Nahkoda Cinta

Nahkoda Cinta
Kebohongan publik


__ADS_3

Abbas sampai di depan apartement milik Akmal dan langsung membuka pintu itu, Ia masuk ke dalam melihat seisi rumah yang mulai berdebu, dan banyak barang-barang seprti kursi, meja, dan lain-lain di tutupi kain.


"Apartemen itu sepertinya lama tidak di huni, lalu kemana perginya Allena?" gumam Abbas.


Anggara yang memang hari ini pulang lebih awal, tak sengaja melihat pintu apartemen tempat Allena tinggal terbuka, dengan rasa penasarannya Anggara langsung melihat siapa yang masuk ke dalam apartemen itu.


"Apa anda mencari sesuatu tuan?" tanya Anggara.


Abbas yang sedang memengang ponselnya, langsung terkejut mendengar suara Anggara. Tak sengaja Ia melemparakan ponselnya.


"Kau ini mengagetkan ku saja, jantungku hampir copot," kata Abbas.


"Maafkan saya tuan, telah membuat anda kaget," ucap Anggara.


"Kau siapa? Kenapa kau kemari?" tanya Abbas.


"Saya tetangga Nona Allena yang dulu sempat tinggal di sini," jawab Anggara.


"Kebetulan, di mana dia sekarang? Apa kau mengetahui nya?" tanya Abbas.


"Dia menjadi TKW di Malaysia tuan, tetapi umur nya tidak panjang, dia di kabarkan meninggal karena kelelahan dalam bekerja. Itu informasi yang saya dapatkan," jelas Anggara.


Mata Abbas langsung menatap tajam Anggara, begitu terkejutnya dia mendengar semua yang di ucapkan oleh nya.


"Apa kau sedang bercanda? Kau tidak serius kan?" tanya Abbas.


Anngara menunjukan surat kematian dari rumah sakit yang ada di Malaysia, yang mengatakan bahwa Ny. Allena Saraswati telah meinggal dunia akibat faktor kelelahan dalam bekerja.


Abbas semakin terkejut, sejak ke pergian Akmal, Ia tak pernah melihat Allena lagi atau pun menghubungi nya, karena kesibukanya menggantikan Akmal membuat nya tidak sempat menemui Allena.


"Apa aku tidak salah dengar, apa benar Allena telah meninggal dunia?" gumam Abbas.


"Kapan kejadian itu?" tanya Abbas.


"Satu tahun yang lalu, kejadian ini cukup lama tuan, dan kasusnya langsung di tutup," jawab Anggara.


"Kemana jasadnya?" tanya Abbas.


"Yang saya dengar, Nona Allena tidak memiliki keluarga, jadi jasad beliau di kebumikan di Malaysia," jawab Anggara.

__ADS_1


Cukup lama perbincangan itu membuat Abbas tercengang karena dirinya sempat tidak menyangka dengan semua yang terjadi, Abbas langsung berpamitan kepada Anggar dan mengunci kembali apartemen itu.


Dengan tergesa-gesa Abbas langsung masuk ke dalam mobilnya, Ia langsung menelpon Akmal.


Akmal : "Bagai mana? Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Allena?"


Abbas : "Allena ... Allena...."


Akmal semakin penasaran, memdengar suara napas Abbas yang tak beraturan membuatnya terus bertanya apa yang terjadi.


Akmal : "Apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan Allena?"


Abbas berusaha mengatur napasnya.


Abbas : "Informasi yang aki dapat dari tetangga apartemen mu, Allena sempat menjadi TKW di Malaysia, karena tekanan kerja yang sangat keras, membuatnya menghembuskan napas terakhirnya akibat kelelahan. Kejadian ini sekitar satu tahun yang lalu, dan kasusnya sudah di tutup. Allena di kebumikan di Malaysia karena tidak ada pihak keluarga yang mengaku bahwa dia keluarganya."


Akmal yang mendengar penuturan dari Abbas langsung terdiam lemas, dirinya sangat terkejut dengan apa yang sudah terjadi dengan Allena selama dirinya pergi. Ada rasa bersalah menyelimuti hati nya.


Akmal langsung mematikan telpon itu.


"Ini tidak mungkin, aku harus memeriksa di mana dia pernah bekerja," gumam Akmal.


Akmal langsung menyuruh Zidan untuk mengakses nama Allena Saraswati, dengan cepat Zidan pun mampu menemukan beberapa biodata Allena yang sempat bekerja di salah satu Pt. Elektronik di Malaysia.


"Pt. Elektronik Bangsa tuan, di sini terdaftar nama Allena Saraswati," sahut Zidan.


Akmal langsung melihat rician karyawan yang bekerja di Pt tersebut, terlihat nama istrinya tertera di urutan paling bawah.


"Ini beneran Allena, Ya Allah apa yang sudah ku lakukan. Kematiannya pun aku tidak mengetahuinya, suami macam apa aku ini," gumam Akmal di dalam hati.


Kini dirinya penuh dengan penyesalan telah meninggalkan Allena tanpa kabar yang pasti, sehingga kematiannya baru di ketahui satu tahun yang lalu. Akmal menyendiri di kantornya, tidak memperboleh kan siapapun memasuki ruangannya.


Di dalam dirinya hanya berdiam diri tidak melakukan apapun. Tatapan nya terus menatap jendela yang memperlihatkan dunia malam yang begitu indah di hiasi lampu.


Zidan berusaha mengetuk pintu ruangannya tetapi tidak mendapat jawaban, ponsel Akmal pun terus berbunyi tetapi tak di hiraukam oleh Akmal.


"Siapa perempuan tu, kenapa Encik Akmal sedih sangat?" gumam Zidan.


Meisita terus menelpon Akmal tetapi tidak diangkat, karena panik. Meisita menelpon ke ponsel Zidan, Ia menayakan keberadaan Akmal.

__ADS_1


Zidan : "Hai puan."


Meisita : "Akmal mana, dia dengan awak ke?"


Zidan : "Tuan, ada mesyuarat di luar bandar, puan, kita boleh bermalam."


Meisita : "Kenapa dia tidak memberitahu saya, di mana telefonnya?"


Zidan : “Tuan sedang bercakap dengan anak guamnya puan, mungkin puan akan dimaklumkan nanti."


Meisirta : "Baiklah, terima kasih."


Telpon pun terputus, Zidan pun tak kuasa meninggalkan tuannya seorang diri di dalam ruangan itu, melihat waktu sudah pukul 23.44 WIB. Akhirnya Zidan bermalam di ruangnya juga.


"Inilah kali pertama saya melihat Encik Akmal berasa hancur, seolah-olah sesuatu telah berlaku kepada seorang wanita bernama Allena," gumam Zidan.


Allena yang tertidur di sofa depan dengan begitu pulas, terbangun karena ingin buang air kecil. Melihat ruangan gelap, Allena langsung berjalan menghidupkan lampu.


"Cik Allena!" seru asisten rumah tangga.


“Hem … puan Lady pergi?" tanya Allena.


"Dia pergi ke Paris untuk fesyen week cik," sahut asisten rumah tangga.


Allena pun langsung berjalan ke kamar mandi dan langsung menuju kamarnya, melihat kamarnya yang tertata rapih. Allena pun langsung merebahkan tubunnya di ranjang.


Merasa sudah baikan, Ia pun langsung menatap cermin melihat dirinya sendiri di pantulan cermin itu, seketika Allena meraba dadanya yang sempat nyeri dan berdetak tak menentu.


"Dugaan ku benar, aku hanya butuh istirahat saja. Aku terlalu bekerja keras sampai melupakan kesehatan ku," gumam Allena.


Allena langsung membersihkan tubuhnya yang di kamar mandi.


Akmal pun tertidur di sofa, karena kelelaham berfikir, akhinya matanya pun terpejam. Tetapi dirinya memimpikan Allena yang sedang duduk di atas meja kerjanya menggunakan gaun pengantin.


Akmal yang melihat Allena tertunduk seperti sedang bersedih berusaha untuk mendekatinya, terdengar suara tangisan yang sangat menyedihkan membuat Akmal menyentuh punggunnya, tetapi tangannya menembus seperti hanya memegang bayangan Allena saja. Berulang kali Akmal berusaha untuk memegang tetap saja tidak bisa.


Tangisan Allena terus terdengar sangat keras dan begitu menyedihkan, tiba-tiba kepalanya menatap Akmal dan tangannya menujuk ke arah Akmal dan mengatakan.


"Kau pembunuh!" teriak Allena.

__ADS_1


Teriakan itu membuat Akmal terbangun seketika, napasnya tersengal-sengal, matanya langsung menatap meja kerjanya yang memang kosong tidak ada siapapun.


BERSAMBUNG.


__ADS_2