
Setelah selesai mengobrol dengan orang tua Akmal melalui vidio call. Allena langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
Allena melihat Akmal tidak ada di dalam kabar, Ia segera menggunakan pakaian, dan keluar dari kamar nya. Melihat Akmal menggunakan celemek sedang menghidupkan kompor.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Allena mendekati Akmal yang terlihat sibuk memasak.
Allena duduk di mini bar, terus memandangi suaminya yang sedang memasak steak untuk dirinya. Akmal yang melihat istrinya terus tersenyum menatap wajahnya merasa heran.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Akmal.
"Aku merasa jadi wanita yang paling beruntung, memiliki suami yang tampan, penyayang, pandai memasak," jawab Allena.
Akmal pun tersenyum sambil memasak, "Apa kau bahagia dengan ku?" pertanyaan itu membuat Allen langsung menyautinya, " Tentu saja aku bahagia, kau mampu mewarnai hari-hari ku."
Makanan pun siap di hidangkan, dengan penuh cinta dan kasih sayang, Akmal memperlakukan Allena seperti seorang ratu. Mempersiapkam tempat duduk dan menyajikan steak daging dengan saus blackpaper membuat aroma steak itu sangat menggugah selera.
"Hem ... aroma sangat harum, pasti rasanya enak," kata Allena.
"Aku buatkan spesial untuk kamu," ucap Akmal yang duduk berhadapan dengan Allena.
Mereka berdua menyantap makan siangnya, sambil bercerita hal-hal yang mengundang tawa. Akmal terus memandangi wajah Allena yang memerah karena di goda oleh dirinya.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk bersantai di ruang tengah, disitu Akmal mulai bercerita tentang keluarganya yang menurutnya penuh dengan aturan membuat Akmal terpaksa harus mengikutinya.
"Abang, apa abang punya adik?" tanya Allena.
"Tidak, memangnya kenapa?" jawab Akmal.
"Jadi abang anak keberapa?" tanya Allena
"Anak terakhir, abang punya kakak laki-laki yang belom menikah, entah apa yang menbuatnya belom menikah sampai saat ini," jawab Akmal.
"Itu artinya abang 2 saudara ya," sahut Allena mendapat anggukan dari Akmal.
Keterusan mengobrol, akhirnya Allena tertidur di sofa bersama Akmal. Ponselnya berdering membuat Akmal terbangun dan menatap layar ponsel nya, tertulis nama Meisita. Akmal langsung menjauh dari hadapan Allena yang masih tertidur lelap.
Akmal : "Iya hallo."
__ADS_1
Meisita : "Sayang, kapan kamu pulang aku sudah rindu. Aku punya kejutan yang buat kamu bahagia, banyak yang ingin aku ceritakan tapi kamu sibuk."
Akmal : "Sabar ya, 2 minggu lagi Abang pulang kok, Abang juga gak sabar pengen ketemu kamu."
Meisita : "Baiklah aku akan menunggu mu, sampai bertemu di sini, aku mencintai mu."
Akmal : " Aku juga."
Telpon itu pun terputus membuat Akmal akan kembali duduk ke sofa, betapa terkejutnya Akmal melihat Allena sudah berdiri di hadapannya, dengan rasa gugup Akmal pun bernyata kepada Allena.
"Sayang, kamu sudah bangun, apa tidur mu nyenyak?" tanya Akmal.
"Tidur ku nyenyak, aku haus. Jadi aku terbangun," jawab Allena berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil air mineral di dalam nya dan langsung meneguknya.
"Aku rasa dia tidak mendengar obrolan ku bersama Meisita," gumam Akmal di dalam hati berusaha untuk tenang.
Tiba-tiba Allena merindukan Lusi yang duluanya sering menemaninya saat Allena kesepian, Ia pun langsung meraih ponselnya untuk mengirim pesan kepada Lusi.
Allena : "Lusi, apa kabar."
Lusi : "Mbak Allena! Masya Allah. Aku kangen sama Mbak Allena, kabar aku baik mbak. Kabar Mbak bagaimana?"
Lusi : "Aku di rumah sekarang Mbak, biasa jaga warung. Soalnya susah nyari pekerjaan, Mbak ada gosip tau."
Allena : "Waduh, gosip apaan?"
Akmal yang melihat Allena tertawa sendiri melihat ponselnya langsung pura-pura memeluk Allena.
"Sayang, kamu lagi liat apa sih. Kok kayaknya seneng banget?" tanya Akmal.
"Ini loh si Lusi, karyawan aku dulu di kios. Biasa lah kalo udah sama dia bahas yang lucu-lucu, makanya aku tertawa terus kalp sama dia," jawab Allena.
"Sepertinya dia anak yang baik ya," sahut Akmal.
"Benar, dia anak yang baik dan polos," kata Allena.
Akmal pun meminta izin kepada Allena untuk pergi menemui Abbas sahabat yang apartemennya tidak jauh dari tempat tinggal Akmal. Allena pun mengiyakannya.
__ADS_1
Akmal langsung mengambil kunci mobil dan keluar dari apartemen, untuk menemui Abbas.
"Tumben bro cepet jemputnya," celetuk Abbas.
Abbas langsung naik ke dalam mobil Akmal, dan mereka pun langsung pergi kesuatu tempat.
"Ada apa?" tanya Abbas yang melihat wajah Akmal sedikit khawatir.
"Gini, Meisita. Meminta ku untuk segera pulang, tapi kan kau tau pekerjaan kita juga hampir selesai. Melihat Allena aku tidak tega untuk meninggalkannya," ucap Akmal.
Abbas pun terdiam, ikut memikirkan cinta segita tanpa di ketahui siapapun.
"Agar bingung ya? Kau sih, terlalu nafsu menikahi Allena," kata Abbas.
"Makanya menikah bro, biar kau tahu rasanya nikmat dunia yang sesungguhnya," sahut Akmal.
"Aku belom menemukan yang pas, tapi jika aku menginginkannya. Tinggal saja membayar perempuan yang bisa memuaskan kita," kata Abbas dengan gaya nya yang terlihat fuckboy.
"Tetap saja beda," ucap Akmal.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Akmal.
"Jujur sana dengan Allena, katakan padanya jika kau sudah mempunyai istri," celetuk Abbas.
Ucapan Abbas membuat Akmal melotot ke arahnya, "kau ini sudah gila! Kau ingin membunuh teman mu sendiri! Yang benar saja."
"Sudah lah jangan bahas dulu, aku lapar. Mari kita makan dan bersenang-senang," kata Abbas mengajak Akmal ke salah satu cafe.
Mobil itu melaju menuju cafe yang cukup terkenal di kota itu, saat mereka sampai. Abbas turun duluan meninggalkan Akmal yang masih di dalam mobil.
"Dasar gila! Dia meninggalkan ku di dalam mobil," gerutu Akmal.
Abbas yang terus berjalan memesan meja paling atas dengan view yang sangat indah membuat nya langsung naik ke atas, tepatnya ke lantai 9. Saat lift itu terbuka, Abbas langsung duduk di meja yang suka di pesan di susul oleh Akmal dari belakang.
"Kebisaan sekali kau ya, meninggalkan ku begitu saja," gerutu Akmal.
"Bro, liat cewek itu. Aku seperti pernah melihatnya?" tanya Abbas melihat wanita berambut panjang terurai indah membuatnya tak mau melepaskan pandangannya.
__ADS_1
Akmal yang melihat Abbas mulai bertingkah langsung memukul tetapi di tepis oleh Abbas.
BERSAMBUNG.