
Bumi berputar seperti hembusan angin yang mampu memutar laju arah kehidupan, sama seprti awan yang dapat membuka senyuman dengan datangnya mentari yang memberikan kehangatan yang sangat menyakitkan.
Pagi itu Allena menyiapkan semua perlengkapan Akmal, begity juga dengan sarapan yang sudah siap di atas meja.
"Aku sepertinya pulang larut malam, apa kau berani di rumah sendirian?" tanya Akmal.
"Aku berani Bang, aku ingin meminta izin untuk bertemu dengan Lusi," jawab Allena.
"Baiklah, gunakan Atm ini saja untuk memenuhi kebutuhan mu," sahut Akmal.
"Uang belanja kemaren itu lebih dari cukup Bang," kata Allena.
"Kau ini kewajiban ku, jadi gunakan saja uangnya. Aku sudah hampir terlambat, aku berangkat dulu ya sayang," ucap Akmal mencium kening Allena.
Allena pun mengantar Akmal sampai ke parkiran mobil, melihat nya sudah menjauh. Allena pun langsung membersihkan apartemen dan segera bersiap-siap untuk pergi menemui Lusi.
Di taman, Allena melihat Lusi sedang duduk manis di kursi dekat abang tukang bakso, dengan rasa jailnya Allena langsung membuat Lusi terkaget-kaget sampai membuat abang tukang bakso yang ada di sampingnya ikut terkaget.
"Mbak Allena! Ngagetin aja loh!" seru Lusi memegang dadanya.
"Makanya jangan melamun, nanti kesambet gatot kaca," kata Allena.
Abang bakso yang mendengar ucapan Allena seketika berfikir, " emang ada ya, gatot kaca di jaman sekarang?"
Lusi dan Allena pergi berjalan-jalan di sekitar taman itu, banyak pedagang kaki lima yang berjualan di taman. Membuat Allena hampir membeli semua makanan yang ada, Lusi yang melihat Allena makan seperti orang kesurupan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mbak, beli makanan sebanyak ini memang nya akan habis?" tanya Lusi.
"Entah lah, aku rasanya ingin membeli semua makanan yang ada di sini. Tetapi tidak ku habiskan hanya saja aku penasaran dengan rasanya," jawab Allena sedang memakan cireng rasa ayam suwir.
"Gakpapa mbak, perbaikan gizi. Hidup makan!" seru Lusi memberi semangat Allena untuk menghabiskan makanan yang Ia beli.
Merasa lelah, akhirnya Allena memutuskan untuk duduk di kursi. Perut nya sangat begah membuatnya ingin memuntahkan semua makanan yang sudah ada di dalam perut.
"Cuman ngelilingin taman ini rasanya capek juga ya mbak," ucap Lusi menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Coba kau perhatikan tempat ini, ini sangat luas. Jadi wajah kita kelelahan," kata Allena dengan wajah yang lemas karena merasa perutnya yang tidak enak.
__ADS_1
Lusi yang memperhatikan Allena mulai pucat, langsung memegang kening Allena.
"Apa Mbak sedang sakit? Wajah Mbak Allena pucat?" tanya Lusi.
"Aku harus ke kamar mandi, aku rasanya ingin muntah," kata Allena memegang mulutnya.
Lusi mengantar Allena ke kamar mandi terdekat, Allena langsung masuk ke dalam dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya. Berkali-kali Ia muntah-muntah sampai badannya terasa bergetar dan keringat dingin keluar dari keningnya, Allena hampir pingsan karena pandangannya mulai kabur.
Lusi yang menunggu di luar merasa sangat khawatir, karena cukup lama Allena berada di kamar mandi tetapi tak kunjung keluar. Tanpa ragu Lusi mengetuk pintu itu, untuk memastika bahwa Allena baik-baik saja.
"Mbak, apa kamu baik-baik aja?" tanya Lusi.
"Iya!" seru Allena.
Pintu pun terbuka, Lusi yang melihat Allena sangat pucat langsung mendekat.
"Ya ampun Mbak! Wajah mu pucat sekali, kita ke dokter ya," ucap Lusi.
Pandangan nya sudah kabur dan memutih membuatnya pingsan tidak bisa fokus, Allena pun langsung pingsan. Lusi yang melihat Allena pingsan di hadapannya, Ia sangat panik dan meminta bantuan kepada siapa saja yang melewati tempat itu.
"Aku ada di mana?" tanya Allena.
"Alhamdulilah, Mbak sudah sadar," jawab Lusi.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Allena melihat tiang infus berada di dekatnya, Allena mengangkat tangannya.
"Mbak Allena pingsan di depan kamar mandi, karena terlalu banyak makan, jadi aku membawa Mbak ke sini,aku sangat khawatir. Takut Mbak kenapa-napa," jawab Lusi.
Allena mengingat jika dirinya makan sangat banyak seperti orang kesurupan, membuat Allena langsung memejamkan matanya.
"Astagfirulloh, iya aku juga gak tau kenapa porsi ku sangat banyak?" tanya Allena.
Dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Allena yang sudah sadarkan diri.
"Bagaimana Nyonya, apa masih terasa mual?" tanya Dokter.
"Tidak Dok, saat ini saya sudah membaik," jawab Allena.
__ADS_1
"Apa anda sudah menikah?" tanya Dokter.
Allena dan Lusi saling menatap satu sama lain, dokter itu pun merasa pertanyaanya sangat berlebihan langsung mengklarifikasi agar tidak ada salah paham.
"Maaf Nyonya, jika pertanyaan saya menyinggung anda. Tapi ini menyangkut dengan kondisi janin yang ada di dalam perut anda Nyonya" jelas Dokter.
Allena pun lebih terkejut saat mendengar janin di dalam perut, membuatnya langsung menatap Dokter itu.
"Maksud Dokter? Janin? Apa saya hamil?" tanya Allena.
"Benar sekali Nyonya, usia kehamilannya baru 3 minggu," jawab Dokter.
"Dokter gak lagi bercanda kan, saya beneran hamil?" tanya Allena sekali lagi karena dirinya tidak menyangka jika hamil.
Dokter langsung menyuruh perawat untuk memberikan hasil tes kehamilan kepada Allena. Ia membaca hasil itu langsung menutup mulutnya dengan satu tangan, matanya menatap Lusi seolah dirinya sangat tekejut dengan hasil yang ada di hadapannya.
"Mbak Allena, selamat ya. Yee akhirhnya aku bakal punya keponakan," ucap Lusi.
Air mata itu menetes di pipi mulus Allena, " aku hamil, ini bukan mimpi kan Lusi, ini beneran Dok," suara itu terdengar sangat lirih membuat mereka menganggukan kepalanya.
Allena langsung meraih ponselnya untuk memberitahu Akmal, tetapi tangannya di pehang oleh Lusi.
"Mbak, kasih kejutan buat seuami mu setelah dia pulang kerja, pasti dia akan sangat bahagia dan terkejut," saran Lusi.
"Baiklah, aku akan tunda niat ku," sahut Allena.
Merasa sudah membaik, Allena pun keluar dari klinik bersama Lusi. Mereka berjalan kecil sambil menunggu taksi datang, Allena memutuskan untuk mengantar pulang Lusi karena dirinya ingin beristirahat di apartemen.
Di dalam perjalan, tak henti-henti nya Allena tersenyum sambil memegang perutnya.
"Aku seneng banget, Mbak Allena akhirnya akan mempunyai anak, lengkap sudah kebahagiaan keluarga Mbak Allena. Sekali lagi selamat ya Mbak ku," ucap Lusi memeluk Allena.
"Terima Kasih ya Dek, doanya. Mbak masih belom menyangka jika Mbak hamil anaknya Akmal, ini seperti mimpi," sahut Allena.
Taksi itu berhenti tepat di depan rumah Lusi, "sudah sampai Mbak, mau mampir dulu gak Mbak. Kayaknya di dalam ada ibu," ajak Lusi membuat Allena ikut turun dari taksi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1