Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kecurigaan Meisita


__ADS_3

Oji mendapat tawaran mengenai kerja sama dengan perusahan Akmal yang bernama Selom Group, Oji langsung masuk ke dalam ruangan Allena. Melihat Allena sedang memggambar suatu gaun, saat mendengar pintu ruangannya terbuka langsung berkata.


"Apa itu?" tanya Saras.


“Cik Saras, syarikat Kumpulan Selom telah menawarkan untuk bekerja dengan kami," kata Oji.


“Apa kata awak, Selom? Siapa CEOnya?" tanya Saras.


Oji memberikan selembae kertas yang menunjukan kerja sama dengan Selon Group. Saras membaca dengan detail dan melihat nama CEO disitu adalah Akmal Syeki. Seketika matanya menatap tajam kertas itu, Ia sangat terkejut melihat Akmal akan bekerja sama dengan perusahaan nya.


Oji yang masih ada di dalam ruanganya, langsung bingung melihat ekspresi yang di tunjukan Saras ketika membaca kertas yang di berikannya.


"Cik awak okay? Tanya Oji.


"Bila surat ini dihantar?" tanya Saras.


"Hari ini Cik, adakah anda bersetuju dengannya?" ucap Oji.


"Tunggu sebentar, saya perlukan sedikit masa untuk memikirkannya," kata Saras.


Oji pun keluar dari ruangan Saras, melihat Saras yang langsung berubah menjadi dingin membuatnya cukup terheran.


'Apa yang berlaku, adalah luar biasa untuk Cik menolak tawaran kerja ini,' batin Oji.


Oji kembali ke ruangannya dan memeriksa semua rapat dan memeriksa oderan kain yang akan masuk ke dalam perusahaan tempat nya bekerja.


Allena/Saras yang masih di dalam ruangnya, merasa tak abis pikir. Membuat nya terus bertanya-tanya alasan Akmal tiba-tiba mengajak kerja sama dengannya, dengan apa yang suda Ia lakukan tempo hari lalu.


"Apa maksudnya dia menawarkan kontrak kerja dengan perusahaan ku? Ini sangat aneh?" gumam Allena/Saras.


Farhan yang masuk ke dalam ruangan Allena tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, membuat nya tak menyadari jika Ia datang. Melihat Allena sedang dalam kebingungan, Farhan pun membuka suara.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Farhan.


Allena menoleh ke arah sumber suara, dengan wajah yang bingung.


"Kapan kau datang, aku tidak mendengar suara pintu terbuka?" ucap Allena.

__ADS_1


"Kau terlalu sibuk memikirkan sesuatu, sehingga kau tak mendengar suara pintu terbuka. Memangnya ada apa?" sahut Farhan.


Allena memberikan selembar kertas, tanpa memberitahu Farhan. Dengan bingung Ia pun menerima kertas itu, dan membacanya.


"Akmal. Apa maksudnya semua ini?" tanya Farhan.


"Entah lah, aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan," jawab Allena.


"Jangan dulu di terima, tawaran ini. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu," ucap Farhan.


"Baiklah, aku juga sempat berfikir begitu dan ingin menghubungi mu. Untung kau datang tepat waktu," kata Allena.


Farhan langsung memeriksa perusahaan Akmal yang memang sedang membutuhkan seorang desainer untuk produck barunya yang akan louncing.


"Aku tahu," kata Farhan.


"Apa itu?" tanya Allena.


"Dia sedang membutuhkan desainer untuk produk barunya yang akan louncing bulan depan, jadi dia menggunakan jasa mu untuk hal itu," jelas Farhan.


"Tapi ... jika kau ingin menerima tawaran itu, artinya kau harus lebih pintar dari nya. Tapi jika kau menolak tawaran itu, kau tidak bisa menjatuhkannya," sambungnya.


"Makan lah dulu, aku membawakan mu makanan yang bergizi," kata Farhan.


"Memang nya aku kurang gizi," gerutu Allena.


"Pekerjaan mu sangat menguras energi, jadi kau harus banyak makan yang begizi," kata Farhan.


Allena pun menyantap makanan di temani Farhan dan mereka bercerita seuatu yang menggundang canda tawa.


Malam itu, Allena terdiam menatap bintang di langit. Ia sedang dalam kebimbangan antara menerima tawaran dari Akmal atau justru menolaknya.


Allena berusaha menjernihkan pikirannya, dengan memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam yang sangat sejuk. Seketika terlintas di dalam benaknya untuk memberi pelajaran kepada Akmal yang sudah sangat keterlaluan.


"Sepertinya aku barus menerima tawaran ini, mumgkin ini ada peluang untuk ku balas dendam kepadanya," gumam Allena.


Tangannya mengepal dan membenturkan ke tralis depan balkon kamarnya, merasa hembusan angin yang semakin kencang membuat Allena langsung ke masuk ke kamar.

__ADS_1


Meisita sedang masuk ke dalam ruangan Akmal, Ia melangkah seperti mengendap-endap sampai akhirnya Ia melihat meja kerjanya yang di penuhi dengan foto Allena.


Meisita merasa terkejut melihat ada foto wanita yang mirip dengan Saras, rasa penasarannya itu membuatnya terus memeriksa mejanya. Terlihat foto seorang wanita dengan pria di suatu restauan.


"Perempuan ni macam Cik Saras, lepas tu siapa lelaki yang bersama dia? Siapa mereka, apa hubungan mereka dengan Akmal?" gumam Meisita.


Meisita merasa suaminya tengah menyembunyikan sesuatu dari nya, rasa curiga mulai muncul di dalam hati nya, Ia pun langsung memoteret semua berkas yang ada di meja Akmal.


Dengan cepat Meisita kembali ke dalam kamarnya, saat Ia berjalan menuju kamar. Langkahnya di kagetkan dengan suara yang tak asing baginya.


“Awak buat apa sayang, kenapa awak tak tidur?" tanya Akmal.


Meisita menoleh ke arah sumber suara dengan wajah yang pucat, karena Ia takut Akmal mengentahui jika Ia masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia berusaha untuk tenang.


"Saya mengalami masalah tidur, jadi saya pergi berjalan-jalan, awak pulang sayang" jawab Meisita dengan nada yang bata-bata.


"Awak terlalu penat sayang, jom kita ke bilik," ajak Akmal.


Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar, tanpa rasa curiga membuat Meisita sedikit lega. Ia berpura-pura tersenyum di hadapa suaminya, meski pun pikirannya di penuhi beribu pertanyaan.


'Saya rasa Akmal telah menipu saya, saya perlu mengetahui segala-galanya tentang dia semasa di Indonesia' batin Meisita.


Akmal pun keluar kamar mandi, dan melihat Meisita sudah terbaring di atas ranjang, membuatnya langsung memakai pakaian diruang ganti.


"Tidak biasanya Meisita tidur sebelum aku tidur? Mungkin dia kelelahan," gerutu Akmal.


Akmal pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Meisita, mereka pun tertidur mengarungi malam yang penuh misteri. Kehadiran mimpi membuatnya terhanyut dalam peran yang tak tentu apakah akan sedih atau senang.


Malam pun berlalu berganti dengan munculnya mentari yang selalu menyinari bumi, Meisita terbangun ketika jam bekernya berbunyi, Ia langsung terbangun dan membasuh wajahnya. Tak seperti biasany Meisita menyiapkan pakaian untuk Akmal dan membuat sarapannya untuknya.


Hal itu di lakukan sama seperti Allena, entah ini dorongan diri atau memang petunjuk dari kecurigaanya. Ia merasa sangat senang ketika memasak di dapur bersama asisten rumah tangganya.


Akmal yang terbangun karena silauan cahaya matahari membuatnya langsung membuka mata, melihat kamar sangat rapih dan baju kerjanya sudah siap.


Akmal terheran dengan tingkah Meisita yang tak seperti biasanya melayani Akmal dengan baik, tanpa rasa curiga, Akmal pun keluar kamarnya dengan pakaian yang rapih. Melihat Meisita sedang menyiapkan sarapan untuknya.


"Sayang awak dah bangun, hari ini saya masakkan sup untuk awak," ucap Meisita dengan begitu ceria.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2