
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Selesai melaksanakan pemakaman orang tuanya, Meisita memutuskan untuk pulang. Di dalam kamar Ia mengusap air matanya, menatap kaca sambil merapihkan rambutnya.
Meisita mengganti pakaiannya dengan pakaian yang casual, Ia pergi dengan melajukan mobilnya. Akmal yang baru saja masuk ke mansion melihat mobil Meisita keluar dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Kemana dia akan pergi?" gumam Akmal.
Akmal pun masuk ke dalam Mansion dan menemui asisten rumah tangganya.
"Bik, tahu tak Meisita pergi mana?" tanya Akmal.
“Tidak Encik, puan kelihatan tergesa-gesa menukar pakaian dan keluar tanpa memberitahu Makcik," jelas asisten rumah tangga.
Akmal merasa ada yang ganjal dengan Meisita, tetapi berbeda dengan Meisita yang langsung menepikan mobilnya ke tempat yang memang khusus untuk memeriksa CCTV jalanan.
Meisita masuk ke dalam gedung itu dan mulai menanyakan secara detail kejadian kecelakaan yang menimpa orang tuanya.
Dengan teliti petugas itu, memperlihatkan tangkapan layar CCTV pada malam kecelakaan, terlihat begitu tragis membuat Meisita menutup mulutnya, Ia merasa tidak menyangka bahka kecelakaan itu sangat mengerikan. Terlihat dari ujung kamera ada seorang pria berpakaian serba hitam memakai topi dan masker.
Ketika Meisita melihat ada pria itu di tempat kejadian, Ia meminta petugas CCTV memperbesar layar monitornya. Ia memperhatikan pria itu tetapi tak mampu Ia kenali.
Meisita langsung meminta copy file kepada petugas itu, Ia langsung keluar gedung menuju rumah Adam.
Di dalam perjalan Ia mengemudi seorang diri tanpa di temani siapapun, berbeda dengan Akmal yang malam itu juga keluar dari mansion Ia pergi ke salah stu hotel untuk menemui Abbas.
Saat dirinya membuka pintu kamar hotel Abbas dengan menggunakan kunci cadangan, terlihat Abbas sedang bermain gila dengan wanita bayarannya.
Membuatnya menghentikan aktivitasnya dan menyuruh perempuan itu untuk pergi.
"Pergi lah ke kamar sebelah, aku ada urusan dengan pria ini," ucap Abbas.
Perempuan cantik itu keluar dengan menggunakan kimono untuk menutupi tubuhnya.
"Kau ini mengganggu saja, apa tidal bisa menelpon terlebih dahulu," ucap Abbas.
__ADS_1
"Meisita pergi dari selesai acara pemakaman, entah dia pergi kemana? Sampai sekarang belom kembali," kata Akmal.
"Apa dia harus di habisi juga? Tangan ku sangat ingin bersilahturahmi dengan mereka," sahut Abbas.
"Aku tidak mau melukai nya, aku hanya menginginkan Selom Group kembali ke tangan ku," ucap Akmal.
"Artinya kau harus menghabisi nya, apa lagi dia sekarang sudah tahu kartu mati mu, bahkan hubungan mu dengan Allena saja dia mengetahuinya, apa itu tidak akan menghambat semua ke inginan mu?" tanya Abbas.
"Entah aku tidak tahu, bagai mana apa kau sudah menghilangkan jejak mu?" tanya Akmal.
Abbas mengingat kejadian saat orang tua Meisita mengalami kecelakaan, Ia lupa untuk meminta copy file CCTV yang ada di jalan.
"CCTV," ucap Abbas.
"Maksud mu?" tanya Akmal.
Abbas langsung mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kaos, Ia segera keluar dari dalam hotel di ikuti oleh Akmal yang masih bingung dengan tingkah Abbas.
Sampai di dalam mobil, Abbas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku lupa meminta copy file CCTV jalan, kita harus segera ke sana," jawab Abbas.
Mereka dengan perasaan yang sangat menegangkan, menepikan mobilnya di salah satu gedung yang memang khusus untuk memantau CCTV di setiap jalan.
Abbas masuk ke dalam dan menanyakan kepasa petugas, dan petugas itu pun mengatakan jika baru saja ada seorang wanita yang meminta copy file itu.
Abbas saling bertatapan dengan Akmal, seolah di dalam pemikiran mereka adalah Meisita yang tengah datang ke situ.
Abbas langsung melihat rekaman CCTV di tempat kejadian. Ia melihat secara detail, terlihat dirinya yang tertangkap kamera dengan pakaian yang tertutup, hampir tidak bisa di kenali. Membuatnya cukup lega.
"Itu artinya Meisita mulai mencurigai kita," ucap Abbas.
"Tapi sepertinya tidak, dia bahkan tidak mengenali pria yang ada di dalam CCTV itu," kata Akmal.
Mereka pun terdiam dan melajukan mobil itu kembali ke hotel, Meisita yang hampir sampai di tempat Adam, melihat ada garis polisi melingkari tempat itu. Terlihat ada polisi yang berjaga, membuat Inka turun dari mobil.
__ADS_1
"Maaf tuan, apakah ini? Kenapa rumah Encik Adam dikelilingi barisan polis? Dan kenapa semua ini?" tanya Meisita dengan begitu panik.
"Terdapat satu letupan yang sangat ganas puan, membunuh Encik Adam yang berada di dalam rumah," jelas polisi.
Meisita menutup mulutnya, Ia sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa Adam, bulir air matanya menetes, mengingat kebaikan Adam kepadanya. Hatinya kembali hancur berkeping-keping, Ia berusaha untuk memaski lokasi ledakan itu.
“Boleh saya masuk ke dalam untuk pastikan semuanya tuan, saya mohon. Encik Adam adalah orang penting dalam hidup saya," pinta Meisita untuk terakhir kalinya.
Awalnya polisi tidak mengizinkan, karena tahu siapa sesungguhnya Meisita. Akhirnya Ia di ijin kan masuk ke dalam di temani dengan satu polisi yang berjaga di tempat kejadian.
Meisita masuk ke dalam, berjalan melihat rumah yang hampir roboh karena ledakan yang sangat hebat, membuat Meisita tidak bisa menerima semuana kenyataan yang sedang dia hadapi.
"TIDAK!...."
Teriakan itu membuatnya ambruk ke tanah, tangisnya pun pecah, Ia seperti tidak ada tujuan harus berlindung dengan siapa. Orang tuanya meninggal dunia dengan tidak wajar dan di tambah kematian Adam yang secara tiba-tiba. Membuatnya sangat terpukul, suaminya menghianati dirinya. Sesak di dadanya membuat hatinya hancur.
Terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu, Meisita akhirnya mengusap air matanya dan bangkit berdiri, menatap wajah polisi itu.
"Saya ingin menyiasat kes Encik Adam dan ibu bapa saya," ucap Meisita.
"Baik puan, esok puan kena pergi ke balai polis. Untuk diproses segera," jawab polisi.
Meisita menganggukan kepalanya dan kembali masuk ke dalam mobil, Terlintas rasa dendam di dalam hatinya, tanpa menyadari Ia melaju dengan kecepatan tinggi.
Memasuki mansion, Meisita tidak melihat Akmal, Ia tak memperdulikan semua itu. Karena rasa letihnya membuatnya langsung mempersihkan diri dan tidur untuk mengurangi rasa sedihnya.
Matanya terpejam dengan cepat di ikuti sesenggukan napasnya yang sangat berat karena terus menangis. Kesedihan itu akan di bawa oleh malam yang selalu datang dengan kesunyian.
Mobil Akmal baru saja memasuki mansion melihat mobil Meisita sudah terparti membuatnya langsung membuka mobil itu dan memeriksa kamera CCTV yang ada di dalam mobil.
Saat cips itu masuk ke dalam ponselnya, Ia melihat Meisita berhenti di gedung CCTV dan kembali melaju ke daerah tempat Adam tinggal. Akmal pun langsung melepaskan cips itu dan meletakannya di tempatnya.
Akmal masuk ke dalam melihat Meisita sudah tertidur pulas membuatnya langsung mengambil bantal dan meletakan di wajah Meisita, sehinggal Meisita pun kesusahan bernapas.
BERSAMBUNG....
__ADS_1