Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Rencana balas dendam


__ADS_3

"Kau sudah siuman? Bagaimana kondisi mu saat ini?" tanya Farhan.


Mendengar suara Farhan, Allena yang sedang makan sup langsung menoleh ke sumber suara.


"Aku sudah baikan, ada apa kemari?" sahut Allena.


Farhan membawa beberapa lembar kertas yang bertuliskan semua identitas Akmal, tak kuasa Ia memberitahu semuanya kepada Allena tetapi semakin di pendam akan membuat Allena semakin sakit jika dirinya dengar dari orang lain.


Allena yang melihat Farhan membawa beberapa kertas hanya melirik lalu bertanya, "apa yang kau bawa?"


Farhan pun duduk di sofa yang ada di kamar itu, melihat Allena sedang menikmati makannya.


"makan lah dulu, nanti kita obrolin," ucap Farhan.


"Tentang apa?" tanya Allena.


Farhan tak menjawab apapun, hanya terdiam dan memainkan ponselnya. Membuat Allena kembali menghabiskan makananya.


"Aku sudah selesai makan, katakan sekarang," ucap Allena.


Farhan memberikan beberapa kartas itu, membuat Allena semakin bingung tetapi menerimanya.


"Apa ini?" tanya Allena.


"Ini semua riwayat kehidupan Akmal," jawab Farhan.


Allena membaca satu persatu kertas itu, betapa terkejutnya dirinya setelah membaca semuanya. Perasaanya sangat kacau, sampai Ia tak sanggup lagi berkata apapun.


"Aku curiga dia mengganti namanya untuk dekat dengan mu," ucap Farhan.


Tidak mendapat jawaban dari Allena, berulang kali Ia membaca kertas itu karena Ia sempat tidak percaya dengan apa yang sudah di ketahui.


"Kau bisa memenjarakan dia, karena penipuan," kata Farhan.


"Apa aku tidak salah membaca semua ini Han, apa berita ini akurat?" tanya Allena.


"Aku sengaja menyuruh orang dalam untuk mencari tahu semua tentang Akmal, itu yang ku dapatkan," jelas Farhan.


"Apa kau tahu nama orang tuanya?" tanya Allena.

__ADS_1


"Tentu," ucap Farhan memberitahu foto keluarga Akmal.


"Ayahnya Akmal bernama Dalang, " jawab Farhan.


Makin terkejut saat semua yang dulu di katakan Akmal jauh berbeda dengan kebenaran yang saat ini dia ketahui. Foto ayahnya pun berbeda dengan pria yang pernah mengobrol dengannya melalui Vido Call.


Allena langsung menutup mulutnya, kini dirinya telah di khianati dan di bohongi oleh orang yang sangat Ia sangat. Kini sisa rasa di dalam hatinya berubah seketika menjadi benci dan penuh dengan dendam.


Allena berusaha mengatur napasnya, Farhan yang melihat kondisi Allena semakin terpuruk hanya berdiam diri. Ia tak berkata apapun kecuali membantu Allena mencari kebenaran yang tidak di ketahui olehnya.


"Ini tidak mungkin, semua yang ku baca jauh berbeda dengan apa yang di katakan Akmal. Jadi aku ini di anggap apa? Tega sekali dia menyakiti ku seperti ini," ucap Allena.


Farhan berusaha menenangkan Allena yang mulai meneteska air matanya, perlahan Ia memeluk Allena, saat itu juga tangisnya pun pecah.


Ia menangis histerik seolah merasa dunia sangat tidak adil baginya, semua orang jahat dengan dirinya, bukan hanya keluarganya saja tetapi suami yang sangat dia cintai pun berani berbohong dan menyakitinya.


"Kenapa ... kenapa harus aku yang ada diposisi ini, kenapa?" ucap Allena dengan suara yang gemetar.


Farhan berusaha mengusap punggung tangan Allena, agar Ia lebih tenang lagi. Suara sendunya membuat Farhan akhirnya membuka suara.


"Aku akan tetap bersamamu, kamu tidak sendirian," ucap Farhan.


Allena langsung melepaskan pelukan itu, menatap Farhan dengan sendu.


"Ikuti kata hati mu, ingat semua yang sudah di lakukan Akmal dengan mu," jawab Farhan.


"Baiklah, bisakah kau tinggalkan aku sendirian? Aku butuh waktu untuk berfikir," pinta Allena.


Farhan pun menuruti kemauannya, Ia segera keluar dari kamar Allena. Ada rasa kesal dan sedih karena orang yang dia cintai menderita dan hatinya begitu nangis saat melihat Allena menangis.


♡♡♡


Akmal yang sedang teebaring di kamarnya, mendengar suara pintu terbuka. Meisita masuk ke dalam, melihat suaminya dengan wajah yang penuh lebam membuatnya terkejut.


"Sayang, kenapa?" tanya Meisita.


Akmal dengan lemas membuka matanya, melihat wajah Meisita yang terlihat sangat panik.


"Aku tengah bergaduh dengan orang yang aku tak kenal, tiba-tiba dia serang aku dari belakang," jawab Akmal.

__ADS_1


“Siapa yang berani buat semua ni?" tanya Meisita.


“Lupakan saja, mungkin mereka salah orang. Jangan risaukan saya, saya sihat sayang," jawab Akmal dengan senyumannya.


Meisita pun langsung menghapuas make up dan membersihkan diri, masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Ia berfikir jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Akmal. Membuat nya langsung berendam untuk menghilangkan rasa lelah dan letih.


Akmal melihat istrinya sedang berada di kamar mandi, Ia pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Abbas yang saat ini masih ada di Indonesia.


Obrolan mereka sangat lah serius hingga akhinya Abbas menceritakan jika Allena pernah mengalami keguguran dan di rawat di rumah sakit Bersama Medika. Mendengar semua Itu Akmal pun langsung menutup telpon itu.


'Jadi selama aku ada di sini, dia mengandung anak ku. Kenapa dia tidak bilang dengan ku, sialan!' batin Akmal.


Ke esokan harinya, setelah luka di wajah Akmal sudah membaik. Hampir tidak terlihat bekas memar di wajahnya.


Akmal bersiap untuk berangkat ke kantor, di ikuti oleh Meisita yang selalu mengantarnya sampai ke depan pintu utama.


Sampai di kantor, Akmal langsung masuk ke dalam ruangannya. Melihat pekerjaan yang cukup menumpuk dan list rapat pun cukup membuat nya sibuk.


"Tuan, nampaknya kami memerlukan pereka untuk produk baru kami yang akan dikeluarkan tidak lama lagi," ucap Zidan.


"Seorang pereka? Bagaimana jika kita menggunakan pereka fesyen?" tanya Akmal.


Di dalam pikirannya, Akmal langsung mengarah ke Allena yang sekarang menjadi seorang desainer terkenal dengan nama Saras.


“Ya encik, nak guna pereka siapa?" kata Zidan.


“Saras, saya dengar dia sangat berbakat dalam hal itu," jawab Akmal.


“Cik Saras, seorang pereka yang cukup terkenal di kalangan atasan?" tanya Zidan.


“Betul ... kau kenal dia? kalau benar itu lagi bagus, hubungi dia," sahut Akmal.


Zidan pun langsung kembali ke ruangannya, dan meninggalakn ruangan Akmal. Memikirkan jika Allena akan bekerja sama dengannya, membuat Akmal sangat senang, dan berniat akan merencanakan sesuatu yang tidak baik.


Zidan langsung membuat pesan singkat kepada Saras melalui e-mail, belom mendapat balasan dari Saras, dia pun langsung menghampiri Akmal untuk rapat dengan kliennya.


Allena yang sudah membaik dan mulai masuk kerja, tiba-tiba asistennya datang dengan girang menunjukan pesan masuk kepada Allena membuatnya sangat terkejut.

__ADS_1


Matanya melotot seolah kaget dengan semua yang ada, saat Oji menyebut nama perusahaan itu Allena masih memikirkan cara untuk menolak dengan halus.


BERSAMBUNG.


__ADS_2