
"Perhatian! Sebagian teks menggunakan bahasa melayu, harap bijak dalam membaca."
Akmal yang baru saja masuk ke dalam kamar, melihat Meisita sedang tertidur pulas, membuat Akmal mendekati Meisita dan meraih bantal yang ada di samping nya, dan bantal itu langsung menutup wajah Meisita sehingga membuatnya kesulitan bernapas.
Meisita berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri tetapi tenaganya kalah dengan lelaki yang menyumbat pernapasannya. Meisita berusaha berteriak, sampai akhirnya Ia terbangun dengan keringat yang membasari keningnya.
Meisita langsung memegang tubuhnya sendiri memastikan bahwa dia hanya bermimpi, dengan napas yang tersengal-sengal membuatnya bangun dan terduduk di atas ranjang.
Suara pintu kamar mandi terdengar seperti seseorang sedang membuka pintu itu, membuat Meisita terkejut dengan wajah pucat menatap kamar mandi itu. Akmal yang keluar dari kamar mandi melihat Meisita menatapnya dengan tatapan yang pucat membuatnya terkejut.
"Apa kau sakit?" tanya Akmal.
Meisita hanya menggelengkan kepalanya, dengan wajah yang masih bingung.
Meisita keluar dari kamarnya saat melihat Akmal akan mengganti pakaian, Ia berjalan menuju air mineral untuk menenagkan pikirannya.
Meisita pun terduduk di kursi sambil minum air mineral, sambil memikirkan mimpi yang terlihat seperti nyata.
'Apa sebenarnya Akmal akan membunuhku?' batin Meisita.
Pagi itu ....
Meisita yang sedang merias diri, berjalan keluar menuju meja makan yang sudah ada Akmal sedang duduk untuk menikmati sarapannya.
Selembar surat terletak di samping dirinya, Akmal menoleh melihat surat itu langsung menatap Meisita yang masih duduk di sampingnya.
"Apakah ini?" tanya Akmal.
“Kami perlu bercerai secepat mungkin, saya rasa kami tidak serasi lagi," jawab Meisita.
Ucapan itu membuat Akmal sangat terkejut dengan penuturan dari Meisita.
"Apa yang awak kata? awak akan ceraikan saya? Tak nak, tak nak!” jerit Akmal.
Dengan penuh emosi, Akmal menatap Meisita dengan tangan yang bergetar hebat membuat Akmal menyentuh wajah Meisita.
"Sampai bila-bila, saya tidak akan mati awak," ucap Akmal.
__ADS_1
“Kenapa awak ada hati nak buat semua tu, awak tipu saya semasa di Indonesia, awak kahwin lagi dengan menyamar nama awak, terlalu banyak pembohongan yang terucap di mulut awak," jelas Meisita mulai hanyut di dalam kesedihannya.
Akmal langsung mencekik bagian leher Meisita, dan membuatnya sangat terkejut dengan kejadian yang sedang terjadi.
"Apa yang awak buat, lepaskan saya!" ucap Meisita.
"Macam mana awak tahu semuanya, awak fikir saya akan berlutut di hadapan awak? Tiada siapa boleh melindungi awak, jerit sepuas-puasnya," tekan Akmal.
Meisita di cekik dan di hempaskan hingga terpental cukup jauh dari meja makan, tidak ada yang melihat penyiksaan ini, bahkam asisten rumah tangga yang biasanya berada di dapur. Saat ini sedang berbelanja bulanan, membuat rumah sangat sepi, membuat Akmal melakukan aksinya sesuka hatinya.
Meisita yang terjatuh di lantai, berusaha untuk bangun. Tetapi rambutnya terasa ada yang menariknya dengan kuat, membuatnya menjerit kesakitan.
"lepaskan saya! Ternyata saya salah mempercayai lelaki seperti awak!" teriak Meisita meludahi Akmal.
Akmal yang menerima hinaan itu, hanya bisa tersenyum licik, Ia kembali menjambak Meisita. Dan berbisik di telinganya.
"Anda mungkin letih, dan berehatlah sayang," bisik Akmal.
"Lepaskan saya! Beraninya awak sentuh saya!" seru Meisita.
Ucapan Meisita mengundang amarah Akmal, sehingga Akmal menyeretnya masuk ke dalam kamar dengan menjambak rambut Meisita. Meisita menangis kesakitan, sambil bersaha memegang tangan Akmal yang menjambak rambutnya.
Meisita yang terpental jauh, membuat nya kesulitan untuk berdiri. Matanya yang sembab membuat Akmal semakin tertawa.
“Awak lelaki kutuk! Saya tidak akan berdiam diri," tekan Meisita.
"Lakukan sesuka hati awak, awak fikir sekarang awak boleh bebas," sahut Akmal.
Akmal mengikat Meisita dan menyiksanya, sampai wajah Meisita penuh dengan luka memar. Dan tangannya pun penuh gorengan merah akibat cambukan dari Akmal.
Penyiksaan yang di lakukan Akmal sangat lah tidak manusiawi, sehingga membuat Meisita tidak sadarkan diri.
Akmal meletakan Meisita di asta ranjang seorang Meisita sedang tertidur dengan lelap. Ia mengikat badan Meisita dengan tali, agar Meisita tidak kabur.
Di dalam kamar, Akmal sengaja memasang penyadap suara dan CCTV tersembunyi untuk memantau kondisi Meisita, Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu, dan kembali ke kantor Selom group.
Akmal melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, sampai di kantor. Ia masuk ke dalam dengan gagah dengan tatapan yang menakutkan, membuat semua karyawan yang melintas di hadapannya. Terkejut dengan kedatangan Akmal secara tiba-tiba.
__ADS_1
Masuk ke dalam ruanganan, membuat Zidan yang melihat Akmal. Langsung mendekatinya.
"Encik Akmal," panggil Zidan.
"Bagai mana? Apa hari ini ada rapat atau yang lainnya?" tanya Akmal.
Zidan belom sempat menjawab semua yang ditanyakan Akmal, Ia menatal heran Akmal yang terlihat sangat berbeda dan lebih menyeramkan.
Akmal yang merasa di perhatikan oleh Zidan merasa bingung, "Apa itu? adakah sesuatu yang pelik?" tanyanya.
Akmal sepeti biasa menghadiri rapat seperti biasa, dan melanjutkan pemasaran produk barunya yang hari ini akan di kirim desain yang sudah di sepakati olehnya bersama desainer Saras.
Saras datang untuk menemui Akmal di ruang tunggu, Ia sedang terduduk manis sambil memegang ponselnya.
“Lama tunggu? Sorry, tadi ada meeting," ucap Akmal membuat Saras menoleh ke arahnya.
Saras melihat Akmal seperti ada yang berbeda hanya terdiam, seketika Ia melirik di bagian tangan dan jas Akmal yang ada bekas luka dan percikan darah, membuat Saras merah curiga.
"Awak ada masalah?" tanya Saras.
Akmal menatap tajam Saras, seketika sifatnya yang menakutkan langsung mencair seperti es batu.
“Saya tertekan dengan kerja ini, apa salahnya?" sahut Akmal.
"Saya cuma bertanya, saya di sini hanya untuk menyampaikan hasil pereka semalam," jelas Meisita.
Akmal menerima dengan baik, dan tak melakukan perbincangan apapun kepada Saras. Membuat Saras merasa ada sesuatu aneh yang terjadi. Tetapi Ia berusaha untuk menepis perasaan kepada Akmal.
Saras keluar dari kantor itu, dan kembali kekantornya. Saat Ia di dalam mobil berusaha menghubungi Meisita tetapi tidak mendapatkan jawaban apapun.
Saras berfikir mungkin Meisita dengan sibuk, dan Ia berharap Meisita akan menghubunginya kembali.
Saras masuk ke dalam ruangannya, Ia terduduk merenungi gerak-gerik Akmal yang terlihat sangat berbeda.
"Darah yang ada di jasnya, seperti darah seseorang? Apa terjadi dengan Meisita?" gumam Saras.
Saras terus memikirman Meisita yang tidak ada kabar seharian, dan tidak menghubunginya kembali, setelah Ia menelponnya. Saras sekali lagi menelpon Meisita tetapi jawabannya tetap sama, Ia tidak mendapatkan kabar apapun.
__ADS_1
Membuat Saras semakin panik dan menganggap sudah terjadi sesuatu dengan Meisita.
BERSAMBUNG....