah Bi Ija.
"Bi Ija nak gelakkan aku juga ke?" tanya Allena/Saras.
"Korang ni kelakar sangat, makcik ingatkan anak makcik kat rumah," jawab Bi Ija.
"Kalau macam tu, tengok-tengok saja kami supaya dapat melepaskan rindu pada Makcik," sahut Allena/Saras.
Allena membantu Bi Ija menyajika makanan di atas meja makan, dengan teliti Allena/Saras mengelap semua piring yang akan di gunakan.
__ADS_1
"Kerja saya dah siap, saya nak mandi dulu boleh?" tanya Allena/Saras.
Bi Ija menganggukan kepalanya, Allena langsung kembali ke kamarnya, Ia masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
"Apa hari ini aku akan bertemu dengan Akmal lagi, tak sanggup aku melihat kemesraan mereka. Tapi aku harus bisa melawan semua itu, semangat Allena sekarang kau sudah menjadi Saras, jadi lakukan peran mu dengan baik," ucap Saras di depan cermin kamar mandi.
Mereka semua beekumpul di meja makan, makan siang bersama terasa sangat nikmat.
"Adakah awak tidur dengan nyenyak?" tanya Lady.
“Baik Puan, saya dah bangun lambat," jawab Allena.
“Puan ...," panggil Allena kepada Lady.
"Ya, ada apa," sahut Lady.
“Tidak lama lagi akan ada pertunjukan fesyen bertemakan Hawaii," ucap Allena.
"Bagus, dah sediakan semuanya?" tanya Lady.
“Ya puan, nanti saya tunjukkan semuanya," sahut Allena.
"Farhan, macam mana kerja awak di Indonesia?" tanya Lady.
“Baik, nampaknya tahun depan saya akan terus mengkhusus di Amsterdam," jawab Farhan membuat Allena langsung menoleh ke arahnya.
"Apa kau serius?" tanya Allena/Saras.
Farhan menganggukan kepalanya, sambil menyantap makanan yang akan dia makan. Allena langsung terdiam saat mendengar Farhan akan melanjutkan spesialis di kota Amsterdam, ada rasa sedih di dalam hatinya tetapi Ia tak mempu berkata apapun.
Farhan pun langsung melirik Allena/Saras yang terlihat sangat terkejut dengan ucapannya.
'Mungkin ini keputusan yang berat, aku akan terus menunggu mu sampai kau mau membuka hati untuk ku Allena,' batin Farhan.
Selesai makan siang, Allena langsung menuju ruang kerjanya menunjukan hasil karyanya untuk acara fashion show yang akan datang. Mereka pun membicarakan semua konsep yang akan di gunakan di acara itu, sampai akhirnya semua nya tersusun rapih dan Allena langsung menutup buku dan tab nya. Lalu kembali ke kamarnya, saat Ia berjalan melewati ruang tamu, Ia melihat Farhat sedang duduk di taman.
Allena yang melihat Farhan duduk sambil melamun, langsung menghampirinya.
"Melamun itu tidak baik, nanti bisa kesambet," celetuk Allena membuat Farhan tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG.