
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Meisita merasa puas dengan gaun yang di gunakan, dan merasa cantik dan pernuh percaya diri.
Saras segera pamit dan pergi meninggalkan mansion dengan segera, Ia dan Oji berjalan keluar dari pintu utama dan berjalan menuju mobilnya. Saat Ia berjalan, tal sengaja matanya menatap Akmal yang ada di dekat mobilnya. Dengan terburu-buru Saras langsung masuk ke dalam mobil.
Oji yang melihat Saras tidak seperti biasanya langsung masuk ke dalam mobil dan bertanya, "Cik, awak sihat?"
Saras menganggukan kepalanya, menandakan iya.
“Pemandu, cepat naik kereta ni. Saya nak jumpa seseorang," ucap Saras.
Mobil pun melaju dengan kecepatan yang sedang, saat keluar dari komllek elit itu, Allena/Saras sedikit lega. Tapi pikirannya masih kacau perihal kejadian yang barusan di alaminya.
Di dalam mobil Allena/Saras hanya terdiam, sehingga mobil itu masuk ke area parkiran kantonya, Saras keluar mobil dan berjalan menuju ruangannya.
Allena/Saras meletakan tasnya di atas meja, Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Teringat kejadia saat dirinya berada di kamar mandi bersama Akmal, membuatnya langsung mengepalkan tangannya.
Rasa sakit di dalam hati nya berubah menjadi dendam.
♡♡♡
Hari pernikahan Akbar pun di gelar di hotel berbintang.
Rangkaian bunga menghiasi setiap sudut aula itu, di sertai dengan dekorasi yang sangat indah di padu dengan sinar lampu membuatnya semakin indah.
Tamu undangan yang ingin menyaksikan acara ijab kobul pun mulai berdatangan, tak ada dari mereka yang mengenakan pakaian biasa. Semua orang yang hadir menggunakan pakaian terbaiknya, termasuk dengan Allena/Saras yang ikut di undang di acara itu.
Riasan terpoles di wajahnya yang oval, balutan gaun berwara merah merona melekat di tubuh langsing itu, terlihat dari pantulan cermin. Allena/Saras sedang memakai anting yang di berikan oleh Farhan.
Setelah selesai merias, Ia melihat diririnya di pantulan cermin itu langsung tersenyum puas.
Berjalan keluar kamarnya, membuat Farhan dan Lady yang sudah menunggunya merasa takjub, dengan penampilan Allena yang sangat elegan dan cantik. Senyum di bibirnya semakin makin sehingga Fathan hampir tak sadarkan diri.
"Hei ... apa yang kau lamun kan?" tanya Allena.
"Anu ... itu loh, ayam eh. Bukan, maksud ku ayo kita berangkat," ucap Farhan.
__ADS_1
“Kamu berdua pergilah, saya kena jumpa seseorang dulu," ucap Lady.
“Okey, kita pergi dulu," kata Farhan.
Allena pergi bersama Farhan yang terlihat sangat tampan mengenakan setelan jas hitam membuat mereka berdua terlihat sangat cocok. Mereka berjalan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah di siapkan oleg Farhan.
Di dalam perjalanan, Farhan terus memandangi Allena yang terlihat sangat anggun dan cantik mempesona.
"Jangan memandangi ku seperti itu," ucap Allena.
"Kau sangat cantik, membuat ku ingin terus memandangi mu," sahut Farhan.
Mobil pun masuk ke dalam hotel, terlihat dari luar hotel, banyak tamu undangan yang berdatangan. Membuat mobil yang di naiki Farhan tak bisa mengantarnya sampai pintu masuk, akhirnya mereka turun dan berjalan untuk bisa masuk ke dalam hotel itu.
Allena menggandeng tangan Farhan dan tersenyum manis, membuat Farhan menatapnya sekilas dan kembali berjalan dengan penuh percaya diri.
Saat Farhan menyerahkan undangan kepada panitia yang berjaga, Akmal melihat Allena yang menggandeng Farhan. Membuatnya langsung mengaktifkan earphone nya dan berbicara sesuatu untuk siaga.
Entah apa yang di akan di lakukan kepada Allena/Saras, sepertinya Akmal telah mempersiapkan sesuatu yang serius.
"Masha Allah, Cik Saras. anda kelihatan begitu cantik," ucap Meisita.
"Puan Mei, awak juga sangat cantik. Saya hampir tidak mengenali awak," sahut Saras.
“Jom masuk, dan nikmati juadah yang telah disediakan," ajak Meisita kepada Saras.
Mereka semua masuk ke dalam acara, dan Saras duduk di kursi VIP bersama Farhan, mereka sibuk berbincang perihal masalah bisnis dan kebiasaan unik yang di alaminya.
Akmal terus memperhatikan Saras yang tertawa bersama tamu undangan lainnya, tiba-tiba ada satu pelayan yang mengantarkan minuman untuk Saras. Tak berfikir negative kepada pelayan itu, Ia pun langsung meminumnya.
Setelah meminum jus itu setengah gelas, Saras pun merasa ingin buang air kecil. Ia pun langsung ke kamar mandi sendirian, karena Farhan sedang berbincang hangat dengan teman lamanya yang datang ke acara pernikahan itu.
Saras pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi, saat dirinya menatap cermin untuk merapihkan lipstiknya. Dirinya sudah tidak sadarkan diri, karena ada yang menutupi mulutnya dengan kain.
Tidak ada yang mengetahui dirinya di bawa seseorang yang menggunakan baju pelayan hotel itu, Farhan itu tidak mengetahui jika Saras berada dalam bahaya.
Cukup lama pingsan, Saras dengan rasa sakit di kepalanya terbangun dan melihat sekelilingnya sebuah kamar mewah yang sangat asing baginya.
__ADS_1
"Aku di mana?" tanya Saras.
"Kau bersama ku sayang," jawab Akmal.
Jawaban itu membuat Saras sangat terkejut, melihat pria yang ada di dalam kamar itu adalah Akmal, suaminya sendiri.
"Lama tidak bertemu, bagai mana kabar mu? tanya Akmal.
"Apa maksud mu membawa ku kemari?" tanya Saras.
Akmal pun tertawa puas, karena berhasil membuat Allena telihat bingung dan panik.
"Aku ini kan suami mu, jadi aku bebas melakukan apapun dengan mu? Bukan begitu sayang ku," sahut Akmal.
"Jangan sentuh aku! Haram bagi mu menyentuh ku," seru Saras.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku ini suami mu," sahut Akmal.
"Suami kata mu! Mimpi! Apa kau tidak menerima suray cerai dari ku? Jadi aku rasa kita tidak ada hubungan apa-apa lagi," jelas Saras membuat Akmal terkejut melihat surat cerai yang sudah di scan melalui ponselnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kau berani menceraikan aku, beraninya kau ..." ucap Akmal menampar Saras.
Pertama kalinya Saras merasakan tampan dari Akmal yang dulu tak pernah sedikit pun memukul atau pun menampar seperti ini.
Tubuhnya terhempas di atas ranjang, Saras memegang wajahnya memerah karena tamparan itu.
"Kau menampar ku, ini kah sifat asli mu setelah sekia lama kau menghilang tanpa kabar," ucap Saras.
"Jawab pertanyaan ku, kenapa kau merubah nama mu menjadi Saras?" tanya Akmal.
"Kau ingin aku menjawab dengan jujur! Hah," seru Allena/Saras.
"Iya. Katakan yang sejujur ya!" teriak Akmal.
"Allena Saraswati yang kau kenal dulu, telah meninggal dunia. hati dan jiwanya telah terkubur bersama trauma yang telah kau ciptakan, kau pergi tanpa kabar, membuat nya merasa tersiksa. Apa itu yang di namakan cinta! Apa kau mencintainya dengan tulus! Kau bahkan melupakan nya begitu saja, kau tahu. Dia kehilangan janin yang di kandung karena terus memikirkan kau! Kepedihan yang dia alami tanpa kehadiran mu di sisinya membuatnya hancur berkeping-keping. Jiwa itu telah hilang di bawa hembusan angin, dan sekarang tanpa rasa bersalah kau datang lagi. Maaf Allena sudah tidak ada, aku bukan Allena tapi, aku Saras," jelas nya sambil berlinangan air mata.
BERSAMBUNG.
__ADS_1