
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Semua orang keluar dari ruang rapat, hanya tersisa Allena dan Akmal di dalam ruang rapat, Allena pun akan keluar dari ruangan itu. Tetapi Akmal meraih tangannya dengan cepat.
Mendapat sentuhan dari Akmal, langkah Allena pun terhenti dan menatap tajam Akmal.
"Lepaskan aku," ucap Allena.
Akmal tersenyum sinis dan mendekati Allena, Ia berusaha menghindarinya.
"Pria yang kejam! Apa mau mu?" tanya Allena.
"Aku sangat merindukan mu, apa kau lupa semua kenangan kita sayang," bisik Akmal membuat Allena semakin kesal.
"Hentikan ucapan mu, jika kau tidak ingin karir mu hancur. Akmal Syeki," ucap Allena.
Akmal sangat terkejut mendengar Allena menyebutkan nama aslinya, seketika Ia mundur dari hadapannya.
Wajahnya terlihat sangat terkejut, seolah tak mengkin seorang Allena wanita lemah bisa mengetahui semua identitas aslinya.
Allena langsung keluar dari ruangan itu, sesaat melihat Akmal dengan wajah yang bingung dan terkejut, membuatnya tersenyum manis dan berjalan dengan anggun keluar dari ruang rapat.
Allena berjalan sampai bertemu dengan Oji yang sudah menunggunya di luar ruang rapat.
"Cik, kita perlu pulang segera. Jadual untuk pertunjukan fesyen telah diketahui oleh pereka Elian," bisik Oji membuat Allena langsung merubah wajahnya menjadi datar.
"Kita pulang sekarang," ajak Allena.
Akmal yang ikut keluar dari ruang rapat pun menatap Allena yang sudah menjauh dari hadapannya, merasa heran dengan apa yang di ketahuinya.
'Aku rasa, ada yang membantunya dalam pencarian identitaa ku,' batin Akmal.
Tidak bapak yang tahu tentang identitas asli milik Akmal, saat menjabat sebagai CEO Selom Group pun, Ia menggunakan nama Akmal saja. Permintaan itu di kabulkan oleh sang istri yang sangat mencintainya.
Allena berjalan meninggalkan gedung Selom Group.
"Bagaimana ia berlaku?" tanya Allena.
“Maafkan kami Cik, ada seseorang yang datang mewakili orang di jabatan telekomunikasi yang akan membaiki sistem Wifi di tempat kami berada," jelas Oji.
"Esok persembahan akan bermula, perlukah kita mengadakan mesyuarat?" tanya Allena.
__ADS_1
“Nampaknya satu mesyuarat tergempar mesti diadakan Cik," jawab Oji.
"Baiklah, awak hubungi mereka yang terlibat dalam acara esok," sahut Allena.
Mobil dengan cepat memasuki kantor miliknya, dengan terburu-buru. Allena masuk ke dalam kantor di ikuti oleh Oji di belakangnya.
"Suruh mereka masuk ke bilik saya," perintah Allena.
Mereka semua yang terlibat di dalam acara Fashion Show, langsung masuk ke dalam ruangan Allena/Saras. Saras menunjukan ruang rahasia yang memang tersembunyi di balik ruangan kain.
Mereka para karyawan yang ada di dalam ruangan itu, cukup terkejut. Ini pertama kalinya mereka di bawa masuk oleh Allena/Saras masuk ke dalam ruang rahasia.
"Pernahkah anda semua mendengar berita buruk tentang persiapan kami yang telah dibocorkan oleh orang lain?" tanya Allena/Saras.
"Ya Cik,"
Jawaban kompak dari teamnya.
"Baiklah, sekarang kita hanya boleh menggunakan cara yang pantas. Kerana masanya adalah mustahil jika kita perlu mengubah segala-galanya, kalian mengerti," jelas Saras.
Semua yang ada di dalam rapat sedang mendengarkan arahan dari Allena/Saras yang sedang menyimpangkan semua rencana awalnya, mereka semua terlihat sangat serius.
“Itu tentang rancangan kita, saya harap kamu dapat bekerja sama dengan baik dan bersatu padu, mari kita tamatkan pertemuan ini dan pulang berehat, esok kita lawan lagi. Tetap semangat!" jelas Allena/Saras.
“Bergembiralah Cik!"
Suara itu terdengar sangat kompak membuat Allena tersenyum.
Mereka pun keluar dari ruangan Saras, tidak dengan Saras yang masih duduk dan masih fokus dengan laptonya. Oji yang melihat Saras masih di dalam ruangnya langsung mendekat.
“Cik, awak tinggal di pejabat ke?" tanya Oji.
"Saya rasa saya akan tidur di sini, kenapa awak tidak pulang ke rumah?" sahut Saras.
“Saya tak boleh tinggalkan Cik di sini seorang, saya juga akan tidur di bilik saya Cik," ucap Oji.
Allena melipat tangannya di atas meja dan menatap Oji dengan senyuman.
"Kamu perlu pulang, jangan kisah saya, ada pengawal keselamatan yang berkawal," ucap Saras.
Oji dengan berat hati meninggalkan Saras seorang diri, Ia terus berjalan keluar kantor itu.
__ADS_1
Meisita pulang ke mansion cukup larut, melihat keadaan mansion sangat gelap, membuatnya masuk perlahan-lahan takut membangunkan para asisten rumah tangganya.
Saat kakinya melangkah masuk, terdengae suara mobil masuk membuat Meisita menoleh ke arah suara, Ia melihat di balik jendela yang mengarah ke tempat parkiran.
Meisita melihat Akmal baru saja keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke dalam mansion. Dengan cepat Ia langsung masuk ke dalam kamar, cukup panik. Meisita akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Akmal yang sedang berjalan masuk ke dalam, tidak menyadari jika meisita pun baru pulang dari tempak Adam. Ia masuk ke dalam kamarnya, mendengar suara percikan air dari kamar mandi membuatnya langsung melepaskan pakaiannya dan ikut masuk ke kamar mandi yang sengaja tidak di kunci.
Meisita yang terkejut saat Akmal masuk ke dalam kamar mandi, membuatnya berpura-pura tersenyum.
Dengan romantis Akmal membelai Meisita dari belakang dengan penuh gairah, Meisita yang mengingat foto suaminya bersama wanita lain membuat hatinya hancur.
Akmal terus melakukan aksi yang sangat menggebu-gebu, Meisita terpaksa melayani suaminya di kamar mandi, dengan buliran air mata yang menetes bersamaan air yang mengalir dari shower.
Saras masih terjaga menatap layar leptopnya, merasa kantuknya datang, Ia pun berjalan keluar ruangan untuk membuat copucino. Satpam yang melihat bosnya masih berada di dalam kantor langsung mendekat.
“Kenapa Cik tak balik rumah? Ada kerja penting sangat ke?" tanya Pak Edo.
Allena yang mendengar suara itu secara tiba-tiba langsung menjatuhkan secangkir capucino hangat ke lantai. Ia sangat terkejut sehingga membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
Pak Edo membantu Saras menbuatkan kembali capucino itu, Saras yang melihat ternyata pak Edo langsung bernapas lega.
"Encik Edo. Saya rasa hantu telah datang ke sini," sahut Saras memegang dadanya.
Pak Edo tersenyum, sambil memberikan secangkir capucino yang baru di buat untuk Saras.
"Sekarang ini nampaknya hantu tidak lagi tua Cik," ucap pak Edo.
“Macam mana kalau hantu betul, saya boleh pengsan encik," kata Saras menerima capucino dari pak Edo.
"Terima kasih,"
Saras langsug menghirup caupino itu, dan mengajak pak Edo untuk duduk di ruang tunggu.
"Dengan siapa, Encik Edo jaga?" tanya Allena/Saras.
"Kami jaga 2 Cik, saya sengaja periksa seluruh bilik pejabat. Sebab saya nampak dalam bilik Cik lampu masih menyala," jelas pak Edo.
Saras dan pak Edo berbincang hangat, tentang sesuatu yang cukup serius.
BERSAMBUNG.
__ADS_1