Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Teror dari Seseorang


__ADS_3

"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, mohon bijak dalam membaca."


Saat Allena sedang menggunting kain yang akan di jahit, tangannya menghentikan aktivitasnya dan langsung meletakan gunting itu begitu saja. Ia langsung membuat copucino hangat bertujuan untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau.


Allena menikmati minuman itu sambil menatap indahnya kelap-kerlip lampu jalanan yang terlihat dari balik kaca jendela ruang kerjanya.


'Aku tidak bisa menyalahkannya, tatapan itu seperti seolah tidak mengetahui apapun. Aku harus mencari tahu kebenaran hubungan ini, aku tidak bisa berdiam diri seperti ini,' gumam Saras di dalam hati.


Suara ponsel berdering membuat Allena langsung menoleh dan meraih ponselnya, terlihat di layar ponsel itu nomor tidak di kenal.


"Siapa malam-malam menelpon ku?" gumam Allena.


Ponsel itu terus berdering membuat Allena tak memperdulikannya, tetapi rasa penasaran terus menghantui dirinya, dan akhirnya Allena mengangkat.


Allena : "Maaf siapa?"


Seseorang : "Allena Saraswati."


Panggilan itu membuat Allena sangat terkejut karena menyebut nama lengkapnya.


'Siapa dia? Kenapa dia mengetahui nama ku? Apa dia Akmal?' batin Allena.


Seseorang : "Bisa bicara dengan Allena Saraswati."


Allena berpura-pura tidak merasa jika itu nama aslinya.


Allena : "Maaf, mungkin anda salah orang, di sini Saras Putriana."


Seseorang : "Mungkin aku salah orang, aku pikir kau Allena Saraswati seorang penjahit terkenal yang menghilang di telan bumi."


Allena : "Maaf anda salah sambung."


Allena langsung menutup telpon itu, jantungnya langsung berdetak sangat cepat saat mendengar suara itu tak asing baginya.


"Apa dia Akmal? Suara itu sangat mirip dengan nya, dia mulai mencurigai ku," gumam Allena.


Allena memeriksa nomer asing itu ternyata tidak bisa di akses karena bersifat privasi. Berulang kali di coba oleh Allena tetap tidak bisa di akses, membuat Ia langsung mengira jika itu adalah Akmal yang mengetahui nomer nya dari Meisita.


Pagi hari....


Mentari tak pernah tertinggal menyinari bumi di waktu pagi, pancaran sinarnya sangat menghangatkan hati yang sedang di landa hawa dingin sikap ini. Terlalu lama memendam kepedihan hingga tak mampu mengenali siapa diri ini, itu yang saat ini di alami Allena yang dalam kegundahan hati, Ia terus memikirkan pernikahannya yang tak ada arah untuk berlayar karena nahkodanya entah kemana.


Sayup-sayup mata ini terbuka dengan malasnya, terasa badannya sangat kaku, karena Ia tidur dalam posisi duduk di sofa. Melihat kantor nya mulai berdatangan karyawan yang bekerja membuat Allena bangun dan langsung memeriksa ponselnya, tak ada pesan dari siapapun, Allena langsung membersihkan tubuhnya.


Setelah merapihkan bajunya, terlihat Oji yang membuka pintu ruangannya merasa terkejut karena Allena sudah berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Cik Sarah, berapa lama awak berada di dalam bilik ini?" tanya Oji.


Allena tersenyum menatap wajah Oji, "Saya bermalam di bilik saya."


“Kenapa Cik, ada masalah ke?" tanya Allena.


“Tak, saya kerja lebih masa sebab saya buat baju untuk Puan Meisita. Nampaknya saya perlu bekerja lebih keras untuk hasil yang maksimum," jelas Allena.


"Itu sahaja Cik, semangat," ucap Oji.


"Kenapa awak datang ke bilik saya?" tanya Allena


“Saya ada kertas kerja untuk ditandatangani oleh Cik," jawab Oji.


Allena pun menyuruh Oji meletakan map itu di atas mejanya, saat Oji akan pergi meninggalkan ruangan itu, Farhan dengan membawa buket bunga segar berwarna kuning masuk ke dalam ruangan Allena dengan senyuman.


"Assalamualaikum," salam Farhan membuat Oji yang masih di dalam ruangan Allena menatap siapa yang mengucapkan salam.


Terpesona melihat ketampanan Farhan membuat Oji terdiam sampai lupa jika dirinya harus pergi dari ruangan itu.


"Selamat pagi, kau sudah rapih," ucap Farhan membuat Allena tersenyum.


Allena melihat Oji yang memandangi Farhan langsung menegurnya, membuat Oji tersadarkan dan segera meminta maaf lalu pergi meninggalkan ruangan Allena.


"Dia sepertinya kagum dengan mu," ucap Allena


Melihat rancangan busana yang sangat indah di atas meja Allena, membuat Farhan mendekati meja itu.


"Busana siapa yang kau buat?" tanya Farhan.


"Busana milik Nyonya Meisita," jawab Allena.


"Apa tidur mu nyenyak?" tanya Farhan.


Allena langsung menatap Farhan seolah ingin memberi tahu tentang normol seseorang yang tak di kenal, tiba-tiba menghubungi nya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampai kan?" tanya Farhan.


Allena lamgsung memeriksa ponselnya dan menunjukan kepada Farhan, nomor yang sempat menelponnya.


"Ada nomor tak di kenal menelpon ku, dia mangatakan jika nama ku Allena Saraswati, aku malam itu sangat terkejut. Aku kira dia ingin menjebak ku," jelas Allena.


Farhan melihat nomor itu dan segera memeriksanya melalui situs rahasia.


"Aku tidam bisa mengakses nomor ini, nomor ini bersifat pribadi," kata Allena.

__ADS_1


"Bersifat pribadi? Artinya nomornya hanya di miliki oleh penjabat daerah," kata Farhan.


"Maksudnya?" tanya Allena.


"Terus dia mengatakan apa lagi?" tanya Farhan.


"Dia mengatakan jika aku adalah penjahit terkenal yang menghilang di muka bumi ini. Suara itu terdengar tidam asing," kata Allena.


"Apa yang kau maksud dia adalah Akmal?" tanya Farhan.


Allena menganggukan kepalanya, seolah ini memang perbuatan Akmal. Karena tak ada yang mengetahui identitas dirinya.


"Kita harus selidiki ini," ucap Farhan.


"Jangan lakukan apapun, biarkan ini menjadi rahasia kita," kata Allena mencegah Farhan yang akan menghubungi polisi.


"Baiklah jika itu mah mu," ucap Farhan.


Farhan kembali meletakan ponselnya, "apa kau sudah makan?" tanya Farhan.


"Belom, ayok kita cari sarapan," ajak Allena.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan dan pergi mencari sarapan. Di dalam mobil, Allena melihat pedagang kaki lima yang menjual banyak makanan untuk sarapan.


"Kau ingin makan apa?" tanya Farhan.


"Aku ingin makan bubur ayam," jawab Allena.


Mobil itu menepi di salah satu kedai yang sangat ramai di kerumuni pembeli karena terkenal dengan makanannya yang sangat enak.


Mereka memesan makanan dan duduk di kedai itu, Farhan menatap Allena ya g terlihat sembab di matanya.


"Apa kau semalam menangis?" tanya Farhan.


"Tidak, aku hanya bergadang dan mungkin posisi tidur ku yang salah, makanya mata ku sembab," jelas Allena dengan gugup.


Farhan terus menatap lekat wajah Allena, sehingga membuatnya merasa risih dan langsung menghindari tatapan itu.


"Janga bohong, lihat lah sorot kesedihan yang ada dk mata mu, terlihat sangat jelas," ucap Farhan.


Allena benar-benar tak mampu menyembunyikan kesedihannya di hadapan Farhan, mulai terasa sesak di dadanya. Ia mencoba untuk mengatur napasnya agar merasa lebih baik.


Melihat Allena mulai tak terkendali, Farhan meminta pesanannya untuk di bungkus.


Saat masuk ke dalam mobil, belom sempat Farhan menanyakan kembali, tangisan Allena pun pecah begitu saja membuatnya langsung memelum Allena dan menenangkan nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2