
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Sampai di dalam mobil, belom sempat Farhan menanyakan apapun. Tangisan Allena/Saras pecah begitu saja, membuat Farhan berusaha menenangkannya.
"Menangislah, jika sudah tenang. Kau ceritakan semuanya, dan putusan semuanya," ucap Farhan.
"Baiklah, aku akan memutuskan segera," jawab Allena.
Mobil itu berjalan kembali ke kantor Allena/Saras, masuk ke dalam ruangannya dengan terburu-buru karena Ia tak ingin di liat oleh banyak karyawannya dengan wajahnya yang sembab.
Mereka makan di dalam ruangan, begitu perhatian Farhan kepada Allena membuatnya Oji yang melihat dari luar ruangan Allena, bertanya di dalam hati.
'Adakah dia teman lelaki baru Cik Saras?Dia kelihatan kacak dan menawan,' batin Oji.
♡♡♡♡
Kerlap-kerlip taburan payet menambah mewah gaun yang sedang di buat oleh Allena, dengan penuh ketelitian, Allena memperhatikan setiap sisi gaun itu. Sehingga menghasilkan gaun yang sangat cantik, terlihat kemewahan dari gaun itu membuat semua orang yang melihat langsung terpesona.
Allena memandangi gaun yang baru selesai Ia buat, ada rasa bangga terlintas di dalam hati nya. Allena langsung menghubungi Meisita, untuk memberi tahu jika gaun yang di pesan sudah siap untuk di antar.
Saras : "Hai puan, pakaian anda sedia untuk dihantar."
Meisita : "Betul ke, boleh Cik bawa saya ke rumah saya, saya belum sempat datang ke pejabat Cik."
Saras : "Baiklah, hantarkan saya alamat Puan. Kemudian biarkan saya memandu sendiri."
Meisita : "Satu penghormatan jika pakaian saya dihantar oleh Cik Saras."
Saras : "Kami mengutamakan kepuasan pelanggan Puan."
Meisita pun akhirnya mengirim alamat rumahnya kepada Saras, saat memeriksa alamat rumah Itu. Ia langsung meminta Oji untuk menemaninya dan segera membungkun gaun milik Meisita.
"Tumben Cik, awak datang hantar baju ni?" tanya Oji.
"Entahlah, tiba-tiba nak datang hantar baju ni," jawab Saras.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, melewati pusat kota yang ramai di padati kendaraan, masuk ke dalam komplet elit yang ada di kota itu, membuat Saras memastikan kembali alamat yang di berikan Meisita.
__ADS_1
Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang besar, menunggu seseorang penjaga membukakan pintu gerbang itu, saat pintu gerbang terbuka. Mobil Saras pun masuk ke dalam.
Dengan hati-hati karena membawa baju dengan harga yang sangat fantastis, Oji keluar membawa gaun itu di ikuti dengan Saras.
Saras langsung berjalan untuk mengetuk pintu, tetapi langkahnya terhenti saat pintu itu terbuka dan Akmal melihat wanita di hadapannya adalah Allena/Saras.
Cukup terkejut karena ini pertemua kedua mereka setelah pertemuan yang lalu, rasa di dalam hati ini sudah terbiasa, jantung tak lagi berdetak dengan cepat. Keringat dingin pun sudah tak lagi membasahi kening, dengan raut wajah yang datar, Saras langsung menundukan kepalanya kepada Akmal.
Akmal pun masih merasa canggung.
"Maaf tuan, kami nak hantar baju Puan Meisita," ucap Saras.
“Sila masuk, isteri saya ada di dalam," kata Akmal.
Saras pun masuk ke dalam bersama Oji, meninggalkan Akmal yang masih terpaku diam di tempat itu.
'Rasa jantung ini tidak seperti kemarin, mungkin dia memang bukan Allena, hanya mirip saja,' batin Akmal.
Melirik Saras semakin jauh dari hadapannya, Ia pun langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya. Di dalam mobil Akmal memikirkan wanita itu, niatnya untuk pergi kekantor pun di tunda. Karena Akmal ingin memastikan siapa sebenarnya wanita yang sangat misterius bagi nya.
Meisita yang melihat Saras datang bersama Oji, langsung menyapa dan menyuruhnya untuk duduk di ruang keluarga, Saras menyerah kan gaun itu kepada Meisita. Saat akan di coba oleh Meisita, tiba-tiba Saras ingin buang air kecil.
"Tentu boleh, jalan terus dan belok kiri," sahut Meisita.
Saras pun berjalan menuju kamar mandi, saat dirinya keluar dari kamar mandi. Ia melihat Akmal yang menariknya masuk ke dalam kamar mandi itu, rasa terkejutnya membuat Saras tak mempu mengeluarkan suara, karena mulutnya sempat di tutupi oleh Akmal.
Mereka berdua di dalam kamar mandi, Akmal sengaja mengunji pintu itu.
"Allena Saraswati," ucap Akmal membuat Saras terus mundur secara perlahan.
"Anda salah tuan," kata Saras.
"Adakah benar," ucap Akmal tiba-tiba memeluk Saras dengan satu tarikan.
Tak mampu menolak karena di dalam kamar mandi itu sangat lah sempit membuatnya terpaksa jatuh ke dalam pelukan Akmal, Saras berusaha untuk melepaskan pelukan itu, tetapi tetap tidak bisa.
"Biarkan saya pergi, atau saya akan menjerit," ucap Saras.
__ADS_1
“Buatlah, biar semua orang tahu. Awak pun isteri saya jadi saya berhak untuk itu," kata Akmal.
“Saya Saras, bukan isteri awak," sahut Saras.
“Awak mungkin boleh tipu Meisita, tapi ... awak tak boleh tipu saya," ucap Akmal.
Pelukan itu menaikan gairah Akmal yang sudah lama hilang, tanpa rasa penyesalan. Akmal berusaha mencium bibir Saras tetapi Ia berusaha untuk menghindar, tetap sulit bagi Saras untuk mengindari sentuhan itu, karena di ruangan yang sangat sempit membuat Ia tak bisa bergerak bebas.
Saat Akmal mencium Saras dengan begitu rakus, di situlah Saras menangis, menahan rasa sakit di dalam hatinya yang sudah lama hilang kini tergores kembali.
Merasa kesal dengan perlakukan yang di lakukan Akmal terhadap dirinya, kaki Saras untuk terpaksa menginjak kaki Akmal dan ciuman itu terlepas karena Ia merasa kesakitan.
"Awak terlalu sombong," ucap Saras.
Akmal menahan sakit dan melepaskan Saras dari ganggamannya, Saras pun keluar dari kamar mandi itu dengan lipstik yang berantakan. Dengan terburu-buru Ia merapihkan kembali lipstik itu dan mengusap air matanya.
Mengantur napasnya berulang kali, Saras pun kembali ke ruang keluarga untuk menemui Meisita. Terlihat Dia sedang mencoba gaun itu di bantu dengan Oji.
"Adakah puan berpuas hati dengan pakaian ini?" tanya Saras.
"Ada sesuatu berlaku?" tanya Meisita membuat Saras langsung panik.
"Tak Puan, saya sembelit sikit. Jadi saya ambil masa terlalu lama di bilik air, maaf," jelas Saras.
“Tengok awak nampak pucat, awak bekerja keras untuk menghasilkan pakaian ini, saya sangat sukakannya," ucap Meisita.
Meisita sangat puas dengan gaun itu, dirinya terlihat sangat cantik dan penuh percaya diri ketika memakai gaun yang dis inginkan.
Saras pun langsung pamit pulang dan meninggalkan mansion itu, Ia berjalan keluar dan melihat Akmal, langsung membuang muka dan segera masuk ke dalam mobil. Ada rasa takut di dalam hatinya ketika melihat Akmal tersenyum sinis.
Oji yang melihat tingkah Saras sangat aneh membuatnya bertanya, "Cik, awak sihat?"
Saras menoleh ke arah Oji, dan menganggukan kepalanya mengatakan Iya.
"Tapi, muka awak pucat sangat Cik," kata Oji.
“Saya ok, mungkin saya cuma perlu berehat," ucap Saras.
__ADS_1
BERSAMBUNG....