Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kepergian yang mendadak


__ADS_3

Sampain di rumah Lusi, Allena pun masuk ke dalam dan di sapa hangat oleh ibu nya Lusi yang bernama Pipit.


"Nak Allena sudah makan apa belom? Ibuk buatkan teh ya," tanya Pipit.


"Bu, Mbak Allena ini sedang hamil muda, jadi jangan di buatkan teh. Dia tadi sempat muntah-muntah karena terlalu banyak makan," jawab Lusi.


"Jadi kamu lagi hamil, biasanya ibu hamil ini suka aneh-aneh minta nya. Dulu juga Ibuk gitu," sahut Pipit.


Allena menganggukan kepalanya, mereka akhirnya mengobrol. Banyak cerita yang di dengar oleh Allena mengenai awal kehamilan, tak terasa waktu menunjukan sore hari, Allena yang baru menyadarinya langsung berpamitan untuk pulang ke apartement.


Di dalam perjalanan, Allena mengelus perutnya terus menerus. Rasa hatinya tidak sabar ingin segera memberitahu Akmal.


♡♡♡


Wanita cantik berambut pirang itu sedang berjalan-jalan ke arah halaman yang di hiasi taman yang sangat indah. Dia wanita yang sedang mengelus-elus perutnya sambil bernyanyi lagu romantis sehingga membuat suasana di taman itu sangat tenang.


"Meisita! Kemari!" triakan itu membuat Meisita menoleh ke arah sumber suara.


Melihat ayah mertua dan ibu mertuanya mengunjungi dirinya, dengan rasa bahagia Meisita langsung berjalan cepat tanpa memperhatikan jalanan yang Ia lewati. Saat kakinya melangkah menginjak lantai yang akan menuju ruang keluarga, tiba-tiba kakinya terkilir karena lantai itu cukup licin. Meisita ke hilangan keseimbangannya, dan terjatuh membenturkan perutnya di bebatuan kecil yang ada sebagai hiasan.


Teriakan itu membuat semua orang yang sedang berada di ruang keluarga langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka semua terkejut melihat Meisita sudah terjatuh dengan berlumur darah, ayah mertua Meisita langsung berlari menghampirinya.


"Meisita! bangun nak," panggilan Beri kepada Meisita.


Tak mendapat respon apapun dari Meisita, Beri memutuskan untuk membawa menantunya ke rumah sakit.


"Kau, ikut ayah ke rumah sakit," ajak Beri kepada Akbar.


Beri pergi ke rumah sakit bersama Akbar dan istrinya, melihat kondisi Meisita yang tidak sadarkan diri. Membuat Akbar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di rumah sakit, dengan cepat Meisita langsung di tangani oleh dokter.


Beri berusaha menghubungi Akmal melalui telpon seluler.


"Percakapan menggunakan bahasa Malaysia/Melayu"


Beri : "Mana awak, cepat pulang menempah tiket kapal terbang!"

__ADS_1


Akmal yang kaget, tiba-tiba mendengar ayahnya berbicara seperti itu membuatnya sangat penasaran.


Akmal : "Apa maksud ayah, kenapa saya perlu pulang?"


Beri : " Isteri awak mengalami kemalangan, dan kini berada di hospital, Doktor sedang memeriksa keadaannya."


Akmal langsung bergegas pulang langsung ke apartemen, membawa barang yang di perlukan sambil menunggu keberangkatan pesawat yang Ia pesen secara Urgent. Allena yang kaget melihat Akmal sudah pulang langsung berdiri.


"Abang, ada apa? Apa ada sesuatu terjadi?" tanya Allena kepada Akmal yang terlihat sangat terburu-buru.


Akmal mendekati Allena, menatap wajahnya cukup lama. Membuat Allena merasa bingung dengan sikap suaminya.


"Sayang, aku harus pulang hari ini ke Malaysia, Ayah barusan menelpon ku jika ibu ku sedang sakit. Dan saat ini sedang berada di rumah sakit," kata Akmal.


Allena terdiam sejenak, niat hatinya ingin memberi kabar bahagia jika dirinya sedang hamil. Tetapi melihat kepanikan di wajah Akmal membuatnya mengurungkan niatnya.


"Pulang lah, jika keadaan ini mendesak. Salam untuk keluarga di sana," ucap Allena.


"Baiklah sayang, terima kasih atas pengertiannya. Aku mencintai mu," sahut Akmal mencium kening Allena.


Allena menoleh ke arah Abbas yang sudah mulai menjauh dari nya, dengan cepat Allena mengikuti Abbas dari belakang. Mereka berdua pun berjalan kembali ke apartemen.


"Apa kau sedih?" tanya Abbas.


"Sedikit, memangnya ada apa?" jawab Allena.


"Wajah mu terlihat murung, tadi Akmal berpesan jika ada sesuatu yang kau butuhkan kabari aku saja," sahut Abbas.


"Terimakasih," ucap Allena.


Abbas yang melihat Allena tidak banyak berbicara hanya terdiam, sampai akhirnya mobil Abbas berhenti di depan apartement Akmal.


"Terima kasih sudah mengantar saya," ucap Allena menundukan kepalanya.


"Iya sama-sama," sahut Abbas yang melihat Allena keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam apartemen itu.

__ADS_1


Abbas langsung melajukan mobilnya, di dalam perjalanan Ia memikirkan Allena, ada rasa iba di dalam hatinya karena kebohongan yang sudah di buat oleh sahabatnya sendiri, membuat Abbas tak bisa membayangkan jika Allena mengetahui semua kebenarannya.


Abbas hanya bisa menunggu saat itu tiba, dan entah apa yang akan di lakukan Akmal untuk menjelaskan semuanya kepada kedua istrinya.


"Sangat rumit, aku hanya merasa kasian dengan Allena. Dia terlihat gadis yang baik," gumam Abbas.


Allena dengan raut wajah yang sangat lesu, merebahkan tubuhnya di sofa. Air matanya menetes begitu saja tanpa di beri aba-aba, suara itu terdengar lirih namun sangat menyayat hati.


"Kenapa hati ku sangat sedih melihat kepergian Abang Akmal, sesak di dada ku saat membayangkan perpisahan tadi. Aku tahu Tuhan dia pergi karena ibunya sedang sakit, tapi kenapa hati ini sangat sakit, ada apa dengan ku?" gumam Allena di dalam hati.


Allena pun tertidur karena dirinya merasa lelah, tidurnya sambil sesenggukan menangis.


Pesawat pun landing ke Bandara Kuala Lumur International Airport. Di sana Akmal sudah di jemput oleh Akbar yang memang sudah menunggunya, saat Akmal keluar dari lapangan pesawat itu, Akmal melihat Akbar sedang duduk di kursk tunggu dan Ia langsung menghampirinya.


"Mereka berbicara menggunakan bahasa Melayu."


"Akbar! Kami terus ke hospital," ucap Akmal membuat Akbar langsung berdiri berjalan menuju mobilnya.


Sampai di rumah sakit, Akmal pun langsung menemui Ayahmya yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Apa sebenarnya yang berlaku, Ayah. Bagaimana keadaan Meisita?" tanya Akmal.


Beri menceritakan semua yang terjadi sebelum Meisita mengalami kecelakaan sampai masuk ke dalam rumah sakit, Akmal pun langsung mengusap wajahnya berulang kali.


"Meisita berada di ICU," jawab Beri.


Akmal pun langsung menemui Dokter yang menangani Meisita, Dokter itu langsung menjelaskan dan meminta maaf kepada Akmal.


"Bagaimana Dok, keadaan isteri saya?" tanya Akmal.


"Keadaan pesakit Meisita dalam tempoh kritikal, pesakit mengalami koyakan di dinding rahim sehingga kami terpaksa mengangkat rahimnya dan serentak mengangkat bayinya. Tetapi bayi tersebut telah meninggal dunia akibat impak yang sangat hebat sehingga menyebabkan patah tulang di bahagian otaknya." jelas Dokter membuat Akmal sangat syok bukan main.


Akmal keluar dari ruangan dokter dengan badanya yang sangat lemas setelah mendengar semua yang di jelaskan oleh dokter.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2