
"Perhatian! Sebagian teks ini menggunakan bahasa melayu, harap bijal dalam membaca."
Allena pun langsung teringat semua yang terjadi kepadanya, bagai mana Akmal berusaha untuk membunuhnya tetapi tidak berhasil, membuat Allena akhirnya bisa melarikan diri.
"Akmal!" ucap Allena.
"Ada apa? Apa dia menyekapmu?" tanya Farhan.
Allena menganggukan kepalanya, membuat Farhan bangkit dari duduknya tetapi di cegah oleh Allena.
"Tetap di sini bersamaku, jangan pergi," ucap Allena.
"Dia harus di beri pelajaran," ucap Farhan.
"Dia mengetahui semuanya, dan hampir membunuhku, kau harus berhati-hati," kata Allena.
Meisita yang mengetahui Allena di rawat di rumah sakit langsung datang bersama Nurhaliza, ia mencari keberadaan Allena dan akhirnya salah satu dari perawat yang berjaga menghantarkan mereka bertemu dengan Allena.
"Cik Saras, apa yang terjadi? Kenapa awak terluka," tanya Meisita.
"Aku di serang oleh Akmal, untungnya aku bisa melarikan diri," jawab Allena.
"Lelaki ganas bodoh, ini tidak boleh dibenarkan. Saya mesti membalasnya," marah Meisita membuat Farhan langsung mencergahnya untuk bertindak gegabah.
“Sabar, tidak lama lagi akan ada majlis perasmian syarikat berprestij yang tercalon untuk 5 teratas, Selom Group termasuk dalam kategori, saya harap puan dapat hadir ke majlis tersebut kerana hanya pemilik asal boleh datang tanda tangan," jelas Farhan.
"Baiklah, saya akan menghadiri majlis itu," sahut Meisita.
Farhan memberikan susunan rencananya kepada Meisita dengan detail Farhan menjelaskan satu persatu rencana yang akan di jalankan, ia terlihat sangat serius membahas masalah ini.
Meisita pun menyetujui semua yang di rencanakan Farhan, begitu juga Allena menyetujuinya.
Farhan berharap Akmal bisa masuk ke dalam perangkapnya.
Berbeda dengan Akmal yang kesakitan karena bagian vitalnya sempat di tendang oleh Allena membuatnya harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya.
Akmal di temani dengan Abbas, berjalan ke rumah sakit dan menemui dokter. Setelah di periksa dan menebus obat, Akmal duduk di kursi pasien, melihat ada wanita paruh baya sedang duduk di ujung. Membuat Akmal memperhatikan wanita itu.
"Wanita itu seperti tidak asing bagi ku? Tapi siapa dia?"gumam Akmal.
Tidak lama, Meisita yang baru saja menebus obat untuk Nurhaliza karena sekalian ia menemaninya berubah karena sedang tidak enak badan.
Meisita berjalan melewati Akmal menuju Nurhaliza, Akmal pun terkejut bukan main, melihat Meisita dengan senyum ceriahnya mengajak Nurhaliza untuk kembali ke ruang perawatan, untuk menemui Allena.
"Meisita!" gumam Akmal yang akan menghampirinya tetapi tertahan karena ponselnya berdering.
__ADS_1
Merasa kesal dengan ponselnya yang terus berdering membuatnya terpaksa menghentikan niatnya untuk memanggil Meisita dan mengangkat telpon itu.
Asisten Zidan : "Tuan, maaf mengganggu, lusa ada majlis perasmian syarikat berprestij yang berada dalam top 5, adakah tuan akan menghadiri majlis tersebut. Aku dan pak Aizul dah balik."
Akmal pun menyuruh Zidan untuk mempersiapkan semuanya, karena waktunya sangat singkat. Selesai mengobrol dengan Zidan, tiba-tiba Akmal kehilangan Meisita.
"Sial!" seru nya sambil mengepal tangannya.
"Kemana perginya Meisita," gumam Akmal.
Akmal mencari di sekitaran tempat itu, tetapi tidak menemukan Meisita, merasa kesal. Ia pun akhirnya keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil.
Abbas yang melihat wajah Akmal sangat kesal langsung menatapnya.
"Ada apa?" tanya Abbas.
"Aku sempat melihat Meisita, tapi ponsel ku berbunyi dan aku kehilangan jejaknya. Sial!" kesal Akmal.
"Artinya dia masih di sekitaran sini," sahut Abbas.
"Kau benar, tapi aku tadi melihat dia bersama wanita paruh baya. Aku merasa tidak asing dengan wanita itu," kata Akmal.
"Wanita paruh baya? Apa itu ibu mu?" tanya Abbas.
"Bicara apa kau ini? Mana mungkin, dia sudah ku singkirkan sangat jauh, mana mungkin dia kembali ke sini," kata Akmal.
Merasa penasaran Akmal pun akhirnya menghubungi pihak yayasan panti jompo yang ada di Delhi, mereka bercakap menggunakan bahasa inggris, direktur yayasan mengatakan jika orang tua akmal baik-baik saja. Membuat Akmal mengakhiri sambungan telpon.
"Dia baik-baik saja, lalu siapa yang bersama Meisita itu?" ucap Akmal.
"Jika Allena menolong Meisita, itu artinya ia tinggal satu rumah. Apa dia keluarga dari Allena?" tanya Abbas.
"Kemungkinan besar seperti itu," ucap Akmal.
Mobil melaju untuk menemui Aizul, di dalam perjalanan mobil yang di kendarai Abbas memasuki kawasan perumaham elit yang ada di kuala lumpur, saat Abbas memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba seorang penjaga datang menhampiri mobil itu.
"Maaf tuan, Encik Aizul tidak dapat ditemui oleh sesiapa," ucap penjaga gerbang.
“Cakap saja, Akmal Syeki nak jumpa dia," pinta Abbas.
"Tidak tuan, ini adalah peraturan di sini," tegas penjaga.
Abbas mulai mengepalkan tangannya, merasa kesal dengan penjaga. Dan ingin memukulnya tetapi di cegah oleh Akmal.
"Tahan amarah mu, kita pulang saja. Aku rasa ada yang tidak beres," kata Akmal.
__ADS_1
Abbas langsung menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan rumah mewah itu.
"Aku rasa dia sengaja menghindar untuk alasan tertentu," ucap Akmal.
"Apa kau tidak curiga dengannya?" tanya Abbas.
"Kita liat saja, besok akan di adakan acara pelantikan di salah satu gedung yang memiliki fasilitas yanb sangat memadahi, aku ingin melihat dia dan berbicara langsung dengannya," ucap Akmal.
"kita ke kantor," ucap Akmal.
"Apa kau yakin, apa itu mu tidak sakit?" tanya Abbas.
Akmal menatap Abbas dan melirik bagian vitalnya dan langsung menutupnya dengan tangan.
"Ini hanya kesenggol sedikit saja, tidak fatal," kata Akmal.
Mobil langsung melaju ke kantor. Zidan terlihat sangat panik membuat Akmal yang baru sampai bingung dengan ke adaan kantor yang terlihat sangat kacau.
"Zidan!" panggil Akmal.
"Apa yang berlaku? kenapa semua orang kelihatan sangat panik," tanya Abbas.
"Tuan, gawat tuan, semua salinan data projek kami telah hilang dan tidak sah apabila diakses, ini boleh memusnahkan penjualan produk kami tuan," jelas Zidan.
"Apa!" seru Akmal.
Abbas langsung memeriksa salah satu komputer milik karyawan yang sedang bekerja. Ia berusaha mengakses data, tetapi tidak bisa. Berkali-kali Abbas mencoba tetap saja gagal.
"Aku rasa ada yang menyadap semua data kita, tapi siapa?" ucap Abbas.
"Sial!"
Teriak Akmal dengan penuh amarah, ia mengepalkan tangannya dan memukulkan tangannya di atas meja.
"Ini sudah keterlaluan, beraninya mereka bermain belakang seperti ini! Awas kau, siapa pun dia, dia harus mati di tangan ku," ancam Akmal.
Zidan menemukan alat yang berbentuk seperti koin, terletak di dekat komputer salah satu karyawan yang bekerja di tempat itu.
"Apa ni?" tanya Zidan.
"Nampaknya seseorang sengaja meletakkan alat ini untuk menyadap semua data di tempat kami," jelas Zidan setelah mengamati alat itu.
"Siapa yang berani memasang alat itu, apa ku yang sengaja melakukannya?" tuduh Akmal menunjuk karyawatinya.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu sama sekali tuan. Ampuni saya," ucap karyawati.
__ADS_1
BERSAMBUNG....